EMPAT KARAKTER DA'I SEJATI (SERI 3)

Bismillah. Alhamdulillah. Wa shallallahu 'ala Nabiyyina Muhammadin wa 'ala aalihi wa shahbihi ajma'iin. Wa ba'du.

Melanjutkan dua pembahasan sebelumnya terkait sifat yang harus dimiliki oleh seorang da'i sejati antara lain : 

(1) al-Mahaarah al-Ilmiyyah (keterampilan ilmu)

(2) al-Mahaarah at-Tadriis (keterampilan mengajar)  

(3) al-Mahaarah al-Nafsiyyah (keterampilan psikologis) 

(4) al-Mahaarah al-Ijtimaa'iyyah (kemampuan sosial). 

3. Al-Mahaarah al-Nafsiyyah (keterampilan psikologis)

Al-Mahaarah al-Nafsiyyah disebut juga dengan kafa-ah nafsiyyah yaitu kemampuan internal yang berkaitan dengan pengendalian diri, pengelolaan emosi, memuhasabah jiwa, ketahanan mental, cara berpikir positif, serta kesiapan mengahadapi tekanan dalam dunia dakwah, baik di dunia nyata atau di sosial media dan mempersiapkan solusinya.

3.1. Tenang dan tidak Berkata Kasar

Termasuk dalam kafa-ah nafsiyyah adalah tenang dan tidak berteriak-teriakberkoar-koar, berkata kasar, dan tidak membuat kegaduhan, yang menunjukkan kondisi emosi seorang da'i yang rentan, baik di dunia nyata maupun di sosial media. Allah Ta'ala berfirman :

«وَٱقْصِدْ فِى مَشْيِكَ وَٱغْضُضْ مِن صَوْتِكَ ۚ إِنَّ أَنكَرَ ٱلْأَصْوَٰتِ لَصَوْتُ ٱلْحَمِيرِ»

Artinya : "Dan sederhanalah kamu dalam berjalan dan lunakkanlah suaramu. Sesungguhnya seburuk-buruk suara ialah suara keledai." (QS. Luqman : 19)

Berteriak-teriak di jalanan, di sosial media, membuat kegaduhan, kericuhan, bukan akhlak yang baik, maka hendaknya seorang da'i menahan diri dari melakukan hal itu, apalagi dalam berdakwah dan menasihati manusia dalam kebaikan. Allah Ta'ala berfirman :

«فَقُولَا لَهُۥ قَوْلًۭا لَّيِّنًۭا لَّعَلَّهُۥ يَتَذَكَّرُ أَوْ يَخْشَىٰ»
Artinya : "Maka berbicaralah kamu berdua kepadanya dengan kata-kata yang lemah lembut, mudah-mudahan ia ingat atau takut." (QS. Thoha : 44)

Ketika Nabi Musa dan Harun 'alaihimas salam berdakwah kepada penjahat sekelas Fir'aun, Allah Ta'ala perintahkan kedua Nabinya untuk tetap berbicara lembut. Allah tahu bahwa Firaun tidak akan beriman, tapi Allah tetap perintahkan kedua nabi-Nya yang mulia untuk tetap bersikap lembut dan tidak berlaku kasar kepadanya, mudah-mudahan ia takut kepada Allah 'Azza wa Jalla.

Yang kita hadapi hari ini bukan Fir'aun, tapi kaum muslimin, bahkan seorang ahlus sunnah salafiyyun, maka mereka lebih berhak mendapatkan sikap lemah lembut ketika kita hendak menasihati mereka.

'Bukankah saya sudah menasihati mereka dengan sirr, hati-hati, penuh kelembutan, maka jika saya menasihatinya di khalayak ramai, itu bukan masalah karena semua cara telah di tempuh', ucap fulan.

Wahai saudaraku, lemah lembut dalam berdakwah termasuk jalan dakwah para Nabi 'alaihimussalam, dan itu merupakan hukum asal dakwah para anbiya'. Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam ketika berdakwah kepada pamannya, beliau memanggil pamannya dengan panggilan yang lembut, beliau shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda :

.((أي عم قل لا إله إلا الله كلمة أحاج لك بها عند الله عز وجل))

فقال أبو جهل وعبد الله بن أبي أمية: يا أبا طالب أترغب عن ملة عبد المطلب؟ فقال: أنا على ملة عبد المطلب. فقال النبي صلى الله عليه وسلم: ((لأستغفرن لك ما لم أنه عنك)). فنزلت: ما كان للنبي والذين آمنوا أن يستغفروا للمشركين ولو كانوا أولي قربى من بعد ما تبين لهم أنهم أصحاب الجحيم. قال: ونزلت فيه: إنك لا تهدي من أحببت ولكن الله يهدي من يشاء. [القصص: 56] أخرجاه

"((Wahai pamanku, katakanlah laa ilaaha illallah suatu kalimat yang aku akan membela engkau dengannya dihadapan Allah 'Azza wa Jalla)). 

Maka berkata Abu Jahal dan Abdullah bin Abi Umayyah : "Wahai Abu Tholib, apakah kamu benci dengan agama Abdul Muththolib? Maka Abu Tholib berkata : "Aku berada di atas agama Abdul Muththolib, maka Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam-pun bersabda : ((Sungguh benar-benar aku akan memintakan ampun untukmu selama aku tidak dilarang)) maka diturunkanlah kepada beliau firman Allah (yang artinya) : «Tiadalah sepatutnya bagi Nabi dan orang-orang yang beriman memintakan ampun (kepada Allah) bagi orang-orang musyrik, walaupun orang-orang musyrik itu adalah kaum kerabat(nya), sesudah jelas bagi mereka, bahwasanya orang-orang musyrik itu adalah penghuni neraka jahannam». Maka ia berkata diturunkanlah kepadanya firman Allah (yang artinya) : «Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya». [QS. Al-Qoshosh : 56]. Dikeluarkan oleh keduanya." (Tafsiir Ibni Katsiir, 4/221)

Dua faidah yang bisa diambil dari kisah diatas, (1) sikap lembut beliau shallallahu 'alaihi wa sallam kepada pamannya bahkan sampai ingin mendo'akan ampunan jika Allah tidak melarang, (2) beliau bersikap tenang di hadapan Abu Jahal dan Abdullah bin Abi Umayyah, tidak berdebat dengannya apalagi mengeraskan suara dan mengusirnya, karena apa hak mereka mendakwahi Abu Tholib padahal Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam lebih dekat kekerabatannya dengan Abu Tholib dari pada mereka. Bahkan karena sebab keberadaan dua tokoh Quraisy itu di sampingnya, membuat Abu Tholib malu mengucapkan syahadat yang ia yakini dengan hatinya akan kebenarannya.

3.2. Bersabar dalam Dakwah dan Menahan Amarah

Termasuk dalam kafa-ah nafsiyyah adalah menahan amarah. Da'i yang memiliki kafa-ah nafsiyyah tidak mudah marah, apalagi di depan umum, apalagi di sosial media. Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda : 

((لا تغضب))

"Jangan marah." (HR. Al-Bukhari, no.6116 dalam Al-Arba'iin an-Nawawiyyah, hal.89)

Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam mengulang kalimat diatas sebanyak tiga kali, menunjukkan buruknya marah sedangkan menahannya adalah kunci segala kebaikan.

Berkata Syaikh Bandar bin Nafi' :

: قوله ((لا تغضب)), يتضمن أمرين عظيمين

أحدهما اجتناب أسباب الغضب والتمرن على حسن الخلق والحلم والصبر وتوطين النفس على ما يصيب الإنسان من الخلق من الأذى القولي والفعلي فإذا وفق لها العبد ورد وورد عليه وارد الغضب احتمله بحسن خلقه وتلقاه بحلمه وصبره ومعرفته بحسن عواقبه

الثاني عدم العمل بمقتضى الغضب إذا وقع منه فإن الغضب غالبا لا يتمكن الإنسان من دفعه ورده ولكن يتمكن من عدم تنفيذه فعليه إذا غضب أن يمنع نفسه من الأقوال والأفعال المحرمة التي يقتضيها الغضب

Ucapan Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam ((Jangan marah)), mengandung dua perkara yang besar :

Yang pertama : menjauhi sebab-sebab kemarahan, melatih diri dengan akhlak yang baik, sifat santun, dan kesabaran, serta membiasakan diri terhadap apa yang menimpa seseorang dari manusia berupa gangguan, baik dengan ucapan maupun perbuatan. Maka apabila seorang hamba diberi taufik untuk itu, lalu datang kepadanya dorongan marah, ia menahannya dengan akhlaknya yang baik, menghadapinya dengan kelembutan dan kesabarannya, serta dengan pengetahuannya akan baiknya akibat.

Yang kedua : tidak mengamalkan tuntutan kemarahan ketika kemarahan itu muncul. Sesungguhnya marah itu biasanya tidak mampu ditolak dan dihindari oleh manusia, tetapi ia mampu untuk tidak melaksanakannya. Maka wajib baginya, ketika marah, menahan dirinya dari ucapan dan perbuatan yang haram yang dituntut oleh kemarahan tersebut." (Ad-Duraar as-Saniyyah bi Fawaa'id al-Arba'iin an-Nawawiyyah, hal.89)

Berkata Syaikh Utsaimin rahimahullah :

إن نظرنا إلى ظاهر اللفظ قلنا ((لا تغضب)) أي الغضب الطبيعي لكن هذا فيه صعوبة وله وجه يمكن أن يحمل عليه بأن يقال اضبط نفسك عند وجود السبب حتى لا تغضب

"Jika kita melihat kepada dzohir lafadz, maka kita katakan : ((jangan marah)), yaitu marah yang bersifat alami. Akan tetapi dalam hal ini terdapat kesulitan. Namun, ada sisi makna yang memungkinkan untuk dibawa kepadanya, yaitu dengan mengatakan : kendalikan dirimu ketika sebab-sebab (kemarahan) itu ada, agar engkau tidak marah." (Syarh al-Arba'iin an-Nawawiyyah, hal.218)

Jika orang-orang tidak mau mendengarkan ajakannya, mengabaikan nasihat-nasihatnya, atau meremehkan dakwahnya, padahal sudah dilakukan dengan lemah lembut, mendebatnya, ia tetap tidak akan mudah tersulut emosi, karena da'i yang memiliki kafa-ah nafsiyyah ia akan bersabar atas semua itu. Allah Ta'ala berfirman :  

 «فَٱصْبِرْ ۖ إِنَّ ٱلْعَـٰقِبَةَ لِلْمُتَّقِينَ»

Artinya : "Maka bersabarlah; sesungguhnya kesudahan yang baik adalah bagi orang-orang yang bertakwa." (QS. Hud : 49)

Kita bisa melihat bagaimana kesabaran nabi shallallahu 'alaihi wa sallam ketika beliau berdakwah di Thoif. Aisyah radhiyallahu 'anha menceritakan :

قالت للنبي عليه هل أتى عليك يوم كان أشد من يوم أحد؟ قال : ((لقد لقيت من قومك ما لقيت وكان أشد ما لقيت منهم يوم العقبة إذ عرضت نفسي على ابن عبد ياليل بن عبد كلال فلم يجبني إلى ما أردت فانطلقت وأنا مهموم على وجهي فلم أستفق إلا وأنا بقرن الثعالب فرفعت رأسي فإذا أنا بسحابة قد أظلتني فنظرت فاذا فيها جبريل فناداني فقال إن الله قد سمع قول قومك لك وما ردوا عليك وقد بعث إليك ملك الجبال لتامره بما شئت فيهم فناداني ملك الجبال فسلم علي ثم قال يا محمد ذلك فيما شئت إن شئت أن أطبق عليهم الاخشبين فقال النبي عليه بل أرجو أن يخرج الله من أصلابهم من يعبد الله وحده لا يشرك به شيئا))

"Aisyah berkata kepada Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam : "Apakah pernah datang kepadamu suatu hari yang lebih berat daripada hari Uhud?" Beliau bersabda : ((Sungguh aku telah mengalami dari kaummu apa yang telah aku alami, dan yang paling berat yang aku alami dari mereka adalah pada hari ‘Aqabah, ketika aku menawarkan diriku kepada Ibnu ‘Abdi Yalil bin ‘Abdi Kulal, namun ia tidak memenuhi ajakanku kepada apa yang aku inginkan. Maka aku pun pergi dalam keadaan bersedih pada wajahku, dan aku tidak sadar kecuali ketika aku berada di Qarn ats-Tsa‘alib. Lalu aku mengangkat kepalaku, ternyata ada awan yang telah menaungiku. Aku melihat, ternyata di dalamnya ada Jibril. Ia memanggilku dan berkata: ‘Sesungguhnya Allah telah mendengar perkataan kaummu kepadamu dan apa yang mereka tolak darimu. Dan Dia telah mengutus kepadamu malaikat penjaga gunung agar engkau memerintahkannya sesuai kehendakmu terhadap mereka.’ Maka malaikat gunung itu memanggilku, memberi salam kepadaku, kemudian berkata : ‘Wahai Muhammad, itu terserah apa yang engkau kehendaki. Jika engkau mau, aku akan menimpakan kepada mereka dua gunung.’ Maka Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda : ‘Bahkan aku berharap agar Allah mengeluarkan dari keturunan mereka orang-orang yang menyembah Allah semata, tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun))." (Shahiihul Atsar wa Jamiilul 'Ibar, hal. 133)

Ketika Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam mendapatkan perlakuan kaummnya dan penolakan mereka atas dakwahnya, beliau bersedih pada satu sisi, tapi beliau juga bersabar, tidak dendam, tidak marah meskipun beliau dilempari dengan batu hingga kakinya berdarah, bahkan diantara bentuk sabar dan kasih sayangnya Nabi shallalahu 'alaihi wa sallam, beliau menolak tawaran malaikat penjaga gunung yang ingin menimpakan gunung kepada penduduk Thoif. 

Memang berat, tapi kita bisa mengambil pelajaran bahwa sabar adalah prinsip dakwah yang utama. Mental yang kuat sekuat baja harus ada di dalam dakwah, tidak mudah larut dalam kesedihan, tidak gampang futur dalam kegalauan, kerapuhan jiwa, apalagi sampai putus asa, marah dan lari dari dakwah, karena berdakwah di tengah masyarakat pasti akan mendapatkan tantangan berat, pertentangan, penolakan, pro kontra, tapi hasil akhirnya adalah kemenangan, 

Allah Ta'ala berfirman mengisahkan tentang Nabi-Nya yang mulia 'alaihis salam :

«وَذَا ٱلنُّونِ إِذ ذَّهَبَ مُغَـٰضِبًۭا فَظَنَّ أَن لَّن نَّقْدِرَ عَلَيْهِ فَنَادَىٰ فِى ٱلظُّلُمَـٰتِ أَن لَّآ إِلَـٰهَ إِلَّآ أَنتَ سُبْحَـٰنَكَ إِنِّى كُنتُ مِنَ ٱلظَّـٰلِمِينَ»

Artinya : "Dan (ingatlah kisah) Dzun Nun (Yunus), ketika ia pergi dalam keadaan marah, lalu ia menyangka bahwa Kami tidak akan mempersempitnya (menyulitkannya), maka ia menyeru dalam keadaan yang sangat gelap: "Bahwa tidak ada Tuhan yang benar selain Engkau. Maha Suci Engkau, sesungguhnya aku adalah termasuk orang-orang yang zalim." (QS. Al-Anbiya : 87)

Nabi Yunus 'alaihis salam marah kepada kaumnya yang tidak beriman, lalu beliau "lari dari dawkah", dan Allah mengujinya dengan ujian yang tidak akan sanggup dipikul oleh satu manusia pun. 

Ibnu Katsir menjelaskan makna ayat di atas dalam tafsirnya :

هذه القصة مذكورة هنا وفي ((الصافات)) وفي سورة ((ن))، وذلك أن يونس بن متى عليه السلام بعثه الله إلى أهل نينوى، وهي قرية من أرض الموصل، فدعاهم إلى الله تعالى، فأبوا عليه، وعادوا على كفرهم، فخرج من بين أظهرهم مغاضبا لهم، ووعدهم بالعذاب بعد ثلاث، فلما تحققوا منه ذلك وعلموا أن النبي لا يكذب، خرجوا إلى الصحراء بأطفالهم وأنعامهم ومواشيهم، ثم تضرعوا إلى الله عز وجل، وجأروا إليه، فرفع الله عنهم العذاب، قال الله تعالى: ((فَلَوْلَا كَانَتْ قَرْيَةٌ ءَامَنَتْ فَنَفَعَهَآ إِيمَـٰنُهَآ إِلَّا قَوْمَ يُونُسَ لَمَّآ ءَامَنُوا۟ كَشَفْنَا عَنْهُمْ عَذَابَ ٱلْخِزْىِ فِى ٱلْحَيَوٰةِ ٱلدُّنْيَا وَمَتَّعْنَـٰهُمْ إِلَىٰ حِينٍۢ))

وأما يونس، عليه السلام، فإنه ذهب فركب مع قوم في سفينة فلجت بهم، وخافوا أن يغرقوا. فاقترعوا على رجل يلقونه من بينهم يتخففون منه، فوقعت القرعة على يونس، فأبوا أن يلقوه، ثم أعادوا القرعة فوقعت عليه أيضا، فأبوا، ثم أعادوها فوقعت عليه أيضا، قال الله تعالى: "فساهم فكان من المدحضين" [الصافات: ١٤١]، أي: وقعت عليه القرعة، فقام يونس، عليه السلام، وتجرد من ثيابه، ثم ألقى نفسه في البحر، وقد أرسل الله، سبحانه وتعالى، من البحر الأخضر - فيما قاله ابن مسعود - حوتا يشق البحار، حتى جاء فالتقم يونس حين ألقى نفسه من السفينة، وأوحى الله إلى ذلك الحوت ألا تأكل له لحما، ولا تهشم له عظما؛ فإن يونس ليس لك رزقا، وإنما بطنك له يكون سجنا

"Kisah ini disebutkan di sini, juga dalam surat ((Ash-Shaffat)) dan dalam Surah ((Nun). Yaitu bahwa Yunus bin Matta ‘alaihis salam diutus oleh Allah kepada penduduk Ninawa, yaitu sebuah negeri di wilayah Mosul. Maka ia menyeru mereka kepada Allah Ta‘ala, tetapi mereka menolaknya dan tetap dalam kekafiran mereka. 

Lalu ia keluar dari tengah-tengah mereka dalam keadaan marah terhadap mereka, dan menjanjikan mereka azab setelah tiga (hari). Maka ketika mereka memastikan hal itu dan mengetahui bahwa seorang nabi tidak berdusta, mereka keluar ke padang pasir bersama anak-anak mereka, ternak dan hewan-hewan mereka. Kemudian mereka merendahkan diri kepada Allah ‘Azza wa Jalla dan memohon dengan sungguh-sungguh kepada-Nya, maka Allah mengangkat azab dari mereka. 

Allah Ta‘ala berfirman : «Dan mengapa tidak ada (penduduk) suatu kota yang beriman, lalu imannya itu bermanfaat kepadanya selain kaum Yunus? Tatkala mereka (kaum Yunus itu), beriman, Kami hilangkan dari mereka azab yang menghinakan dalam kehidupan dunia, dan Kami beri kesenangan kepada mereka sampai kepada waktu yang tertentu». 

Adapun Yunus 'alaihis salam, maka ia pergi lalu naik bersama suatu kaum ke dalam sebuah kapal. Kemudian kapal itu membawa mereka ke tengah laut yang bergelombang besar, dan mereka pun takut akan tenggelam. 

Lalu mereka melakukan undian untuk menentukan seorang laki-laki yang akan mereka lemparkan dari antara mereka guna meringankan beban kapal. Maka jatuhlah undian itu kepada Yunus, namun mereka enggan untuk melemparkannya. Kemudian mereka mengulangi undian tersebut, dan jatuh lagi kepadanya (Yunus). Mereka tetap enggan. Lalu mereka mengulanginya lagi dan jatuh lagi kepadanya.

Allah Ta’ala berfirman (yang artinya) : «Maka ia ikut diundi dan ia termasuk orang-orang yang kalah (dalam undian)» [Ash-Shaffat: 141]. Maknanya: undian tersebut jatuh kepadanya

Maka Yunus 'alaihis salam berdiri dan menanggalkan pakaiannya, kemudian ia melemparkan dirinya ke dalam laut. Sementara itu, Allah Subhanahu wa Ta’ala telah mengirimkan dari Laut Hijau -sebagaimana yang dikatakan oleh Ibnu Mas'ud- seekor ikan besar yang membelah lautan, hingga ikan itu datang dan langsung menelan Yunus saat ia menjatuhkan dirinya dari kapal.

Dan Allah mewahyukan kepada ikan besar tersebut: 'Janganlah engkau memakan dagingnya, dan jangan pula mematahkan tulangnya; karena sesungguhnya Yunus bukanlah rezeki bagimu, melainkan perutmu baginya hanyalah menjadi penjara.'" (Tafsiir Ibni Katsiir, 5/366)

Ibnu Katsir juga mengatakan :

وقوله: «وَذَا ٱلنُّونِ» يعني الحوت صحت الإضافة إليه بهذه النسبة، وقوله «إِذ ذَّهَبَ مُغَـٰضِبًۭا» قال الضحاك: لقومه «فَظَنَّ أَن لَّن نَّقْدِرَ عَلَيْهِ» أي نضيق عليه في بطن الحوت، وقال عطية العوفي: أي نقضي عليه، فإن العرب تقول: قدروقدّر بمعنى واحد. ومنه قوله تعالى: «فَٱلْتَقَى ٱلْمَآءُ عَلَىٰٓ أَمْرٍۢ قَدْ قُدِرَ»: أي قدّر، وقوله: «فَنَادَىٰ فِى ٱلظُّلُمَـٰتِ أَن لَّآ إِلَـٰهَ إِلَّآ أَنتَ» قال ابن مسعود: ظلمة بطن الحوت، وظلمة البحر، وظلمة الليل، وذلك أنه ذهب به الحوت في البحر يشقها حتى انتهى به إلى قرار البحر، فسمع يونس تسبيح الحصى في قراره، فعند ذلك قال: «لآ إِلَـٰهَ إِلَّآ أَنتَ سُبْحَـٰنَكَ إِنِّى كُنتُ مِنَ ٱلظَّـٰلِمِينَ»، وقيل: مكث في بطن الحوت أربعين يوما

Dan firman-Nya (yang artinya) : «Dan (ingatlah kisah) Dzun Nun (Yunus pemilik ikan)», maknanya adalah ikan besar; shohih disandarkan penisbatan ini kepada Nabi Yunus. Dan firman-Nya (yang artinya) : «Ketika ia pergi dalam keadaan marah», Ad-Dhahhak berkata : '(Marah) kepada kaumnya'.

«Maka ia menyangka bahwa Kami tidak akan mempersempitnya (menyulitkannya)», maknanya adalah : Kami tidak akan menyempitkan urusannya di dalam perut ikan. Athiyah Al-Aufi berkata : 'Maknanya adalah Kami tidak akan memutuskan ketetapan atasnya'. Karena orang Arab mengatakan : Qadara dan Qaddara itu memiliki makna yang sama (memutuskan/menetapkan). Di antaranya adalah firman Allah: «Maka bertemulah air-air itu untuk suatu urusan yang sungguh telah ditetapkan», yakni quddira.

Dan firman-Nya (yang artinya) : «Maka ia menyeru dalam keadaan yang sangat gelap bahwa : Tidak ada Tuhan yang benar selain Engkau». Ibnu Mas'ud berkata : '(Kegelapan itu adalah) kegelapan perut ikan, kegelapan lautan, dan kegelapan malam'. Hal itu karena ikan tersebut membawa Yunus menyelami lautan hingga sampai ke dasar samudera.

Lalu Yunus mendengar tasbih bebatuan kerikil di dasar laut tersebut, maka pada saat itulah ia berucap: 'Tidak ada Tuhan selain Engkau, Maha Suci Engkau, sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang zhalim'. Dan dikatakan bahwa ia tinggal di dalam perut ikan selama empat puluh hari." (Mukhtashor Tafsir Ibni Katsir, 2/519)

Dalam riwayat yang lain, Ibnu Katsir mengatakan :

وقال عوف : لما صار يونس فى بطن الحوت، ظن أنه قد مات، ثم حرك رجليه فلما تحركت سجد مكانه، ثم نادى: يا رب، اتخذت لك مسجدا فى موضع ما اتخذه أحد.

وقال سعيد بن الحسن البصرى : مكث فى بطن الحوت أربعين يوما

"Berkata 'Auf : 'Tatkala Yunus berada di dalam perut ikan, ia menyangka bahwa dirinya telah mati. Kemudian ia menggerakkan kedua kakinya. Ketika kedua kakinya bergerak, ia pun bersujud di tempatnya itu, lalu berseru: 'Wahai Tuhanku, aku telah menjadikan bagi-Mu sebuah tempat sujud (masjid) di suatu tempat yang belum pernah dijadikan (tempat sujud) oleh seorang pun'."

Sa'id bin Al-Hasan Al-Bashri berkata : 'Beliau (Yunus) tinggal di dalam perut ikan selama empat puluh hari'." (Tafsir Ibni Katsir, 5/367)

Nabi Yunus 'alaihis salam awalnya menjanjikan kepada kaumnya bahwa adzab akan turun dalam tiga hari, namun adzab itu ternyata tidak jadi turun. Menurut hukum yang berlaku di zaman Nabi Yunus 'alaihis salam, barangsiapa yang berdusta dan tidak memiliki bukti, maka hukumannya adalah hukuman bunuh. Maka Nabi Yunus khawatir atas dirinya, lalu beliau 'alaihis salam pun pergi tanpa ada izin dari Allah Ta'ala dalam keadaan marah. 

Karena itu marahnya Nabi Yunus 'alaihis salam sebabnya jelas, tidak bisa disamakan dengan marahnya kita ketika dakwah dan nasihat kita tidak diterima oleh orang lain. Oleh karena itu Ibnu Katsir pernah membawakan hadits Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam ketika menafsirkan surat al-Anbiya dan surat Nun :

((لا ينبغي لأحد أن يقول : أنا خير من يونس بن متى))

"Tidak pantas bagi seseorang mengatakan : Aku lebih baik daripada Yunus bin Matta." (HR. Ahmad dalam Tafsir Ibni Katsir, 5/368 dan 8/201). 

Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam melarang kita merendahkan Nabi Yunus 'alaihis salam hanya karena sempat "meninggalkan kaumnya" dan ditelan ikan, bahkan beliau menganggap Nabi Yunus 'alaihi wa sallam sebagai Nabi yang sholih. Bahkan Allah menegaskan bahwa Nabi Yunus adalah Nabi yang sholih, Allah Ta'ala berfirman :

«ٱجْتَبَـٰهُ رَبُّهُۥ فَجَعَلَهُۥ مِنَ ٱلصَّـٰلِحِينَ»

Artinya : "Lalu Tuhannya memilihnya dan menjadikannya termasuk orang-orang yang saleh." (QS. Al-Qolam : 50)

Kisah Nabi Yunus 'alaihis salam diatas menunjukkan bahwa dalam dakwah dibutuhkan kesabaran. Dan tidak ada seorang manusia pun di muka bumi ini yang pernah mendapatkan ujian yang sangat berat seperti ujian yang menimpa Nabi Yunus 'alaihis salam dalam perut ikan, menunjukkan ketinggian iman beliau dan kesabarannya. Kegelapan total berlapis-lapis selama empat puluh hari, tanpa makan, tanpa minum, dan hidup di dasar lautan dalam tiga kegelapan.

Cukuplah kisah para Nabi 'alaihimus salam sebagai pengingat yang menjelaskan bahwa kesabaran adalah usul dakwah, bukan kemarahan dan ucapan yang mencerminkan hilangnya kafa-ah nafsiyyah.

Karena itu, jika dakwah kita tidak diterima, nasihat kita tidak di dengar, seruan kita tidak digubris, kita mudah kecewa, mudah rapuh, mudah galau, mudah putus asa, bahkan mencak-mencak, marah, ngambek, bahkan pelariannya adalah sindir di khalayak ramai, di sosial media, curhat sana -sini, padahal tugas utama seorang muballigh, seorang da'i bahkan para rasul adalah hanya menyampaikan risalah, karena urusan hidayah itu mutlak ada di tangan Allah 'Azza wa Jalla. Allah Ta'ala berfirman :

 «فَإِنْ أَعْرَضُوا۟ فَمَآ أَرْسَلْنَـٰكَ عَلَيْهِمْ حَفِيظًا ۖ إِنْ عَلَيْكَ إِلَّا ٱلْبَلَـٰغُ»

Artinya : "Jika mereka berpaling maka Kami tidak mengutus kamu sebagai pengawas bagi mereka. Kewajibanmu tidak lain hanyalah menyampaikan (risalah)." (QS. Asy-Syuro : 48)

Allah tidak mengutus seorang rasul, seorang da'i, seorang pemberi sebagai pengawas bagi mereka, kemana-mana menjadi spion bagi mereka, jika dakwah dan nasihat kita tidak diterima, maka bersabar. Bagi sang da'i, ia akan mendapatkan pahala dakwahnya jika ikhlas karena Allah. Namun jika ia melakukan semua itu karena hawa nafsu dunnia dan amarah, maka ia tidak akan mendapatkan apa-apa selain kekecewaan dan kesedihan.

Karena itu metode dakwah yang hilang sifat sabarnya, akan dihiasi dengan emosi dan kehebohan. Padahal berdakwah kepada sesama kaum muslimin, kepada pemegang lembaga dakwah, kepada sesama salafiyyun, adalah dengan sikap sabar bukan amarah. 

Jika harus menasihati di khalayak ramai, yang melakukannya adalah orang yang berilmu, yang dipandang keilmuannya, yang didengar fatwanya, yang disepakati kesholihannya, sebagaimana kasus Ka'ab bin Malik, Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam sendiri yang menghajrnya, maslahatnya jelas, Ka'ab bin Malik bertaubat kepada Allah.

3.3. Introspeksi Diri

Termasuk dalam kafa-ah nafsiyyah adalah kemampuan seorang da'i untuk mengintrospeksi diri dan memuhasabah dirinya. Seorang da'i sejati, yang memiliki kafa-ah nafsiyyah, ia akan selalu menyadari bahwa dirinya banyak kekurangan, banyak dosa, banyak aib, sehingga ia tidak sempat mencari-cari aib dan kekurangan orang lain namun sibuk dengan aib dirinya sendiri. 

Umar radhiyallahu 'anhu pernah mengatakan :

حاسبوا أنفسكم قبل أن تحاسبوا وزنوا أنفسكم قبل أن توزنوا، فإنه أهون عليكم في الحساب غدا أن تحاسبوا أنفسكم اليوم، وتزينوا للعرض الأكبر يومئذ تعرضون لا تخفي منكم خافية.

“Hisablah diri kalian sebelum kalian dihisab, dan timbanglah diri kalian sebelum kalian ditimbang, karena hal itu lebih memudahkan kalian di hari hisab besok agar kalian menghisab diri kalian hari ini, dan bersiap-siaplah untuk hari besar ditampakkannya amal pada hari itu kamu dihadapkan (kepada Tuhanmu), tiada sesuatupun dari keadaanmu yang tersembunyi (bagi Allah). (Muhaasabatun Nafsi, Ibnu Abid-Dunya, hal.22).

Menimbang dosa diri sendiri akan lebih bermanfaat bagi kita daripada sibuk mencari aib dan kekurangan orang lain. Maka seorang da'i yang memiliki kafa-ah nafsiyyah ia sibuk dengan aib dirinya sendiri dan tidak sibuk dengan aib orang lain, apalagi sampai sengaja mengorek-ngorek aib dan kekurangan orang lain. Waliyaadzubillah.

Berkata Fudhail bin 'Iyyaadh rahimahullah kepada seorang laki-laki :

كم أتى عليك؟  قال ستون سنة، قال : فأنت منذ ستين سنة تسير إلى ربك يوشك أن تبلغ، فقال الرجل : إنا لله وإنا إليه راجعون، قال له الفضيل : أتعرف تفسيره؟ قال الرجل : فسره لنا يا أبا علي، قال : فمن علم أنه عبد الله وأنه إليه راجع، فليعلم أنه موقوف، ومن علم أنه موقوف فليعلم أنه مسؤول، ومن علم أنه مسؤول فليعد للسؤال جوابا، فقال الرجل : فما الحيلة؟ قال : يسيرة، قال : ما هي؟ قال : تحسن فيما بقي يغفر لك ما مضى، فإنك إن أسأت فيما بقى أخذت بما مضى وما بقي

"Berapa tahun usiamu?" Laki-laki itu menjawab, "Enam puluh tahun." Beliau berkata, "Semenjak enam puluh tahun engkau berjalan menuju Rabb-mu, nyaris saja engkau sampai tujuan." Laki-laki itu berkata, "Inna lillahi wa inna ilaihi raaji'uun." Al-Fudhoil berkata kepadanya, "Apakah engkau mengetahui tafsir dari kalimat tersebut?" Laki-laki itu berkata, "Tolong tafsirkan kalimat itu untuk kami, Wahai Abu 'Ali!" Beliau berkata, "Siapa saja yang menyadari bahwa dirinya adalah hamba Allah dan menyadari bahwasanya dia akan kembali kepada Rabb-nya, maka hendaknya ia menyadari bahwa ia pasti akan berdiri di hadapan Allah. Barangsiapa yang menyadari bahwa ia akan berdiri di hadapan-Nya, hendaknya ia menyadari bahwa ia harus bertanggung jawab. Siapa saja yang mengetahui bahwa ia harus bertanggung jawab, maka hendaknya ia menyediakan jawaban untuk pertanyaan kelak." Laki-laki itu bertanya, "Lalu bagaimana jalan keluarnya?" Beliau menjawab, "Mudah saja." Laki-laki itu berkata lagi, Apa itu?" Beliau menjawab, "Berbuat baiklah pada sisa usiamu, niscaya Allah akan mengampuni dosa-dosamu yang telah lalu, karena jika engkau masih melakukan keburukan pada masa yang tersisa, maka segala perbuatanmu dimasa lampau dan yang akan datang akan diperhitungkan disisi-Nya." (Yaa Shoohibas Sittiin, hal.28)

Berkata Syaikh Ali bin Sa'id bin Da'jam : 

وهذا توبة بن الصمة وكان بالرقة، وكان محاسبا لنفسه فحسب يوما فإذا هو ابن ستين سنة فحسب أيامها فإذا هي أحد وعشرين ألف يوم وخمسمائة يوم فصرخ وقال : يا وليتي، ألقي المليك بواحد وعشرين ألف وخمسمائة ذنب، كيف وفي كل يوم ذنب؟! ثم خر مغشيا عليه فإذا هو ميت، فسمعوا قائلا يقول : يا لك ركضة إلى الفردوس الأعلى. 

فهكذا ينبغي للمرء أن يحاسب نفسه على الأنفاس وعلى معصية بالقلب والجوارح في كل ساعة، ولو رمى العبد لكل معصية حجرا في داره لامتلأت داره في مدة يسيرة قريبة من عمره، ولكنه يتساهل في حفظ المعاصي والملكان يحفظان عليه ذلك «أَحْصَىٰهُ ٱللَّهُ وَنَسُوهُ ۚ».

قال إسماعيل بن عبيد الله : قال لي عمر بن عبد العزيز : يا إسماعيل كم أتت عليك من سنة؟ قلت : ستون سنة وشهور، قال : يا إسماعيل إياك والمزاح

"Berikut ini adalah Taubah bin Summah yang tinggal di Riqqoh. Ia mengintrospeksi dirinya, ternyata ia sudah berusia 60 tahun. Ia menghitung hari-harinya, ternyata jumlahnya 21.500 hari. Ia berteriak dan berkata, "Celaka! Aku menjumpai Rabb-ku dengan 21.500 dosa?! Lalu bagaimana jika setiap harinya aku melakukan banyak dosa?" Beliau langsung jatuh tersungkur, pingsan, ternyata ia telah meninggal dunia. Lalu mereka-pun mendengar orang berkata, "Sungguh engkau melakukan lompatan menuju surga Firdaus yang tertinggi.

Demikian pula semestinya bagi setiap orang agar ia mengintrospeksi dirinya atas segala desah nafasnya dan atas maksiat baik dengan hatinya maupun anggota badannya setiap hari. Kalau seandainya untuk setiap maksiat seorang hamba melempar batu di rumahnya, pasti rumahnya dalam jangka pendek sudah penuh dengan batu. Akan tetapi dia justru mempermudah (terlalu santai) dalam menjaga diri dari maksiat, sementara dua malaikat selalu memantaunya, (artinya) "Allah tetap menghitung (mencatat) amal perbuatan itu, padahal mereka telah melupakannya.

Berkata Isma'il bin 'Ubaidillah : "'Umar bin 'Abdul 'Aziz pernah berkata kepadaku, 'Wahai Isma'il! Sudah berapa tahun yang engkau lewati dalam hidupmu? 'Aku menjawab, '60 tahun ditambah beberapa bulan.' Beliau berkata, 'Wahai Isma'il, waspadalah!, jangan banyak bercanda lagi.'" (Yaa Shoohibas Sittiin, hal.25)

Sedangkan kita hari ini, terlalu sibuk mengorek aib saudaranya, ia lupa bahwa aiab dirinya lebih dahsyat dari aib orang lain.

3.4. Bersikap Bijak

Tidak dipungkiri, masalah dalam dakwah sangat banyak. Dari perselisihan masalah lahan dakwah sampai perselisihan masalah siapa yang akan mengendalikan dakwah. Dari perselisihan masalah senioritas dalam dakwah hingga perselisihan masalah lembaga dakwah, yayasan, siapa yang akan meneruskan pesantren ini dan itu, dll. Sebenarnya masalah seperti ini tidak hanya terjadi di sini, tapi terjadi di mana-mana, khususnya di akhir zaman ini. Sikap kita adalah, jangan terlalu larut dalam buaian perselisihan antar sesama lembaga dakwah atau pesantren dan yang semisalnya, tapi carikan solusi yang paling bijak.

Karena itu, diantara solusi yang paling baik adalah sering-sering bertemu. Kumpul setiap bulan walau hanya untuk acara makan-makan dan seruput kopi.

Ustadzuna pernah bertanya kepada seorang da'i senior di kota Riau yang cukup dikenal luas karena keilmuannya, dan dituakan dalam umurnya. Beliau berkata : "Ustadz, ana melihat begitu banyak pondok-pondok baru dan yayasan baru tumbuh menjamur di kota Antum, tapi kenapa antara du'at tidak pernah ada perselisihan yang berarti."

Beliau menjawab, "Kami di sana ada pertemuan rutin setiap bulan. Semua mudir pesantren, ketua yayasan dan pengurus-pengurusnya wajib hadir. Jika ada jadwal kajian pada hari itu, wajib diliburkan." 

Ustadzuna berkata, "Apa yang Antum lakukan setelah mengumpulkan para du'at disetiap pertemuan itu?"

Beliau menjawab, "Kita hanya kumpul untuk ngobrol-ngobrol santai, makan-makan sambil seruput kopi atau teh, bertukar cerita tentang bisnis, berbicara tentang masalah duniawi yang sekirangnya bisa mencairkan suasana. Dengan sering bertemu, akan hilang iri dan dengki, akan sirna hasad dan su'udzon, akan padam api pertikaian antara sesama du'at, dan akan tercipta atmosfir yang sejuk dan bersahabat."

Lalu Ustadzuna mempraktekkan hal tersebut ketika antara lembaga dakwah di kota Gresik mulai ada tanda-tanda perpecahan, beliau mengumpulkan semua ikhwah, lembaga dakwah, pengelola yayasan, kegiatannya adalah makan-makan, seruput kopi dan teh, bercerita tentang hal-hal yang meningkatkan persaudaraan dan keimanan. Bukan kajian ilmiyyah, tapi majelis makan-makan yang penuh berkah. Pertemuan itu pun memecahkan keheningan, mengurai pertikaian, menyatukan hati yang telah dipenuhi oleh su'udzon dan kebencian. 

Pertemuan seperti ini terlihat sederhana tapi besar manfaatnya. Dibutuhkan da'i yang bisa didengar oleh semua pihak, da'i yang berwibawa, yang disepakati keilmuannya, yang memiliki kafa-ah ilmiyyahkafaa-ah nafsiyyah, kafa-ah ijtimaa'iyyah, yang di tuakan dalam masalah ilmu dan umur, yang bijak dalam menyikapi perselisihan, bukan yang sumbu pendek, mudah terprovokasi, bukan yang pro sana dan pro sini, tapi yang benar-benar bijaksana, kibar, didengarkan ucapannya, dengan ini niscaya permasalahan-permasalahan dalam dakwah akan terurai, biidznillah.

Bersambung...

***

Grand Sahara - Purwodadi - Sidayu - Gresik, 19 Syawal 1446 H / 8 April 2026

Penulis : Abu Dawud ad-Dombuwiyy

Artikel : Meciangi-d.blogspot.com

Related Posts:

0 Response to "EMPAT KARAKTER DA'I SEJATI (SERI 3)"

Post a Comment