TUKANG RAMAL ADALAH DUKUN

  

Bismillah. Alhamdulillah. Wa shallallahu 'ala Nabiyyina Muhammdin wa 'ala aalihi wa shahbihi ajma'iin. Wa ba'du.

Tukang ramal adalah orang yang mengaku mengetahui tentang ilmu ghoib, dan para ulama menyebutnya dengan istilah dukun, ahli nujum, dan yang semisal dengan itu.

Sebagian orang membedakan antara tukang ramal dengan dukun, bahwa tukang ramal tidak termasuk dukun. Bagaimana penjelasan para ulama mengenai hal ini?

Kita mulai dari hadits Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, beliau bersabda:

من أتى عرافا، فسأله عن شيء فصدقه، لم تقبل له صلاة أربعين يوما

"Barangsiapa yang mendatangi tukang ramal, lalu ia bertanya kepadanya tentang sesuatu, maka tidak diterima sholatnya selama empat puluh malam." (HR. Muslim, no.2230 dalam Kitabut Tauhid).

Makna Al-'Arraf adalah tukang ramal, namun para ulama menyebutnya juga sebagai dukun dan ahli nujum, paranormal dan ilmu tersebut termasuk dalam kategori ilmu-ilmu di masa jahiliyyah.

Makna Al-'Arraf (Tukang Ramal)

Syaikh Hasan Alu Syaikh mengatakan:

قال المصنف رحمه الله تعالى : قال البغوي : العراف : الذي يدعي معرفة الأمور بمقدمات يستدل بها على المسروق ومكان الضالة ، ونحو ذلك

وقيل : هو الكاهن . والكاهن : هو الذي يخبر عن المغيبات في المستقبل

وقيل : الذي يخبر عما في الضمير

وقال أبو العباس ابن تيمية : العراف : اسم للكاهن والمنجم والرمال ونحوهم ممن يتكلم في معرفة الأمور بهذه الطرق

Penulis (Syaikh Muhammad bin Abdil Wahhab) rahimahullah mengatakan: Al-Arraf (peramal) adalah orang yang mengaku mengetahui perkara-perkara ghoib melalui indikasi-indikasi yang digunakan untuk menunjukkan barang yang dicuri, tempat barang yang hilang, dan sejenisnya.

Dikatakan juga: Al-Arraf adalah dukun. Sedangkan dukun adalah orang yang memberitahukan tentang hal-hal ghoib di masa depan.

Pendapat yang lain juga: Al-Arraf adalah orang yang memberitahukan tentang apa yang ada di dalam hati.

Berkata Abu Al-Abbas Ibnu Taimiyah: Al-Arraf adalah sebutan yang mencakup dukun, ahli nujum, peramal, dan yang sejenis dengan mereka, dari orang-orang yang mengaku mengetahui tentang hal-hal ghoib melalui cara-cara ini." (Fathul Majiid, hlm.269-270).

Syaikh Hasan Alu Syaikh Mengatakan:

قوله : (العراف : الذي يدعي معرفة الأمور). ظاهره، أن العراف : هو الذي يخبر عن الواقع كالسرقة وسارقها، والضالة ومكانها

وقال شيخ الإسلام : إن العراف : اسم للكاهن والمنجم والرمال ونحوهم، كالحازر الذي يدعي علم الغيب، أو يدعي الكشف! وقال أيضا : والمنجم يدخل في اسم العراف، وعند بعضهم هو في معناه. وقال أيضا : والمنجم يدخل في اسم الكاهن، عند الخطابي وغيره من العلماء، وحكي ذلك عن العرب. وعند آخرين : هو من جنس الكاهن، وأسوأ حالا منه، فيلحق به من جهة المعنى

وقال الإمام أحمد : العراف : طرف من السحر. والساحر أخبث

وقال أبو السعادات : العراف : المنجم، والحازر الذي يدعي علم الغيب، وقد استأثر الله تعالى به

وقال ابن القيم : من اشتهر بإحسان الزجر عندهم سموه عائفا، وعرافا

والمقصود من هذا : معرفة من يدعي معرفة علم شيء من المغيبات، فهو إما داخل في اسم الكاهن، وإما مشارك له في المعنى، فيلحق به. وذلك أن إصابة المخبر ببعض الأمور الغائبة، في بعض الأحيان يكون بالكشف. ومنه ما هو من الشياطين، ويكون : بالفأل، والزجر، والطيرة، والضرب الحصى، والخط في الأرض، والتنجيم، والكهانة، والسحر، ونحو هذا من علوم الجاهلية

ونعني بالجاهلية : كل من ليس من أتباع الرسل عليهم السلام، كالفلاسفة والكهان والمنجمين، وجاهلية العرب الذين كانوا قبل مبعث النبي صلى الله عليه وسلم؛ فإن هذه علوم القوم، ليس لهم علم بما جاءت به الرسل عليهم السلام. وكل هذه الأمور تسمى صاحبها كاهنا وعرافا، أو في معناهما. فمن أتاهم فصدقهم بما يقولون لحقه الوعيد

وقد ورث هذه العلوم عنهم أقوام ، فادعوا بها علم الغيب الذي استأثر الله تعالى بعلمه، وادعوا أنهم أولياء، وأن ذلك كرامة

ولا ريب أن من ادعى الولاية ، واستدل بإخباره ببعض المغيبات فهو من أولياء الشيطان ، لا من أولياء الرحمن! ؛ إذ الكرامة : أمر يجريه الله على يد عبده المؤمن المتقي : إما بدعاء، أو أعمال صالحة لا صنع للولي فيها، ولا قدرة له عليها. بخلاف من يدعي أنه ولي لله، ويقول للناس : اعلموا أني أعلم المغيبات؛ فإن مثل هذه الأمور قد تحصل بما ذكرنا من الأسباب، وإن كانت أسبابا محرمة كاذبة في الغالب

Perkataannya Al-Baghawi: (al-Arraf yaitu orang yang mengaku mengetahui perkara-perkara ghoib). Dzahirnya, bahwa al-Arraf adalah orang yang memberitahukan tentang hal yang telah terjadi seperti pencurian dan pelakunya, serta barang hilang beserta lokasinya.

Syaikhul Islam mengatakan: 'Sesungguhnya al-Arraf adalah sebutan untuk dukun, ahli nujum, peramal, dan yang sejenisnya, seperti al-Hazir yaitu orang yang yang mengaku mengetahui ilmu ghoib, atau mengaku mendapat kasyf (menyingkap perkara ghoib)!' Beliau juga berkata: 'Dan ahli nujum termasuk dalam sebutan al-Arraf, dan menurut sebagian ulama ia bermakna sama dengannya.' Beliau berkata lagi: 'Dan ahli nujum termasuk dalam sebutan dukun menurut Al-Khatthobi dan ulama lainnya, dan hal itu diriwayatkan dari bangsa Arab. Sedangkan menurut yang lain: ia termasuk sejenis dengan dukun, bahkan lebih buruk keadaannya daripada dukun. Oleh karena itu, ia disamakan dengan dukun dari sisi makna.'

Imam Ahmad mengatakan: 'Al-Arraf adalah salah satu cabang dari sihir, dan tukang sihir itu lebih buruk.'

Abu As-Sa'adat mengatakan: 'Al-Arraf adalah ahli nujum dan orang yang mengaku tahu ilmu ghoib, padahal ilmu ghoib itu hanya milik Allah Ta'ala secara khusus.'

Ibnul Qayyim mengatakan: 'Siapa di antara mereka yang terkenal sebagai ahli dalam meramal nasib lewat terbangnya burung, mereka menamainya degnan 'A'if dan 'Arraf (peramal).'

Maksud dari pembahasan ini adalah mengetahui siapa saja yang mengaku mengetahui sesuatu dari ilmu ghoib adalah ia termasuk dalam sebutan dukun, atau menyamai dukun secara makna, sehingga ia dihukumi sama dengan dukun. Karena itu benarnya berita sang peramal tentang sebagian perkara ghoib pada beberapa kesempatan terjadi lewat kasyf dan diantaranya terjadi dengan bantuan setan. Adakalanya lewat firasat, adakalanya terjadi dengan meramal lewat burung, anggapan sial, meramal dengan melempar kerikil, membuat garis di tanah, ramalan bintang, perdukunan, sihir, dan sejenisnya yang merupakan bagian dari ilmu-ilmu jahiliyah.

Dan yang kami maksud dengan jahiliyah adalah setiap orang yang bukan dari orang yang mengikuti Rasul 'alaihimussalam, seperti para filsuf, dukun, dan ahli nujum, serta orang-orang jahiliyah Arab sebelum diutusnya Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, karena ini adalah ilmu kaum tersebut, mereka tidak memiliki ilmu tentang apa yang dibawa oleh para Rasul 'alaihimussalam. Dan semua ini dinamakan pelakunya sebagai dukun dan peramal, atau yang semakna dengan dukun dan peramal. Maka barangsiapa yang mendatangi mereka lalu membenarkan apa yang mereka katakan, ia terkena ancaman hukuman tersebut.

Dan sungguh, ilmu-ilmu ini telah diwarisi dari mereka oleh sekelompok orang, lalu mereka mengaku-ngaku memiliki ilmu ghoib, padahal ilmu ghoib adalah sesuatu yang hanya dikuasai secara khusus oleh Allah Ta'ala, serta mereka mengaku bahwa mereka adalah para wali, dan mengetahui ilmu ghoib tersebut adalah karomah!!

Dan tidak diragukan lagi bahwa siapa saja yang mengaku wali, lalu menjadikannya sebagai dalil atas kabar-kabarnya mengenai sebagian perkara ghoib, maka ia termasuk dari wali-wali setan, bukan dari wali-wali Ar-Rahman! Karena karomah adalah perkara yang Allah jalankan melalui tangan hamba-Nya yang beriman lagi bertakwa: adakalanya disebabkan oleh doa, atau amal-amal sholih yang di dalamnya sang wali tidak memiliki peranan dan tidak pula memiliki kuasa atasnya. Berbeda halnya dengan orang yang mengaku bahwa dirinya adalah wali Allah, lalu berkata kepada manusia: 'Ketahuilah bahwa aku mengetahui perkara-perkara ghoib, sebab perkara-perkara semacam ini memang bisa terjadi melalui sebab-sebab yang telah kami sebutkan, meskipun sebab-sebab tersebut diharamkan dan umumnya karena berdusta." (Fathul Majiid, hlm.270-271).

Faedah:

1. Makna Al-'Arraf adalah tukang ramal atau dukun yaitu orang yang mengaku tahu tentang perkara-perkara ghoib, bahkan mengaku mampu menunjukkan lokasi barang yang dicuri, tempat barang yang hilang, dll padahal semua itui dusta.

2. Peringatan keras mendatangi tukang ramal, dukun dan yang semisalnya dan bertanya kepadanya

3. Kabar dari tukang ramal, dukun, ahli nujum tidak boleh dipercaya. Seandainya yang datang kepada mereka ragu tentang kabar dari mereka, hukumnya sama saja, ancamannya tidak diterima sholatnya selama 40 hari.

4. Dukun dan tukang ramal tidak tahu tentang perkara ghoib kecuali Allah Ta'ala sebagaimana firman-Nya:

وَعِندَهُۥ مَفَاتِحُ ٱلْغَيْبِ لَا يَعْلَمُهَآ إِلَّا هُوَ ۚ وَيَعْلَمُ مَا فِى ٱلْبَرِّ وَٱلْبَحْرِ ۚ وَمَا تَسْقُطُ مِن وَرَقَةٍ إِلَّا يَعْلَمُهَا وَلَا حَبَّةٍۢ فِى ظُلُمَـٰتِ ٱلْأَرْضِ وَلَا رَطْبٍۢ وَلَا يَابِسٍ إِلَّا فِى كِتَـٰبٍۢ مُّبِينٍۢ

Artinya : "Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang ghaib; tidak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri, dan Dia mengetahui apa yang di daratan dan di lautan, dan tiada sehelai daun pun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula), dan tidak jatuh sebutir biji-pun dalam kegelapan bumi, dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfudz)." (QS. Al-An'am : 59)

5. Benarnya berita sang peramal tentang sebagian perkara ghoib pada beberapa kesempatan terjadi lewat kasyf dan diantaranya terjadi dengan bantuan setan. Adakalanya lewat firasat, adakalanya terjadi dengan meramal lewat burung, anggapan sial, meramal dengan melempar kerikil, membuat garis di tanah, ramalan bintang, perdukunan, sihir, dan sejenisnya yang merupakan bagian dari ilmu-ilmu jahiliyah.

6. Ilmu jahiliyyah yang di maksud adalah ilmu selain ilmu yang dibawa Rasul shallallahu 'alaihi wa sallam seperti ilmu para filsuf, dukun, dan ahli nujum, serta orang-orang jahiliyah Arab sebelum diutusnya Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, karena ini adalah ilmu yang banyak tersebar di tengah kaum tersebut, mereka tidak memiliki ilmu tentang apa yang dibawa oleh para Rasul 'alaihimussalam

7. Pentingnya mempelajari ilmu tauhid dan mendakwahkannya

*** , 

Grand Sahara-Purwodadi-Sidayu-Gresik, 16 Rabiul Awwal 1448 H / 29 Agustus 2026

Penulis : Abu Dawud ad-Dumbuwiyy

Artikel : Meciangi-d.blogspot.com

Related Posts:

0 Response to "TUKANG RAMAL ADALAH DUKUN"

Post a Comment