Sikap Mudaarah adalah sikap ramah, bijaksana dan sikap lemah lembut dalam berinteraksi dengan orang lain. Sedangkan sikap Mudaahanah adalah sikap mengorbankan prinsip agama demi menyenangkan orang lain atau dengan istilah lain yaitu sikap bermuka dua.
Mencampur adukkan dua istilah ini akan menimbulkan kerancuan dalam memahami sikap hikmah dalam berdakwah. Akibatnya, sikap hikmah dalam berdakwah justru dianggap sebagai sikap bermudah-mudahan terhadap musuh-musuh dakwah.
Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam menggunakan metode mudaarah dalam berdakwah, maka kita sebagai umatnya justru harus menggunakan cara ini untuk memuluskan dakwah kita di manapun, termasuk kampung kita masing-masing. Dan siikap mudaarah ini bukan sikap mudaahanah.
Berkata Abu Ammar Muhammad bin Abdillah hafidzahullah dalam Zagholud D'awah:
قال ابن بطال رحمه الله: المداراة: من أخلاق المؤمنين، وهي خفض الجناح للناس ولين الكلمة وترك الإغلاظ في القول، وذلك من أقوى أسباب الألفة، وظن بعضهم أن المداراة هي المداهنة؛ فغلط؛ لأن المداراة مندوب إليها، والمداهنة محرمة، والفرق: أن المداهنة من الدهان، وهو الذي يظهر على الشيء ويستر باطنه، وفسرها العلماء بأنها معاشرة الفاسق وإظهار الرضا بما هو فيه من غير إنكار عليه، والمداراة هي الرفق بالجاهل في التعليم وبالفاسق في النهي عن فعله وترك الإغلاظ عليه، حيث لا يظهر ما هو فيه، والإنكار عليه بلطف القول والفعل، لا سيما إذا احتيج إلى تألفه، ونحو ذلك. اهـ
وقال ابن القيم رحمه الله في كتابه ((الروح)) (ص:٣١٩): المداراة: صفة مدح، والمداهنة: صفة ذم، والفرق بينهما: أن المداري يتلطف بصاحبه حتى يستخرج منه الحق أو يرده عن الباطل، والمداهن يتلطف به ليقره على باطله ويتركه على هواه، فالمداراة لأهل الإيمان، والمداهنة لأهل النفاق. اهـ
"Ibnu Batthol rahimahullah mengatakan: 'Mudaarah adalah bagian dari akhlak orang-orang beriman, yaitu merendahkan hati kepada sesama manusia, berbicara dengan kata-kata yang lembut, serta meninggalkan sikap kasar dalam bertutur kata. Hal tersebut merupakan salah satu sebab terkuat timbulnya keharmonisan. Sebagian orang menyangka bahwa mudaarah itu sama dengan mudaahanah, maka ia telah keliru; karena mudaarah itu dianjurkan, sedangkan mudaahanah itu diharamkan. Perbedaannya adalah: mudaahanah berasal dari kata al-dihaan, yaitu sesuatu yang menutupi bagian luar dan menyembunyikan bagian dalamnya. Para ulama menafsirkannya sebagai tindakan bergaul dengan orang fasik serta menampakkan keridhoan terhadap kemaksiatan yang dilakukannya tanpa memberikan pengingkaran kepadanya. Sedangkan mudaarah adalah sikap lembut kepada orang jahil sebagai ta'liim (mengajarkan adab dan ilmu), serta kepada orang fasik dalam melarang perbuatan fasik tanpa bersikap kasar kepadanya, selama ia tidak terang-terangan menampakkan yang ada di dalam hatinya, dan mengingkarinya dengan kelembutan kata maupun perbuatan, terlebih lagi jika dibutuhkan upaya untuk melunakkan hatinya, dan hal-hal yang serupa dengan itu.' Selesai.
Ibnu al-Qayyim rahimahullah berkata dalam bukunya Ar-Ruh (hal. 319): 'Mudaarah adalah sifat terpuji, sedangkan mudaahanah adalah sifat tercela. Perbedaan antara keduanya yaitu: Orang yang melakukan mudaarah bersikap lembut kepada temannya agar dapat mengeluarkan kebenaran darinya atau memalingkannya dari kebatilan. Sementara orang yang melakukan mudaahanah bersikap lembut kepadanya demi menetapkannya dalam kebatilannya dan membiarkannya mengikuti hawa nafsunya. Maka, mudaarah itu milik ahli iman, sedangkan mudaahanah itu milik ahli nifak.' Selesai. (Zagholud Da'wah wad Du'aat, hal,227).
Abu Ammar Muhammad bin Abdillah hafidzahullah juga mengatakan:
حاجة الناس عامة وأتباع الرسل خاصة إلى المداراة لا تدانيها حاجة؛ فهي من أخلاق المؤمنين الصالحين، ومن أقوى أسباب الألفة بين المسلمين، وأنجح وسيلة لدفع شر أعداء الدعوة عن الدعوة
فالدعوة إلى الله عزوجل وظيفة الأنبياء والمرسلين عليهم الصلاة والسلام، والدعاة إلى الله هم أتباع الأنبياء والرسل؛ لذا لا بد لأتباع الرسل من سلوك سبيلهم، واقتفاء نهجهم في الدعوة، فإذا احتاج الرسل والأنبياء إلى سلوك سبيل المداراة مع أعداء دعوتهم؛ فمن باب أولى أتباع الرسل في هذا الزمن، فهم بحاجة إلى مداراة خصوم الدعوة، بل وإلى مداراة إخوانهم الدعاة الذين معهم في الصف الواحد؛ ليستقيم الصف ويكون كالبنيان المرصوص
"Kebutuhan manusia secara umum, dan pengikut para rasul secara khusus, terhadap mudaarah (bersikap ramah) adalah kebutuhan yang tidak tertandingi oleh kebutuhan apa pun. Mudaarah (bermuka dua atau mengorbankan prinsip agama demi kesenangan orang lain) merupakan bagian dari akhlak orang-orang beriman yang sholih, dan menjadi salah satu sebab terkuat lahirnya keharmonisan di antara kaum muslimin, dan paling berhasil untuk menolak kejahatan musuh-musuh dakwah dari jalan dakwah.
Dakwah di jalan Allah 'Azza wa Jalla adalah tugas para nabi dan rasul 'alaihimus shalaatu was salaam, dan para da'i yang menyeru ke jalan Allah adalah para pengikut nabi dan rasul tersebut. Oleh karena itu, para pengikut rasul wajib menempuh jalan mereka dan mengikuti metode dakwah mereka. Jika para nabi dan rasul saja membutuhkan sikap mudaarah dalam menghadapi musuh-musuh dakwah mereka, maka para pengikut rasul di zaman ini tentu jauh lebih membutuhkannya. Mereka perlu bersikap mudaarah terhadap penentang dakwah, bahkan terhadap sesama saudara sesama da'i yang berada dalam satu barisan, agar barisan tersebut tetap kokoh dan menjadi seperti bangunan yang tersusun rapi.
فإذا كان الداعية حريصًا على نجاح دعوته، دارى المدعوين وعاملهم بما يحبون، حتى لو كان مضطرًا إلى قسر نفسه على ذلك ما دام يظن أن عاقبة الأمر إلى خير، والداعية الذي لم يدار المدعوين سوف يملونه، وينفضون من حوله، ويخسر كثيرًا في حياته الدعوية
وقد خلط بعض الدعاة بين المداراة والمداهنة، فترك المداراة خوفًا من الوقوع في المداهنة، والفارق واضح بين المداهنة والمداراة، فليس في المداراة تنازل عن شيء من الدين، ولا غض الطرف عن محرم، بعكس المداهنة، قال تعالى: «وَدُّوا لَوْ تُدْهِنُ فَيُدْهِنُونَ» [القلم: ٩]
Jika seorang da'i bersungguh-sungguh menginginkan keberhasilan dakwahnya, ia akan bersikap mudaarah kepada orang-orang yang didakwahi dan memperlakukan mereka dengan apa yang mereka sukai, bahkan jika ia harus memaksa dirinya sendiri untuk melakukan hal itu selama ia menyakini bahwa akhir dari urusan tersebut akan membawa kebaikan. Sedangkan da'i yang tidak bersikap mudaarah kepada orang-orang yang didakwahi akan membuat mereka bosan, menjauh darinya, dan ia akan kehilangan banyak hal dalam perjalanan dakwahnya.
Dan sungguh beberapa da'i telah mencampuradukkan antara mudaarah dan mudaahanah, sehingga mereka meninggalkan mudaarah karena takut terperosok ke dalam mudaahanah. Padahal, perbedaan antara mudaahanah dan mudaarah sangatlah jelas, dan tidak ada dalam mudaarah meninggalkan sedikit pun ajaran agama, tidak pula menutup mata dari hal yang diharamkan. Berbeda halnya dengan mudaahanah. Allah Ta'ala berfirman (artinya): «Maka mereka menginginkan supaya kamu bersikap lembut lalu mereka bersikap lembut (pula) kepadamu»." [QS. Al-Qalam: 9].
فالحد الذي لا يتجاوزه الداعية في مراعاته للمدعوين هو معاصي الله، وما يكرهه تعالى، فيبذل للمدعو من الرفق والمعاملة الحسنة ما يجلبه إلى الهداية، ويميل قلبه إلى الحق دون الوقوع في مداهنته
إذا فالمداراة معناها: إظهار الحسن في مقابلة القبيح؛ لاستدعاء الحسن مع سلامة الدين
وقد ثبت في الصحيحين عن عائشة رضي الله عنها قالت: استأذن رجل على رسول الله صلى الله عليه وسلم فقال: ((ائذنوا له، بئس أخو العشيرة، أو ابن العشيرة)) فلما دخل ألان له الكلام، قلت: يا رسول الله، قلت الذي قلت، ثم ألنت له الكلام؟ قال: ((أي عائشة، إن شر الناس من تركه الناس))، أو ودعه الناس، اتقاء فحشه
Batas yang tidak boleh dilanggar oleh seorang da'i dalam menjaga perasaan orang yang didakwahi adalah kemaksiatan kepada Allah dan apa saja yang dibenci-Nya. Maka, seorang da'i mencurahkan kelembutan dan perlakuan yang baik kepada orang yang didakwahi untuk menariknya menuju hidayah serta menundukkan hatinya kepada kebenaran, tanpa terjerumus dalam sikap mudaahanah.
Dengan demikian, mudaarah maknanya adalah: Menampakkan kebaikan saat menghadapi keburukan; demi memancing timbulnya kebaikan dengan tetap menjaga keselamatan agama.
Sungguh telah diriwayatkan dalam shahihain dari 'Aisyah radhiyallahu 'anha, ia berkata: ((Seorang laki-laki meminta izin untuk menemui Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, maka beliau bersabda: "Izinkanlah dia masuk, dia adalah seburuk-buruk kerabat dalam suku ini." Namun ketika orang tersebut masuk, beliau justru berbicara kepadanya dengan kata-kata yang lembut. Aku bertanya: "Wahai Rasulullah, engkau telah mengatakan apa yang engkau katakan tadi, namun kemudian engkau berbicara dengannya secara lembut?" Beliau bersabda: "Wahai 'Aisyah, sesungguhnya seburuk-buruk manusia adalah orang yang ditinggalkan atau dijauhi oleh orang-orang karena takut akan kekejiannya."
:ومن أمثلة مداراة النبي صلى الله عليه وسلم كذلك: مداراته لأهل مكة، حين تلطف بهم في خطابه، وعفوه عنهم بلا منة، رغم ما لقيه منهم، وتلطفه بالمنافقين في المدينة، وغير ذلك كثير
وعلى منهاج الأنبياء سار الصحابة والسلف الصالح؛ فدفعوا بالمداراة كثيرا من الشرور، ونالوا مقصودهم بأقل مجهود، وكفوا مؤونة أعدائهم، واتقوا مكرهم، وتخلصوا من لجاجهم
فهذا أبو الدرداء رضي الله عنه، يقول: إنا لنكشر - أي: نبتسم - في وجوه أقوام، وإن قلوبنا لتلعنهم
قال ابن مفلح رحمه الله: ((وقول أبي الدرداء هذا ليس فيه موافقة على محرم ولا مداهنة في كلام، وإنما طلاقة وجه خاصة للمصلحة)) اهـ
وقال الحسن البصري رحمه الله: التودد إلى الناس نصف العقل
Di antara contoh mudaarah yang dilakukan oleh Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam lainnya adalah: Sikap mudaarah beliau terhadap penduduk Makkah, ketika beliau bertutur kata dengan lemah lembut kepada mereka dan memaafkan mereka tanpa mengungkit-ungkit jasa atau kesalahan mereka, meskipun beliau telah mengalami perlakuan buruk dari mereka. Belia bersikap lembut kepada orang-orang munafik di Madinah, dan masih banyak lagi contoh lainnya.
Dengan mengikuti jalan para nabi itulah para sahabat dan generasi salafus sholih berjalan. Dengan sikap mudaarah, mereka berhasil menolak banyak keburukan, mencapai tujuan mereka dengan usaha yang minimal, menghindarkan diri dari beban gangguan musuh, menjaga diri dari makar mereka, serta terbebas dari penentangan mereka.
Sahabat Abu ad-Darda' radhiyallahu 'anhu pernah berkata: 'Sesungguhnya kami tersenyum di hadapan suatu kaum, padahal hati kami melaknat mereka.'
Ibnu Muflih rahimahullah mengomentari: 'Perkataan Abu ad-Darda' ini bukanlah bentuk persetujuan terhadap hal yang diharamkan dan bukan pula sikap mudaahanah dalam ucapan, melainkan sekadar wajah yang berseri-seri khusus demi menjaga maslahat.' Selesai.
Al-Hasan al-Bashri rahimahullah berkata: 'Sikap ramah dan menunjukkan rasa kasih sayang (tawaddud) kepada sesama manusia adalah separuh dari akal.'
:ويروى عن الشافعي رحمه الله أنه قال
لما عفوت ولم أحقد على أحد أرحت نفسي من هم العداوات
إني أحيي عدوي عند رؤيته لأدفع الشر عني بالتحيات
وأظهر البشر للإنسان أبغضه كأنه قد حشى قلبي محبات
ولست أسلم ممن لست أعرفه فكيف أسلم من أهل المودات
الناس داء وداء الناس قربهم وفي اعتزالهم قطع المودات
فجامل الناس وأجمل ما استطعت وكن أصم أبكم أعمى ذا تقيات
Diriwayatkan pula dari Imam ash-Syafi'i rahimahullah bahwa beliau bersyair:
'Ketika aku memaafkan dan tidak menyimpan dendam kepada siapa pun,
aku telah membebaskan diriku dari beban permusuhan.
Sesungguhnya aku memberi salam kepada musuhku ketika melihatnya,
demi menolak keburukan dari diriku melalui penghormatan tersebut.
Aku menampakkan wajah ceria kepada orang yang sebenarnya aku benci,
seolah-olah ia telah memenuhi hatiku dengan rasa cinta.
Bahkan aku tidak bisa selamat dari orang yang tidak aku kenal,
lalu bagaimana mungkin aku bisa selamat dari orang-orang yang aku cintai?
Manusia itu adalah penyakit, dan penyakit manusia terletak pada kedekatan dengan mereka,
namun menjauhi mereka berarti memutuskan tali kasih sayang.
Maka bersikap baiklah kepada manusia dan berbuat indah selagi engkau mampu,
serta jadilah orang yang tuli, bisu, dan buta yang penuh dengan ketakwaan.'
:وقال الخطابي رحمه الله
ما دمت حيا فدار الناس كلهمو فإنما أنت في دار المداراة
من يدر دارى ومن لم يدر سوف يرى عما قليل نديما للندامات
:وقال زهير بن أبي سلمى
ومن لم يصانع في أمور كثيرة يضرس بأنياب ويوطأ بمنسم
Al-Khatthabi rahimahullah berkata:
'Selama engkau hidup, bersikap ramah dan bijaksanalah kepada seluruh manusia,
karena sesungguhnya engkau berada di dunia yang memerlukan sikap mudaarah.
Barangsiapa bersikap mudaarah, ia akan selamat; dan barangsiapa tidak bersikap mudaarah, ia akan segera melihat dirinya menjadi teman akrab bagi penyesalan.'
Zuhair bin Abi Salma berkata:
'Barangsiapa yang tidak mau bersikap ramah dalam banyak urusan,
niscaya ia akan dikunyah dengan taring-taring dan diinjak-injak dengan kuku binatang." (Zagholud Da'wah wad Du'aat, hal,227-230).
10. Diantara Bentuk Hikmah dalam Berdakwah
10.1. Menyebarkan Salam
Menyebarkan salam termasuk diantara metode dalam berdakwah di tengah masyarakat. Tokoh-tokoh masyarakat dan pemuka agama di masjid-masjid kampung, sangat suka dengan keramahan dari para ikhwah. Sebenarnya yang mereka inginkan dari kita adalah rasa hormat bukan menggurui. Sikap keras dan kaku dalam berdakwah sering menimbulkan polemik di masyarakat, dikalangan para tokoh-tokoh di kampung, karena kesannya kita seperti menggurui mereka yang sudah lama makan asam garam dalam kehidupan sebagaimana ucapan mereka.
Diantara salah satu cara yang harus kita lakukan dalam melakukan pendekatan sosial masyarakat adalah menyebarkan salam. Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
((لا تدخلوا الجنة حتى تؤمنوا ولا تؤمنوا حتى تحابوا ألا أدلكم على ما تحابون به قالوا بلى يا رسول الله قال أفشوا السلام بينكم))
"Kalian tidak akan masuk surga sampai kalian beriman, dan kalian tidak beriman sampai kalian saling mencintai. Maukah aku tunjukkan kepada kalian sesuatu yang dengannya kalian bisa saling mencintai?" Mereka menjawab: 'Ya, wahai Rasulullah.' Beliau bersabda: "Sebarkanlah salam di antara kalian." (HR. Muslim, no.54)
Menyebarkan salam termasuk remeh dalam pandangan orang-orang, tapi Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam memberikan penjelasan bahwa rasa saling mencintai antar sesama kaum muslimin itu bisa tercapai salah satunya dengan menyebarkan salam. Ini di antara senjata yang sangat ampuh dalam membangun komunikasi dengan masyarakat dan para tokoh agama di kampung, sehingga dakwah akan mudah diterima karena akhlak orang-orang yang membawa dakwah ini ramah, lemah lembut dan bijaksana dalam berinteraksi dengan masyarakat dan ini yang disebut dengan mudaarah bukan mudaahanah (bermuka dua).
Ada seorang ikhwah yang rajin menyebarkan salam di tengah masyarakat dan jama'ah masjid kampungnya dengan tujuan hikmah dalam berdawkah, sehingga ia pun sangat dihormati dan dicintai oleh orang-orang padahal ia seorang ikhwah salafi yang telah masyhur tidak pernah mengikuti semua kegiatan-kegiatan bid'ah di kampungnya, dan orang-orang tidak mempermasalahkan itu. Dari sikap ramah tersebut ia diterima di tengah masyarakat dan diberi jadwal imam tetap di masjid, diberi kesempatan untuk mengisi kultum di bulan ramadhon, dipilih menjadi imam sholat tarawih, diberikan izin menggunakan masjid untuk kajian rutin setiap pekan membahas kitab tazkiyatun nufus dan kitab aqidah.
Ketika ia sesekali membaca sirr basmalah setelah ia sekian lama membacanya jahr, maka salah seorang jama'ah masjid mengingkari itu, maka mayoritas tokoh-tokoh lain, ketua BKM masjid, dan para jama'ah lainnya membela ikhwah kita tersebut. Bahkan sebagian tokoh-tokoh senior mengatakan kepada orang yang membantah itu dengan kalimat, 'saya sudah pernah sholat di Masjidil Harom selama saya berjhaji, tapi saya tidak pernah mendengar imam sholat di sana membaca keras basmalahnya. Sudah kamu diam saja, kamu tidak tahu apa-apa.' Ini diantara sebagian atsar hikmah dalam berdawkah.
10.2. Saling Memberi Hadiah
Selain menyebarkan salam kita bisa juga bisa memberikan hadiah kepada para tokoh-tokoh di kampung di momen-momen yang tepat, agar mereka melihat kebaikan akhlak para ikhwah sebagai cerminan dakwah yang mereka bawae. Dengan demikian kebencian mereka kepada dakwah ini perlahan akan memudar dan berbalik menjadi membela dakwah yang haq ini. Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda :
تهادوا تحابوا
"Saling memberi hadiahlah, niscaya kalian akan saling mencintai." (HR. Al-Bukhari dalam Adabul Mufrod, no. 594)
Diantara yang bisa kita lakukan di tengah masyarakat dan tokoh-tokoh agama di masjid adalah bagi-bagi sarung ketika sepuluh hari terakhir bulan ramadhon, bagi-bagi iftor buat buka puasa, bagi-bagi kurma, parfum, baju koko, bagi-bagi sembako murah, dll yang sekiranya bisa melunakkan hati mereka. Bagi kita itu mungkin hal yang biasa, tapi bagi mereka, bisa jadi itu akan menjadi langkah awal mereka menerima dakwah yang haq ini dengan hati yang tulus. Jika mereka belum bisa menerimanya, minimal mereka tidak membenci dan memusuhi dakwah ini bahkan menjadi pembelanya.
Diantara bentuk lain jika itu para mahasiswa, kita bisa membagikan buku-buku gratis, rekaman kajian, dan yang semisal dengan itu. Semua ini tujuannya agar dakwah ini bisa diterima di tengah masyarakat dengan cara yang paling hikmah, bukan di baro' secara total padahal mereka adalah orang-orang awam yang jahil.
Bersambung...
***
Grand Sahara - Purwodadi - Sidayu - Gresik, 10 Rabiul Akhir 1448 H / 22 September 2026 M
Penulis : Abu Dawud ad-Dumbuwiyy
Artikel : Meciangi-d.blogspot.com
.png)
0 Response to "HIKMAH DALAM BERDAKWAH (SERI 4)"
Post a Comment