HIKMAH DALAM BERDAKWAH (SERI 7)

 12. Kaku dan Keras bukan Ciri Dakwah Salaf

Sikap kaku adalah lawan dari sikap luwes, sedangkan sikap keras lawan dari sikap lemah lembut. Sikap kaku dan keras banyak memberikan efek yang buruk dalam sebuah dakwah.   

Kita tidak sedang berbicara tentang mudaarah sebagaimana yang telah berlalu pembahasannya, karena mudaarah lebih luas cakupannya. Ia bukan sekedar berbicara lembut, tetapi juga bersikap luwes kepada seseorang demi maslahat yang dibenarkan oleh syariat, sambil tetap mempertahankan kebenaran. tidak kasar, tidak mencaci, tidak mengejek, mengolok-olok, membentak, dan memilih kata-kata yang baik dan bijak. Dan inilah keadaan Nabi Musa dan Harun 'alaihimassalam ketika berdakwah kepada raja Fir'aun yang dzolim bahkan mengaku tuhan. Allah Ta'ala firman:

 «فَقُولَا لَهُۥ قَوْلًۭا لَّيِّنًۭا لَّعَلَّهُۥ يَتَذَكَّرُ أَوْ يَخْشَىٰ»

Artinya : "Maka berbicaralah kamu berdua kepadanya dengan kata-kata yang lemah lembut, mudah-mudahan ia ingat atau takut." (QS. Taha : 44)

Dalam mendakwahi manusia sekelas Fir'aun, Allah memerintahkan Nabi Musa dan Harun 'alaihimassalam untuk tetap berbicara lembut. Allah tahu Fir'aun tidak akan beriman, tapi Allah tetap memerintahkan kedua Nabinya yang mulia 'alaihimas salam untuk tetap berkata lembut, tidak mencela, mencaci, membentak, dll. 

Ibnu Katsir mengatakan:

«فَقُولَا لَهُۥ قَوْلًۭا لَّيِّنًۭا لَّعَلَّهُۥ يَتَذَكَّرُ أَوْ يَخْشَىٰ» هذه الآية فيها عبرة عظيمة، وهو أن فرعون في غاية العتو والاستكبار، وموسى صفوة الله من خلقه إذ ذاك، ومع هذا أمر أن لا يخاطب فرعون إلا بالملاطفة واللين

وعن الحسن البصري «فَقُولَا لَهُۥ قَوْلًۭا لَّيِّنًۭا» أعذرا إليه، قولا له: إن لك ربا ولك معادا، وإن بين يديك جنة ونارا

والحاصل من أقوالهم أن دعوتهما له تكون بكلام رقيق لين سهل رفيق، ليكون أوقع في النفوس وأبلغ وأنجع، كما قال تعالى:«ٱدْعُ إِلَىٰ سَبِيلِ رَبِّكَ بِٱلْحِكْمَةِ وَٱلْمَوْعِظَةِ ٱلْحَسَنَةِ ۖ وَجَـٰدِلْهُم بِٱلَّتِى هِىَ أَحْسَنُ»، وقوله «لَّعَلَّهُۥ يَتَذَكَّرُ أَوْ يَخْشَىٰ» أي لعله يرجع عما هو فيه من الضلال والهلكة، أو يخشى - أي يوجد طاعة من خشية ربه كما قال تعالى: لمن أراد أن يذكر أو يخشى فالتذكر الرجوع عن المحذور، والخشية تحصيل الطاعة

 وقال الحسن البصري: لعله يتذكر أو يخشى يقول: لا تقل أنت يا موسى وأخوك هارون أهلكه قبل أن أعذر إليه

«Maka berbicaralah kamu berdua kepadanya dengan kata-kata yang lemah lembut, mudah-mudahan dia sadar atau takut». Di dalam ayat ini terdapat pelajaran yang amat besar, yaitu: bahwasanya Fir'aun berada di puncak kesombongan dan keangkuhan yang luar biasa, sedangkan Musa adalah hamba pilihan Allah dari antara makhluk-Nya pada masa itu. Meskipun demikian, Musa tetap diperintahkan agar tidak berbicara kepada Fir'aun melainkan dengan cara yang lemah-lembut dan penuh kelembutan.

Diriwayatkan dari Al-Hasan Al-Bashri mengenai ayat (yang artinya): «Maka berbicaralah kamu berdua kepadanya dengan kata-kata yang lemah lembut», beliau berkata: "Berikanlah udzur kepadanya. Katakanlah kepadanya: 'Sesungguhnya engkau memiliki Tuhan, engkau memiliki tempat kembali, dan sesungguhnya di hadapanmu ada surga dan neraka.'" 

Kesimpulan dari pendapat para ulama tafsir adalah bahwa dakwah mereka berdua (Musa dan Harun) kepada Fir'aun haruslah menggunakan ucapan yang halus, lembut, mudah, dan santun; agar ucapan tersebut lebih berkesan di dalam jiwa, lebih mendalam, dan lebih berhasil. Hal ini sebagaimana firman Allah Ta'ala (yang artinya): «Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pengajaran yang baik, dan berdebatlah dengan mereka dengan cara yang baik». 

Dan firman-Nya (yang artinya): «Mudah-mudahan dia sadar atau takut», maknanya: mudah-mudahan dia kembali dari kesesatan dan kebinasaan yang sedang ia jalani, atau dia menjadi takut. Artinya: memunculkan ketaatan karena rasa takutnya kepada Tuhannya, sebagaimana firman Allah Ta'ala (yang artinya): «Bagi orang yang ingin sadar atau ingin takut» Maka, At-Tadzakkur adalah kembali dari hal yang membahayakan, sedangkan al-Khasyah (rasa takut) adalah mewujudkan ketaatan.

Al-Hasan Al-Bashri berkata tentang makna «Mudah-mudahan dia sadar atau takut»: "Allah berfirman (yang artinya): Janganlah engkau mengatakan wahai Musa dan saudaramu Harun, 'Binasakanlah dia (Fir'aun)' sebelum Aku memberikan uzur kepadanya." (Mukhtashor Tafsiir Ibni Katsiir, 2/482)

Pada hari ini, yang kita dakwahi di kampung bukan Fir'aun, tapi orang-orang awam, tetangga kita, guru-guru kita, bahkan orang tua kita. Tapi realitanya, sebagian kita sangat keras dan kasar ketika mendapati hal-hal yang tidak sejalan dengan mereka. Bahkan dengan santainya mengatakan dengan nada keras ini bid'ah, ini syirik, itu mungkar, ini haram. Sikap keras seperti ini justru akan menimbulkan polemik dalam dakwah. Semoga Allah membukan hati mereka untuk menerima kebenaran dakwah salaf ini dengan ucapan kita yang lembut dan santun.

Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

((ما كان الرفق في شيء الا زانه ولا كان الفحش في شيء قط الا شانه))

"Tidaklah kelembutan berada pada sesuatu kecuali ia akan menghiasinya, dan tidaklah kekasaran berada pada sesuatu kecuali ia akan merusaknya." (HR. Ibnu Hibban, no.551).

Kita melihat dakwah Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, asasnya adalah ucapan lemah lembut. Seandainya Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersikap keras, manusia akan lari darinya. Allah Ta'ala juga berfirman : 

«فَبِمَا رَحْمَةٍۢ مِّنَ ٱللَّهِ لِنتَ لَهُمْ ۖ وَلَوْ كُنتَ فَظًّا غَلِيظَ ٱلْقَلْبِ لَٱنفَضُّوا۟ مِنْ حَوْلِكَ ۖ فَٱعْفُ عَنْهُمْ وَٱسْتَغْفِرْ لَهُمْ وَشَاوِرْهُمْ فِى ٱلْأَمْرِ ۖ فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى ٱللَّهِ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ يُحِبُّ ٱلْمُتَوَكِّلِينَ»

Artinya : "Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu maafkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawaratlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya." (QS. Ali Imran 158).

Jika dakwah kita sulit diterima masyarakat, bukan semata-mata karena mereka membenci dakwah ini, tapi bisa jadi cara kita dalam berdakwah terlalu kaku dan keras, ceroboh mungkin atau terlalu tergesa-gesa dalam menyampaikan kebenaran. 

13. Apa Itu Hikmah dalam Berdakwah

Teringat sebuah kisah di awal-awal saya mendapatkan hidayah. Ikhwan yang mendakwahi saya rahimahullah adalah teman kos saya. Ia tidak pernah mendakwahi saya ketika baru pulang kuliah. Rasa letih, keringat, dan kepanasan membuat dakwah model apapun akan sulit di terima, dan sepertinya ia sangat mengerti akan hal itu. Yang ia lakukan hanya satu, membelikan saya es teh, lalu melanjutkan membaca majalah Al-Furqon yang ia tumpuk di kamar kos saya. 

Begitu yang ia lakukan selama 3 bulan, jika bukan es teh, ia akan membelikan saya es jeruk. Jika ia sempat, ia akan memasakkan nasi dan membelikan lauknya di warung. Namun ketika kondisi saya sedang fresh, setelah mandi, sedang ceria atau ketika hendak makan bareng di warung Padang Jawa di depan kos, baru ia membahas masalah-masalah agama dengan gaya santai dan tidak terkesan menggurui. 

Saya sempat berpikir, kenapa ia bisa membaca psikologi lawan bicaranya, seolah ia tahu kapan harus berbicara dan kapan harus diam. Puncaknya ia menjelaskan kepada saya tentang hukum musik, dan itupun setelah pendekatan berbulan-bulan. Caranya pun penuh hikmah, memberikan saya sebuah majalah dan membiarkan saya membacanya sendiri, setelah itu baru terjadi dialog. 

Setelah saya mendapatkan hidayah, baru saya mengerti bahwa ikhwan tersebut memang sering diandalkan jika ada dialog atau debat dengan teman-teman aktivis kampus baik yang berhaluan kiri atau kanan. Ia dikenal cerdas, luas wawasannya, banyak literasinya, dan sangat dalam argumennya jika membantah. Ia pernah belajar di pondok pesantren Al-Irsyad Surabaya beberapa tahun. Setelah kembali ke kampung halamannya, ia menjadi Ustadz di wilayah Sumatera kepulauan dan berdakwah di sana. Namun 3 tahun yang lalu, takdir Allah mendahuluinya. Ia telah kembali kepada Rabb-nya Ta'ala di usia yang tergolong masih muda;  mendekati 40 tahun rahimahullah karena sebuah penyakit.

Pelajaran dari kisah sederhana di atas bahwa hikmah dalam berdakwah itu tidak hanya sebatas ucapan yang santun sebagaimana kisah Fir'aun, tapi juga pengetahuan tentang kapan waktu yang tepat untuk menyampaikan ilmu dan kapan tidak, pandai membaca situasi atau keadaan, tidak terburu-buru, tidak gegabah apalagi ceroboh, dan inilah yang disebut oleh para ulama dengan hikmah dalam berdakwah.

Allah Ta'ala berfirman:

«ادْعُ إِلَىٰ سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُم بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ»

Artinya : "Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik, dan bantahlah mereka dengan cara yang baik." (QS. An-Nahl: 125).

Syaikh Abu Ammar Muhammad bin Abdillah mengatakan:

قال ابن القيم رحمه الله : الحكمة: فعل ما ينبغي، على الوجه الذي ينبغي، في الوقت الذي ينبغي

زاد ابن عثيمين رحمه الله : «والمكان الذي ينبغي

ثم قال ابن القيّم رحمه الله أيضًا: والله تعالى أورث الحكمة آدم وبنيه، فالرجل الكامل من له إرث كامل من أبيه، ونصف الرجل -كالمرأة- له نصف ميراث، والتفاوت في ذلك لا يحصيه إلا الله تعالى، فكل نظام الوجود مرتبط بهذه الصفة، أي: صفة الحكمة، وكل خلل في الوجود وفي العبد فسببه الإخلال بها، فأكمل الناس أوفرهم نصيبًا، وأنقصهم وأبعدهم عن الكمال أقلهم منها ميراثًا، ولها ثلاثة أركان: العلم، والحلم، والأناة، وآفاتها وأضدادها: الجهل، والطيش، والعجلة، فلا حكمة لجاهل، ولا طائش، ولا عجول، والله أعلم. اهـ

Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan: "Hikmah adalah: melakukan apa yang sepatutnya, dengan cara yang sepatutnya, pada waktu yang sepatutnya."

Ibnu 'Utsaimin rahimahullah menambahkan: "Dan di tempat yang sepatutnya."

Kemudian Ibnul Qayyim rahimahullah juga berkata: "Dan Allah Ta'ala mewariskan hikmah kepada Adam dan keturunannya. Maka laki-laki yang sempurna adalah yang memiliki warisan sempurna dari ayahnya, sedangkan setengah laki-laki -seperti wanita- memiliki setengah warisan. Perbedaan dalam hal tersebut tidak ada yang dapat menghitungnya melainkan Allah Ta'ala. Sebab, seluruh tatanan alam semesta terikat dengan sifat ini, yaitu sifat hikmah. Setiap kerusakan di alam semesta maupun pada diri seorang hamba disebabkan oleh terabaikannya sifat tersebut. Manusia yang paling sempurna adalah yang paling beruntung mendapat bagiannya, sedangkan manusia yang paling kurang dan paling jauh dari kesempurnaan adalah yang paling sedikit warisan hikmahnya. Hikmah memiliki tiga rukun: ilmu, sifat tenang, dan kehati-hatian. Adapun perusak dan kebalikannya adalah: kebodohan, kecerobohan, dan tergesa-gesa. Maka tidak ada hikmah bagi orang yang bodoh, tidak pula bagi orang yang ceroboh, dan tidak pula bagi orang yang tergesa-gesa. Wallahu a'lam." Selesai.

وقال الشيخ عبد الرحمن السعدي رحمه الله : «ادْعُ إِلَىٰ سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ» [النحل: ١٢٥]؛ أي: كل أحد على حسب حاله وفهمه وقوله وقبوله

ومن الحكمة: الدعوة بالعلم لا بالجهل، والبداءة بالأهم فالأهم، وبالأقرب إلى الأذهان والفهم، وبما يكون قبوله أتم، وبالرفق واللين؛ فإن انقاد بالحكمة، وإلا فينتقل معه بالدعوة بالموعظة الحسنة، وهو الأمر والنهي المقرون بالترغيب والترهيب» اهـ

فالداعي إلى الله كقائد السفينة الحكيم، قال تعالى: «وَلَٰكِن كُونُوا رَبَّانِيِّينَ بِمَا كُنتُمْ تُعَلِّمُونَ الْكِتَابَ وَبِمَا كُنتُمْ تَدْرُسُونَ» [آل عمران: ٧٩]، والرباني: مأخوذ من ربان السفينة، وهو القائد الحكيم الخبير الذي يقود السفينة في خضم الأمواج المتلاطمة والرياح العاصفة والأخطار المتلاحقة والمحدقة بالسفينة فيخرج بها بإذن الله إلى بر الأمان؛ فينجو هو والسفينة والركاب والبضائع المحملة وأموال الناس، والفضل في هذا لله ثم بحكمته وخبرته، والله عزوجل يريد من الداعية أن يكون هكذا

Syaikh Abdurrahman As-Sa'di rahimahullah mengatakan: «Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik». [QS. An-Nahl: 125]; maknanya: Masing-masing orang diseru sesuai dengan keadaan, pemahaman, perkataan, dan penerimaannya."

Dan di antara bentuk hikmah adalah: berdakwah dengan ilmu bukan dengan kebodohan, memulai dari hal yang paling penting kemudian yang penting berikutnya, dengan hal yang paling dekat (mudah) dicerna oleh akal dan pemahaman, dan dengan hal yang penerimaannya paling sempurna, serta dengan kelembutan dan kesantunan. Jika ia patuh dengan hikmah, (maka itu yang diharapkan), namun jika tidak, maka ia berpindah dengannya ke metode dakwah berupa nasihat yang baik, yaitu perintah dan larangan yang diiringi dengan kabar gembira dan peringatan." Selesai.

Maka penyeru ke jalan Allah itu bagaikan nakhoda kapal yang bijaksana. Allah Ta'ala berfirman (yang artinya): «Akan tetapi (dia berkata), 'Jadilah kamu orang-orang Rabbani, karena kamu mengajarkan Kitab dan karena kamu mempelajarinya».'" [QS. Ali 'Imran: 79]. Dan kata Rabbani diambil dari kata rubban as-safinah (nakhoda kapal), yaitu pemimpin yang bijaksana dan berpengalaman yang mengemudikan kapal di tengah gelombang yang menghempas, angin kencang, serta bahaya bertubi-tubi yang mengepung kapal, lalu ia membawanya keluar dengan izin Allah menuju pantai keselamatan; sehingga selamatlah dirinya, kapalnya, para penumpang, muatan barang, dan harta benda manusia. Keutamaan dalam hal ini adalah milik Allah, kemudian berkat hikmah dan pengalamannya. Dan Allah 'Azza wa Jalla menghendaki dari seorang da'i untuk menjadi seperti ini." (Zagholud Da'wah, hal.125-126).

14. Bijak menyikapi Khilaf para Ulama

14.1. Macam-macam Khilaf (Perbedaan Pendapat)

Permasalahan yang sangat penting dalam dakwah adalah memahami khilaf para ulama, agar kita lebih bijak melihat suatu permasalahan. 

Syaikh Abu Ammar Muhammad bin Abdillah mengatakan:

:من المسائل المهمة التي يحتاجها الداعية، ويتشبع بفهمها ودراستها وتحقيقها

ضبط وفهم أنواع الخلاف بأقسامه الثلاثة: خلاف التنوع، وخلاف الأفهام، وخلاف التضاد

١- خلاف تنوع: وهو الخلاف بسبب ورود الدليل بهذا وهذا، تخييرًا وتوسعةً للمسلمين؛ فهو خلافٌ مشروع، والأفضل العمل بهذا أحيانًا وبهذا أحيانًا، ومن اقتصر على عمل أحدهما؛ فلا بأس

قال الشيخ ابن عثيمين رَحِمَهُ اللهُ^(١): «والقاعدة: أن العبادات الواردة على وجوه متنوعة، ينبغي للإنسان أن يفعلها على هذه الوجوه، وتنويعها فيه فوائد

أولًا: حفظ السنة، ونشر أنواعها بين الناس

ثانيًا: التيسير على المكلف؛ فإن بعضها قد يكون أخف من بعض فيحتاج للعمل

ثالثًا: حضور القلب، وعدم ملله وسآمته

رابعًا: العمل بالشريعة على جميع وجوهها» اهـ

٢- خلاف أفهام: وهو الخلاف الذي يكون بسبب الاختلاف في فهم الدليل، أو الاختلاف في ثبوته، أو في نسخه، أو في الجمع بينه وبين غيره من الأدلة، وهذا النوع من الخلاف جائز، كلُّ واحد يرجح ما يراه بالدليل ويعمل بالراجح، فمن أصاب فله أجران، ومن أخطأ فله أجر، وللأسف الشديد أكثر خلاف أهل السنة في هذا النوع من أنواع الخلاف

٣- خلاف تضاد: وهو مخالفة النص الصحيح الصريح بلا تأويل سائغ، وهذا النوع الثالث من أنواع الخلاف هو المذموم والمحرَّم لما فيه من المشاقة لله ولرسوله صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ واتباع لغير سبيل المؤمنين

"Di antara masalah penting yang dibutuhkan oleh seorang da'i, serta perlu dipahami, dipelajari, dan diteliti secara mendalam:   Adalah membatasi dan memahami jenis-jenis khilaf beserta tiga pembagiannya: Khilaf Tanawwu', Khilaf Al-Afham, dan Khilaf At-Tadhad.   

1. Khilaf Tanawwu': Yaitu perbedaan pendapat yang terjadi karena adanya dalil yang datang dengan bentuk ini dan itu, sebagai pilihan dan kelapangan bagi kaum muslimin. Perbedaan ini hukumnya disyariatkan. Yang paling afdhol adalah mengamalkan bentuk ini pada suatu waktu dan bentuk yang itu pada waktu yang lain. Barang siapa yang hanya mencukupkan diri mengamalkan salah satunya saja, maka tidak mengapa.   

Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah mengatakan : "Kaidahnya adalah: Bahwa ibadah-ibadah yang datang dalam berbagai bentuk variasi, hendaknya seseorang mengamalkannya dalam berbagai bentuk tersebut. Memvariasikannya memiliki beberapa keutamaan:   

Pertama: Menjaga sunnah dan menyebarkan jenis-jenisnya di tengah manusia.   

Kedua: Memberikan kemudahan bagi mukallaf (orang yang dibebani syariat); karena sebagian variasi terkadang lebih ringan daripada yang lain, sehingga dibutuhkan untuk diamalkan.   

Ketiga: Menghadirkan kekhusyukan hati serta mencegah rasa bosan dan jenuh.   

Keempat: Mengamalkan syariat dalam seluruh bentuk variasinya." Selesai.   

2. Khilaf Al-Afham: Yaitu perbedaan yang terjadi karena perbedaan dalam memahami dalil, atau perbedaan dalam keshohihan dalil, atau dalam hal penghapusan hukumnya, atau dalam mengompromikan antara dalil tersebut dengan dalil lainnya. Jenis perbedaan ini diperbolehkan. Setiap orang merajihkan apa yang ia pandang berdasarkan dalil dan mengamalkan pendapat yang rajih tersebut. Barang siapa yang benar maka baginya dua pahala, dan barang siapa yang keliru maka baginya satu pahala. Namun sangat disayangkan, sebagian besar perbedaan pendapat di antara Ahlus Sunnah terjadi pada jenis perbedaan yang satu ini.  

3. Khilaf Tadhad: Yaitu menyelisihi dalil yang shohih lagi tegas tanpa adanya penafsiran yang dapat diterima. Jenis perbedaan yang ketiga dari macam-macam khilaf ini adalah jenis yang tercela dan diharamkan, karena di dalamnya terdapat bentuk penentangan terhadap Allah dan Rasul-Nya shallallahu 'alaihi wa sallam serta mengikuti selain jalan orang-orang yang beriman.   

Termasuk dalam permasalahn ini adalah khilaf membaca jahr (keras) atau sirr (pelan) basmalah dalam sholat jahriyyah. Dari sisi ibadah dan pengamalan membaca sirr dan jahr basmalah masuk dalam khilaf tanawwu', karena masing-masing ada atsar dan dalilnya dari para sahabat, serta merupan perbedaan pendapat yang dapat diterima yang harus disikapi dengan lapang dada. Adapun dari sisi istimbat dalil, masuk pada khilaf afham karena khilaf dalam masalah ini karena perbedaan dalam memahami dalil yang sehingga kita bisa memilih pendapat yang rojih dari para ulama. 

Dan membaca jahr dan sirr basmalah bukan termasuk khilaf yang tadhad

14.1. Kegaduhan 

Beberapa tahun lalu, terjadi insiden di salah satu masjid di kampung tetangga yang melibatkan jama'ah masjid dengan para ikhwan kita.

Sumber masalah berawal ketika seorang ikhwan yang mengimami sholat maghrib atau isya, sengaja tidak mengeraskan bacaan basmalahnya. Para sesepuh yang terbiasa membaca keras basmalah angkat bicara dan menegur sang imam,

Sang ikhwan mencoba untuk menjelaskan bahwa itu yang lebih sunnah, sedangkan membaca jahr basmalah itu tidak sunnah. Ucapan itu menyulut emosi para jama'ah. Aksi tunjuk dengan kalimat yang tidak sopan terjadi dari kubu jama'ah masjid. Adapun dari kubu sang ikhwan, mulai ikut terpancing bahkan sempat terjadi adu mulut. 

Kedua kubu akhirnya berdebat dengan sengit dan saling bersikukuh pada pendapat masing-masing. Para tokoh yang didukung oleh jama'ah masjid semakin kokoh dengan pendirian mereka, sedangkan sang ikhwan yang didukung oleh para ikhwan lainnya, ngotot dengan pendapat mereka bahwa bahwa membaca jahr basmalah bukan sunnah.

Gaduh, ribut, suara meninggi membuat keadaan menjadi semakin tidak kondusif. Ketika darah para sesepuh dan jama'ah masjid sudah sampai di ubun-ubun, mereka mengambil langkah terakhir, mengusir semua para ikhwan tersebut dari masjid mereka, lalu mengumumkan nama-nama mereka di masjid dengan pengeras suara seraya mengatakan; 'fulan bin fulan jangan pernah sholat lagi di masjid ini, fulan bin fulan jangan injakkan kaki lagi di masjid ini, fulan bin fulan jangan pernah menampakkan wajahnya lagi di masjid ini, fulan bin fulan jangan pernah menampakkan batang hidungnya lagi di masjid ini, dan seterusnya. 

Sejak saat itu, puluhan ikhwah ini menyebar ke segala arah mencari masjid lain yang bisa menerima mereka. Kadang mereka ke kampung tetangga, kadang ke kampung saya, kadang ke kampung sebelah, dan kadang sholat di masjid pesantren terdekat. Sampai detik ini, sebagian besar mereka bahkan tidak pernah sholat berjama'ah lagi di masjid tersebut, mungkin karena sebab malu, terlanjur sakit hati, atau terlanjur nyaman sholat di masjid lain. Wallahu a'lam.

Sebenarnya pembahasan membaca basmalah ini sangat panjang. Para ulama telah bersepakat bahwa basmalah itu termasuk bagian dari ayat dalam al-Qur'an dengan dalil surat An-Naml ayat 30, namun mereka berbeda pendapat apakah basmalah itu termasuk ayat dari surat al-Fatihah dan ayat dari setiap surat atau tidak. Yang masyhur menurut Hanafiyyah, dan yang shohih menurut Hanabilah dan kebanyakan para ulama bahwa basmalah bukan bagian dari ayat dalam surat al-Fatihah dan bukan pula ayat dari setiap surat, namun ia merupakan ayat tersendiri dari Al-Qur'an dan diturunkan untuk memisahkan antara surat dengan surat yang lainnya, karena itu ia disebutkan juga di awal surat al-Fatihah.

Adapun yang masyhur menurut Malikiyyah bahwasannya basmalah bukan ayat dari Al-Qur'an, kecuali pada surat An-Naml; karena pada surah tersebut basmalah merupakan bagian dari ayat. Membaca basmalah dalam salat fardhu -baik oleh imam maupun selain imam- sebelum al-Fatihah atau sebelum surah yang dibaca sesudah al-Fatihah hukumnya makruh. Dan demikian pula menurut mazhab Malikiyah.

Adapun menurut Imam Ahmad, basmalah itu termasuk surat al-Fatihah, beliau berdalil dengan hadits Abu Hurairah. Adapun madzhab Syafi'iyyah bahwa basmalah merupakan ayat dari surat al-Fatihah dan ayat dari setiap surat." (Lihat Al-Maushuu'ah Al-Fiqhiyyah, 8/83-85).

14.2. Basmalah Bagian dari Al-Qur'an atau Bukan? Dan Siapa yang Membacanya?

Dalam Al-Maushuu'ah Al-Fiqhiyyah, para ulama mengatakan:

اختلف الفقهاء في حكم قراءة البسملة بالنسبة للإمام والمأموم والمنفرد، في ركعات الصلاة، لاختلافهم في أنها آية من الفاتحة ومن كل سورة

"Para ahli fikih berbeda pendapat mengenai hukum membaca basmalah bagi imam, makmum, maupun orang yang sholat sendirian pada rakaat-rakaat sholat, karena perbedaan pendapat mereka tentang apakah basmalah merupakan bagian dari ayat Al-Fatihah dan ayat setiap surah (atau tidak)." 

Lalu mereka menyebutkan pendapat empat imam madzhab rahimahumullah sebagai berikut:

14.2.1. Pendapat Madzhab Hanafiyah

 وحاصل مذهب الحنفية في ذلك : أنه يسن قراءة البسملة سرا للإمام والمنفرد في أول الفاتحة من كل ركعة، ولا يسن قراءتها بين الفاتحة والسورة مطلقا عند أبي حنيفة وأبي يوسف، أن البسملة ليست من الفاتحة، وذكرت في أولها للتبرك

وفي قول آخر في المذهب: تجب بداية القراءة بالبسملة في الصلاة، لأنها آية من الفاتحة

وحكم المقتدي عند الحنفية أنه لا يقرأ لحمل إمامه عنه، ولا تكره التسمية اتفاقا بين الفاتحة والسورة المقروءة سرا أو جهرا

"Kesimpulan madzhab Hanafiyah mengenai hal tersebut bahwasanya: Disunnahkan membaca basmalah secara sirr (pelan) bagi imam dan orang yang sholat sendirian di awal Al-Fatihah pada setiap rakaat, dan tidak disunnahkan membacanya di antara Al-Fatihah dan surah lain secara mutlak menurut Abu Hanifah dan Abu Yusuf, karena basmalah bukanlah bagian dari Al-Fatihah dan disebutkan di awalnya hanya untuk tabarruk (mencari keberkahan).

Dan menurut pendapat lain dalam madzhab (Hanafiyah): Wajib memulai bacaan dengan basmalah dalam sholat, karena basmalah merupakan satu ayat dari Al-Fatihah.

Adapun hukum makmum menurut ulama Hanafiyah bahwa ia tidak perlu membacanya karena sudah ditanggung oleh imamnya, dan tidak dimakruhkan membaca basmalah menurut kesepakatan ulama di antara Al-Fatihah dan surah yang dibaca, baik secara sirr (pelan) maupun jahr (keras)."

14.2.2. Pendapat Madzhab Malikiyah

والمشهور عند المالكية: أن البسملة ليست من الفاتحة، فلا تقرأ في المكتوبة سرا أو جهرا من الإمام أو المأموم أو المنفرد، لما ورد عن أنس أنه قال: صليت خلف رسول الله صلى الله عليه وسلم وأبي بكر وعمر وعثمان وعلي، فكانوا يفتتحون القراءة بالحمد لله رب العالمين، ولا يذكرون بسم الله الرحمن الرحيم في أول قراءة ولا في آخرها

ويكره قراءتها بفرض قبل الفاتحة أو السورة التي بعدها، وفي قول عند المالكية : يجب، وهناك قول بالجواز

   وفي رواية في مذهب الإمام مالك أنه يجوز قراءة البسملة في صلاة النفل قبل الفاتحة والسورة في كل ركعة سرا أو جهرا

"Sedangkan pendapat yang mashyur di kalangan ulama Malikiyah: Bahwasanya basmalah bukan bagian dari Al-Fatihah, maka basmalah tidak dibaca dalam sholat fardhu baik secara sirr maupun jahr, baik oleh imam, makmum, maupun oleh orang yang sholat sendirian. Hal ini berdasarkan riwayat dari Anas radhiyallahu 'anhu yang berkata: "Aku pernah sholat di belakang Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, Abu Bakar, Umar, Utsman, dan 'Ali, mereka semua memulai bacaan dengan 'Alhamdulillahi Rabbil 'alamin', dan tidak menyebutkan 'Bismillahirrahmanirrahim' di awal bacaan maupun di akhirnya."

Dan dimakruhkan membacanya dalam sholat fardhu sebelum Al-Fatihah atau surat setelahnya. Menurut satu pendapat dalam madzhab Malikiyah: hukumnya wajib, dan ada pula pendapat yang membolehkan.

Dalam sebuah riwayat dalam madzhab Imam Malik, disebutkan bahwa boleh membaca basmalah dalam sholat sunnah sebelum Al-Fatihah dan surat pada setiap rakaat, baik secara sirr (pelan) maupun jahr (keras).

14.2.3. Pendapat Madzhab Syafi'iyah

والأظهر عند الشافعية : أنه يجب على الإمام والمأموم والمنفرد قراءة البسملة في كل ركعة من ركعات الصلاة في قيامها قبل فاتحة الكتاب، سواء أكانت الصلاة فرضا أم نفلا، سرية أو جهرية، لحديث رواه أبوهريرة : أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال : ((فاتحة الكتاب سبع آيات، إحداهن: بسم الله الرحمن الرحيم. وللخبر: ((لا صلاة لمن لم يقرأ بفاتحة الكتاب))

ويدل على دخول المأمومين في العموم ما صح عن عبادة : كنا نخلف رسول الله صلى الله عليه وسلم في صلاة الفجر، فثقلت عليه القراءة، فلما فرغ قال : ((لعلكم تقرءون خلف إمامكم ، وقلنا : نعم ، قال : لا تفعلوا إلا بفاتحة الكتاب ، فإنه لا صلاة لمن لم يقرأ بها)) وتقرأ البسملة عند ابتداء كل سورة في ركعات الصلاة، ويجهر بها في حالة الجهر بالفاتحة والسورة، وكذا يسر بها معهما، على القول بأن البسملة آية من سائر السور

"Adapun pendapat yang paling kuat menurut ulama Syafi'iyah: Bahwasanya wajib bagi imam, makmum, maupun orang yang sholat sendirian untuk membaca basmalah di setiap rakaat sholat pada saat berdiri sebelum membaca Al-Fatihah, baik sholat tersebut adalah sholat fardhu maupun sholat sunnah, baik dibaca sirr maupun jahr. Hal ini berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: ((Fatihatul Kitaab (Al-Fatihah) itu terdiri dari tujuh ayat, salah satu di antaranya adalah: Bismillahirrahmanirrahim)). Dan berdasarkan hadits: ((Tidak ada sholat bagi orang yang tidak membaca Fatihatul Kitab)).

Yang menunjukkan bahwa makmum juga termasuk dalam keumuman itu adalah riwayat shohih dari Ubadah: "Kami pernah sholat di belakang Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dalam sholat subuh, lalu bacaan beliau terasa berat. Setelah selesai sholat, beliau bersabda: ((Mungkingkah kalian membaca (bacaan lain) di belakang imam kalian?" Kami menjawab: 'Ya.' Beliau bersabda: ((Janganlah kalian lakukan itu kecuali membaca Fatihatul Kitab)), karena sesungguhnya tidak ada sholat bagi orang yang tidak membacanya."

Dan basmalah dibaca ketika memulai setiap surat dalam rakaat-rakaat sholat, serta dijahrkan pada saat bacaan Al-Fatihah dan surat pada sholat jahriyyah, demikian pula disirrkan basmalah saat membaca Al-Fatihah dan Surat lain, berdasarkan pendapat yang menyatakan bahwa basmalah adalah bagian ayat dari seluruh surat."

14.2.4. Pendapat Madzhab Hambali

وعلى الأصح عند الحنابلة : لا يجب قراءة البسمة مع الفاتحة ومع كل سورة في ركعات الصلاة، لأنها ليست آية من الفاتحة ومن كل سورة، لحديث ((قسمت الصلاة بيني وبين عبدي نصفين . . . )) ولأن الصحابة أثبتوها في المصاحف بخطهم، ولم يثبتوا بين الدفتين سوى القرآن

وعلى الأصح: يسن قراءة البسملة مع فاتحة الكتاب في الركعتين الأوليين من كل صلاة، ويستفتح بها السورة بعد الفاتحة، ويسر بها، لما ورد أن النبي صلى الله عليه وسلم ((كان يسر ببسم الله الرحمن الرحيم في الصلاة

وعلى الرواية الأخرى عن أحمد في قرآنية البسملة يجب على الإمام والمنفرد والمأموم قراءة البسملة مع الفاتحة في الصلاة

"Dan menurut pendapat yang paling shohih di kalangan madzhab Hambali adalah: Tidak wajib membaca basmalah bersama Al-Fatihah dan bersama setiap surat dalam rakaat-rakaat sholat, karena basmalah bukan merupakan ayat dari Al-Fatihah maupun dari setiap surat, berdasarkan hadits: ((Aku membagi sholat antara Diri-Ku dan hamba-Ku menjadi dua bagian...)) dan juga karena para sahabat menetapkannya dalam mushaf-mushaf dengan tulisan tangan mereka sendiri, padahal mereka tidak pernah menetapkan di antara dua sampul mushaf selain Al-Qur'an.

Dan menurut pendapat yang lebih shohih: Disunnahkan membaca basmalah bersama Al-Fatihah pada dua rakaat pertama di setiap sholat, serta mengawalinya saat membaca surah setelah Al-Fatihah. Basmalah ini dibaca secara sirr, berdasarkan riwayat bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam ((Selalu membaca bismillaahirraḥmaanirraḥiim secara pelan dalam sholat)).

Adapun menurut Imam Ahmad mengenai status basmalah sebagai bagian dari Al-Qur'an: Wajib hukumnya bagi imam, orang yang sholat sendiri, maupun makmum untuk membaca basmalah bersama Al-Fatihah di dalam sholat." (Al-Maushuu'ah Al-Fiqhiyyah, 8/86-87). 

Dari pemaparan di atas, dapat diambil ringkasannya:

(1) Madzhab Hanafiyah

Kesimpulan madzhab Hanafiyah dalam masalah ini bahwa, disunnahkan bagi imam dan orang yang sholat sendirian membaca basmalah secara pelan pada permulaan surah al-Fatihah di setiap raka'at. Namun, tidak disunnahkan sama sekali membacanya di antara al-Fatihah dan surah setelahnya, karena basmalah bukan termasuk surat Al-Fatihah. Dan menyebutkan basmalah di awal itu hanya sebagai tabarruk. 

(2) Madzhab Malikiyah

Yang masyhur menurut Malikiyyah bahwasannya basmalah bukan bagian dari al-Fatihah dan ia tidak dibaca dalam sholat yang wajib, baik secara sirr ajau jahr. Baik bagi imam atau makmum atau orang yang sholatnya sendirian. 

(3) Yang dzohir dari madzhab Syafi'iyyah bahwasannya wajib bagi imam, makmum dan orang yang sholat sendirian agar membaca basmalah dalam setiap raka'at dari raka'at-rakat sholat sebelum surat al-Fatihah, baik sholat tersebut adalah sholat fardhu maupun sholat sunnah, baik dibaca sirr maupun jahr. 

(4) Adapun menurut riwayat lain dari Imam Ahmad mengenai status basmalah sebagai bagian dari Al-Qur'an: Wajib hukumnya bagi imam, orang yang sholat sendiri, maupun makmum untuk membaca basmalah bersama Al-Fatihah di dalam sholat.

Berkata Syaikh Abdullah bin Abdirrahman bin Sholih Alu Bassam:

ذهب الأئمة الثلاثة: أبو حنيفة، والشافعي، وأحمد، إلى استحباب البسملة في الصلاة

وذهب الإمام مالك: إلى أدم مشروعيتها

واستدل مالك ببعض الروايات في حديث أنس: ((لا يذكرون «بِسْمِ ٱللَّهِ ٱلرَّحْمَـٰنِ ٱلرَّحِيم» في أول قراءة ولا في آخرها))، ولأنها -عنده- ليست آية من القرآن

واستدل الأئمة الثلاثة على مشروعيتها بأحاديث كثيرة: منها حديث أبي هريرة حيث صلى فقرأ: «بِسْمِ ٱللَّهِ ٱلرَّحْمَـٰنِ ٱلرَّحِيم» حتى بلغ «وَلَا ٱلضَّآلِّين»، حتى إذا أتم الصلاة قال: ((إني لأشبهكم صلاة برسول الله صلى الله عليه وسلم)). رواه البخاري

"Tiga imam: Abu Hanifah, Asy-Syafi'i, dan Ahmad berpendapat tentang dianjurkannya membaca basmalah di dalam sholat.

Sedangkan Imam Malik berpendapat tentang tidak disyariatkannya hal tersebut.

Imam Malik berdalil dengan sebagian riwayat dalam hadis Anas: "Mereka tidak menyebut Bismillahirrahmanirrahim pada awal bacaan dan tidak pula di akhir sholat", karena basmalah -menurut pandangan beliau- bukanlah bagian dari ayat Al-Qur'an.

Sementara itu, ketiga imam berdalil atas disyariatkannya membaca basmalah berdasarkan hadits-hadits yang banyak, di antaranya adalah hadits Abu Hurairah: Bahwasanya beliau ketika sholat selalu membaca “Bismillahirrahmanirrahim” hingga sampai pada "waladh-dhoolliin". Ketika beliau menyelesaikan sholatnya, beliau berkata: "Sesungguhnya aku adalah orang yang paling mirip sholatnya dengan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam di antara kalian." Diriwayatkan oleh Al-Bukhari. (Taisiirul 'Alaam Syarh Umdatil Ahkaam, hal.201)

14.3. Bacaan Basmalah Sirr atau Jahr?

Dalam masalah membaca basmalah secara sirr atau jahr juga ada khilaf diantara para ulama.

14.3.1. Dalil yang Menganjurkan Baca Sirr Basmalah

Beberapa hadits yang menganjurkan bacaan sirr adalah hadits riwayat Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu, beliau mengatakan :

.«أن النبي صلى الله عليه وسلم وأبا بكر وعمر رضي الله عنهما كانوا يفتتحون الصلاة  بـ «ٱلْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ ٱلْعَـٰلَمِينَ

"Bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, Abu Bakar, dan Umar radhiyallahu 'nhuma dahulu memulai shalat dengan bacaan Alhamdulillahi Rabbil ‘alamin." (HR. Al-Bukhari, no.743 dalam Taisiirul 'Alaam Syarh Umdatil Ahkam, 1/200)

Dalam riwayat lain:

.«صليت مع أبي بكر وعمر وعثمان، فلم أسمع أحدا منهم يقرأ بـ «بِسْمِ ٱللَّهِ ٱلرَّحْمَـٰنِ ٱلرَّحِيم  

"Aku telah sholat bersama Abu Bakar, Umar, dan  Utsman, akan tetapi aku tidak pernah mendengar mereka membaca Bismillahirrahmanirrahim." (HR. Bukhari, no. 743 dalam Taisiirul 'Alaam Syarh Umdatil Ahkam, 1/200)

Dalam riwayat Muslim:

صليت خلف النبي صلى الله عليه وسلم وأبي بكر، وعمر، وعثمان، رضي الله عنهم،  وكانوا يستفتحون الصلاة  بـ «ٱلْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ ٱلْعَـٰلَمِينَ» لا يذكرون «بِسْمِ ٱللَّهِ ٱلرَّحْمَـٰنِ ٱلرَّحِيم» في أول قراءة ولا في آخرها

"Aku telah sholat di belakang Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, Abu Bakar, Umar, serta Utsman; dan mereka dahulu memulai sholat dengan Alhamdulillahi Rabbil ‘alamin; mereka tidak menyebut Bismillahirrahmanirrahim pada awal bacaan dan tidak pula di akhir sholat." (HR. Muslim, no.399 dalam Taisiirul 'Alaam Syarh Umdatil Ahkam, 1/200).

14.3.2. Dalil yang Menganjurkan Baca Jahr Basmalah

Sedangkan dalil yang membolehkan membaca jahr adalah riwayat Qotadah, ia berkata:

سئل أنس كيف كانت قراءة النبي صلى الله عليه وسلم فقال: ((كانت مدا ثم قرأ «بِسْمِ ٱللَّهِ ٱلرَّحْمَـٰنِ ٱلرَّحِيم» بمد بسم الله، وبمد الرحمن، وبمد الرحيم))

"Anas pernah ditanya, 'Bagaimanakah dahulu bacaan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam?” Ia Beliau menjawab, 'Bacaan beliau dengan memanjangkan suara ketika huruf-huruf mad.' Kemudian beliau mempraktikkannya dengan membaca: «Bismillahirrahmanirrahim» beliau memanjangkan lafadz Bismillah, memanjangkan Ar-Rahman, dan memanjangkan Ar-Rahim." (HR. Al-Bukhari dalam Taisiirul 'Alaam Syarh Umdatil Ahkaam, hal. 201)

Dalam hadits riwayat Ummu Salamah mengatakan: 

«كان يقطع قراءته آية آية «بِسْمِ ٱللَّهِ ٱلرَّحْمَـٰنِ ٱلرَّحِيم، ٱلْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ ٱلْعَـٰلَمِينَ، ٱلرَّحْمَـٰنِ ٱلرَّحِيم، مَـٰلِكِ يَوْمِ ٱلدِّينِ

"Beliau dahulu memutus-mutus bacaannya ayat demi ayat: «Bismillahirrahmanirrahim, Alhamdulillahi rabbil 'alamin, Ar-Rahmanir-Rahim,Maliki yaumid-din»." (HR. Ahmad dan Abu Dawud dalam Taisiirul 'Alaam Syarh Umdatil Ahkaam, hal. 201).

15.4. Komentar Para Ulama tentang Membaca Basmalah secara Sirr atau Jahr

Dalam masalah ini ada khilaf di antara para ulama. Berkata Syaikh Abdullah bin Abdirrahman Alu Bassaam:

ثم اختلف الأئمة في الحكم بالجهر بها

فذهب إلى مشروعيته، الإمام الشافعي

وذهب إلى مشروعية الإسرار، أبو حنيفة، وأحمد

واستدل الشافعي وأتباعه بحديث أنس، حين سئل عن كيفية قراءة النبي صلى الله عليه وسلم فقال:  ((كانت مدا ثم قرأ «بِسْمِ ٱللَّهِ ٱلرَّحْمَـٰنِ ٱلرَّحِيم» بمد بسم الله، وبمد الرحمن، وبمد الرحيم)) رواه البخاري

وبحديث أم سلمة حين سئلت عن قراءته أيضا، فقالت: ((كانت مدا ثم قرأ «بِسْمِ ٱللَّهِ ٱلرَّحْمَـٰنِ ٱلرَّحِيم» بمد بسم الله، وبمد الرحمن، وبمد الرحيم)). رواه أحمد، وأبو داود

ولا يتم للشافعي بهذين الحديثين وأمثالهما، استدلال فيما ذهب إليه

فإنهما يدلان على صفة قراءة النبي صلى الله عليه وسلم، لا على أنه يجهر بالبسملة في الصلاة

قال شيخ الإسلام ابن تيمية: روينا عن الدارقطني أنه قال: لم يصح عن النبي صلى الله عليه وسلم في الجهر (بالبسملة)

واستدل الإمامان ((أبو حنيفة)) و((أحمد)) بأحاديث الباب قال ابن دقيق العيد: والمتيقن من هذا الحديث عدم الجهر، فأنس صحب النبي صلى الله عليه وسلم عشر سنين، وصحب الخلفاء الثلاثة خمسا وعشرين (سنة) و(كان) يصلي خلفهم الصلوات كلها

ويحملون نفي القراءة في بعض الروايات، على عدم الجهر بها، وبهذا تجتمع الأدلة، ويحصل العمل بها جميعا

"Kemudian para imam (madzhab) berbeda pendapat mengenai hukum mengeraskan bacaan basmalah. 

Imam Asy-Syafii berpendapat bahwa hal tersebut disyariatkan.

Sedangkan Abu Hanifah dan Ahmad berpendapat bahwa yang disyariatkan adalah melirihkannya.

Imam Asy-Syafii dan para pengikutnya berdalil dengan hadits Anas ketika beliau ditanya tentang tata cara bacaan Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, lalu ia menjawab: "Bacaan beliau dengan memanjangkan suara ketika huruf-huruf mad." Kemudian beliau mempraktikkannya dengan membaca: «Bismillahirrahmanirrahim» beliau memanjangkan lafadz Bismillah, memanjangkan Ar-Rahman, dan memanjangkan Ar-Rahim." (Diriwayatkan oleh Al-Bukhari).

Dan dengan hadits Ummu Salamah ketika beliau ditanya juga mengenai bacaan Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, lalu ia menjawab: "Beliau dahulu memutus-mutus bacaannya ayat demi ayat: «Bismillahirrahmanirrahim, Alhamdulillahi rabbil 'alamin, Ar-Rahmanir-Rahim,Maliki yaumid-din»". (Diriwayatkan oleh Ahmad dan Abu Dawud).

Namun, pendalilan terhadap apa yang menjadi pendapat Imam Asy-Syafii tidaklah sempurna hanya dengan kedua hadits ini dan yang seumpama dengannya, terhadap pendapat yang beliau tuju. 

Hanya saja kedua hadits tersebut menunjukkan tentang sifat bacaan Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, bukan menunjukkan bahwa beliau mengeraskan suara saat membaca basmalah di dalam shalat.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata: "Telah diriwayatkan kepada kami dari Ad-Daraquthni bahwasanya ia berkata: 'Tidak ada satu hadits pun yang shohih dari Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam mengenai pengerasan bacaan (basmalah)'."

Dua imam, yaitu Abu Hanifah dan Ahmad, berdalil dengan hadits-hadits yang ada pada bab ini. Ibnu Daqiqil 'Id berkata: "Perkara yang sudah dipastikan dari hadits ini adalah tidak adanya pengerasan suara. Karena Anas telah membersamai Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam selama sepuluh tahun, dan membersamai tiga khalifah selama dua puluh lima tahun, dan ia selalu shalat di belakang mereka dalam seluruh shalat."

Dan mereka (para ulama yang melirihkan basmalah) menafikan bacaan basmalah yang terdapat dalam sebagian riwayat, sebagai penafian terhadap pengerasan suaranya (bukan tidak dibaca sama sekali). Dengan pemahaman demikian, semua dalil dapat dikompromikan dan semuanya dapat diamalkan secara bersamaan." (Taisiirul 'Alaam Syarh Umdatil Ahkaam, hal. 201-202).

Syaikh Abdullah bin Manshur mengatakan:

ثم يشرع له أن يقول بعد الاستعاذة: بسم الله الرحمن الرحيم، قبل قراءة الفاتحة، ويسر في الجهرية بدعاء الاستفتاح، والاستعاذة، والبسملة؛ لحديث أنس رضي الله عنه: ((أن النبي صلى الله عليه وسلم وأبا بكر وعمر كانوا يفتتحون الصلاة بـ «ٱلْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ ٱلْعَـٰلَمِينَ» ، وفي رواية: ((لا يجهرون «بِسْمِ ٱللَّهِ ٱلرَّحْمَـٰنِ ٱلرَّحِيم»)). وهذا يعني أنهم كانوا يسرون بما قبل الفاتحة

"Kemudian disyariatkan bagi orang yang sholat untuk mengucapkan setelah isti'adzah: 'Bismillahir rahmanir rahim' sebelum membaca al-Fatihah. Dan ia membaca secara sirr (pelan) pada shalat jahriyyah (shalat yang bacaannya dikeraskan) untuk doa iftitah, isti'adzah, dan basmalah; berdasarkan hadits Anas radhiyallahu 'anhu: ((Bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, Abu Bakar, dan Umar radhiyallahu 'nhuma dahulu memulai shalat dengan bacaan Alhamdulillahi Rabbil ‘alamin)).' Dan dalam riwayat yang lain: ((Mereka tidak mengeraskan bacaan Bismillahir rahmanir rahim)). Dan ini berarti bahwa mereka melirihkan bacaan yang ada sebelum al-Fatihah." (Syarh Akhshar al-Mukhtashorot, hal. 137).

Berkata Manshur bin Muhammad al-Saq'ub:

البسملة يقولها المصلي سرا ولا يسن الجهر بها

"Bacaan basmalah itu dibaca oleh orang yang sholat secara sirr (pelan) dan tidak disunnahkan membacanya secara jahr (keras)." (Ta'liiqul Muqni' 'ala Zaadil Mustaqni', hal.293)

Berkata Manshur bin Yunus al-Buhuti:

ثم يبسمل ندبا، فيقول: ((بسم الله الرحمان الرحيم)). وهي قرآن، آية منه، نزلت فصلا بين السور، غير براءة، فيكره ابتداؤها بها. ويكون الإستفتاح والتعوذ، والبسملة (سرا). ويخير في غير صلاة في الجهر بالبسملة (وليست) البسملة (من الفاتحة). وتستحب عند فعل كل

"Dianjurkan membaca basmalah,  lalu mengucapkan: 'Bismillahirrahmanirrahim'. Dan basmalah adalah Al-Qur'an, salah satu ayat dari Al-Qur'an, yang diturunkan sebagai pemisah antara surat-surat selain surah Bara'ah (At-Taubah), maka dimakruhkan memulai surat Bara'ah dengan basmalah tersebut. Dan basmalah adalah sebagai istiftah, ta'awwudz, serta diucapkan secara pelan. Dan diberikan pilihan di luar ibadah shalat untuk mengeraskan bacaan basmalah. Dan basmalah itu bukan bagian dari surah Al-Fatihah. Dan disunnahkan (membaca basmalah) ketika hendak melakukan setiap perkara yang penting." (Raudhul Murbi' Syarh Zaadil Mustaqni', 1/128)

Syaikh Utsaimin mengatakan :

قوله: «سرا»، أي: يبسمل سرا، يعني: إذا كانت الصلاة جهرية. أما إذا كانت الصلاة سرية فإنه سوف يسر بالبسملة وبالقراءة، فقوله: «سرا» يعني: أنه لا يسمعها المأمومين، وإن كان يجهر بالقراءة؛ وذلك لأن أكثر الأحاديث الواردة عن النبي صلى الله عليه وسلم تدل على أنه كان يقرؤها سرا. بل قد قيل: إن كل حديث ذكر فيه الجهر بالبسملة فهو ضعيف.

"Perkataan beliau (Imam Al-Hajjawi) : (secara sirr), yaitu: dia membaca basmalah secara lirih, maksudnya: apabila itu adalah sholat jahriyyah (yang bacaannya dikeraskan).

Adapun apabila itu adalah shalat sirriyyah (yang bacaannya dipelankan), maka dia akan melirihkan bacaan basmalah dan bacaan suratnya. Perkataan beliau (Al-Hajjawi): (secara sirr) maknanya: dia tidak memperdengarkannya kepada para makmum, walaupun dia menyaringkan bacaan suratnya.

Dan yang demikian itu karena mayoritas hadits-hadits yang datang dari Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam menunjukkan bahwa beliau membaca basmalah secara sirr. Bahkan, dikatakan: sesungguhnya setiap hadits yang disebutkan di dalamnya mengenai mengeraskan bacaan basmalah, maka status hadits tersebut adalah lemah." (Asy-Syarh Al-Mumti' 'ala Zaadil Mustaqni', 3/57)

Pembahasan tentang masalah bacaan sirr dan jahr basmalah ini sangat panjang, bisa juga dibaca di sini. Dan pendapat yang paling bagus adalah pendapatnya Ibnul Qoyyim yang mengatakan : 

وكان يجهر بـ (بسم الله الرحمن الرحيم) تارة، ويخفيها أكثر مما يجهر بها، ولا ريب أنه لم يكن يجهر بها دائماً في كل يوم وليلة خمس مرات أبداً حضراً وسفراً، ويخفى ذلك على خلفائه الراشدين، وعلى جُمهور أصحابه، وأهل بلده في الأعصار الفاضلة، هذا من أمحل المحال حتى يحتاج إلى التشبث فيه بألفاظ مجملة، وأحاديث واهية، فصحيح تلك الأحاديث غير صريح، وصريحها غير صحيح، وهذا موضع يستدعي مجلّداً ضخماً

"Dan beliau (Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam) terkadang mengeraskan bacaan 'Bismillahirrahmanirrahim', namun beliau lebih sering membaca pelan dari pada mengeraskannya. Dan tidak diragukan lagi bahwa beliau tidak mengeraskan bacaan tersebut secara terus-menerus sebanyak lima kali sehari semalam, baik saat mukim maupun saat safar. Sangat mustahil jika hal itu luput dari pengetahuan para Khalifah Rasyidin, mayoritas sahabat beliau, serta penduduk negeri beliau pada kurun-kurun waktu yang utama.

Ini merupakan perkara yang paling mustahil dari yang mustahil, sehingga tidak perlu sampai memaksakan diri berpegang teguh pada lafadz-lafadz yang bermakna global ataupun hadis-hadits yang lemah. Sebab, hadits yang shahih dalam bab ini tidak bermakna tegas, sedangkan hadits yang tegas statusnya tidak sahih. Dan pembahasan mengenai masalah ini sebenarnya membutuhkan satu jilid kitab yang tebal." (Baca selengkapnya di sini).

Karena itu tidak mengapa membaca keras basmalah sesekali terutama jika kita sedang mengimami masyarakat umum di masjid kampung sebagai hikmah dalam berdakwah, untuk menghindari kehebohan di tengah masyarakat awam yang selama ini mengeraskan bacaan basmalah.

Sebuah kaidah mengatakan :

درء المفاسد مقدم من جلب المصالح

"Menghilangkan kemudhorotan lebih didahulukan daripada mengambil sebuah kemashlahatan."  

Membaca sirr basmalah mashlahat karena menghidupkan sunnah Nabi di tengah masyarakat, namun masyarakat yang awam ternyata tahunya membaca basmalah dengan jahr. Ketika ada yang membaca sirr akan menimbulkan kekacauan atau pengusiran sehingga menimbulkan mudhorot untuk dakwah, maka membaca jahr basmalah adalah pilihan untuk menghilangkan kemudhorotan tersebut. 

Karena itu butuh orang-orang yang berilmu yang menjadi imam dalam sholat, agar tidak terjadi masalah seperti di atas. 

13. Siapa yang Paling Berhak Menjadi Imam Sholat

Tidak semua orang bisa menjadi imam meskipun dia ikhwan pengajian, karena kedudukan imam sholat selain bagus bacaannya, banyak hafalannya, dia juga harus berilmu tentang fiqih sholat. Inilah prinsip dasar yang harus dikedepankan dari sekedar banyak hafalan.

Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam:

يؤم القوم أقرؤهم لكتاب الله فإن كانوا في القراءة سواء فأعلمهم بالسنة ، فإن كانوا في السنة سواء فأقدمهم هجرة ، فإن كانوا في الهجرة سواء فأقدمهم سلما

"Yang paling berhak mengimami suatu kaum adalah orang yang paling baik bacaan Al-Qur'annya. Jika mereka sama dalam bacaan, maka yang paling mengetahui tentang sunnah. Jika mereka sama dalam sunnah, maka yang paling dahulu berhijrah. Dan jika mereka sama dalam hijrah, maka yang paling dahulu masuk Islam." (HR. Muslim, no. 673 dalam Fiqh al-Muyassar, hal.81)

Para ulama menjeskan makna hadits di atas :

(1) "Yang paling bagus bacaannya yaitu yang mutqin bacaan al-Qur'annya, yang paling sempurna bacaannya, yang berilmu tentang fikih sholat, apabila berkumpul antara yang paling bagus bacaannya dan yang paling sedikit hafalan al-Qur'annya akan tetapi dia paling faham tentang ilmu fikih, maka didahulukan pembaca al-Qur'an yang paling faqih (yang paling berilmu) atas pembaca al-Qur'an yang tidak faqih, karena kebutuhan pada ilmu fiqih dalam sholat dan hukum-hukumnya, lebih penting dari kebutuhan pada yang lebih indah bacaannya.

(2). Kemudian yang paling faqih dan yang paling berilmu tentang sunnah, yakni jika berkumpul dua imam yang sama dalam bacaan, akan tetapi salah seorang dari keduanya ada yang paling faqih dan paling berilmu tentang sunnah, maka didahulukan yang paling faqih, berdasarkan sabda Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam :

وإن كانوا في القراءة سواء فاعلمهم بالسنة

"Jika dari sisi bacaan mereka sama, maka dilihat siapa yang paling paham tentang sunnah". 

(3). Kemudian mendahulukan yang lebih dahulu berhijrah dari negeri kafir menuju negeri Islam jika mereka sama dalam bacaan dan pengetahuannya tentang sunnah.

(4). Kemudian yang paling dahulu masuk Islam, jika mereka sama dalam hal hijrah.

(5). Kemudian yang paling tua umurnya, apabila keduanya sama dalam semua urusan yang telah lalu, dahulukan yang lebih tua umurnya berdasarkan sabda Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam pada hadits yang telah berlalu : 

وإن كانوا في الهجرة سواء أقدمهم سلما - وفي رواية : سنا

"Jika ternyata mereka sama dalam masalah hijrah, maka dahulukan siapa yang lebih dulu masuk Islam -dalam satu riwayat : umur-. 

Dan berdasarkan sabda Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam :

وليؤمكم أكبركم

"Hendaknya yang menjadi imam kalian adalah yang paling senior."

Apabila keduanya sama dalam semua yang telah disebutkan, diundi antara mereka berdua, siapa yang menang dalam undian, dialah yang didahulukan. 

Pemilik rumah, ia lebih berhak menjadi imam daripada tamunya, berdasarkan sabda Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam :

لا يؤمن الرجل الرجل في أهله ولا في سلطانه

"Dan janganlah seseorang menjadi imam terhadap yang lain di rumahnya dan di tempat kekuasaannya.

Demikian juga penguasa lebih berhak menjadi imam sholat dari selainnya -dia (penguasa) merupakan imam yang paling besar- berdasarkan keumuman hadits barusan, dan demikian juga imam masjid tetap lebih berhak dari selainnya -kecuali penguasa- meskipun yang selainnya lebih bagus bacaannya dan lebih berilmu ; berdasarkan keumuman sabda Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam :

لا يؤمن الرجل الرجل في أهله ولا في سلطانه

"Dan janganlah seseorang menjadi imam terhadap yang lain di rumahnya dan di tempat kekuasaannya." (Al-Fiqh al-Muyassar fii Dhou'il Kitaab was Sunnah, hal.81-82)

Imam Asy-Syaukani mengatakan:

والأصل: أن الصلاة عبادة يصح تأديتها خلف كل مصل إذا قام بأركانها وأذكارها على وجه لا تخرج به الصلاة عن الصورة المجزئة، وإن كان الإمام غير متجنب للمعاصي، ولا متورع عن كثير مما يتورع عنه غيره؛ ولهذا إن الشارع إنما اعتبر حسن القراءة والعلم والسن، ولو لم يعتبر الورع والعدالة، فقال: ((يؤم القوم أقرؤهم لكتاب الله، فإن كانوا في القراءة سواء فأعلمهم بالسنة، فإن كانوا في السنة سواء فأقدمهم هجرة، فإن كانوا في الهجرة سواء فأقدمهم سنا)). أخرجه مسلم -رحمه الله- وغيره من حديث ابن مسعود.

​وفي حديث مالك بن الحويرث: ((وليؤمكما أكبركما)). وهو في الصحيحين وغيرهما

​وقد استخلف النبي صلى الله عليه وسلم ابن أم مكتوم على المدينة مرتين فصلى بهم وهو أعمى

​والحاصل: أن الشارع اعتبر الأفضلية في القراءة والعلم بالسنة، وقدم الهجرة وعلو السن؛ فلا ينبغي للمفضول في مثل هذه الأمور أن يؤم الفاضل إلا بإذنه، ولا اعتبار بالفضل في غير ذلك

"Dan hukum asalnya: Sholat merupakan suatu ibadah yang sah pelaksanaannya di belakang (bermakmum kepada) setiap yang sholat apabila ia menegakkan rukun-rukun sholat dan dzikir-dzikirnya dengan suatu cara yang tidak menyebabkan sholat tersebut tidak sah, walaupun imam tersebut tidak menjauhi kemaksiatan dan tidak bersikap wara' (berhati-hati) dari banyak hal yang mana orang lain bersikap wara' darinya. ​Oleh karena itulah, pembuat syari'at (Allah dan Rasul-Nya) hanya mempertimbangkan bagusnya bacaan, ilmu, dan usia, serta tidak mempertimbangkan sifat wara' dan keadilan. 

Maka Beliau bersabda: "Yang paling berhak mengimami suatu kaum adalah orang yang paling baik bacaan Al-Qur'annya. Jika mereka sama dalam bacaan, maka yang paling mengetahui tentang sunnah. Jika mereka sama dalam sunnah, maka yang paling dahulu berhijrah. Dan jika mereka sama dalam hijrah, maka yang paling tua usianya." (Diriwayatkan oleh Muslim -semoga Allah merahmatinya- dan selainnya dari hadits Ibnu Mas'ud).

​Dan di dalam hadits Malik bin al-Huwairits disebutkan: "Dan hendaklah yang mengimami kalian berdua adalah yang paling tua di antara kalian berdua." (Hadits ini terdapat dalam Ash-Shahihain dan selain keduanya).

​Dan sungguh Nabi sallallahu 'alaihi wa sallam pernah menunjuk Ibnu Ummi Maktum sebagai pengganti (pimpinannya) di Madinah sebanyak dua kali, lalu ia mengimami mereka sholat padahal ia adalah seorang yang buta.

Kesimpulannya, sesungguhnya pembuat syariat (Allah dan Rasul-Nya) telah mempertimbangkan keutamaan dalam bacaan al-Qur'an dan pengetahuan tentang sunnah, serta mendahulukan hijrah dan ketinggian usia (lebih tua). Maka tidak selayaknya orang yang kurang utama dalam perkara-perkara semisal ini mengimami orang yang lebih utama, kecuali dengan izinnya. Dan tidak ada pertimbangan terhadap keutamaan dalam selain perkara-perkara tersebut." (Ad-Daraariy al-Mudhiyyah Syarh ad-Duraril Bahiyyah, hal. 86)

Di masjid yang terjadi insiden membaca basmalah jahr dan sirr di atas, ada seorang imam senior yang bacaannya bagus. Beliau sudah mengaji salaf dan beliau juga sangat diterima oleh masyarakat, tokoh di kampung dan sering di denganr ucapannya dalam berdialog-dialog ilmiyyah santai dengan pemuka-pemuka di masjid. Beliau menjadi imam sholat di masjid tersebut sebelum beliau mendapatkan hidayah salaf, hingga sekarang. Biarkan beliau saja yang menjadi imamnya, karena selain usianya sudah sepuh, bacaannyanya juga bagus dan paling tahu tentang sunnah di antara pemuka-pemuka di masjid.

Related Posts: