CADAR NARSIS

Bismillah. Alhamdulillahi Rabbil 'aalamiin. Wa shallallahu 'ala Nabiyyina Muhammadin wa 'ala aalihi wa shahbihi ajma'iin. Wa ba'du.

Tulisan ini ditulis untuk kaum muslimah, khususnya para wanita yang bercadar, karena sejatinya mereka ini adalah orang-orang yang telah memiliki fitrah yang baik, namun terkadang di awal-awal masa-masa hijrah mereka, dunia maya seolah menjadi tempat curhat dan keluh kesah mereka apalagi setelah masa-masa hijrah terjadi.

Berawal dari keresahan hati melihat banyaknya akun-akun gadungan yang mengatas namakan akhwat, dan banyaknya keluh kesah para ikhwan yang mengaku mereka sengaja menggunakan akun-akun palsu untuk menjerat para muslimah, dan entah apa tujuannya. Karena itu tulkisan ini murni sebuah nasihat karena iman sebagai sesama muslim kepada para akhawat dan muslimah, lebih-lebih yang sudah bercadar.

Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda :

.الدين النصيحة. قلنا : لمن يا رسول الله؟ قال : لله، ولكتابه ولرسوله، ولأئمة المسلمين، وعامتهم

"Agama adalah nasihat", kami (para sahabat) berkata : 'Untuk siapa wahai Rasulullah?' Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda : “Untuk Allah, kitab-Nya, Rasul-Nya, para pemimpin kaum muslimin dan masyarakat pada umumnya.” (HR. Muslim, no.55).

Karena agama kita adalah nasihat, maka kewajiban kita sesama muslim adalah saling menasehati dalam kebaikan, meskipun yang menasihati bukan seorang yang sempurna, tapiu sedang menuju ke arah itu.

Jangan Keluar Rumah Tanpa Ada kebutuhan

Akhawat fillah, fitrah wanita sholihah itu, tersembunyi di dalam bentengnya yang kokoh yaitu istananya alias rumahnya, karena Allah 'Azza wa Jalla telah memerintahkan para wanita secara umum untuk menetap di rumah-rumah mereka sebagaimana dalam firman-Nya :

«وَقَرْنَ فِى بُيُوتِكُنَّ وَلَا تَبَرَّجْنَ تَبَرُّجَ ٱلْجَـٰهِلِيَّةِ ٱلْأُولَىٰ ۖ وَأَقِمْنَ ٱلصَّلَوٰةَ وَءَاتِينَ ٱلزَّكَوٰةَ وَأَطِعْنَ ٱللَّهَ وَرَسُولَهُۥٓ ۚ إِنَّمَا يُرِيدُ ٱللَّهُ لِيُذْهِبَ عَنكُمُ ٱلرِّجْسَ أَهْلَ ٱلْبَيْتِ وَيُطَهِّرَكُمْ تَطْهِيرًۭا»

Artinya : "Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu* dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliyah yang dahulu dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan taatilah Allah dan Rasul-Nya. Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, hai ahlul bait dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya." (QS. Al-Ahzab : 33).

Ibnu Katsir menjelaskan tafsir ayat di atas sebagai berikut:

«وقرن في بيوتكن» أي الزمن بيوتكن، فلا تخرجن لغير حاجة، ومن الحوائج الشرعية، الصلاة في المسجد بشرطه، كما قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: ((لا تمنعوا إماء الله مساجد الله وليخرجن وهن تفلات))، وفي رواية: ((وبيونهن خير لهن))

وروى الحافظ البزار عن أنس رضي الله عنه قال: جئن النساء إلى رسول الله صلى الله عليه وسلم فقلن: يا رسول الله ذهب الرجال بالفضل والجهاد في سبيل الله تعالى، فما لنا عمل ندرك به عمل المجاهدين في سبيل الله تعالى؟ فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم: ((من قعدت - أو كلمة نحوها - منكن في بيتها فإنها تدرك عمل المجاهدين في سبيل الله تعالى))

وعن النبي صلى الله عليه وسلم قال: ((إن المرأة عورة فإذا خرجت استشرفها الشيطان، وأقرب ما تكون بروحة ربها وهي في قعر بيتها)). وفي الحديث : ((صلاة المرأة في مخدعها أفضل من صلاتها في بيتها، وصلاتها في بيتها أفضل من صلاتها في حجرتها))

.وقوله تعالى : «ولا تبرجن تبرج الجاهلية الأولى»

.قال مجاهد : كانت المرأة تخرج تمشي بين يدي الرجال فذلك تبرج الجاهلية

.وقال قتادة : كانت لهن مشية وتكسر وتغنج فنهى الله تعالى عن ذلك

وقال مقاتل : التبرج أنها تلقي الخمار على رأسها ولا تشده فيواري قلائدها وقرطها وعنقها ويبدو ذلك كله منها وذلك التبرج، ثم عمت نساء المؤمنين في التبرج

"«Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu», maksudnya adalah menetaplah kalian di rumah-rumah kalian dan janganlah keluar tanpa adanya kebutuhan. Di antara kebutuhan yang dibolehkan secara syariat adalah shalat di masjid dengan memenuhi syarat-syaratnya, sebagaimana bersabda Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam: ((Janganlah kalian melarang hamba-hamba perempuan Allah untuk mendatangi masjid-masjid Allah, dan hendaknya mereka keluar tanpa memakai wewangian)). Dan dalam satu riwayat disebutkan: ((Dan rumah-rumah mereka adalah lebih baik bagi mereka)).

Al-Hafiz Al-Bazzar meriwayatkan dari Anas radhiyallahu 'anhu, ia berkata: 'Kaum wanita datang kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam lalu berkata: "Wahai Rasulullah, kaum laki-laki telah memborong keutamaan dan pahala berjihad di jalan Allah Ta'ala. Lalu, amalan apa bagi kami yang dengannya kami bisa menyamai pahala amalan para mujahidin di jalan Allah Ta'ala?" Maka Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: ((Siapa saja di antara kalian yang berdiam diri -atau kalimat serupa dengannya- di rumahnya, maka sesungguhnya amalan itu dapat menyamai amalan para mujahidin di jalan Allah Ta'ala)).

Dan dari Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, beliau bersabda: ((Sesungguhnya wanita itu adalah aurat. Maka apabila ia keluar, setan akan mengawasinya (memperindahnya di mata laki-laki). Dan kondisi paling dekatnya seorang wanita dengan rahmat Rabb-nya adalah ketika ia berada di dalam bagian terdalam dari rumahnya)). Dan dalam hadits yang lain disebutkan: ((Shalatnya seorang wanita di dalam kamarnya lebih utama daripada shalatnya di dalam rumahnya, dan shalatnya di dalam rumahnya lebih utama daripada shalatnya di dalam ruang tengahnya)).

Dan firman Allah Ta'ala: «Dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliyah yang dahulu».

Mujahid berkata: 'Dahulu seorang wanita keluar dan berjalan di hadapan kaum laki-laki, maka hal itulah yang dinamakan tabarruj jahiliyah.'

Qatadah berkata: 'Dahulu kaum wanita memiliki cara berjalan yang dibuat-buat, gemulai, dan manja/berlenggak-lenggok, maka Allah Ta'ala melarang hal tersebut.'

Muqatil berkata: 'Tabarruj adalah ketika seorang wanita mengenakan kerudung di atas kepalanya tetapi tidak mengikatnya (dengan rapat), sehingga tidak menutupi kalung, anting-anting, dan lehernya, lalu semua itu tampak darinya; maka itulah yang dinamakan tabarruj. Kemudian hal itu sempat meluas di kalangan wanita-wanita beriman dalam hal tabarruj.'" (Mukhtashor Tafsiir Ibni Katsiir, 3/93-94).

Ada beberapa penafsiran tentang apa itu tabarruj dari para ulama, (1) Seorang wanita keluar dan berjalan di hadapan kaum laki-laki, dan ini bentuk tabarruj jahiliyyah menurut Imam Mujahid. (2) Seorang wanita yang memiliki cara berjalan yang dibuat-buat, gemulai, dan berlenggak-lenggok, manja, ini juga disebut tabarruj pada zaman dahulu menurut Qotadah. (3) Adapun menurut Muqotil tabarruj adalah ketika seorang wanita mengenakan kerudung di atas kepalanya tetapi tidak mengikatnya dengan rapat, sehingga kalung, anting-anting, dan lehernya, semua tampak.

Poin 2 dan 3 yang paling banyak terjadi hari ini, baik di dunia nyata maupun di sosial media. Membuat video pendek di pinggir pantai, lalu berlari-lari kecil sembari berputar-putar. Ada juga yang berjalan berlenggak-lenggok, bersikap manja, ada pula yang sekedar memperlihatkan sepatunya, ada pula yang memotret bayangannya, dan apa sebenarnya tujuannya? Entahlah.

Yang membuat hati miris adalah, video-video mereka ini di tonton oleh jutaan pasang mata di platform sosial media. Ada yang mengagumi lekuk tubuhnya di balik cadar yang tertiup angin sehingga menampakkan apa yang tidak semestinya nampak, ada yang mengagumi kedipan matanya yang indah di balik tatapannya yang penuh harapan untuk dikagumi, dan ada pula yang mengagumi langkah gemulai dan manjanya yang membuat para netizen berdecak kagum. Apakah itu penampilan para muslimah yang telah berhijab di zaman kenabian? Maka anda yang lebih tahu jawabannya.

Tampil Cantik dan Menarik di Sosial Media

Sudariku muslimah dan para akhawat fillah, sesungguhnya ujian terberat para wanita di akhir zaman ini adalah fitnah teknologi.

Tampil cantik dan menarik di sosial media memang godaan menarik dan menjadi cita-cita hampir seluruh wanita, orang awam maupun para akhawat bercadar. Namun anehnya sosial media adalah tempat untuk berkamuflase banyak laki-laki hidung belang, ikhwan-ikhwan gadungan, dll. Bahkan banyak di antara mereka yang sengaja membuat akun-akun sosial media palsu dengan nama wanita, tujuannya adalah untuk menghancurkan anda.

Sanjungan, pujian, ingin diperhatikan, ingin tampil cantik dan menarik memang itu semua adalah sifat sejati wanita yang Allah fitrahkan, tapi bukan sosial media tempatnya, tapi ada cara yang lebih halal. Jika itu dilakukan di luar kendali syariat, maka hal semacam ini bisa mendatangkan musibah bagi para akhawat itu sendiri dan menurunkan muro'ah, menghilangkan rasa malu, dan menjerumuskannya dalam kehinaan yang sebenarnya.

Selfie dan update foto di sosial media memang satu hal yang paling disukai oleh para akhawat. Berpindah dari satu pose ke pose lainnya dengan bermacam-macam gaya dan beraneka ragam model selfie. Ada yang upload foto saat berlari-lari kecil sambil berputar-putar, ada yang mengupload foto cadar dengan dua jari telunjuk sambil memiringkan kepala, ada yang mengupload foto sandalnya saja, ada pula yang mengupload foto kakinya saja yang dibalut kaos kaki berbunga-bunga. Bahkan yang lebih mengherankan ada para akhawat bercadar yang hanya mengupload foto bayangannya saja agar laki-laki tidak terfitnah. Yaa akhawat, bertakwalah kalian kepada Allah Ta'ala, sesungguhnya bayanganmu saja adalah fitnah. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda :

.إن المرأة تقبل في صورة شيطان، وتدبر في صورة شيطان

"Sesungguhnya wanita menghadap kedepan dalam bentuk syaithon dan menghadap ke belakang dalam bentuk syaithon." (HR. Muslim no.1403)

Imam Nawawiy rahimahullah dalam Syarah Shohih Muslim menjelaskan maksud hadits diatas sebagai berikut :
 
قوله صلى الله عليه وسلم: ((إنَّ المرأة تُقبِل في صورة شيطان، وتدبر في صورة شيطان))، قال العلماء: معناه الإشارة إلى الهوى، والدُّعاء إلى الفتنة بها؛ لِما جعله الله تعالى في نفوس الرجال من الميل إلى النِّساء والالتذاذ بنظرهنَّ وما يتعلق بهنَّ، فهي شبيهة بالشيطان في دعائه إلى الشرِّ بوسوسته وتزيينه له، ويُستنبط من هذا أنَّه ينبغي لها ألَّا تخرج بين الرجال إلا لضرورة، وأنَّه ينبغي للرجل الغض عن ثيابها والإعراض عنها مطلقًا؛ اهـ
 
"Sabda Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam ((Sesungguhnya wanita menghadap kedepan dalam bentuk syaithon dan menghadap ke belakang dalam bentuk syaithon)), berkata para ulama : Maknanya adalah isyarat kepada hawa nafsu, dan seruan menuju fitnah kepadanya ; (yaitu) tatkala Allah Ta'ala menjadikan jiwa laki-laki condong kepada para wanita dan kenikmatan memandangnya dan apa saja yang berkaitan dengannya. Maka dari itu wanita diserupakan dengan syaithon dalam hal seruannya kepada keburukan melalui bisikannya, serta upayanya menjadikan keburukan tampak indah. Dari hadits ini dapat diambil kesimpulan bahwa hendaknya para wanita agar tidak keluar di antara kaum laki-laki kecuali dalam keadaan darurat, dan hendaknya bagi laki-laki agar tidak memperhatikan (menundukkan pandangan) dari pakaian-pakaian para wanita tersebut dan berpaling darinya secara mutlak." (Shahih Muslim Bisyarh Nawaawiy, juz 9/254).
 
Lalu bagaimana dengan para akhawat yang berlari dan berputar-putar dalam postingan videonya di sosial media, mereka tampak ceria, bahagia, dan riang gembira, padahal srigala-srigala lapar sedang mengintai untuk menghancurkanmu.
 
Seorang penyair mengatakan:
 
“Domba tersesat mengundang perhatian srigala kelaparan.
Mereka haus dan rakus ingin menyantapnya.
Janganlah engkau gembira dengan lolongan srigala-srigala itu, larilah... selamatkan dirimu.
Karena ia dan rombongannya telah kuat keinginannya.
Untuk menerkammu serta menyantapmu.
Sedangkan engkau tidak mengetahui tipu daya mereka." 

Pada hadits yang lain, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda :

.المرأة عورة، فإذا خرجت استشرفها الشيطان

"Wanita itu aurat. Apabila dia keluar, setan terus memandanginya (untuk menghias-hiasinya sehingga menimbulkan fitnah bagi laki-laki)." (Diriwayatkan oleh Tirmidzi dalam Misykaatul Mushaabiih, no.3109)

Pada hadits yang lain, dari Abu Sa'id al-Khudriy, dari Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda :

إن الدنيا حلوة خضرة، وإن الله مستخلفكم فيها، فينظر كيف تعملون، فاتقوا الدنيا واتقوا النساء، فإن أول فتنة بني إسرائيل كانت في النساء

"Sesungguhnya dunia itu manis dan hijau, dan sesungguhnya Allah (telah) menjadikan kalian khalifah diatas bumi, kemudian Dia akan melihat apa yang kalian amalkan, maka berhati-hatilah kalian terhadap dunia dan berhati-hatilah kalian terhadap wanita, karena ujian pertama yang menimpa Bani Isroil adalah pada kaum wanita." (HR. Muslim no.2742).

Karena itu bayanganmu, tidak usah di posting di sosial media, karena bayanganmu pun adalah fitnah. 

Seorang penyair mengatakan:

"Betapa anehnya para akhawat, begitu polos melihat manusia.

Sesungguhnya wanita adalah fitnah, maka sadarlah wahai orang yang tinggi husnudzonnya."

Pada hadits yang lain, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam juga bersabda :

.ما تركتُ بعدي فتنة أضر على الرجال من النساء

"Aku tidak meninggalkan sepeninggalku suatu fitnah yang lebih berbahaya bagi laki-laki dari pada wanita.” (HR. Bukhari no.5096 dan Muslim no.2740).

Karena itulah Allah Ta'ala berfirman :
 
«وَخُلِقَ ٱلْإِنسَـٰنُ ضَعِيفًۭا»
 
Artinya : "Dan manusia dijadikan bersifat lemah." (QS. An-Nissa' : 28)
 
Berkata Ibnu Katsir dalam menafsirkan ayat diatas: 
 
وقال ابن أبي حاتم : حدثنا محمد بن إسماعيل، حدثنا وكيع عن سفيان، عن ابن طاوس، عن أبيه «وَخُلِقَ ٱلْإِنسَـٰنُ ضَعِيفًۭا» أي في أمر النساء. وقال وكيع : يذهب عقله عندهن
 
"Berkata Ibnu Abi Hatim mengenai ayat diatas : .Menceritakan kepada kami Muhammad bin Ismail, menceritakan kepada kami Waki' dari Sufyan dari Ibnu Thawus, dari ayahnya dia berkata, “Manusia diciptakan dalam keadaan lemah” yaitu lemah dalam urusan wanita. Dan berkata Waki' : “Akalnya (laki-laki) hilang ketika disisi wanita.” (Tafsiir Ibni Katsir, 1/434).
 
Berkata Ibnul Jauzi dalam kitabnya Dzammul Hawa: 
 
وعان سفيان الثوري في قوله تعالى : «وَخُلِقَ ٱلْإِنسَـٰنُ ضَعِيفًۭا» [النساء : ٢٨]، قال : المرأة تمر بالرجل، فلا يملك نفسه عن النظر  إليها، ولا ينتفع بها، فأي شيء أضعف من هذا؟
 
"Dari Sufyan ats-Tsauriy mengenai firman Allah Ta'ala : “Manusia diciptakan dalam keadaan lemah”. (An-Nisaa' : 28) dia berkata : Seorang wanita melewati laki-laki. Laki-laki ini tidak mampu menahan dirinya dari memandang wanita ini dan ia tidak dapat pula mengambil manfaatnya. Apakah yang lebih lemah daripada ini?" (Dzammul Hawa, Imam Abul Faraj Abdurrahman Ibnul Jauziy, hal : 111).

Sabda-sabda Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam pada hadits diatas dan ucapan-ucapan para ulama, menunjukkan akan bahayanya fitnah wanita itu nyata. Tidak ada sepeninggal Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam suatu fitnah yang paling berbahaya bagi laki-laki dari pada wanita. Bahkan fitnah wanita inilah yang pernah menghancurkan kejayaan dan kedigdayaan Bani Isroil dahulu, lalu bagaimana dengan mereka yang sengaja membuat akun-akun palsu di sosial media, menyamar menjadi wanita di akun sosial medianya, melike video lari-lari kecilmu, foto-foto selfiemu dengan dua jari itu, foto kaos kakimu, foto bayanganmu? Maka renungkanlah wahai saudari-saudariku.

Karena itu, banyak kasus pemerkosaan terjadi dimana-mana, di kampung, di kota, di desa, di kampus, bahkan kakek-kakek yang berusia 80 tahun, masih berhasrat berbuat sesuatu kepada wanita, sehingga banyak kita saksikan realitanya mereka nekat memperkosa gadis berumur 5 tahun, ayah tega memperkosa anak kandungnya, anak-anak SD rela memperkosa teman sekolahnya, dan lain sebagainya, karena wanita adalah sumber fitnah, bahkan wanita merupakan fitnah terbesar bagi laki-laki di sepanjang zaman. Belum lagi di sana banyak para ikhwan bujangan pecinta koleksi foto-foro akhwat bercadar terutama yang narsis, memandangnya, menjadikannya sebagai pemuas syahwat, sebagai bahan khayalan, dan akun-dari akun misterius mereka di sosial media bertebaran di mana-mana. Bahkan mereka membeli jubah akhawat secara khusus dan segala pernak-perniknya, menggantungnya di kamarnya, memandangnya, dan menghayalkannya para akhawat yang selfie dengan sejuta pose itu. Dan dari pengakuan mereka di sosial media beberapa tahun lalu, mereka memang mengincar foto-foto narsis para akhawat bercadar. Tidak pernahkan kalian mendengar berita bahwa banyak dari kalangan laki-laki yang menyamar menjadi akhawat di majelis kajian, menggunakan cadar, sebagaimana pernah terjadi di Yogyakarta dan kota-kota lain, padahal mereka berkumis, berjenggot, waliyaadzubillah.  

Karena demikian, sadarlah wahai para akhawat dan fokus saja beribadah, banyak bertaubat, karena hukum asalnya kalian adalah fitnah. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam juga bersabda :

 .ما رأيت من ناقصات عقل ودين، أذهب للب الرجل الحازم، من إحداكن يا معشر النساء

"Aku tidak pernah melihat orang yang kurang akal dan agamanya paling bisa menghilangkan akal laki-laki yang kokoh daripada salah seorang kalian wahai para wanita." (HR. Al-Bukhari no. 1462).

Pada hadits ini, Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam menjelaskan tentang sanggupnya wanita menghilangkan akal laki-laki yang paling kuat sekalipun. Ini kabar yang mengerikan, potensi merusak yang luar biasa, apalagi jika memang sengaja untuk menarik perhatian di sosial media. Maka sadarlah wahai saudariku, renungkan dan bersembunyilah dari dunia yang semakin mengerikan ini.

Hukum Asal Wanita adalah Fitnah dan Pemilik Rasa Malu

Sejatinya wanita bisa meredam fitnah, jika mereka mengikuti perintah Allah dan rasul-Nya dan mengedepankan sifat malunya.

Dalam sebuah hadits, dari Qotadah ia mengatakan :

.سمعت أبا السوار يحدث. أنه سمع عمران ابن حصين يحدث عن النبي صلى الله عليه وسالم أنه قال : الحياء لا يأتي إلا بخير

"Aku mendengar Abu Sawwar menceritakan. Bahwasannya dia (Abu Sawwar) mendengar 'Amran bin Hushain menceritakan dari Nabi shallalahu 'alaihi wa sallam bahwasannya beliau bersabda : "Malu tidak mendatangkan sesuatu kecuali kebaikan." (HR. Muslim, no. 37).

Pada hadits yang lain, dari 'Amran bin Hushain juga bahwasanya Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda :

.الحياء خير كله. قال أو قال : الحياء كله خير

"Malu itu kebaikan seluruhnya". Beliau berkata atau beliau bersabda : "Malu itu semuanya baik". (HR. Muslim, no. 37).

Karena sifat malu semuanya baik, maka ia tidak mendatangkan kecuali kebaikan. Tatkala rasa malu para akhawat telah sirna dan lenyap, akan hilang pula dari mereka kebaikan-kebaikan yang banyak, lalu mereka akan berbuat semaunya.

Dalam hadits Abu Mas'ud 'Uqbah bin 'Amr al-Anshary radhiyallahu 'anhu, ia berkata :

.قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: إن مما أدرك الناس من كلام  النبوة الأولى: إذا لم تستح فاصنع ما شئت

Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda : "Sesungguhnya diantara yang diketahui manusia dari perkataan para Nabi terdahulu : Jika engkau tidak punya malu, maka berbuatlah sesukamu". (HR. Al-Bukhari, no.6120).

Jika para akhawat sudah tidak lagi memiliki lagi rasa malu, dia pasti akan melakukan apa saja yang dia kehendaki. Dia tidak peduli jika yang melihat sosial medianya laki-laki ajnabi, dia akan riang meskipun yang me like foto-foto di instagramnya ikhwan-ikhwan asing, dia akan bangga meskipun yang mengomentari foto-foto di beranda facebooknya adalah laki-laki yang bukan mahramnya, padahal semua itu merupakan awal dari kehancuran dan kehinaan bagi para wanita atau para akhawat.

Orang-orang terdahulu, para wanita muslimah di zaman kakek nenek kita, mereka begitu pandai menjaga dirinya, jauh dari hiruk-pikuknya teknologi, jauh dari carut-marutnya sosial media yang menipu. Mereka bagaikan mutiara-mutiara yang tersimpan rapi dalam etalase-etalase kaca, dalam balutan rasa malu yang menyelimuti qolbunya, sehingga pantaslah mereka diibaratkan seperti bunga yang tumbuh di lereng pegunungan yang terjal lagi curam, tidak ada yang bisa menggapainya kecuali mereka yang bersungguh-sungguh untuk menggapainya dan yang halal baginya. Maka, mengapa wanita diakhir zaman semakin pudar keindahannya? Jawabannya ada pada anda.

Semoga tulisan ini bermanfaat, dan menjadi bahan renungan untuk kita semua. Baarakallahu fiikum.

***

Dompu, Nusa Tenggara Barat : 26 Syawal 1443 H/27 Mei 2022 

Penulis : Abu Dawud ad-Dombuwiyy

Artikel : Meciangi-d.blogspot.com

Related Posts:

UMAT ISLAM AKAN TERPECAH MENJADI 73 GOLONGAN YANG SELAMAT ADALAH AL-JAMA'AH

Bismillah. Alhamdulillahi Rabbil 'aalamiin. wa shallallahu 'ala nabiyyina Muhammadin wa 'ala aalihi wa shahbihi ajma'iin.

Diakhir zaman, Islam akan terpecah menjadi berkelompok-berkelompok, berfirqoh-firqoh, semuanya menyimpang dari jalannya Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam kecuali satu yaitu al-Jama'ah.

al-Jama'ah

Siapa mereka ini? Mereka adalah yang berjalan diatas jalannya Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam dan para sahabatnya. Dalam sebuah hadits :

عن معاوية بن أبي سفيان رضي الله عنهما أنه قال : ألا إن رسول الله صلى الله عليه وسلم قام فينا فقال : ((ألا إن من قبلكم من أهل الكتاب افترقوا على ثنتين وسبعين ملة وإن هذه الملة ستفترق على ثلاث وسبعين : ثنتان وسبعون في النار وواحدة في الجنة، وهي الجماعة)) رواه أبو داود، وقال شيخ الإسلام في المسائل : هو حديث صحيح مشهور، وصححه الشاطبي في الاعتصام وقال ابن حجر في تخريج الكشاف : إسناده حسن. وفي رواية للترمذي والحاكم من حديث عبد الله بن عمرو : ((ما أنا عليه اليوم وأصحابي)).

"Dari Mu'awiyah bin Abi Sufyan radhiyallahu 'anhuma bahwa ia mengatakan : Ketahuilah, sesungguhnya Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam telah berdiri dihadapan kami lalu bersabda : ((Ketahuilah, sesungguhnya orang-orang sebelum kalian dari kalangan ahlul kitab, mereka terpecah menjadi tujuh puluh dua golongan. Dan sesungguhnya agama ini (Islam) akan terpecah menjadi tujuh puluh tiga golongan, tujuh puluh dua golongan di Neraka dan satu golongan di Surga, yaitu al-jama'ah)). Diriwayatkan oleh Abu Dawud, dan Syaikhul Islam mengatakan dalam al-Masaa'il : Hadits tersebut hadits shohih yang cukup mashur, dan Asy-Syathibi telah mensohihkannya, dan Ibnu Hajar mengatakan dalam takhrij al-Kassaaf : Sanad haditsnya hasan. Dalam riwayat at-Tirmidzi dan al-Haakim dari hadits Abdullah bin bin 'Amr : ((al-Jama'ah yaitu) Apa yang aku dan para sahabatku berada diatasnya)). [Kitaabul Al-Arba'iin fii Madzabis Salaf, hal.9].

Golongan yang Selamat diantara 73 Golongan adalah al-Jama'ah.

Jika ada pertanyaan, siapa golongan yang selamat? Jawabannya adalah mereka yang berjalan diatas jalannya Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam dan para sahabatnya.

Dalam hadits yang lain Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda :

((كلهم في النار إلا مله واحدة : ما أنا عليه وأصحابي))
. رواه الترمذي وحسنه الألباني في صحيح الجامع ٥٢١٩

"Semua golongan tersebut di Neraka kecuali satu  yaitu yang aku dan para sahabatku berada diatasnya." Diriwayatkan oleh at-Tirmidzi dan dihasankan oleh al-Albaany dalam dalam shahiih al-jaami' 5219. [Minhaaj al-Firqotin Naajiyah wa at-Thooifah al-Manshuuroh, hal.7]

Yang selamat kata Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam yaitu :  Yang aku dan para sahabatku berada diatasnya. Inilah golongan yang selamat, nama lainnya adalah al-jama'ah.

ath-Thoifah al-Manshuurah

Dalam hadits yang lain, yang selamat diantara 73 golongan adalah ath-thoifah al-manshuurah. Mereka adalah para ahli hadits.

عن المغيرة بن شعبة رضي الله عنه عن النبي صلى الله عليه وسلم قال : ((لا تزال طائفة من أمتي ظاهرين حتى يأتيهم أمر الله وهم ظاهرون)). رواه البخاري

 صرح جماهير أهل العلم أنهم أهل الحديث

"Dari al-Mughiroh bin Syu'bah radhiyallahu 'anhu dari Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda : ((Senantiasa ada sekolompok dari umatku orang-orang yang tegak -diatas kebenaran- sampai datang kepada mereka perintah Allah sedangkan mereka dalam keadaan menang)). Hadits ini diriwayatkan oleh Al-Bukhari.

Jumhur ulama telah menerangkan bahwasanya mereka adalah para ahli hadits." [Kitaabul 'Arbaa'iin fii Madzhabis Salaf, hal. 10].

Jadi golongan yang selamat dari 73 golongan adalah at-thoifah al-manshuuroh yakni para ahli hadits.

Berkata Asy-Syaikh Muhammad bin Jamil Zainu : 

الفرقة الناجية هم أهل الحديث الذين قال رسول الله صلى الله عليه وسلم فيهم : ((لا تزال طائفة من أمتي ظاهرين على الحق، لا يضرهم من خذلهم حتى يأتيهم أمر الله)). رواه مسلم

وقال الشاعر : أهل الحديث هم أهل النبي وإن لم يصحبوا نفسه أنفسه صحبوا

Al-Firqotun Naajiyah (golongan yang selamat) mereka adalah ahlul hadits (para ahli hadits) yang Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda tentang mereka : ((Senantiasa ada sekolompok dari umatku orang-orang yang tegak diatas kebenaran, tidak memudhorotkan mereka orang yang tidak menolong mereka sampai datang perintah Allah)). Diriwayatkan oleh Muslim.

Seorang penyair mengatakan : "Ahli hadits itu mereka keluarga Nabi, sekalipun mereka tidak bergaul dengan Nabi, tetapi jiwa mereka bergaul dengannya." [Minhaaj al-Firqotin Naajiyah wa at-Thooifah al-Manshuuroh, hal.10]

Asy-Syaikh Muhammad bin Jamil Zainu lalu membawakan hadits Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam yang lain serta membawakan ucapan salaf :

وقال صلى الله عليه وسلم : ((إذا فسد أهل الشام فلا خير فيكم، ولا تزال طائفة من أمتي منصرون، لا يضرهم من خذلهم حتى تقوم الساعة)). صحيح رواه أحمد

قال ابن المبارك : هم عندي أصحاب الحديث

وقال البخاري : قال علي بن المديني : هم أصحاب الحديث

وقال أحمد بن حنبل : إن لم تكن هذه الطائفة المنصورة أصحاب الحديث فلا أدري من هم؟

يقول الإمام الشافعي يخاطب الإمام أحمد : أنتم أعلم بالحديث مني، فإذا جاءكم الحديث صحيحا أعلموني به حتى أذهب إليه سواء كان حجازيا أم كوفيا أم بصريا

"Jika penduduk Syam telah rusak, maka tidak ada lagi kebaikan diantara kalian. Dan senantiasa ada sekelompok dari umatku orang-orang yang mendapat pertolongan, tidak membahayakan mereka orang yang menghinakan mereka hingga datang hari kiyamat." (Shahih riwayat Ahmad).

Ibnul Mubarak mengatakan : "Menurutku mereka adalah ashhabul hadits (para ahli hadits)."

Imam Al-Bukhari mengatakan : "Ali bin Madini mengatakan :  'Mereka adalah para ahli hadits.'"

Imam Ahmad mengatakan : "Jika kelompok yang mendapat pertolongan itu bukan para ahli hadits maka aku tidak mengetahui lagi siapa mereka."

Imam Asy-Syafi'i berkata kepada Imam Ahmad bin Hambal : "Engkau lebih tahu tentang hadits daripada aku. Bila sampai kepadamu hadits yang shahih maka beritahukanlah kepadaku, sehingga aku bermadzhab dengannya, baik ia (madzhab) Hijaz, Kuffah maupun Bashrah." [Minhaaj al-Firqotin Naajiyah wa at-Thooifah al-Manshuuroh, hal.15-16]

Jadi kesimpulannya tafsiran siapa itu al-jama'ah, al-firqotun Naajiyah (golongan yang selamat), ath-thoifah al-manshuurah (kelompok yang ditolong), atau ahlus sunnah wal jama'ah, mereka adalah para ahli hadits. Sebagian ulama mengatakan mereka adalah para pengikut salaf.

Faedah yang bisa diambil :

1. Umat Islam akan terpecah menjadi 73 golongan, 72 masuk neraka dan satu masuk surga, mereka adalah al-jama'ah

2. Makna al-jama'ah yaitu "Yang Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam dan para sahabatnya berada diatasnya.

3. Diantara nama lain al-jama'ah adalah golongan yang selamat atsu ath-thooifah al-manshuuroh, mereka adalah para ahli hadits.

4. Tafsiran siapa itu al-jama'ah, al-firqotun Naajiyah (golongan yang selamat), ath-thoifah al-manshuurah (kelompok yang ditolong), atau ahlus sunnah wal jama'ah, mereka adalah para pengikut salaf.

5. Para pengikut salaf yang dimaksud yaitu mereka yang mengikuti cara beragama tiga generasi terbaik umat ini : (1) Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, (2) para sahabat radhiyallahu 'anhum, (3) para tabi'in rahimahumullah ajma'iin sebagaimana hadits Nabi : 

خير الناس قرني ثم الذين يلونهم ثم الذين يلونهم

"Sebaik manusia adalah zamanku, kemudian setelahnya kemudian setelahnya." [HR. Al-Bukhari, no.2652 (hal.502)]

Semoga tulisan ringkas ini bermanfaat. Baarakallahu fiikum.

***

Dompu, Nusa Tenggara Barat : 26 Syawal 1443 H/27 Mei 2022 

Penulis : Abu Dawud ad-Dombuwiyy

Artikel : Meciangi-d.blogspot.com

Related Posts:

MEMPERBAIKI AKHLAK


Bismillah. Alhamdulillahi Rabbil 'aalamiin. Wa shallallahu 'ala Nabiyyina Muhammadin wa 'ala aalihi wa shahbihi ajma'iin. Wa ba'du.

Berbicara tentang akhlak, akhlak merupakan perangai atau tabiat yang menjadi tolak ukur baik buruknya agama seseorang. Akhlak ada dua, (1) Akhlak kepada Allah, (2) Akhlak kepada sesama manusia. Akhlak kepada Allah seperti taat kepada-Nya, melaksanakan perintah-Nya, menjauhi larangan-Nya, melaksanakan kewajiban-kewajiban yang Allah wajibkan dan meninggalkan perkara-perkara yang Allah benci. Sedangkan akhlak terhadap sesama manusia kembali kepada dua hal, (1) baiknya ucapan dan perbuatan, (2) tidak mengganggu dengan lisan dan perbuatan.

Karena itu, Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam diutus untuk memperbaiki akhlak, dan para ulama-pun sangat perhatian tentang masalah akhlak ini, sehingga mereka menulis kitab-kitab adab, agar penuntut ilmu memiliki akhlak dan adab yang baik dalam menuntut ilmu, adab kepada Allah dan kepada manusia, karena sebelum ia terjun di kancah dakwah yang sejati, tampil di publik, berdakwah layaknya seorang 'aalim, ustadz kabir, dll, adab dan akhlaknya harus diperhatikan. Seorang penuntut ilmu, atau seorang da'i yang berdakwah di jalan Allah, jika buruk adab dan akhlaknya, ini akan bertentangan dengan ilmu yang melekat padanya dan dakhwah yang ia emban. Perhatikan firman Allah Ta'ala :

 «وَإِنَّكَ لَعَلَىٰ خُلُقٍ عَظِيمٍۢ»

Artinya : "Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung." (QS. Al-Qolam : 4)

Ditinjau dari sisi internal manusia akhlak itu ada dua, (1) Akhlak yang bersumber dari tabiat bawaan. Akhlak ini susah di rubah. Jika sudah terlanjur buruk, maka sifat buruk itu akan terus mewarnai seseorang meskipun sudah belajar ad-diin (agama). Tapi jika akhlaknya baik, maka akan terus mewarnai seseorang meskipun dia awam atau belum belajar agama. Makanya, jika ada orang awam yang akhlaknya baik, itu dari tabiat bawaan lahirnya ; dermawan, suka menolong, santun, pandai menjaga lisan, tidak suka memuji diri, mebesar-besarkan diri, tawadhu, padahal awam, hanya sholat yang wajib-wajib saja, hanya puasa yang wajib-wajib saja, demikian keadaannya seterusnya.

(2) Akhlak yang diusahakan. Akhlak ini dipaksakan untuk mencocoki al-Qur'an dan sunnah. Sulit memang, tapi orang yang bersungguh-sungguh akan mampu merubah tabiat dan akhlak buruknya. Namun inti dari akhlak terhadap sesama manusia sebagaimana yang telah disebutkan ada dua : (1) baiknya ucapan dan perbuatan. (2) tidak mengganggu dengan lisan dan perbuatan. Perhatikan hadits Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam berikut ini :

عن عبد الله بن مسعود رضي الله تعالى عنه أن النبي صلى الله عليه وسلم قال : ((سباب المسلم فسوق وقتاله كفر))

Dari Abdullah bin Mas'ud radhiyallahu Ta'ala 'anhu bahwasanya Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda : "Mencaci maki seorang muslim adalah kefasikan dan membunuhnya adalah kekafiran". [HR. Al-Bukhari, no.48. Muslim no.64. Lihat juga Kitab al-Arba'iin fii Madzhabis Salaf, hlm : 30] 

Para ulama memasukkan hadits ini dalam kitab empat puluh hadits dalam madzhab salaf, menunjukkan hadits ini adalah prinsip pokok bagi orang-orang yang mengikuti manhaj salaf, kecuali yang bukan salafi sejati.

Inti dari hadits ini ada dua, (1) mencaci maki seorang muslim adalah kefasikan. (2) membunuh seorang muslim adalah kekafiran.
 
Mencaci maki adalah perbuatan lisan, artinya ; menggangu kaum muslimin dengan ucapan lisan termasuk akhlak yang buruk terhadap sesama manusia, dan ini merupakan perbuatan kefasikan. (2) membunuh seorang muslim adalah kekafiran, artinya ; mengganggu kaum muslimin dengan tangan adalah akhlak yang buruk, apalagi sampai membunuhnya adalah kekafiran.

Dalam hadits yang lain, dari Abdullah bin Umar radhiyallahu 'anhu Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda :

((من حمل علينا السلاح فليس منا))

"Barangsiapa yang mengacungkan senjata kepada kami, maka dia bukan golongan kami." [HR. Al-Bukhari, no.7070. Muslim no.98. Lihat juga Kitab al-Arba'iin fii Madzhabis Salaf, hlm: 32] 

Hadits ini juga dimasukkan oleh para ulama dalam kitab empat puluh hadits dalam madzhab salaf, artinya ;  hadits ini merupakan prinsip yang pokok dalam manhaj salaf.
 
Inti dari hadits ini ; tidak boleh mencacungkan senjata kepada kaum muslimin. Ini menunjukkan bahwa menakut-nakuti kaum muslimin hukumnya haram, baik dengan membawa senjata tajam, maupun dengan mengacungkan benda-benda berbahaya lainnya. Menakut-nakuti dengan senjata adalah bentuk gangguan tangan. Dan Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam mengancam siapa saja yang melakukan hal itu bahwa mereka bukan dari golongannya shallallahu 'alaihi wa sallam. Ini ancaman yang keras, yang harus diperhatikan oleh setiap muslim dan muslimah bahwa mengganggu kaum muslimin dengan lisan -sebagaimana telah berlalu- atau dengan tangan sebagaimana hadits diatas, hukumnya haram.!

Dalam hadits yang lain, dari Abdullah bin 'Amr radhiyallahu 'anhuma, bahwasannya Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda :
 
 ((المسلم من سلم اكمسلمون من لسانه ويده))

"Orang muslim (yang paling baik akhlaknya), yang muslim lainnya selamat dari gangguan lisan dan tangannya." [HR. Al-Bukhari no.10]. 
 
Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam menyebutkan dua hal sebagaimana hadits diatas, (1) gangguan lisan, (2) gangguan tangan. 

Dalam lafadz Muslim, dari Abdullah bin 'Amr bin 'Ash radhiyallahu 'anhuma mengatakan :
 
إن رجلا سأل رسول الله صلى الله عليه وسلم : أي المسلمين خير؟ قال : ((من سلم المسلمين من لسانه ويده))
 
"Sesungguhnya seorang laki-laki telah bertanya kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam : Siapakah muslim yang paling baik? Beliau bersabda : (Orang yang muslim lainnya selamat dari gangguan lisan dan tangannya)). [HR. Muslim, no.40]

Pada hadits kedua, seorang bertanya kepada Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam tentang siapakah muslim yang paling baik? Beliau bersabda : "Orang yang muslim lainnya selamat dari gangguan lisan dan tangannya."
 
Lagi-lagi Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam menyebutkan dua perkara, (1) gangguan lisan, (2) gangguan tangan. 

Kenapa ini banyak disebutkan? Karena kebanyakan gangguan yang dilakukan oleh seorang muslim kepada muslim lainnya, berupa gangguan lisan dan tangan. Lisan dengan menggunjing, memfitnah, mengejek, mengolok, menjatuhkan kehormatan, sedangkan gangguan tangan dengan mengacungkan senjata, memukul, menampar, membunuh dll. Karena demikian, baiknya akhlak seseorang tolak ukur pertamanya adalah lisan. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda : 

((من كان يؤمن بالله واليوم الآخر، فليقل خيرًا أوليصمت))
 
"Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah dia berkata baik atau diam." [HR. Al-Bukhari, no.6475. Muslim, no.47]

Berarti lisan yang tajam, suka menyakiti kaum muslimin, suka mendzolimi kaum muslimin, suka mengkritik tapi tidak suka dikritik, suka menasehati tapi tidak suka dinasehati, menusuk ucapannya, suka mengumpat, menggunjing, mencela, mencaci, berarti iman orang ini bermasalah. Karena Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam mengaitkan keimanan kepada Allah dan hari akhir dengan berkata yang baik, atau diam." 

Mengintip kedalam rumah kaum muslimin

Diantara bentuk akhlak yang buruk adalah mengintip ke dalam rumah orang lain. Seorang muslim yang memiliki adab dan akhlak, dia tidak akan melakukan hal tersebut. Adapun yang melakukannya, hanya orang-orang yang tidak memiliki adab, ditambah buruknya akhlak atau tabiat bawaan lahir yang melekat pada orang-orang yang seperti ini.

Dari Sahl bin Sa'd, ia berkata : 

أن رجلا اطلع في جحر في باب رسول الله صلى الله عليه وسلم، ومع رسول الله صلى الله عليه وسلم مدرى يحك به رأسه، فلما رآه رسول الله صلى الله عليه وسلم قال : ((لو أعلم أنك تنتطرني، لطعنت به في عينيك)). قال رسول الله صلى الله عليح وسلم : ((إنما جعل الإذن من قبل البصر)).

"Bahwasannya seorang laki-laki pernah mengintip di lubang pintu Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, ketika itu Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam sedang membawa sisir untuk menyisir rambutnya. Tatkala Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam melihatnya, beliau bersabda :  "Seandainya aku mengetahui bahwa engkau sedang mengitipku, sungguh aku akan menusuk kedua matamu". Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, "Sesungguhnya idzin itu dijadikan dari arah pandangan mata." [HR. Al-Bukhari, no.6901. Muslim, no.2156]
 
Pada hadits ini, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam tidak tahu ada yang mengintipnya, seandainya beliau tahu, maka Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam pasti akan menusuk kedua bola mata laki-laki tersebut. Ini menunjukkan bahwa hukuman bagi orang yang mengintip kedalam rumah orang lain adalah di tusuk kedua bola matanya.

Dalam hadits yang lain, dari Abu Hurairoh radhiyallahu 'anhu, ia berkata : Abul Qasim (yaitu Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam) bersabda :

 ((لو أن امرءا اطلع عليك بغير إذن فخذفته بعصاة ففقأت عينه، لم يكن عليه جناح)) 

"Seandainya ada seorang masuk ke rumahmu tanpa izin, lalu engkau melemparnya dengan batu yang mengakibatkan matanya keluar, maka engkau tidak berdosa." [HR. Al-Bukhari, no.6902. Muslim, no. 2158]

Dalam hadits riwayat Muslim, dari Abu Hurairoh, dari Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda :

 ((من اطلع في بيت قوم بغير إذنهم، فقد حل لهم أن ينقئوا عينه))

"Barangsiapa mengintip di dalam rumah suatu kaum tanpa izin mereka, maka telah halal bagi mereka untuk mencungkil matanya." [HR. Muslim, no.2158]

Mencungkil bola mata orang yang mengintip ke dalam rumah kaum muslimin tanpa izin dibolehkan oleh  Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, bahkan hal itu halal untuk dilakukan, karena tindakan mengintip kedalam rumah orang adalah tindakan kriminal yang berhak mendapatkan hukuman dengan dicungkil bola matanya. Waliyaadzubillah.
 
Dari pemaparan hadits-hadis diatas, menunjukkan besarnya dosa buruknya akhlak, maka pantas saja jika ada orang-orang yang diadzab dengan keluarnya cairan darah dari matanya misalnya, atau dibutakan kedua matanya, atau yang semisal dengan itu -sebagaimana yang banyak kita saksikan diakhir zaman ini-, itu tidak lain karena sebab dosa, diantaranya dosa pandangan, mengintip kedalam rumah kaum muslimin. Dan inilah diantara bentuk buruknya akhlak.

Karena itu, akhlak dan tabiat manusia, ada yang asli dan ada yang diusahakan. Jika aslinya buruk, akan terbawa meskipun sudah lama belajar ad-diin (agama), adapun yang sifat aslinya baik, akan terus menghiasi perilakunya meskipun awam apalagi 'aalim. Seperti itulah tabiat manusia, ada yang sifat aslinya buruk dan ada yang baik, jika muncul sifat buruknya lalu ia turuti hal itu, berarti rasa malu orang ini telah terkikis. Dalam sebuah hadits, dari Abu Mas'ud 'Uqbah bin 'Amr al-Anshary radhiyallahu 'anhu berkata :

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: ((إن مما أدرك الناس من كلام  النبوة الأولى: إذا لم تستح فاصنع ما شئت))

Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda : "Sesungguhnya diantara yang diketahui manusia dari perkataan para Nabi terdahulu : Jika engkau tidak punya malu, maka berbuatlah sesukamu". [HR. Al-Bukhari, no.6120]

Berkata Asy-Syaikh Bandar bin Nafi dalam syarah hadits diatas :

فيه دليل على فضل الحياء، وأنه مما جاء به الشرائع السابقة، وهو خلق يبعث على اجتناب القبيح، ويمنع من التقصير في حق ذي الحق، وهذا هو الحياء المحمود، وأما الحياء الذي يمنع صاحبه من القيام بالحقوق الواجبة، أو لا يمنع من فعل القبيح، فهو حياء مذموم و قد جاء النصوص الكثيرة بمدح الحياء و الحث عليه، ففي ((الصحيحين)) عن ابن عمر رضي الله عمهما أن النبي سلى الله عليه وسلم قال : ((الحياء من الإمان))، وثبت عنه أنه قال : ((الحياء خير كله ولا يأتي إلا بخير

ثم اعلم أن الحياء منه ما هو غريزي، ومنه ما هو مكتسب، فالغريزي هو الذي فطر عليه العبد، والمكتسب هو الذي يجاهد العبد معه نفسه حتى يبلغه، قال النبي صلى الله عليه وسلم : ((إنما الحلم بالتحلم، وإنما العلم بالتعلم))، وقال عليه الصلاة والسلام لأشج أشج عبد القيس : ((إن فيك لخصلتين يحبهما الله : الحلم والأناة : أن المراد بقوله صلى الله عليه وسلم : ((إذا لم تستح فاصنع ما شعت)) أحد وجهين الأول : أنطر إلى ما تريد فعله، فإن كان مما لا يستحى منه فافعله، وإن كان يستحى منه فدعه ولا تبالي بالخلق

الثني : أن الإنسان إذا لم يستح يصنع ما يشاء ولا يبالي، لأن الذي يكفه عن مدافعة الشر هو الحياء، فإذا فقده توفرت دواعيه على مواقعه الشر وفعله

"Pada hadits ini ada dalil yang menunjukkan keutamaan rasa malu. Dan rasa malu termasuk akhlak yang dibawa oleh syariat-syariat terdahulu. Malu adalah akhlak yang mendorong seseorang untuk menjauhi perkara yang buruk, serta mencegah dari mengurangi hak orang yang berhak. Inilah malu yang terpuji. Adapun malu yang justru menghalangi pemiliknya untuk menunaikan kewajiban yang semestinya (ia tunaikan), atau tidak mencegahnya dari melakukan keburukan, maka itu adalah malu yang tercela.

Banyak sekali nash-nash yang datang berisi pujian terhadap sifat malu dan anjuran untuk memilikinya. Dalam Shahihain dari Ibnu Umar radhiyallahu 'anhuma, bahwasannya Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda : ((Malu itu bagian dari iman)) Dan telah tetap pula bahwa beliau bersabda : ((Malu itu semuanya kebaikan, dan tidak mendatangkan kecuali kebaikan)).

Ketahuilah bahwa malu itu ada dua macam  : ada yang bersifat bawaan (ghorizi), dan ada pula yang diperoleh (muktasab). Yang bersifat bawaan adalah yang memang difitrahkan pada diri seorang hamba. Adapun yang diperoleh adalah yang didapat melalui usaha seseorang dalam melatih dirinya hingga sampai pada derajat itu. Nabi 'alaihi shalatu was sallam bersabda: ((Sesungguhnya kesabaran itu dengan cara berusaha sabar, dan ilmu itu dengan cara belajar)). Dan Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam berkata kepada Asyajj Abdul Qais : ((Sesungguhnya pada dirimu terdapat dua sifat yang dicintai Allah, yaitu kelembutan dan ketenangan)).

Maksud dari sabda Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam : ((Jika engkau tidak punya malu maka berbuatlah sesukamu)) memiliki dua penafsiran :

1. Lihatlah pada apa yang ingin engkau lakukan; jika itu sesuatu yang ia tidak perlu malu untuk melakukannya, maka lakukanlah. Namun jika itu sesuatu yang memalukan, maka tinggalkanlah dan jangan hiraukan pandangan manusia.

2. Sesungguhnya seseorang apabila dia tidak punya rasa maludia akan melakukan apa saja yang dia kehendaki dan dia tidak perduli. Karena yang bisa mencegah seseorang dari keburukan adalah sifat malu. Jika sifat malu hilangmaka akan terkumpullah segala dorongan untuk terjerumus dalam kejelekan dan melakukannya.

Bahwa seseorang yang tidak memiliki rasa malumaka ia akan berbuat sekehendaknya dan tidak peduli. Karena yang bisa mencegah seseorang dari keburukan adalah sifat malu. Jika sifat malu hilangmaka akan terkumpullah segala dorongan untuk terjerumus dalam kejelekan dan ia pun melakukannya." [Ad-Durar as-Saniyyah bi Fawaaid al-Arba'iin an-Nawawiyyah, hlm.83-84]

Pada pemaparan ini, akhlak atau tabiat manusia ada dua, (1) asli bawaan lahir, (2) sifat yang diusahakan. 

Jika akhlak asli seseorang itu bersumber dari tabiat aslinya yang sudah baik, maka akan muncul kebaikan-kebaikan berikutnya apalagi dia 'aalim fid-diin (berilmu tentang agama), tapi jika sifat bawaan lahirnya buruk, maka sifat itu akan menempel dan menghiasi mereka apalagi jika dia awam.

Jika manusia telah belajar agama dan berusaha untuk meredam dan mengendalikan sifat atau tabiat aslinya yang buruk, keburukan bisa diredam, tapi namanya tabiat asli suatu saat tabiat ini akan muncul meskipun telah belajar ad-diin, apalagi bila belajar agamanya hanya berdiri ditepian, tidak serius, sekedar ikut-ikutan, maka akan mudah terjebak pada akhlak-akhlak yang buruk seperti ini. 

Mengetahui baik dan buruknya akhlak seseorang dengan 3 hal 

Untuk mengetahui baik dan buruknya akhlak seseorang, (1) safarlah dengannya, jika itu yang dilakukan, akan muncul sifat aslinya, jika dia baik akan muncul sifat-sifat yang baik, jika buruk akan muncul pula sifat yang buruk misalnya ; pelit, tidak suka membantu, sok ngatur, tidak mau bekerjasama, suka mengumpat, suka mencela, tidak sabar, suka mengeluh, dll. (2) anda beri dia amanat untuk memegang uang, jika dia bertakwa akan muncul sifat wara'nya, jika dia buruk akhlaknya akan muncul sifat khianatnya. (3) anda bertetanggalah dengannya, seiring waktu akan muncul sifat aslinya, apakah dia pemarah, punya sifat hasad, iri, dengki, suka mengadu domba, dusta, suka membuat onar, suka mengambil hak orang lain tanpa izin, menyerobot tanah orang lain dengan cara dzolim, dan lain sebagainya.

Karena itu, tolak ukur untuk mengetahui akhlak seseorang, safarlah dengannya, bertransaksilah dengannya dalam masalah uang, dan jadilah tetangganya. Syaikh al-Albaniy membawakan sebuah atsar dalam Irwaul Gholil :

 روى سليمان بن حرب قال : ((شهد رجل عند عمر بن الخطاب رضي الله عنه فقال له عمر : إني لست اعرفك ولا يضرك إني لا أعرفك فأتني بمن يعرفك، فقال رجل : أنا أعرفه يا أمير المؤمنين، قال : بأي شيء تعرفه؟ قال : بالعدالة. قال : هو جارك الأدنى تعرف ليله ونهاره ومدخله ومخرجه؟ قال : لا. قال : فعاملك بالدرهم والدينار الذي يستدل بهما عاى الورع؟ قال : لا. قال : فصاحبك في السفر الذي يستدل به على المكارم الأخلاق؟ قال : لا. قال : فلست تعرفه، ثم قال للرجل : ائتني بمن يعرفك))

Diriwayatkan dari Sulaiman bin Harb, ia berkata : "Pernah seorang laki-laki memberikan kesaksian dihadapan Umar bin Al-Khathab radhiyallahu 'anhu, maka Umar pun berkata kepadanya, "Sesungguhnya aku tidak mengenalmu, dan tidak memudharatkan engkau meskipun aku tidak mengenalmu. Datangkanlah orang yang mengenalmu." Maka seorang laki-laki berkata, “Aku mengenalnya, wahai Amirul Mukminin." Umar berkata, "Dengan apa engkau mengenalnya?" Orang itu berkata, "Dengan keshalihan dan keutamaannya." Umar berkata, "Apakah dia adalah tetangga dekatmu, yang engkau mengetahui kondisinya di malam hari dan di siang hari serta datang dan perginya?" Dia mengatakan : "Tidak." "Apakah dia pernah bermuamalah denganmu berkaitan dengan dirham dan dinar, yang keduanya merupakan indikasi sikap wara’ seseorang?" tanya Umar lagi. Dia mengatakan : "Tidak." Umar berkata lagi : "Apakah dia pernah menemanimu dalam safar, yang safar merupakan indikasi mulianya akhlak seseorang?" Orang itu berkata, "Tidak." Umar menimpali, "Jika demikian engkau tidak mengenalnya." Kemudian Umar mengatakan kepada laki-laki tadi : "Datangkan kepadaku siapa yang mengenalmu?." [Irwaul Ghalil 8/260, no 2637]

Atsar diatas dishahihkan oleh Asy-Syaikh al-Albani, dan inilah atsar yang menjelaskan tentang cara mengetahui akhlak seseorang, (1) safarlah bersamanya. (2) bermuamalah dengannya dalam masalah dinar dan dirham, (3) bertetanggalah denganya.

Semoga Allah menjauhkan kita dari akhlak yang rusak, perangai yang buruk, dan sifat yang jelek. Semoga Allah menjauhkan kita dari tabiat asli yang jelek, perangai yang buruk dan sifat yang rusak. Semoga Allah menjadikan kita orang yang mudah bertaubat, rahim terhadap sesama muslim, santun lisannya, baik tutur katanya, terjaga tangannya dari mendzolimi kaum muslimin, dan besar rasa malunya untuk berbuat sesuatu yang menyelisihi al-Qur'an dan Sunnah.

Semoga yang sedikit ini bermanfaat. 

***

Dompu, Nusa Tenggara Barat : 14 Syawal 1443 H/15 Mei 2022 

Penulis : Abu Dawud ad-Dombuwiyy

Artikel : Meciangi-d.blogspot.com

Related Posts: