TIDAK TERCELANYA KAYA DAN BANYAK HARTA BAGI ORANG ORANG YANG BERTAKWA


Bismillah. Alhamdulillah. Wa shallallahu 'ala Nabiyyina Muhammdin wa 'ala aalihi wa shahbihi ajma'iin. Wa ba'du.

عن سعد بن عبادة رضي الله عنه أنه كان يدعو : ((اللهم هب لي حمدا، وهب لي مجدا، لا مجدا إلا بفعال، ولا فعال إلا بمال، اللهم لا
 .((يصلحني القليل ولا أصلح عليه

.رواه ابن أبي شيبة وصححه الحاكم ؛ وهو كذلك

Dari Sa'ad bin Ubadah radhiyallahu 'anhu bahwasanya ia berdoa : ((Ya Allah karuniakan kepadaku kemuliaan, dan anugerahkan kepadaku kehormatan, tidak ada kehormatan kecuali dengan perbuatan, tidak ada perbuatan kecuali dengan harta, ya Allah tidak cocok untuk-ku sedikit harta dan aku tidak bisa berbuat baik tanpa harta)).

Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah dan Al-Hakim telah menshohihkannya ; dan Ibnu Abi Syaibah juga demikian (telah mensohihkannya). [Al-Ghuror min Mauquufil Atsar, hal : 11].

Sahabat Sa'ad bin Ubadah berdo'a demikian karena ia adalah orang yang sangat dermawan. Beliau orang yang suka berderma. Beliau tidak bisa jika tidak memiliki harta, karena akan menghalanginya dari berinfaq di jalan Allah dan membantu kaum muslimin yang membutuhkan. 

Yang semisal dengan di atas pada hari ini adalah keadaan para muhsinin dan orang-orang yang dermawan. Mereka memiliki harta tapi memilih menggunakan hartanya untuk berinfaq di jalan Allah, membantu para penuntut ilmu, maka pahala amal sholih para penuntut ilmu akan didapati oleh mereka tanpa mengurangi pahala mereka yang mengamalkannya.  Betapa banyak para muhsinin dan orang-orang yang dermawan membantu para penuntut ilmu dengan hartanya hingga mereka menjadi da'i-da'i sunnah penyebar sunnah di medan-medan dakwah, sungguh pahala mereka terus mengalir bagaikan air yang terus memancar dari mata airnya. 

Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

من سن في الإ‌سلا‌م سنة حسنة، فله أجرها وأجْر من عمل بها بعده، من غير أن ينقص من أجورهم شيء، ومن سن في الإسلام سنة سيئة، كان عليه وزرها ووزر من عمل بها من بعبده، من غير أن ينقص من أوزارهم شيأ

"Barangsiapa yang memulai suatu sunnah (jalan/teladan) yang baik dalam Islam, maka dia akan mendapatkan pahalanya dan pahala orang yang mengerjakan setelahnya tanpa mengurangi pahala mereka sedikitpun. Dan barang siapa yang memulai suatu sunnah (jalan/teladan) yang buruk dalam Islam, maka ia akan mendapatkan dosanya dan dosa orang-orang yang mengamalkannya setelahnya, tanpa mengurangi dosa-dosa mereka sedikit pun." (HR. Muslim, no.1017).

Dan harta manusia sejatinya ada tiga; (1) yang ia makan lalu habis, (2) yang ia makan lalu usang, (3) yang ia sedekahkan dan itulah yang kekal. 

Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam pernah bersabda dalam sebuah hadits, dan Imam Muslim menyebutkan sanadnya :

عن مطرف عن أبيه، قال : أتيت النبي صلى الله عليه وسلم وهو يقرأ : ألهاكم التكاثر، قال : ((يقول ابن آدم : مالي، مالي (قال) وهل لك، يا ابن آدم من مالك إلا ما أكلت فأفنيت، أو لبست فأبليت، أو تصدقت فأمضيت؟))

"Dari Muthorrif dari ayahnya, ia berkata : 'Aku datang kepada Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam sedangkan beliau sedang membaca (firman Allah yang artinya) : "Bermegah-megahan telah melalaikan kalian", beliau bersabda : ((Anak Adam berkata : Hartaku, hartaku. (Nabi bersabda) adakah yang menjadi milikmu dari hartamu wahai anak Adam selain apa yang telah kamu makan lalu habis, atau apa yang telah kamu pakai lalu menjadi usang, atau apa yang telah kamu sedekahkan lalu itulah yang kamu peroleh (pahalanya)?))." (HR. Muslim, no.2958).

Dari Muṭarrif, dari ayahnya, ia berkata: Aku mendatangi Nabi ﷺ ketika beliau sedang membaca: “Alhakumut-takātsur (Bermegah-megahan telah melalaikan kalian).” Beliau bersabda: “Anak Adam berkata, ‘Hartaku, hartaku.’ Lalu dikatakan kepadanya, ‘Wahai anak Adam, adakah yang menjadi milikmu dari hartamu wahai anak Adam selain apa yang telah kamu makan lalu habis, atau apa yang telah kamu pakai lalu menjadi usang, atau apa yang telah kamu sedekahkan lalu itulah yang kamu peroleh (pahalanya)?’”

Dalam hadits yang lain :

عن أبي هريرة، أن رسول الله صلى الله عليه وسلم : ((يقول العبد : مالي، مالي، إنما له من ماله ثلاث : ما أكل فأفنى، أو لبس فأبلى، أو أعطى فاقتنى، وما سوى ذلك فهو ذاهب، وتاركه للناس))

"Dari Abu Hurairah, bahwasanya Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda : ((Seorang hamba berkata, ‘Hartaku, hartaku.’ Padahal, yang benar-benar menjadi miliknya dari hartanya hanyalah tiga perkara: apa yang ia makan lalu habis, apa yang ia pakai lalu usang, dan apa yang ia berikan lalu menjadi simpanan (pahala) baginya. Adapun selain itu, maka akan pergi dan ia tinggalkan untuk orang lain)). (HR. Muslim, no.2959).

Faefah dari atsar diatas :

1. Sa'ad bin Ubadah adalah sahabat anshar. Nama beliau adalah Sa'ad bin Ubadah bin Dulaim al-Anshari al-Khajraji, kunyah beliau adalah Abu Tsabit atau Abu Qais, beliau digelari dengan al-Kaamil, dan beliau wafat tahun 15 H atau selain itu di kota Syam atau yang lebih masyhur di kota Hauraan.

2. Beliau berdoa kepada Allah meminta kemuliaan, kehormatan, bahkan beliau meminta kekayaan menunjukkan bahwa doa-doa tersebut tidak tercela.

3. Untuk mendapatkan kehormatan tentunya harus diiringi dengan perbuatan yang baik bukan perbuatan yang buruk.

4. Beliau berpandangan bahwa tidak ada perbuatan kecuali dengan harta, karena harta merupakan washilah untuk berbuat kebaikan seperti berinfaq, bersedekah, baik dijalan Allah atau kepada orang-orang fakir.

5. Sahabat Sa'ad bin Ubadah termasuk sahabat yang kaya dan dermawan di kota madinah, beliau berdoa dan meminta harta : ((ya Allah tidak cocok untuk-ku sedikit harta dan aku tidak bisa berbuat baik tanpa harta)), maksudnya beliau tidak cocok jika hidup miskin karena akan menghalangi beliau dari berinfaq dijalan Allah dan bersedekah menolong orang-orang miskin.

6. Bolehnya meminta kekayaan kepada Allah bagi orang-orang yang sholeh. 

7. Tidak tercelanya kekayaan bagi orang-orang yang sholeh sebagaimana Nabi Sulaiman 'alaihissalam, selama kekayaan itu menjadi washilah untuk bertakwa kepada Allah.

8. Ada sebagian orang yang jika diberi kefakiran oleh Allah akan menyebabkan ia jauh dari Allah sehingga Allah-pun menjadikannya kaya untuk menyelamatkan agamanya dan itu yang lebih baik baginya. Sebaliknya ada juga orang yang jika Allah menjadikannya kaya justru hal itu akan membuat ia semakin jauh dari Allah sehingga akhirnya Allah-pun menjadikannnya miskin untuk menyelamatkan agamanya dan itu lebih baik baginya.

9. Jika kita melihat ada seorang muslim yang kaya, maka hendaknya kita husnudzon apalagi jika mereka adalah orang-orang yang sholeh.

10. Umur panjang dan waktu luang lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa dari harta dan dunia seluruhnya.

11. Harta adalah sarana untuk beramal

12. Harta yang kekal adalah harta yang disedekahkan.

Semoga tulisan ini bermanfaat.

***

Dompu, 16 Dzulhijjah 1441 H / 6 Agustus 2020 M

Penulis : Abu Dawud ad-Dumbuwiyy

Artikel : Meciangi-d.blogspot.com

Related Posts:

0 Response to "TIDAK TERCELANYA KAYA DAN BANYAK HARTA BAGI ORANG ORANG YANG BERTAKWA"

Post a Comment