EMPAT KARAKTER DA'I SEJATI (SERI 4)

Bismillah. Alhamdulillah. Wa shallallahu 'ala Nabiyyina Muhammadin wa 'ala aalihi wa shahbihi ajma'iin. Wa ba'du.

Melanjutkan tiga pembahasan sebelumnya dan menjadi pembahasan terakhir terkait empat karakter da'i sejati antara lain :  

(1) al-Mahaarah al-Ilmiyyah (keterampilan ilmu)

(2) al-Mahaarah at-Tadriis (keterampilan mengajar)  

(3) al-Mahaarah al-Nafsiyyah (keterampilan psikologis) 

(4) al-Mahaarah al-Ijtimaa'iyyah (kemampuan sosial). 

 4. Al-Mahaarah al-Ijtimaa'iyyah (kemampuan sosial)

Al-Mahaarah al-Ijtimaa'iyyah disebut juga kafa-ah ijtimaa'iyyah yaitu kemampuan seseorang da'i untuk berinteraksi, berkomunikasi, dan menyesuaikan diri dengan orang lain dalam kehidupan bermasyarakat, baik dalam rangka ta'aawun 'alal birr wat taqwa atau dalam rangka berdakwah dan saling kenal mengenal antara sesama manusia sebagaimana firman Allah Ta'ala :

«يَـٰٓأَيُّهَا ٱلنَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَـٰكُم مِّن ذَكَرٍۢ وَأُنثَىٰ وَجَعَلْنَـٰكُمْ شُعُوبًۭا وَقَبَآئِلَ لِتَعَارَفُوٓا۟ ۚ إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِندَ ٱللَّهِ أَتْقَىٰكُمْ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌۭ»

Artinya : "Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling takwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal." (QS. Al-Hujurat " 13)

Ayat ini menunjukkan bahwa interaksi sosial itu adalah sunnatullah yang akan terus berjalan hingga kapanpun, dan itu butuh keterampilan.

Dalam urusan yang berkaitan dengan interaksi sosial masyarakat dan sesama manusia, maka kita bisa melihat bagaimana Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam berinteraksi dengan kaum Quraisy dengan akhlak yang mulia, baik dalam dakwah maupun dalam pergaulan sehari-hari. Allah Ta'ala berfirman :

«وَإِنَّكَ لَعَلَىٰ خُلُقٍ عَظِيمٍۢ»

Artinya : "Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung." (QS. Al-Qolam : 4)

Karena itu, da'i yang memiliki kafa-ah ijtimaa'iyyah, ia akan bergaul dengan manusia dengan akhlak yang mulia. Berdakwah di masyarakat dengan adab dan akhlak serta tatakrama dan sopan santun, karena masyarakat tidak melihat pada luasnya ilmu seorang da'i, tapi bagaimana dia bermuamalah dengan mereka sehari-hari dengan akhlak yang baik. 

4.1. Berinteraksi Sosial dengan Perbuatan 

4.1.1. Gotong-royong

Termasuk kafa-ah ijtimaa'iyyah adalah seorang da'i terlibat dalam kegiatan masyarakat yang sifatnya tidak bertentangan dengan syariat, seperti gotong royong bersama masyarakat, kerja bakti membangun masjid, dll. Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam pernah terlibat dalam pembangunan Ka'bah bersama kaum Quraisy ketika itu, dan beliau mengangkat batu-batu dan meletakkan hajar Aswad ke tempatnya. Dalam kitab-kitab siroh disebutkan :

أرادت قريش بناء الكعبة لما وقعت بعض جدرانها من أثر السيل، وأخذ بعض السراق كنزها ولم تكن مسقوفة، فأجمعوا على ذلك وأن لا يدخل في بنائها إلا الطيب من أموالهم، ولا يدخل فيها مال من ربا أو مهر بغي، وأول من بدأ نقض الجدران الوليد بن المغيرة المخزومي وتبعه الناس وكانوا يهابون ذلك، ثم أخذوا في بنائها ورفعوها ثمانية عشر ذراعا، ولكن قصرت بهم النفقة الحلال فاقتصروا من مساحتها التي على قواعد إبراهيم - عليه السلام - وأخرجوا من الجهة الشمالية ستة أذرع وشيئا، وحجروا عليه ووسعوا في الحجر فكان مقوسا، وجعلوا للكعبة بابا واحدا، ورفعوه حتى لا يدخلها إلا من أرادوا

وقد شارك معهم النبي صلى الله عليه وسلم وكان ينقل الحجارة، ولما اختلفوا في وضع الحجر الأسود وكاد يقع بينهم الشر احتكموا لأول داخل من باب الصفا، فكان رسول الله صلى الله عليه وسلم هو أول داخل، ولما رأوه قالوا: هذا الأمين، ووفق صلى الله عليه وسلم في حل الإشكال بحل أرضى الجميع، وحقق العدل وقطع الفتنة، فدعا بثوب ثم وضع الحجر الأسود فيه وقال: ليأخذ كل رجل بطرف الثوب، ثم رفعوه فأخذه بيده الكريمة ووضعه في مكانه

"Quraisy ingin membangun Ka‘bah ketika sebagian dindingnya runtuh akibat banjir, dan sebagian pencuri telah mengambil harta simpanannya, sedangkan saat itu Ka‘bah belum beratap. Maka mereka sepakat atas hal itu, dan (mereka bersepakat) bahwa tidak akan dimasukkan ke dalam pembangunannya kecuali harta yang baik dari harta mereka. Dan tidak boleh dimasukkan ke dalamnya harta hasil riba ataupun upah dari hasil pelacuran. Orang pertama yang mulai merobohkan dinding-dindingnya adalah al-Walid bin al-Mughirah al-Makhzumi. Lalu orang-orang pun mengikutinya, dan mereka sebelumnya merasa takut melakukannya. Kemudian mereka mulai membangunnya dan meninggikannya hingga delapan belas hasta. Akan tetapi biaya yang halal tidak mencukupi mereka, maka mereka mengurangi luas bangunan yang berada di atas fondasi Nabi Ibrahim ‘alaihis salam. Mereka mengeluarkan dari sisi utara sekitar enam hasta lebih sedikit. Mereka membuat pagar (pembatas) di atasnya dan memperluas bagian Hijr, sehingga bentuknya menjadi melengkung. Mereka juga menjadikan Ka‘bah memiliki satu pintu saja, dan mereka meninggikannya agar tidak ada yang bisa memasukinya kecuali orang yang mereka kehendaki.

Dan sungguh Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam turut serta bersama mereka, dan beliau memindahkan batu-batu. Ketika mereka berselisih tentang peletakan Hajar Aswad dan hampir saja terjadi pertikaian di antara mereka, mereka sepakat menjadikan orang yang pertama masuk dari pintu Shafa sebagai penengah. Maka Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam adalah orang pertama yang masuk. Ketika mereka melihatnya, mereka berkata, "Inilah al-Amin (orang yang terpercaya)."

Beliau diberi taufik dalam menyelesaikan permasalahan itu dengan suatu penyelesaian yang membuat semua pihak ridha. Beliau menegakkan keadilan dan menghentikan fitnah. Maka beliau meminta sehelai kain, lalu meletakkan Hajar Aswad di atasnya dan berkata, “Hendaklah setiap orang memegang ujung kain.” Kemudian mereka mengangkatnya bersama-sama. Lalu beliau mengambilnya dengan tangan beliau yang mulia dan meletakkannya di tempatnya." (Shahiihul Atsar wa Jamiilul 'Ibar, hal. 81-82)

4.2. Melarang Kedzoliman

Termasuk kafa-ah ijtimaa'iyyah seorang da'i adalah ikut serta dalam perjanjian yang melarang kedzoliman, atau aturan yang membahas tentang aturan-aturan desa, kampung, RT, RW yang tidak bertentangan dengan syariat, seperti melarang berbuat maksiat; narkoba, minum khomr, berjudi, atau bentuk kedzoliman lainnya seperti pemukulan, pemalakan, penjarahan, perang suku dll, karena aturan dan perjanjian-perjanjian yang dibuat untuk kemaslahatan bersama seperti ini pernah diikuti oleh Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam dalam Hilful Fudhul, yaitu perjanjian yang mengharamkan segala bentuk kedzoliman di kota Makkah. 

Sebab munculnya perjanjian ini karena seorang laki-laki dari Zubaid yang datang ke Makkah membawa barang dagangannya lalu dibeli oleh al-'Ash bin Wa'il as-Sahmi, namun ia tidak mau membayar dan menunda-nunda memberikan bayarannya. Ia sudah meminta pertolong kepada orang-orang Quraisy namun tidak ada yang menolongnya, karena itu ia naik keatas bukit dan bersyair :

يا آل فهر لمظلوم بضاعته             ببطن مكة نائي الدار والنفر

 ومحرم أشعث لم يقض عمرته        يا للرجال وبين الحجر والحجر

 إن الحرام لمن تمت كرامته           ولا حرام لثوب الفاجر الغدر

"Wahai keluarga Fihr, bagi seorang yang terzalimi barang dagangannya, di tengah kota Makkah, jauh dari keluarga dan kaumnya.

Seorang yang berihram, kusut rambutnya, belum menunaikan umrahnya. Wahai para lelaki, (kezaliman ini terjadi) antara al-Hijr dan al-Hajar.

Sesungguhnya kehormatan itu bagi orang yang sempurna kemuliaannya, dan tidak ada kehormatan bagi pakaian si durjana yang khianat." 

 فمشى في ذلك الزبير بن عبد المطلب وقال: ما لهذا مترك! حتى اجتمعت قبائل من قريش في دار عبد الله بن جدعان التيمي، وتعاقدوا على أن لا يجدوا بمكة مظلوما من أهلها أو غيرهم إلا نصروه وقاموا معه حتى ينال حقه، وقد شهد هذا الحلف رسول الله صلى الله عليه وسلم قبل أن يكرمه الله بالرسالة، وقال بعد أن أكرمه الله بالرسالة : لقد شهدت في دار عبد الله بن جدعان حلفا ما أحب أن لي به حمر النعم، ولو دعيت به في الإسلام لأجبت. وهذا الحلف بناء على الحمية الجاهلية وبعد مكارم الأخلاق، ومن مفاخر العرب، ومن القيام بحقوق الإنسان ونصرة المظلوم

"Maka az-Zubair bin ‘Abdul Muththalib bergerak dalam perkara itu dan berkata, "Tidak boleh orang ini dibiarkan!", hingga berkumpullah beberapa kabilah dari Quraisy di rumah Abdullah bin Jud‘an at-Taimi. Mereka bersepakat bahwa mereka tidak akan membiarkan seorang pun terzalimi di kota Makkah, baik dari penduduknya maupun selain mereka, melainkan mereka akan menolongnya dan berdiri bersamanya sampai ia mendapatkan haknya.

Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam telah menyaksikan perjanjian ini sebelum Allah memuliakan beliau dengan risalah. Dan setelah Allah memuliakan beliau dengan risalah, beliau bersabda : 'Sungguh aku telah menyaksikan di rumah Abdullah bin Jud‘an suatu perjanjian yang aku tidak suka jika aku memiliki unta-unta merah sebagai gantinya. Seandainya aku diajak kepadanya dalam Islam, niscaya aku akan memenuhinya.'

Perjanjian ini berdiri di atas semangat jahiliah dalam membela kebenaran, dan termasuk kemuliaan akhlak, serta menjadi salah satu kebanggaan bangsa Arab, dan merupakan bentuk penegakan hak-hak manusia serta pembelaan terhadap orang yang dizalimi."  (Shahiihul Atsar wa Jamiilul 'Ibar, hal. 81)

4.3. Melanggar Perjanjian Damai

Dalam sejarah Islam, Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam pernah terlibat dalam perang akibat pelanggaran perjanjian damai dan penodaan terhadap kehormatan bulan haram.

Dalam Harbul Fijaar, peperangan terjadi antara Quraisy dan Kinanah melawan Qois 'Ailan. Qais 'Ailan memulai peperangan dan melanggar kehormatan bulan haram. Rasulullah  shallallahu 'alaihi wa sallam ikut berperang, dan usia beliau masih lima belas tahun. Tugas Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam adalah menyediakan anak panah untuk paman-paman beliau. Dan akhirnya peperangan ini dimenangkan oleh Quraisy dan Kinanah. 

وسميت بهذا الاسم لانتهاكهم حرمة الأشهر الحرم بالقتال فيها، وفجارات العرب كثيرة لكن التي شارك فيها رسول الله صلى الله عليه وسلم - وله من العمر خمس عشرة سنة - هي التي كانت بين قريش وكنانة وبين قيس عيلان، وكانت قيس هي البادئة بالقتال في الشهر الحرام ومشاركة النبي صلى الله عليه وسلم هي أنه كان يجهز لأعمامه النبل للرمي به وكان الظفر فيها لقريش وكنانة على قيس

"Dan (perang ini) dinamakan dengan nama tersebut karena pelanggaran mereka terhadap kehormatan bulan-bulan haram dengan melakukan peperangan di dalamnya.

Harbul Fijaar bangsa Arab itu banyak, namun yang diikuti oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam -saat beliau berumur lima belas tahun- adalah yang terjadi antara kabilah Quraisy dan Kinanah melawan Qais 'Ailan.

Kabilah Qais lah yang memulai peperangan pada bulan haram tersebut. Adapun bentuk partisipasi Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam adalah beliau menyiapkan anak panah bagi paman-paman beliau untuk dilemparkan (ke arah musuh), dan kemenangan dalam perang itu berada di pihak Quraisy dan Kinanah atas Qais." (Shahiihul Atsar wa Jamiilul 'Ibar, hal. 87)

Maka termasuk kafa-ah ijtimaa'iyyah, seorang da'i ikut berpartisipasi  dalam membela kehormatan bulan haram jika ada yang melanggar kehormatan bulan haram degnan memulai berperang dan melanggar perjanjian damai, sebagaimana yang dilakukan oleh Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam dalam Harbul Fijaar, namun ini tidak berlaku dalam perang suku dan perang antar kampung yang terjadi di tempat kita. 

Perang suku di tempat kita terjadi karena fanatisme kesukuan dan kelompok semata, bukan karena membela kemuliaan bulan haram. Seandainya suku-suku ini seperti keadaan Quraisy dan Kinanah dan Qois 'Ailan melakukan perjanjian damai dan memuliakan bulan haram, lalu salah satunya melanggar perjanjian damai dan melanggar kehormatan bulan haram, maka melawan suku yang memulai perang dan melanggar perjanjian damai serta melanggar kehormatan bulan haram termasuk kafa-ah ijtima'iyyah, namun peperangan di tempat kita murni karena fanatisme kelompok dan kesukuan yang haram untuk diikuti. 

Kisah diatas menunjukkan interaksi sosial Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam di tengah-tengah masyarakat suku Quraisy sangat realistis. Dan seorang da'i yang memiliki kafa-ah ijtima'iyyah hendaknya tahu mana permasalahan-permasalahan sosial di tengah masyarakat dan kesukuan yang ia bisa terlibat di dalamnya dan mana yang tidak. 

4.4. Menghadiri Undangan

Diantara hadits-hadits yang berbicara tentang interaksi sosial adalah perintah untuk menghadiri undangan, diantaranya undangan walimah, selama tidak ada kemungkaran di dalamnya. Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda : 

((إذا دعي أحدكم إلى الوليمة فليأتها))

"Apabila salah seorang di antara kalian diundang ke walimah, maka hendaklah ia mendatanginya." (HR. Al-Bukhari dan Muslim dalam Ta'liiqul Muqni 'ala Zaadil Mustaqni', 3/132)

Beliau juga bersabda :

((إذا دعي أحدكم فليجب، فإن كان صائما فليصل، وإن كان مفطرا فليطعم))

"Apabila salah seorang di antara kalian diundang, maka hendaklah ia memenuhi (undangan itu). Jika ia berpuasa, maka hendaklah ia mendoakan. Jika tidak berpuasa, maka hendaklah ia makan." (HR. Muslim dalam Ta'liiqul Muqni 'ala Zaadil Mustaqni', 3/133)

4.5. Bergaul dengan Manusia dengan Akhlak yang Baik

Dan diantara bentuk interaksi kita di tengah masyarakat bertegur sapa dengan mereka, berbicara dengan mereka dengan adab dan tata krama, bermuamalah dengan mereka dengan cara yang paling baik. Allah Ta'ala berfirman :

    وَقُولُوا۟ لِلنَّاسِ حُسْنًۭا»

 Artinya : "Serta ucapkanlah kata-kata yang baik kepada manusia." (QS. Al-Baqaroh : 83)

Inti dari adab terhadap manusia ada pada empat hal, (1) ucapan yang baik, (2) perbuatan yang baik, (3) tidak mengganggu manusia dengan ucapan, (4) tidak mengganggu manusia dengan perbuatan. 

Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam dikenal di tengah kaumnya sebagai pribadi yang memiliki akhlak yang mulia. Bahkan orang-orang jahiliyyah sering menitipkan barang-barang mereka kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam karena keutamaan akhlaknya. Oleh sebab itu, diawal-awal perintah untuk berdakwah terang-terangan, beliau shallallahu 'alaihi wa sallam menyeru kaumnya di atas bukit Shafa dan mengingatkan mereka tentang ancaman dan adzab. Imam Bukhari dan Muslim meriwayatkan dari Ibnu Abbas, ia berkata : 

 لما نزلت «وَأَنْذِرْعَشِيرَتَكَ الْأَقْرَبِينَ» نادى رسول الله في قريش بطنا بطنا فقال ارأيتم لو قلت لكم ان خيلا بسفح هذا الجبل اكنتم مصدقي قالوا نعم ما جربنا عليك كذبا قط قال فاني نذير لكم بين يدي عذاب شديد فقال ابو لهب تبا لك الهذا جمعتنا فانزل الله «تَبَّتْ يَدَا أَبِي لَهَبٍ وَتَبَّ» الى اخر السورة

"Tatkala turun ayat «Dan berilah peringatan kepada kerabatmu yang terdekat», Rasulullah memanggil orang-orang Quraisy, kabilah demi kabilah. Lalu beliau berkata : 'Bagaimana pendapat kalian, jika aku katakan kepada kalian bahwa ada pasukan berkuda di kaki gunung ini, apakah kalian akan membenarkanku?' Mereka menjawab: 'Ya, kami tidak pernah mendapati engkau berdusta sama sekali.' Beliau bersabda : 'Maka sesungguhnya aku adalah pemberi peringatan bagi kalian akan azab yang keras yang ada di hadapan kalian.'

Maka Abu Lahab berkata: 'Celakalah engkau! Untuk inikah engkau mengumpulkan kami?' Maka Allah menurunkan (firman-Nya  yang artinya)  : «Binasalah kedua tangan Abu Lahab dan benar-benar dia akan binasa» hingga akhir surat."  (Shahiihul Atsar wa Jamiilul 'Ibar, hal.103-104)

Pengakuan Quraisy, 'Ya, kami tidak pernah mendapati engkau berdusta sama sekali merupakan kesepakatan dikalangan mereka bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam memiliki budi pekerti yang baik. Karena itu Allah Ta'ala menjelaskan sifat beliau dalam firman-Nya : 

«وَإِنَّكَ لَعَلَىٰ خُلُقٍ عَظِيمٍۢ»

Artinya : "Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung." (QS. Al-Qolam : 4)

Dan seorang da'i hendaknya memiliki akhlak yang terpuji di tengah masyarakat, memiliki kafa-ah ijtimaa'iyyah sebelum ia berdakwah dan mengajak manusia kepada jalan Allah dan kebenaran Islam yang mulia ini. Seandainya seorang da'i memiliki akhlak yang buruk di tengah masyarakat, niscaya dakwahnya tidak akan diterima.

4.6. Menjaga Lisan di tengah Masyarakat  

Sebagai seorang da'i yang hidup di tengah komunitas sosial, menjaga lisan dan tangan adalah dua hal yang sangat penting dan termasuk diantara kafa-ah ijtimaa'iyyah. Manusia tidak melihat pada banyaknya ilmu sang da'i, tapi yang mereka lihat adalah akhlak yang nampak dari ucapan dan perbuatannya.
 
Permasalahan yang paling banyak terjadi di tengah masyarakat adalah dosa lisan dan tangan. Dalam sebuah hadits disebutkan :

عن عبد الله بن مسعود رضي الله تعالى عنه أن النبي صلى الله عليه وسلم قال : ((سباب المسلم فسوق وقتاله كفر))

Dari Abdullah bin Mas'ud radhiyallahu Ta'ala 'anhu bahwasanya Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda : "Mencaci maki seorang muslim adalah kefasikan dan membunuhnya adalah kekafiran." (HR. Al-Bukhari, no.48. Muslim no.64)

Mencaci maki adalah perbuatan lisan, membunuh adalah perbuatan tangan, dan seorang da'i yang memiliki kafa-ah ijtimaa'iyyah ia akan menjauhi dua sifat di atas. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda :

 ((المسلم من سلم اكمسلمون من لسانه ويده))

"Orang muslim (yang paling baik akhlaknya), yang muslim lainnya selamat dari gangguan lisan dan tangannya." (HR. Al-Bukhari, no.10)

Dua jenis gangguan yang disebutkan berkaitan erat dengan akhlak, (1) ganggaun lisan, (2) gangguan tangan. Gangguan lisan dengan mencela, menggunjing, mencaci. Gangguan tangan dengan memukul, menampar, dll. Dua hal ini paling banyak terjadi di tengah masyarakat, dan poin pertama sering terjadi dalam kancah dakwah. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam juga bersabda :

((من كان يؤمن بالله واليوم الآخر، فليقل خيرًا أوليصمت))
 
"Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah dia berkata baik atau diam." (HR. Al-Bukhari, no.6475. Muslim, no.47)

Berbicara dengan dasar ilmu tidak tercela, namun ketika ikut berbicara padahal ia bukan ahlinya, maka yang selamat adalah banyak diam, dan yang akan binasa adalah banyak bicara. Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda :

((أكثر خطايا ابن آدم في لسانه))

"Kebanyakan kesalahan anak Adam itu berada pada lisannya." (Shahih Targhiib, no.2872)

Pada hari ini kita butuh da'i-da'i yang memiliki kafa-ah ijtimaa'iyyah disaat banyaknya da'i-da'i yang saling menggibah satu sama lain. Duduk minum di kafe, yang dibicarakan adalah aib kaum muslimin,  duduk melingkar sehabis kajian, yang diperbincangkan adalah aib manusia, padahal satu ucapan bisa menggelincirkan kedalam neraka sejauh barat dan timur. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda :

((إن العبد ليتكلم بالكلمة ما يتبين ما فيها، يهوي بها في النار أبعد ما بين المشرق والمغرب))

"Sesungguhnya seorang hamba benar-benar mengucapkan satu kata yang ia tidak memperhatikannya (tidak memikirkan kejelekan dan dampaknya), ternyata menggelincirkannya ke dalam neraka sejauh jarak antara timur dan barat." (HR. Al-Bukhari, no. 6477. Muslim, no.2988)

Ghibah itu termasuk dosa yang menjijikkan, tapi syaithon terus menghias-hiasi majelis mereka dengan kalimat-kalimat indah atas nama dakwah. Allah Ta'ala berfirman :

«يَـٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ ٱجْتَنِبُوا۟ كَثِيرًۭا مِّنَ ٱلظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ ٱلظَّنِّ إِثْمٌۭ ۖ وَلَا تَجَسَّسُوا۟ وَلَا يَغْتَب بَّعْضُكُم بَعْضًا ۚ أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَن يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتًۭا فَكَرِهْتُمُوهُ ۚ وَٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ تَوَّابٌۭ رَّحِيمٌۭ» فَكَرِهْتُمُوهُ ۚ وَٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ تَوَّابٌۭ رَّحِيمٌۭ

Artinya : "Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan purba-sangka (kecurigaan), karena sebagian dari purba-sangka itu dosa. Dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang." (QS. Al-Hujurat : 12)

Permasalahan di tengah masyarakat, bahkan di tengah komunitas pecinta dakwah yang paling banyak terjadi saat ini adalah saling menghibah satu sama lain. Jika orang-orang yang telah mengetahui hukum ghibah pun bisa terjatuh dalam ghibah, lalu bagaimana dengan masyarakat umum? Padahal ghibah itu dosa besar. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam pernah bersabda : 

((أتدرون ما الغيبة؟ قالوا : الله و رسوله أعلم، قال : ذكرك أخاك بما يكره، قيل : أفرأيت إن كان في أخي ما اقول؟ قال : إن كان فيه ما تقول فقد اغتنته، و إن لم يكن فيه فقد بهته))

"Apakah kalian tau apa itu ghibah? Para sahabat berkata : Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui, beliau bersabda : 'Engkau mengatakan tentang saudaramu apa-apa yang dia benci, dikatakan (kepada Rasulullah) : Bagaimana pendapatmu jika apa yang saya bicarakan itu memang ada pada saudaraku? Nabi bersabda : Jika benar yang kamu katakan maka sungguh engkau telah menghibahinya, jika tidak benar maka engkau telah berdusta." (Rifqon Ahlas Sunnah bi Ahlis Sunnah, hal. 2021)

Selain hal-hal diatas, orang yang senang ghibah termasuk orang yang bangkrut nanti pada hari kiamat. Nabi shallalahu 'alaihi wa sallam bersabda :

((أتدرون من المفلس؟ قالوا : المفلس فينا من لا درهم له ولا متاع، فقال : إن المفلس من أمتي يأتي يوم القيامة بصلاة وصيام وزكاة، ويأتي قد شتم هذا، وقذف هذا، وأكل مال هذا، وسفك دم هذا، وضرب هذا، فيعطى هذٰا من حسناته، وهذٰا من حسناته، فإن فنيت حسناته قبل أن يقضى ما ععليه أخذ من خطياهم فطرحت عليه، ثم طرح في النار)).

"Apakah kalian tahu orang yang bangkrut?" Para sahabat berkata : 'Orang yang bangkrut menurut kami adalah orang yang tidak memiliki dirham (uang) dan tidak pula memiliki harta benda.' Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda : 'Sesungguhnya orang yang bangkrut dari umatku pada hari kitamat yaitu orang yang datang dengan (amal) sholat, puasa, zakat, namun ia telah mencela ini (seseorang), memfitnah orang, memakan harta orang, menumpahkan darah orang dan memukul orang. Dan diberi orang ini dari kebaikannya, dan orang ini dari kebaikannya (pula), apabila amal kebaikannya habis sebelum terbayar tanggungannya, maka diambil dari dosa-dosa mereka (yang terdzolimi) lalu ditimpakan kepadanya, kemudian dia dilemparkan kedalam neraka." (Rifqan Ahlas Sunnah bi Ahlis Sunnah, hal. 22)

Jika bangkrut menimpa kita saat kita berada di dunia, mungkin kita masih bisa mencari modal baru. Namun tatkala bangkrut terjadi di akhirat, akibatnya akan sangat fatal. Seluruh pahala orang yang menggibahi akan diberikan kepada orang yang di ghibahi, jika pahalanya sudah habis, maka dosa orang yang dighibahi akan ditimpakan kepada orang yang mengghibahi. Inilah kerugian yang terbesar.  Waliyaadzubillah.

Kita sangat butuh kepada amal sholeh, jika kita terus sibuk menggibahi orang lain, maka sama saja kita telah memberikan pahala amalan kita kepada orang lain secara cuma-cuma. Jelas ini sangat merugi. 

4.7. Menjaga Tangan dan Jari Jemari

Menjaga tangan dan jari-jemari termasuk menjaga sikap, baik di tengah masyarakat atau di khalayak ramai atau di sosial media. Seorang da'i yang memiliki kafa-ah ijtimaa'iyyah tidak akan ceroboh dalam masalah ini.

Bala' dan kerusakan sering timbul karena perbuatan tangan dan jari-jemari. Menampar, memukul, menyakiti dengan tangan adalah perbuatan dzolim. Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda :

 ((الظلم ظلمات يوم القيامة))

"Kedzoliman adalah kegelapan pada hari kiyamat." (HR. Al-Bukhari, no. 2447 dan Muslim, no. 6579 dalam Bahjatu Quluubil Abraar, hal.58)

Adapun dengan jari-jemari berupa hujatan, cacian, makian, tulisan, maka hal itu juga termasuk kedzoliman yang kelak akan menjadi penyesalan bagi pelakunya pada kiyamat.

Penyair mengatakan :

كتبت وقد أيقنت يوم كتابتي           بأن يدي تنفى ويبقى كتابها

فإن عملت خيرا ستجزى بمثله       وإن عملت شرا علي حسابها

"Aku telah menulis dan aku sungguh yakin di hari aku menulisnya, bahwasannya tanganku akan binasa dan akan kekal tulisannya.
Apabila tangan-ku berbuat kebaikan maka dia akan dibalas dengan yang semisalnya, dan jika tanganku melakukan keburukan maka bagiku pertanggungjawabannya." (Rifqan Ahlas Sunnah bi Ahlis Sunnah, hal.16).

Sifat tulisan, akan kekal walaupun zaman berganti zaman. Adapaun tangan yang menggoreskan tulisan, akan binasa oleh waktu dan usia. 

Seorang penyair mengatakan :

"Tinggalkanlah kebaikan meskipun hanya sebuah tulisan atau sebauh sajak.
Karena jasad manusia akan mati dan akan kekal tulisannya."

Karena itu, keempat sifat diatas adalah kriteria da'i sejati, (1) al-Mahaarah al-Ilmiyyah (keterampilan ilmu), (2) al-Mahaarah at-Tadriis (keterampilan mengajar), (3) al-Mahaarah al-Nafsiyyah (keterampilan psikologis), (4). al-Mahaarah al-Ijtimaa'iyyah (kemampuan sosial).

Semoga Allah menjaga kita dari sifat-sifat yang tercela, membimbing kita agar memiliki sifat-sifat yang terpuji, terutama empat sifat di atas, agar dakwah semakin diterima di tengah masyarakat.

Semoga tulisan ini bermanfaat, dan menjadi pemberat timbangan amal bagi kami di hari yang tidak bermanfaat harta dan anak-anak.

Wallahu a'lam.

***

Grand Sahara - Purwodadi - Sidayu - Gresik, 20 Syawal 1446 H / 9 April 2026

Penulis : Abu Dawud ad-Dombuwiyy

Artikel : Meciangi-d.blogspot.com

Related Posts:

0 Response to "EMPAT KARAKTER DA'I SEJATI (SERI 4)"

Post a Comment