MULAI DARI YANG RINGAN


Bismillah. Alhamdulillahi Rabbil 'aalamiin. Wa shallallahu 'ala Nabiyyina Muhammadin wa 'ala aalihi wa shahbihi ajma'iin. Wa ba'du.

Membaca buku dan kitab-kitab ulama tentu hal yang sangat bagus, namun kita juga harus melihat kapasitas diri kita. Jangan masuk sembarangan pada kitab madzaahib jika kita masih penuntut ilmu pemula, karena dalam kitab-kitab madzaahib banyak istilah-istilah yang tidak bisa difahami. Santai saja. Baca kitab-kitab yang ringan-ringan atau baca kitab madzhab Hambali saja dulu, karena mungkin kita semua adalah Hambali.  

Di Ma'had kita memang kita diajarkan dua madzhab dari madzhab-madzhab yang ada, madzhab Syafi'i dan madzhab Hambali dan satu lagi yakni madzhab Imam Asy-Syaukani. 

Kenapa harus madzhab Syafi'i, karena madzhab ini adalah madzhab mayoritas kaum muslimin di negeri kita. Tentu kurang bijak jika penuntut ilmu tidak tahu dasar-dasarnya.

Indonesia memang tidak menerapkan madzhab Syafi'i secara bernegara, tapi mayoritas kaum muslimin di negeri kita adalah Syafi'iyyah, sisanya bermadzhab Hambali. Tujuan dipelajarinya dasar-dasar madzhab Syafi'i  sebagai bentuk antisipasi terjadinya munaqosah antara penuntut ilmu dengan mereka. Seperti contoh ada seorang penuntut ilmu bermunaqosah dengan salah satu thullab dari madzhab Syafi'i. Mereka membahas masalah qoidah dalam lafadz 'Aam كل بدعة ضلالة, apakah umumnya menyeluruh tanpa pengecualian atau justru ada pengecualian. Penuntut ilmu dari kalangan Hambali mengatakan bahwa lafadz كل pada hadits كل بدعة ضلالة adalah umum karena tidak ada qorinah yang mengecualikan, Akhirnya penuntut ilmu dari kalangan Syafi'iyyah bertanya, "Apakah كل pada hadits diatas termasuk كلية, كلي, كل..?" Penuntut ilmu dari madzhab Hambali merasa bingung, selama ia belajar ia tidak pernah mendengar tiga istilah tersebut. 

Karena ia tidak bisa menjawab pertanyaan dari penuntut ilmu dari kalangan Syafi'iyyah, maka secara otomatis ia kalah dalam munaqosah.  

Ia kembali ke ma'had membawa pertanyaan besar, apakah memang ada pembagian كل yang seperti itu? lelah dalam safar tidak terasa demi ingin bertemu Ustadzuna hafidzahullah untuk menanyakan hal tersebut. Ia berkata, 'Ustadz, saya bla, bla, bla... apakah benar ada pembagian كل menjadi كلية, كلي, كل? Ustadzuna menjawab, "Ya, benar!" Ia berkata, "Kenapa saya belum mendapatkan pelajaran itu Ustadz?" Ustadzuna menjawab, "Karena kalian belum sampai di bab itu".

Faidah yang bisa diambil bahwa dalam situasi tak terduga, kita bisa saja bertemu dengan mereka dalam safar. Ketika kita bersikap seperti singa, namun kalah dalil dalam menjelaskan al-haq, yang terjadi adalah kebenaran menjadi padam ditangan kita karena minimnya ilmu atau terlalu terburu-buru dalam bermunaqosah.

Karena itu diantara muqorror yang dipakai di ma'had kita diantaranya kitab-kitab Syafi'iyyah seperti pondasi awal Ushul Fiqih, Qowaid Fiqhiyyah, Faroid. Ditambah juga kitab fiqh yang digunakan adalah Fiqh Muqaaron atau Fiqh Muqaaronah dimana pembahasannya mengarah pada perbandingan antar madzhab Bukan untuk berjidal, tapi memang harus dipelajari karena ma'had ini konsentrasinya pada bidang fiqh dan turunannya. 

Lalu bagaimana dengan madzhab Hambali, madzhab ini memang banyak dianut oleh salafiyyun, sehingga pondasi madzhab ini lebih-lebih harus benar-benar kuat dan kokoh.

Adapun kitab dalam madzhab Hanafi dan Maliki, tentu tidak ada pembelajaran secara khusus sebagaimana pembelajaran kitab-kitab madzhab Syafii'i, karena dua madzhab diatas jarang dijumpai di negeri kita. Pembahasan aqwaal mereka sudah masuk dalam pembahasan fiqh muqaaronah secara umum. Namun dalam bab-bab tertentu, beberapa aqwaal mereka dibahas secara mendalam, kenapa sering menyelisihi jumhur seperti madzhab Hanafi, bagaimana sisi pendalilannya, dll. 

Karena itu, masuk pada kitab madzaahib harus memahami istilah-istilah yang digunakan pada madzhab tersebut, agar tidak keliru dalam memahami ucapan mereka.

Diceritakan bahwa ada seorang penuntut ilmu pemula membaca kitab Syafi'iyyah. Ia membaca kitab Al-Asybah wa an-Nadzaair karya Imam As-Suyuthi tanpa bekal yang kokoh. Ketika Imam As-Suyuthi mengatakan: قال الإمام, fulan berhenti sejenak. Ia berpikir keras, siapa gerangan sang imam yang di maksud oleh imam As-Suyuthi. Ia mencari ke pembahasan sebelumnya kemana kira-kira kembalinya kata imam pada kalimat tersebut, ia tidak menemukan apa-apa. Akhirnya ia kebingungan dan meninggalkan kitab tersebut. Ini yang dikhawatirkan jika masuk dalam kitab madzhab dalam keadaan belum mempelajari pondasi-pondasinya, akan menemui kebingungan dan jalan buntu. Syukur jika sekedar bingung, jika ia menafsirkan ucapan imam madzhab yang tidak ia fahami sesuai dengan seleranya, maka akan banyak kerusakan yang terjadi. Bisa sesat dan juga menyesatkan orang lain. 

1. Madzhab Hanafi

Dalam madzhab Hanafi jika disebutkan قال الإمام atau الإمام الأعظم atau صاحب المذهب yang dimaksud adalah Imam Abu Hanifah. 

Jika dikatakan شمس الأئمة, yang dimaksud adalah imam as-Sarakhsiy. Jika disebut شيخ الإسلام, yang dimaksud adalah setiap orang yang mampu berfatwa atau menjawab pertanyaan-pertanyaan umat. Jika disebut الصاحبان, yang dimaksud adalah Abu Yusuf dan Muhammad ibnul Hasan as-Syaibaaniy. 

Dan istilah-istilah lain masih banyak seperti, الطرفان, الحاكم الشهيد, المفتي الثقلين, الصدر الأكبر, أو برهان الأئمة أو برحان الدين الكبير, المحقق, الصدر الأول, dan masih banyak lagi istilah lainnya.

2. Madzhab Maliki

Dalam madzhab Malikiy jika disebut قال الإمام, untuk muta'akhirin yang dimaksud adalah Imam al-Maziri. Jika disebut شيخان, yang dimaksud adalah Ibnu Abi Zaid al-Qairawaniy dan al-Qabisi atau Ibnu Abi Zaid al-Qairawaaniy dan Abu Bakar al-Abhariy. 

Jika disebut الأستاذ, yang dimaksud adalah Abu Bakar at-Thurtthusiy. Jika disebut القاضي, yang dimaksud adalah Abdul Wahhab. Jika disebut القاضيان, yang dimaskud adalah Abdul Wahhab bin Nashr dan Abul Hasan Ibnul Qashshar. 

Jika disebut محمد, yang dimaksud adalah Muhammad bin Mawwaz. Dan masuih banyak istilah lainnya diantaranya, محمدان, محمدون, المصريون, العراقيون, المدنيون, القرينان, الأخوان, المتأخرون , المتقدممون, dan masih banyak istilah lainnya.

1, Madzhab Asy-Syafi'i

Dalam madzhab Syafi'i, jika disebut قال الإمام, maka yang dimaksud adalah Imam Abul Ma'aali Al-Juwaini rahimahullah, bukan imam Asy-Syafi'i rahimahullah.

Jika disebut شيخ الإسلام, maka yang dimaksud adalah imam Zakariya al-Anshariy rahimahullah. Demikian juga jika disebut شيخان والإمامان yang dimaksud adalah imam ar-Rafi'i dan Imam an-Nawawi rahimahumallah

Jika disebut القاضي, yang dimaksud adalah Husain al-Maruziy rahimahullah. Demikian juga jika dikatakan الشيوخ, yang dimaksud adalah imam ar-Rafi'i, imam An-Nawawi dan imam as-Subkiy. Dan masih banyak istilah-istilah lain yang sering digunakan dalam kitab-kitab Syafi'iyyah seperti القول القديم ,القول الجديد ,القولان ,الطرق ,المذهب ,الراجح ,النص, serta masih banyak lagi istilah lainnya.

4. Madzhab Hambali

Dalam madzhab Hambali, jika dikatakan قال الشيخ, untuk mutaqaddimin yang di maksud adalah Ibnu Qudamah, sedangkan untuk mutaakkhirin yang dimaksud adalah Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah.

Jika dikatakan شيخان yang dimaksud adalah Ibnu Qudamah dan Ibnu Taimiyyah. Jika dikatakan الشارح, yang dimaksud adalah Ibnu Qudamah al-Maqdisiy. Jika dikatakan القاضي, bagi mutaqaddimiin dan mutawashithiin adalah Abu Ya'la al-Farra'. Bagi muta'akkhiriin adalah al-Mardaaway. 

Jika disebut شيخ الإسلام atau تقي الدين أبو العباس yang dimaksud adalah Ibnu Taimiyyah. Jika dikatakan شيخنا, ia adalah al-Qodhi Abu Ya'la menurut Ibnu Aqil dan Abul Khaththab, dan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah menurut Ibnul Qoyyim dan Ibnu Nuflih. Dan masih banyak lagi istilah tersendiri dalam madzhab Hambali.

Karena demikian, pelan-pelan saja. jangan terburu-buru. Masuk dulu pada satu madzhab. Ada saatnya akan masuk pada madzaahib.

Wallahu a'lam.

***

Grand Sahara - Purwodadi - Sidayu - Gresik, 20 Dzulqo'dah 1447 H / 8 Mei 2026

Penulis : Abu Dawud ad-Dombuwiyy

Artikel : Meciangi-d.blogspot.com  

Related Posts:

0 Response to "MULAI DARI YANG RINGAN"

Post a Comment