4 KARAKTER DA'I SEJATI

Bismillah. Alhamdulillah. wa shallallahu 'ala Nabiyyina Muhammadin wa 'ala aalihi wa shahbihi ajma'iin. Wa ba'du.

Seorang da'i adalah panutan, ia adalah qudwah, karena ia mengambil posisi penting tugas kenabian dan kerasulan yaitu mengajak manusia kepada jalan Allah Ta'ala. Dan para nabi 'alaihimussalam berdakwah dengan ilmu, kemampuan mendidik dan mengajarkan umat dengan penuh hikmah, diiringi dengan adab dan akhlak yang mulia, dan mereka bergaul dengan manusia dengan penuh kesabaran.  

Karena itu ada 4 karakter seorang da'i sejati dalam dunia dakwah, ke empat hal ini akan membentuk sang da'i menjadi teladan, panutan, rujukan dalam kebaikan sebagai penerus perjuangan para nabi dan rasul, simbol kertakwaaan yang memunculkan kewibawaan dihadapan umat. Ke empat hal tersebut antara lain :

1. al-Mahaarah al-Ilmiyyah (keterampilan ilmu) 

2. al-Mahaarah at-Tadriis (keterampilan mengajar)

3. al-Mahaarah al-Nafsiyyah (keterampilan psikologis)

4. al-Mahaarah al-Ijtimaa'iyyah (kemampuan sosial)

1. Al-Mahaarah al-Ilmiyyah (keterampilan ilmu) 

Al-Mahaarah al-Ilmiyyah adalah kemampuan seorang da'i dalam penguasaan ilmu syar'i yang kuat dan benar. Sehingga dengan keterampilan ini, dakwahnya tidak sekadar opini, tetapi berdasarkan ilmu yang shahih dan dapat dipertanggungjawabkan.

Al-Mahaarah al-Ilmiyyah dinamakan juga dengan kafa-ah ilmiyyah, yakni kemapanan seorang da'i dalam menguasai ilmu dan cabang-cabangnya pada bidang yang ia tekuni. Jika ia mendalami ilmu fiqih, maka ia menguasai segala hal yang berkaitan dengan ilmu fiqih dan turunannya tanpa terkecuali, seperti ilmu tentang ushul fiqih, qowaid fiqhiyyah, maqoshid syar'iyyah, tafsir ayat-ayat ahkam, hadits-hadits ahkam, taarikh fiqh, faroid, dll. 

Ketika ia menyampaikan ilmu, yang keluar bukan fatwa-fatwa aneh, tapi ilmu yang bersumber dari al-Qur'an dan sunnah. Ia memahami dalil secara mendalam bukan sekedar ucapan tanpa dasar. Allah Ta'ala berfirman : 

«قُلْ هَلْ يَسْتَوِى ٱلَّذِينَ يَعْلَمُونَ وَٱلَّذِينَ لَا يَعْلَمُونَ»

Artinya : "Katakanlah: "Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?" (QS. Az-Zumar : 9)

Tentu tidak sama orang yang berilmu dengan orang yang mengaku punya ilmu, karena orang-orang yang berilmu, ia adalah da'i sejati, yang Allah angkat derajatnya sebagaimana firman Allah Ta'ala :

«يَرْفَعِ ٱللَّهُ ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ مِنكُمْ وَٱلَّذِينَ أُوتُوا۟ ٱلْعِلْمَ دَرَجَـٰتٍۢ ۚ وَٱللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌۭ»

Artinya : "Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan." (QS. Al-Mujadilah : 11)

Dalam ayat yang lain Allah Ta'ala juga berfirman :

«شَهِدَ ٱللَّهُ أَنَّهُۥ لَآ إِلَـٰهَ إِلَّا هُوَ وَٱلْمَلَـٰٓئِكَةُ وَأُو۟لُوا۟ ٱلْعِلْمِ قَآئِمًۢا بِٱلْقِسْطِ ۚ لَآ إِلَـٰهَ إِلَّا هُوَ ٱلْعَزِيزُ ٱلْحَكِيمُ»

Artinya : "Allah bersaksi bahwasanya tidak ada Tuhan melainkan Dia (yang berhak disembah), Yang menegakkan keadilan. Para Malaikat dan orang-orang yang berilmu (juga menyatakan yang demikian itu). Tak ada Tuhan melainkan Dia (yang berhak disembah), Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana." (QS. Ali Imran : 18)

Ibnu Katsir rahimahullah mengatakan dalam tafsirnya :

ثم قرن شهادة ملائكته وأولي العلم بشهادته، فقال «شَهِدَ ٱللَّهُ أَنَّهُۥ لَآ إِلَـٰهَ إِلَّا هُوَ وَٱلْمَلَـٰٓئِكَةُ وَأُو۟لُوا۟ ٱلْعِلْمِ» وهذه خصوصية عظيمة

.للعلماء في هذا المقام

"Kemudian Allah menggandeng persaksian para malaikat-Nya dan persaksian orang-orang yang berilmu dengan persaksian-Nya sendiri, Dia berfirman : «Allah bersaksi bahwasanya tidak ada Tuhan melainkan Dia (yang berhak disembah), dan para Malaikat dan orang-orang yang berilmu (juga menyatakan yang demikian itu)», dan ini adalah kekhususan yang agung (besar) untuk para ulama pada martabat ini." (Tafsir Ibnu Katsir, 1/321)

Ini menunjukkan keutamaan orang-orang yang berilmu, khususnya para ulama yang tentunya telah memiliki kapasitas yang sangat mendalam dalam masalah ilmu, dan itulah yang disebut sebagai kafa-ah ilmiyyah.

1.1. Menimbang Mashlahat dan Mudhorot

Diantara bentuk kafa-ah ilmiyyah ini adalah, seorang da'i ia memiliki pengetahuan kapan ia harus berbicara dan kapan harus diam, kapan harus mentahdzir dan kapan harus berhenti, kapan harus amar ma'ruf nahi mungkar dengan tangan, lisan dan kapan dengan hati, dan semua itu butuh kematangan ilmu dan kejelian dalam menimbang mashlahat dan mudhorot, sebab nasihat selain tersampaikan, juga harus baik caranya agar diterima.

Imam Asy-Syafi'i mengatakan : 

تعمدني بنصحك في انفرادي       وجنبني النصيحة في الجماعه

فإن النصح بين الناس نوع         من التوبيخ لا أرضى استماعه

وإن خالفتني وعصيت قولي        فلا تجزع إذا لم تعط طاعه

"Nasihatilah aku saat sendirian, dan jangan menasihati di tengah keramaian. 

Karena nasihat di hadapan orang banyak terasa seperti celaan yang tidak ingin kudengar. 

Jika engkau menyelisihiku dan tidak mengikuti perkataanku, 

maka jangan engkau kecewa jika nasihatmu tidak ditaati." (Diwan Asy-Syafi'i, hal.90)

Kita sering merasa kecewa kenapa amar ma'ruf nahi mungkar kita tidak diterima, nasihat-nasihat kita tidak didengar, barangkali ada yang salah dalam penyampaiannya. Da'i yang memiliki kafa-ah ilmiyyah ia akan cerdas melihat hal itu. 

Diantara bentuk nasihat atau amar ma'ruf nahi mungkar yang sulit diterima oleh pihak yang ingin dinasihati adalah menyampaikan secara terang-terangan di hadapan orang banyak termasuk juga di sosial media. Tujuannya mungkin mengingingkan kebaikan bagi yang dinasihati, tapi yang ada hanyalah hiruk-pikuk saling sindir dan saling membantah yang tidak akan ada ujungnya. 

Jika permasalahan seperti ini terjadi di tengah umat, apalagai sesama ahlus sunnah, sedangkan orang-orang awam yang tidak tahu menahu permasalahan justru tahu ada masalah dalam tubuh salafiyyun, dalam lembaga dakwah salafiyyun, mereka akan lari menjauh dari dakwah yang haq ini karena akhlak da'i-da'inya, atau ahlul bid'ah yang mengetahui permasalahan seperti itu, membaca "nasihat-nasihat" keumatan yang terkesan fulgar di sosial media dengan dalil agar umat tahu, akan menjadikan mereka menemukan celah untuk merusak kemuliaan dakwah salaf yang mulia ini. 

Umat mana yang harus tahu permasalahan seperti ini, apakah semua umat? Apakah para salafiyyun, para muhsinin, orang-orang awam, para ahlul bid'ah, atau umatan qoonitan seperti Nabi Ibrahim 'alaihis salaam? Karena itu, da'i yang memiliki kafa-ah ilmiyyah, ia akan melihat mashlahat dan mudhorot dalam setiap tindakannya. Sebuah kaidah mengatakan :

درء المفاسد أولى من جلب المصالح

"Menghilangkan kemudhorotan lebih didahulukan daripada mengambil sebuah kemashlahatan." 

Contoh nyata permasalahan ini di zaman kenabian adalah mencela sesembahan orang-orang kafir, dan mencela sesembahan orang-orang kafir mashlahatnya banyak, diantaranya akan menurunkan derajat sesembahan mereka, namun pada sisi lain mudhorotnya juga lebih besar, mereka akan mencaci maki Allah 'Azza wa jalla dengan melampaui batas, maka Allah larang hal tersebut.

Berkata Syaikh Abdullah bin Shalih Al-Fauzan mengenai kaidah diatas :

.إذا تقابلت مصلحة ومفسدة، فيقدم دفع المفسدة ولو فاتت المصلحة، لأن درء المفاسد أولى من جلب المصالح، والدرء : هو الدفع
ومن أدلة ذلك : قوله تعالى : «وَلَا تَسُبُّوا۟ ٱلَّذِينَ يَدْعُونَ مِن دُونِ ٱللَّهِ فَيَسُبُّوا۟ ٱللَّهَ عَدْوًۢا بِغَيْرِ عِلْمٍۢ» [الأنعام : 180
ففي سب آلهة المشركين مصلحة وهي تحقير دينهم وإهانتهم، ولكن سيترتب على ذلك مفسدة، وهي سي الله تعالى عدوا وكفرا على وجه المقابلة، فنهى الله تعالى المسلمين عن ذلك

"Apabila bertemu antara maslahat dan mafsadat, lebih diutamakan menghilangkan mafsadat walapun akan hilang maslahat, karena menghilangkan mafsadat lebih diutamakan daripada mengambil maslahat. ad-dar-u berarti menolak (atau mencegah).

Diantara dalilnya firman Allah Ta'ala (yang artinya) : «Dan janganlah kamu memaki sembahan-sembahan yang mereka sembah selain Allah, karena mereka nanti akan memaki Allah dengan melampaui batas tanpa pengetahuan». [QS. Al-An'am : 108].

Dalam mencaci-maki sesembahan-sesembahan orang-orang musyrik ada maslahatnya, yaitu akan menurunkan derajat agama mereka dan menghinakan mereka, akan tetapi hal tersebut akan mengakibatkan adanya mafsadat, yaitu mereka akan mencaci-maki Allah Ta'ala dengan melampaui batas dan penuh penolakan sebagai bentuk balasan, karena itu Allah Ta'ala telah melarang kaum muslimin dari berbuat demikian." (Jam'ul Mahshul fii Risaalah Ibni Sa'diy fil Ushuul, hal.91)

Berkata Syaikh Doktor Muhammad Shidqi mengomentari kaidah di atas :

معنى القاعدة : المراد بدرء المفاسد دفعها ورفعها وإزالتها

إذا تعارضت مفسدة ومصلحة، فدفع المفسدة مقدم في الغالب، إلا أن تكون المفسدة مغلوبة ؛ وذلك لأن اعتناء الشرع بترك المنهيات أشد من اعتنائه بفعل المأمورات، لما يترتب على المناهي من الضرر المنافي لحكم الشارع في النهي

: أدلة ڠذه القاعدة
«١. قوله تعالى : «وَلَا تَسُبُّوا۟ ٱلَّذِينَ يَدْعُونَ مِن دُونِ ٱللَّهِ فَيَسُبُّوا۟ ٱللَّهَ عَدْوًۢا بِغَيْرِ عِلْمٍۢ

في سب آلهة الكفار مصلحة وهي تحقير دينهم واهانتهم لشركهم بالله سبحانه، ولكن لما تضمن ذلك مفسدة وهي مقابلتهم السب بسب الله عز وجل نهى الله سبحانه وتعالى عن سبهم درءا لهذه المفسدة

وقول صلى الله عليه وسلم : ((إذا أمرتكم بالشيء فخذوا به ما استطعتم، وإذا نهيتكم عن شيء فاجتنبوه))

"Makna kaidah : Yang dimaksud dengan menolak kerusakan (dar’u al-mafasid) ialah mencegahnya, menghilangkannya, dan membersihkannya.

Apabila terjadi pertentangan antara suatu mafsadat dan maslahat, maka menghilangkan mafsadat pada umumnya lebih didahulukan, kecuali jika mafsadat tersebut dapat dikalahkan (lebih ringan). Hal ini karena perhatian syariat terhadap meninggalkan perkara-perkara yang dilarang lebih besar daripada perhatiannya terhadap melaksanakan perkara-perkara yang diperintahkan, disebabkan dampak bahaya yang ditimbulkan oleh larangan-larangan tersebut bertentangan dengan tujuan hukum syariat dalam menetapkan larangan.

Dalil-dalil kaidah :

1. Firman Allah Ta'ala (yang artinya) : «Dan janganlah kamu memaki sembahan-sembahan yang mereka sembah selain Allah, karena mereka nanti akan memaki Allah dengan melampaui batas tanpa pengetahuan».

Dalam mencaci sesembahan orang-orang kafir terdapat suatu kemaslahatan, yaitu merendahkan agama mereka dan menghina kesyirikan mereka kepada Allah Subhaanahu. Akan tetapi ketika perbuatan itu mengandung mafsadat, yaitu mereka membalas cacian tersebut dengan mencaci Allah ‘Azza wa Jalla, maka Allah Subhaanahu wa Ta‘ala melarang mencaci mereka demi menolak mafsadat tersebut.

 Dan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda :

“Apabila aku memerintahkan kalian untuk melakukan sesuatu, maka lakukanlah semampu kalian. Dan apabila aku melarang kalian dari sesuatu, maka jauhilah hal tersebut.” (Al-Wajiiz fii Iidhaah Qowaaid Fiqhiyyah, hal.265)

Meninggalkan perkara-perkara yang dilarang, lebih besar daripada perhatiannya terhadap melaksanakan perkara-perkara yang diperintahkan, karena melaksanakan perintah itu semampu kita, bukan memberat-beratkan diri padahal tidak mampu.

Namun demikian, kaidah ini juga tidak berlaku secara mutlak, namun harus diperinci dengan melihat besar kecilnya mashlahat dan mafsadat. (1) Jika mafsadatnya lebih besar dibanding maslahatnya, menghilangkan mafsadat lebih dikedepankan daripada mengambil mashlahat. (2) Jika mashlahatnya lebih besar dibanding dengan mafsadatnya, maka mengambil mashlahat lebih diutamakan daripada menghilangkan mafsadat. (3) Jika mashlahat dan mafsadat sama-sama kuat dan seimbang, maka menghilangkan mafsadat lebih didahulukan daripada mengambil mashlahat. 

1.2. Amar Ma'ruf Nahi Mungkar tidak Boleh Serampangan

Terkadang, kita terlalu semangat ingin amar ma'ruf nahi mungkar apalagi di sosial media, tapi yang muncul malah kekacauan, keributan, kegaduhan, dan tidak jarang ucapan-ucapan "nasihat" yang terlihat seperti mengejek dan mengolok-olok, merendahkan wibawa saudaranya dan ini sangat banyak terjadi sebagaimana realita yang ada.

Beramar ma'ruf nahi mungkar apalagi di depan publik, di media sosial, butuh ilmu, karena yang akan membaca pertikaian dan perselisihan kita adalah umat yang awam, yang tidak tahu menahu permasalahan yang sedang dibahas atau dibicarakan, sehingga para ahlul bid'ah pun membaca dan menyimak, menjadi bahan ejekan dan senjata untuk menjatuhkan dakwah dan manhaj salaf yang mulia ini, sehingga wibawa dakwah yang haq menjadi tercoreng di mata orang-orang awam dan musuh-musuh Islam akibat kejahilan sebagian orang atas nama amar ma'ruf nahi mungkar.

Karena itu, sangat dibutuhkan da'i-da'i yang memiliki kafa-ah ilmiyyah apalagi jika berbicara masalah keumatan, lebih-lebih di sosial media, da'i-da'i senior, da'i-da'i yang luas keilmuannya, ditokohkan, tempat rujukan, tempat kembalinya umat dalam setiap permasalahan, yang bisa menimbang mashlahat dan mudhorot dari setiap ucapan dan perbuatan dan langkah-langkah ilmiyah yang ia tempuh, yang mengamalkan ilmunya, bukan da'i-da'i yang tidak memiliki kafa-ah ilmiyyah.

Penjelasan diatas menunjukkan bagaimana kematangan ilmu itu sangat penting untuk masuk pada ranah yang besar, kafa-ah ilmiyyah harus ada, kemampuan menimbang antara mashlahat dan mudhorot dari setiap fatwa harus mapan, nasihat serta amar ma'ruf nahi mungkar harus tepat sasaran dan sesuai dengan kaidah amar ma'ruf nahi mungkar. Betapa banyak nasihat dan amar ma'ruf nahi mungkar yang mengatas namakan dakwah, justru disana terselip juga hawa nafsu dan urusan pribadi yang merusak amar ma'ruf nahi mungkar tersebut.

1.3. Amar Ma'ruf nahi Mungkar itu Ibadah maka Harus Ikhlas karena Allah

Seorang da'i yang memiliki kafa-ah ilmiyyah, ia mengetahui amar ma'ruf nahi mungkar merupakan amal sholih dan ibadah yang diperintahkan oleh Allah 'Azza wa Jalla, karena itu maka wajib harus dibangun diatas niat yang ikhlas sesuai dengan tuntunan Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bukan dengan hawa nafsu. 

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah dalam al-Amru bil Ma'ruf wa an-Nahyu 'Anil Mungkar mengatakan : 

والعمل الصالح الذي أمر الله به ورسوله هو الطاعة. فكل طاعة عمل صالح، وهو العمل المشروع المسنون، لأنه هو المأمور به أمر ايجاب أو استحباب. فهو العمل الصالح، وهو الحسن، وهو البر، وهو الخير. وضده  المعصية، والعمل الفاسد، والسيئة، والفجور والظلم والبغي

ولما كان العمل لا بد فيه من شيئين : النية والحركة، كما قال النبي صلى الله عليه وسلم : ((واصدق الأسماء حارث وهمام))، فكل أحد حارث همام، له عمل ونية. لكن النية المحمودة التي يقبلها الله ويثيب عليها هي أن يراد الله وحده بذلك العمل

والعمل المحمود هو الصالح ، وهو المأمور به . ولهذا كان عمر بن الخطاب رضي الله عنه يقول في دعائه : اللهم اجعل عملي كله صالحا ، واجعله لوجهك خالصا ، ولا تجعل لأحد فيه شيئا

وإذا كان هذا حد كل عمل صالح ، فالأمر بالمعروف والنهي عن المنكر يجب أن يكون كذلك . هذا في حق الأمر الناهي بنفسه

"Amal shalih yang diperintahkan oleh Allah dan Rasul-Nya adalah ketaatan. Maka setiap ketaatan adalah amal shalih; ia merupakan amal yang disyariatkan lagi disunnahkan, karena  ia diperintahkan, baik sebagai kewajiban maupun anjuran. Itulah amal shalih, kebaikan, kebajikan, dan kebaikan. Dan lawannya adalah maksiat, perbuatan yang rusak, dosa, kefajiran, kezaliman, dan perbuatan melampaui batas.

Ketika amal tidak terlepas dari dua perkara yaitu niat dan suatu amalan sebagaimana sabda Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam : ((Nama yang paling benar adalah Harits dan Hammam)), maka setiap orang adalah harits (orang yang berusaha) dan hammam (orang yang berkehendak); ia memiliki amal dan niat. Akan tetapi niat yang terpuji, yang diterima Allah dan diberi pahala adalah amal yang dikehendaki hanya Allah semata.

Amal yang terpuji dialah amal shalih, yaitu yang diperintahkan untuk dilakukan. Karena itu Umar bin Khattab radhiyallahu 'anhu dahulu berdoa : "Ya Allah, jadikan seluruh amalku shalih, jadikanlah ia ikhlas karena wajah-Mu, dan jangan Engkau jadikan sedikit pun darinya untuk siapa pun."

Jika demikian batasan setiap amal shalih, maka amar ma’ruf dan nahi munkar harus demikian pula. Ini berlaku pada diri orang yang memerintah dan melarang itu sendiri." (Al-Amru bil Ma'ruf wa an-Nahyu 'anil Mungkar, hal. 27-28)

Karena amar ma'ruf nahi mungkar adalah ibadah, maka amalan ibadah harus dibangun di atas dua pilar utama, keikhlasan karena Allah Ta'ala dan sesuai dengan contoh teladan Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam

Berkata Ibnu Ajlaan rahimahullah :

لا يصلح العمل إلا بثلاث : التقوى لله، والنية الحسنة، والأصابة

"Tidak akan baik suatu amalan kecuali dengan tiga hal : Takwa kepada Allah, niat yang baik, dan tepat (sesuai dengan tuntunan)."

Berkata Mutharrif bin Abdillah rahimahullah : 

صلاح القلب بصلاح العمل، وصلاح العمل بصلاح النية

"Baiknya hati tergantung baiknya amalan, dan baiknya amalan tergantung baiknya niat."

Imam Sufyan ats-Tsauriy rahimahullah mengatakan : 

ما عالجت شيئا أشد علي من نيتي لأنها تتقلب علي

"Tidak ada sesuatu yang paling berat untuk aku obati melainkan niatku, karena ia selalu berbolak-balik."  (Ad-Durar as-Saniyyah bi Fawaaid al-Arbaiin an-Nawawiyyah, hal. 14-15)

Karena itu mari kita senantiasa memperbaharui niat, karena sekelas Imam Sufyan ats-Tsauriy saja masih berbolak-balik niatnya apalagi kita yang sudah dari awal terkadang memang sudah punya masalah pribadi dengan orang yang kita nasihati, sehingga ibadah amar ma'ruf nahi mungkar yang kita harapkan berpahala justru menjadi rusak karena bercampur dengan hafa nafsu. 

1.4. Amar Ma'ruf Nahi Mungkar Tanpa Ilmu Lebih Banyak Merusaknya daripada Memperbaiki

Da'i yang memiliki kafa-ah ilmiyyah ia tahu bagaimana cara amar ma'ruf nahi mungkar yang benar, bukan semau gue, sesuka saya, apalagi serampangan seperti banyak yang kita saksikan di sosial media pada zaman ini, padahal amar ma'ruf nahi mungkar yang benar harus dibangun di atas pondasi ilmu yang kokoh, jika tidak, maka amar ma'ruf itu tidak menjadi amal shalih, bahkan ia lebih banyak merusaknya daripada memperbaiki.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah mengatakan :

ولا يكون عمل صالحا إن لم يكن بعلم وفقه، كما قال عمر بن عبد العزيز رضي الله عنه: من عبد الله بغير علم كان يفسد أكثر مما يصلح، وكما في حديث معاذ بن جبل رضي الله عنه: العلم امام العمل، والعمل تابعه، وهذا ظاهر. فإن القصد والعمل إن لم يكن بعلم كان جهلا وضلالا واتباعا للهوى كما تقدم، وهذا هو الفرق بين أهل الجاهلية وأهل الاسلام. فلا بد من العلم بالمعروف والمنكر، والتمييز بينهما، ولا بد من العلم بحال المأمور وحال المنهي

ومن الصلاح أن يأتي بالأمر والنهي على الصراط المستقيم، والصراط المستقيم أقرب الطرق، وهو الموصل إلى حصول القصد

"Dan suatu amal tidak akan menjadi amal yang shalih apabila tidak didasarkan pada ilmu dan pemahaman. Sebagaimana Umar bin Abdul Aziz radhiyallahu ‘anhu berkata : 'Barang siapa yang beribadah kepada Allah tanpa ilmu, maka ia akan lebih banyak merusak daripada memperbaiki.' 

Dan sebagaimana dalam hadis Mu‘adz bin Jabal radhiyallahu ‘anhu : 'Ilmu adalah pemimpin bagi amal, dan amal adalah pengikutnya.' Dan hal ini jelas. Karena sesungguhnya tujuan dan perbuatan, jika tidak disertai ilmu, maka ia menjadi kebodohan, kesesatan, dan mengikuti hawa nafsu, sebagaimana telah disebutkan sebelumnya. Dan inilah perbedaan antara orang-orang jahiliah dan kaum muslimin.

Maka harus ada ilmu tentang yang ma‘ruf dan yang munkar serta kemampuan membedakan keduanya; dan harus pula mengetahui keadaan orang yang diperintah dan keadaan orang yang dilarang." (Al-Amru bil Ma'ruuf wa an-Nahyu 'anil Mungkar, hal. 28)

1.5. Amar Ma'ruf Nahi Mungkar Memiliki Kaidah Pokok

Untuk menghindari kerusakan dan mafsadat yang timbul, ada tiga kaidah pokok dalam amar ma'ruf nahi mungkar yang benar, (1) sang da'i harus memiliki ilmu, (2) sang da'i harus melakukannya dengan penuh kelembutan, (3) sang da'i harus sabar jika amar ma'ruf nahi mungkarnya tidak diterima, jika terus ngotot, ngeyel-ngeyelan, yang muncul bukan mashlahat tapi mudhorot karena akan terus terjadi bantah-bantahan dan itu akan disaksikan oleh umat. Yang jahil akan mencibir, dan yang berilmu akan menggeleng-gelengkan kepala.

Syaikhul Islam mengatakan : 

ولا بد في ذلك من الرفق، كما قال النبي صلى الله عليه وسلم : ((ما كان الرفق في شيء إلا زانه، ولا كان العنف في شيء إلا شانه)). وقال صلى الله عليه وسلم : ((إن الله رفيق يحب الرفق في الأمر كله، ويعطي عليه ما لا يعطي على العنف))

ولا بد أيضا أن يكون حليما، صبورا على الأذى، فإنه لا بد أن يحصل أذى، فإن لم يحلم ويصبر يفسد أكثر مما يصلح. كما قال لقمان لابنه: (وَأْمُرْ بِٱلْمَعْرُوفِ وَٱنْهَ عَنِ ٱلْمُنكَرِ وَٱصْبِرْ عَلَىٰ مَآ أَصَابَكَ ۖ إِنَّ ذَٰلِكَ مِنْ عَزْمِ ٱلْأُمُورِ)

وهذا أمر الله الرسل، وهم أئمة الأمر بالمعروف والنهي عن المنكر، بالصبر، كقوله لخاتم الرسل صلى الله عليه وسلم، بل ذلك مقرون بتبليغ الرسالة. فإنه أول ما أرسل أنزل عليه سورة (يَـٰٓأَيُّهَا ٱلْمُدَّثِّرُ) بعد أن أنزلت سورة (ٱقْرَأ) التي بها نبئ. فقال الله تعالى: (َـٰٓأَيُّهَا ٱلْمُدَّثِّرُ. قُمْ فَأَنذِرْ. وَرَبَّكَ فَكَبِّرْ. وَثِيَابَكَ فَطَهِّرْ. وَٱلرُّجْزَ فَٱهْجُرْ. وَلَا تَمْنُن تَسْتَكْثِرُ. وَلِرَبِّكَ فَٱصْبِرَْ)

فافتتح آيات الإرسال إلى الخلق بالأمر بالإنذار، وختمها بالصبر. ونفس الإنذار أمر بالمعروف ونهي عن المنكر. فعلم أنه يجب بعده الصبر. وقال تعالى : (وَٱصْبِرْ لِحُكْمِ رَبِّكَ فَإِنَّكَ بِأَعْيُنِنَا). وقال تعالى : (وَٱصْبِرْ عَلَىٰ مَا يَقُولُونَ وَٱهْجُرْهُمْ هَجْرًۭا جَمِيلًۭا)، وقال : (فَٱصْبِرْ كَمَا صَبَرَ أُو۟لُوا۟ ٱلْعَزْمِ مِنَ ٱلرُّسُلِ)، وقال : (فَٱصْبِرْ لِحُكْمِ رَبِّكَ وَلَا تَكُن كَصَاحِبِ ٱلْحُوتِ)، وقال : (وَٱصْبِرْ وَمَا صَبْرُكَ إِلَّا بِٱللَّه)، وقال : (وَٱصْبِرْ فَإِنَّ ٱللَّهَ لَا يُضِيعُ أَجْرَ ٱلْمُحْسِنِينَ)

فلا بد من هذه الثلاثة: العلم، والرفق، والصبر. العلم قبل الأمر والنهي، والرفق معه، والصبر بعده. وإن كان كل من الثلاثة لا بد أن يكون مستصحبا في هذه الأحوال

وهذا كله جاء في الأثر عن بعض السلف، ويروى مرفوعا، ذكره القاضي أبو يعلى في ((المعتمد)): لا يأمر بالمعروف وينهى عن المنكر إلا من كان فقيها فيما يأمر به، فقيها فيما ينهى عنه، ورفيقا فيما يأمر به، ورفيقا فيما ينهى عنهحليما فيما يأمر به، وحليما فيما ينهى عنه

"Maka wajib dalam amar ma'ruf nahi mungkar harus ada sikap lemah lembut, sebagaimana Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda : ((Tidaklah kelembutan ada pada sesuatu kecuali ia menghiasinya, dan tidaklah kekerasan ada pada sesuatu kecuali ia merusaknya)). Dan beliau shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda : ((Sesungguhnya Allah Maha Lembut, mencintai kelembutan dalam segala urusan, dan Dia memberikan (pahala) atasnya apa yang tidak Dia berikan atas kekerasan)).

Dan juga harus bersifat santun lagi sabar atas gangguan. Karena pasti akan terjadi gangguan. Jika ia tidak bersikap santun dan tidak bersabar, maka ia akan lebih banyak merusak daripada memperbaiki. Sebagaimana Luqman berkata kepada anaknya (artinya) : «Perintahkanlah kepada yang ma’ruf, cegahlah dari yang mungkar, dan bersabarlah atas apa yang menimpamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk perkara-perkara yang memerlukan keteguhan».

Dan inilah perintah Allah kepada para rasul, dan mereka adalah para pemimpin dalam amar ma’ruf dan nahi mungkar, yaitu dengan kesabaran. Sebagaimana firman-Nya kepada penutup para rasul shallallahu 'alaihi wa sallam. Bahkan hal itu digandengkan dengan penyampaian risalah. Karena ketika pertama kali beliau diutus, diturunkan kepadanya Surah "Ya Ayyuhal Muddatsir" setelah sebelumnya diturunkan Surah "Iqra'" yang dengannya beliau diangkat menjadi nabi. Maka Allah Ta‘ala berfirman (yang artinya) : «Wahai orang yang berselimut. Bangkitlah lalu berilah peringatan. Dan Tuhanmu maka agungkanlah. Dan pakaianmu maka bersihkanlah. Dan perbuatan dosa maka tinggalkanlah. Dan janganlah engkau memberi dengan maksud memperoleh balasan yang lebih banyak. Dan karena Tuhanmu maka bersabarlah».

Maka Allah membuka ayat-ayat pengutusan kepada manusia dengan perintah memberi peringatan dan menutupnya dengan perintah bersabar. Dan hakikat peringatan itu sendiri adalah perintah kepada yang ma’ruf dan larangan dari yang mungkar. Maka diketahui bahwa setelah itu wajib adanya kesabaran.

Dan Allah Ta‘ala berfirman (yang artinya) : «Dan bersabarlah terhadap ketetapan Tuhanmu, maka sesungguhnya engkau berada dalam pengawasan Kami». Dan Dia berfirman (yang artinya) : «Dan bersabarlah atas apa yang mereka katakan dan jauhilah mereka dengan cara yang baik». Dan Dia berfirman (yang artinya) : «Maka bersabarlah sebagaimana para rasul yang memiliki keteguhan hati telah bersabar». Dan Dia berfirman (yang artinya) : «Maka bersabarlah kamu (hai Muhammad) terhadap ketetapan Tuhanmu, dan janganlah kamu seperti orang yang berada dalam (perut) ikan». Dan Dia berfirman  (yang artinya) : «Dan bersabarlah, dan tidaklah kesabaranmu itu kecuali dengan pertolongan Allah». Dan Dia berfirman (yang artinya) : «Dan bersabarlah, karena sesungguhnya Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat baik».

"Maka (dalam amar ma'ruf nahi mungkar) tidak boleh tidak, harus ada tiga perkara ini : ilmu, kelembutan, dan kesabaran. Ilmu sebelum melakukan perintah dan larangan, kelembutan ketika melaksanakannya, dan kesabaran setelahnya. Meskipun ketiga hal tersebut sejatinya harus selalu menyertai dalam seluruh keadaan ini.

Semua hal ini telah disebutkan dalam atsar dari sebagian salaf, dan diriwayatkan pula secara marfu‘. Disebutkan oleh al-Qadhi Abu Ya‘la dalam kitab Al-Mu‘tamad : 'Tidaklah seseorang memerintahkan kepada yang ma‘ruf dan melarang dari yang mungkar kecuali ia adalah orang yang memahami dengan baik apa yang ia perintahkan, dan memahami dengan baik pula apa yang ia larang, bersikap lemah lembut dalam apa yang ia perintahkan, dan bersikap lemah lembut pula dalam apa yang ia larang, bersikap santun dalam apa yang ia perintahkan, dan bersikap santun pula dalam apa yang ia larang."' (Al-Amru bil Ma'ruuf wa An-Nahyu 'anil Mungkar, hal. 29-31) 

Karena itu seorang da'i sejati, harus memiliki kafa-ah ilmiyyah dalam amar ma'ruf nahi mungkar, harus memiliki tiga hal yang menyertainya, (1) ilmu, (2) kelembutan, (3) kesabaran. Apabila tiga hal ini tidak ada, maka amar ma'ruf nahi mungkar itu lebih banyak merusaknya daripada memperbaiki. Serahkan urusan umat kepada yang memiliki kafa-ah ilmiyyah, da'i-da'i senior, da'i-da'i yang luas keilmuannya, ditokohkan, tempat rujukan, tempat kembalinya umat dalam setiap permasalahan, yang bisa menimbang mashlahat dan mudhorot, yang mengamalkan ilmunya, bukan da'i-da'i yang tidak memiliki kafa-ah ilmiyyah apalagi yang tidak bisa mengamalkan ilmunya.

2. Al-Mahaarah at-Tadriis (keterampilan mengajar)

Seorang da'i hendaknya memiliki al-Mahaarah at-Tadriis atau kafa-ah tadris yakni kemampuan dalam mengajar. 

Orang yang tidak memiliki kapasitas ilmu maka ia tidak boleh mengajarkan ilmu dan tidak boleh terburu-buru menampilkan diri ke publik, sebab ia akan terhina di dalam pandangan manusia dalam hitungan waktu.

Al-'Allaamah Badruddin Ibnul Jama'ah al-Kinaaniy mengatakan :

لا ينتصب للتدريس إذا لم يكن اهلا له ولا يذكر الدرس من علم لا يعرفه سواء اشترطه الواقف، أو لم يشترطه فإن ذلك لعب في الدين وازدراء بين الناس

 قال النبي صلى الله عليه وسلم المتشبع بما لم يعط كلابس ثوبي زور وعن الشعبي من تصدر قبل اوانه فقد تصدى لهوانه وعن ابي حنيفة من طلب الرياسة في غير حينه لم يزل في ذل

“Tidak boleh seseorang menampilkan diri untuk mengajar apabila ia bukan orang yang layak untuk itu, dan tidak boleh menyampaikan pelajaran tentang suatu ilmu yang tidak ia ketahui, baik hal itu disyaratkan oleh pewakaf ataupun tidak; karena hal itu merupakan mempermainkan agama dan merendahkan martabatnya di hadapan manusia.  

Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda : "Barangsiapa yang berpura-pura kenyang (merasa memiliki) sesuatu yang tidak diberikan kepadanya, seperti orang yang memakai dua pakaian kedustaan."

Dan dari Asy-Sya‘bi ia berkata : 'Barangsiapa yang tampil sebelum waktunya, maka sungguh ia telah menjerumuskan dirinya kepada kehinaan.'

Dan dari Abu Hanifah (berkata) : 'Barangsiapa yang mencari kepemimpinan bukan pada waktunya, niscaya ia akan senantiasa berada dalam kehinaan selama sisa (hidupnya)." (Al-Mu'lim bi Adaabil 'Aalim wal Muta'allim, hal.117-118)

Terburu-buru tampil untuk mengajarkan ilmu, mengustadzkan diri sebelum waktunya, atau mentokohkan diri dalam dunia ilmiyah padahal belum layak, orang yang seperti ini akan terhina dalam pandangan manusia, sebab kebodohannya akan terungkap di hadapan umat. Yang harus ia lakukan adalah belajar sebelum tampil ke publik dan mengajarkan ilmu.

2.1. Mengajarkan Ilmu sesuai dengan Daya Tangkap Mad'u dan Mulai dari yang Terpenting

Seorang da'i yang cerdas, ia harus memiliki kafa-ah tadris. Kemampuan ini akan membuat seorang da'i mampu membaca objek yang sedang ia dakwahi. 

Tipe-tipe mad'u beragam tergantung lokasi.  Jika kita mengajar di pesantren, yang akan kita hadapi adalah santri-santri yang punya semangat belajar, yang siap belajar kitab sampai selesai sesuai kurikulum. Jika kita mengajar penuntut ilmu di kota kita masing-masing, yang akan kita hadapi adalah orang-orang yang mau belajar tapi juga mudah futur. Jika kita mengajar para mahasiswa di lingkungan sekitar kampus, kita akan berhadapan dengan penuntut ilmu yang siap belajar dan punya semangat tinggi. Namun jika kita mengajar orang-orang awam, orang-orang kampung, masyarakat umum, kita akan berhadapan dengan orang-orang yang harus diperlakukan khusus.

Jadi kafa-ah tadris seorang da'i sangat menentukan keberhasilan keberlangsungan pembelajaran. Jika ia mengajarkan ilmu, ia akan mulai dari yang terpenting, lalu setelahnya. Dan yang paling penting adalah mengajarkan akidah dan tauhid, disampaikan dengan penuh hikmah, tidak membabi buta, tidak frontal. Jika mad'unya masyarakat yang sangat anti dengan istilah syirik dan bid'ah, maka kalimatnya akan ia poles dengan istilah-istilah lain yang inti maknanya adalah tauhid dan syirik atau bid'ah itu sendiri. Seperti contoh, "menyembah selain Allah itu termasuk dosa besar yang paling besar njih Pak, maka mari kita jauhi dosa besar ini". Demikian juga ketika ingin menyebutkan bid'ah, ia akan menyebutkan yang semakna dengan bid'ah, misalnya, 'ini tidak sunnah Pak, tidak ada contohnya dari kanjeng Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam", demikian seterusnya.

Beberapa kali dikisahkan kepada kita oleh guru-guru kita tentang seorang da'i yang mengisi kajian di sebuah markas kepolisisan, kitab yang dipakai adalah kitab aqidah diatas level Thohawiyyah berjudul at-Tadmuriyyah. Semua yang hadir tidak memahami apa yang sang da'i sampaikan, hingga mereka berkesimpulan bahwa ilmu sang da'i berada pada level yang sangat tinggi sehingga apa yang ia sampaikan begitu sulit untuk difahami.

Dalam agama kita, ada syariat mempermudah urusan kaum muslimin, termasuk dalam belajar. Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda : 

((يسروا ولا تعسروا وسكنوا ولا تنفروا))

"Permudahlah dan jangan kalian mempersulit, tenangkanlah dan jangan kalian membuat orang lari." (HR. Al-Bukhari, no.6125)

Termasuk dalam kategori mempersulit adalah mengajarkan ilmu-ilmu yang levelnya tinggi. Tidak semua pelajaran di pesantren bisa diajarkan kepada masyarakat umum dan penuntut ilmu pemula, karena efeknya, orang yang didakwahitidak akan faham tentang apa yang disampaikan. 

Sebuah ucapan mengatakan :

طعام الكبار سم الصغار

"Makanan untuk orang dewasa adalah racun bagi anak kecil."

Pentol mercon jika diberikan kepada bayi, balita, anak kecil usia 5 tahun, efeknya bisa mencret bahkan muntah berak, namun bagi orang dewasa itu tidak menjadi masalah. Artinya, ilmu itu diajarkan sesuai kebutuhan, tingkatan dan daya tangkap mad'u, baik mad'u kita penuntut ilmu pemula, lebih-lebih masyarakat umum di tempat kita mengajarkan ilmu syar'i.

Karena itu, seorang da'i yang memiliki kafa-ah tadris, ia akan mengajarkan suatu cabang ilmu di kalangan penuntut ilmu pemula atau masyarakat umum  dari kitab-kitab dasar. Jika mad'unya penuntut ilmu pemula, maka ia akan memulai dari kitab-kitab yang penting seperti matan-matan kitab. Jika itu kitab aqidah, sebaiknya dimulai dari al-qowaid al-arba', lalu al-ushuul ats-tsalaatsah, an-nawaaqid al-islaam, kitaab at-tauhiid, kasyfus syubhaat, lalu naik pelan-pelan ke kitab-kitab asmaa' was shifat yang dasar seperti lum'atul i'tiqod, al-aqidah al-washithiyyah, dll, bukan langsung ke kitab kitab-kitab besar, karena ilmu memiliki jenjang dan tingkatan seperti anak tangga, mulai dari yang mudah, lalu naik pelan-pelan sesuai dengan urutan kesulitannya. 

Syaikh al-Albaniy pernah mengatakan rahimahullah

العلم إن طلبته كثير والعمر عن تحصيله قصير فقدم الأهم منه فالمهم 

"Ilmu itu sangat banyak untuk dipelajari sedangkan umur sangat singkat untuk meraihnya; maka pelajarilah yang paling penting, lalu yang penting."

Syaikh Ali Hasan rahimahullah mengomentari ucapan Syaikh Al-ALbaniy :

قلت : ولا شك أن أهم ذلك، علم العقيدة والتوحيد

"Saya katakan : Tidak diragukan lagi bahwa yang paling penting dari semua itu adalah ilmu akidah dan tauhid." (Al-Mu'lim bi Adaabil 'Aalim wal Muta'allim, hal.103)

2.2. Mengajarkan Matan-matan Kitab sebagai Gambaran Umum

Jika ada dua pilihan, mengajarkan matan kitab dan syarah kitab, maka da'i yang memiliki kafa-ah tadris akan akan melihat mana yang paling baik  yang harus diajarkan kepada penuntut ilmu. Jika mengajarkan syarah kitab, membacakan kata perkata dari penjelasan para ulama dengan metode yang mudah, itu juga baik, namun lama waktunya, sedangkan penuntut ilmu di luar pesantren tidak ada jaminan mereka akan bertahan belajar sampai selesai kitab. Namun jika mengajarkan matan-matan kitab, waktunya singkat, dan gambaran umum tentang ilmu yang sedang diharapkan untuk difahami oleh mad'u dapat tercapai dan dipelajari secara urut bab per bab.  

Syaikh al-Utsaimin mengatakan :

من القواعد المعروفة المقررة عند أهل العلم : الحكم على الشيء فرع عن تصوره؛ فلا تحكم على شيء إلا بعد أن تتصوره تصورا تاما؛ حتى تكون الحكم مطابقا للواقع، وإلا حصل خلل كبير جدا

“Di antara kaidah yang telah dikenal dan ditetapkan di kalangan para ulama adalah : hukum dari sesuatu merupakan cabang dari gambaran umumnya. Maka jangan menetapkan sebuah hukum terhadap sesuatu kecuali setelah anda memberikan gambarannya dengan gambaran yang sempurna; agar hukum tersebut sesuai dengan kenyataan, jika tidak, akan terjadi kesalahan yang sangat besar.” (Zagalud Da’wah, hal.23).

Dan gambaran umum tentang apa itu syirik, hukum bagi orang-orang yang berbuat syirik, keadaan orang-orang jahiliyah yang berbuat syirik, semua itu dapat dijelaskan secara umum pada kitab-kitab dasar, khususnya pada matan-matan kitab, karena pembahasan pada matan kitab langsung masuk pada inti pembahasan, berbeda dengan kitab-kitab syarah yang membutuhkan waktu yang lama untuk menjabarkan bab per bab. 

Contoh lain dalam pelajaran bahasa arab di kalangan penuntut ilmu pemula di luar pesantren. Jika kitab yang digunakan untuk mengajar sangat tebal dan butuh waktu bertahun-tahun untuk tamat, sedangkan mad'u tidak punya mental untuk belajar sampai tuntas, maka da'i yang memiliki kafa-ah tadris akan memilihkan kitab-kitab yang ringkas dan kira-kira bisa cepat tamat. Kitab apa saja bisa digunakan sebagai gambaran umum, karena memberikan gambaran umum pada suatu cabang ilmu akan membantu dalam memberikan pemahaman secara umum tentang cabang ilmu tersebut. 

Masalah dikalangan penuntut ilmu itu sangat banyak dan beragam, ada yang berumur, ada yang sudah menikah, ada yang sudah bekerja, ada yang sibuk namun berusaha meluangkan waktu untuk belajar, maka yang seperti ini dibutuhkan kecerdasan sang da'i dalam mengkondisikan keadaan. Kurang tepat jika mengajarkan Alfiyah Ibnu Malik kepada mereka yang seperti itu. Yang paling baik adalah mengajarkan kitab-kitab percakapan ringan, atau kitab-kitab nahwu yang ringkas, tentunya dengan penjelasan yang juga harus dipermudah, pelan-pelan dan tidak bertele-tele. 

Artinya, hendaknya kita menjauhi mengajarkan kitab-kitab yang tebal, mental penuntut ilmu pemula sangat rentan dengan rasa malas. Baru melihat ukuran kitab yang cukup tebal, mentalnya langsung ciut. Bukan berarti kita terbawa dengan pola santai mereka para penuntut ilmu, kita hanya menyesuaikan kebutuhan dan daya tangkap penuntut ilmu sesuai dengan jenjang usia mereka dan latar belakang mereka masing-masing. Bila perlu dalam setiap pelajaran cukupkan dengan satu sampai dua halaman saja dengan melihat pada kondisi, tidak perlu memberi tugas hafalan yang begitu banyak di luar kelas apalagi jika ada yang sudah tertinggal satu dua kali pelajaran, karena akan memberatkan mereka dan cukup memberikan tugas di kelas saja.

Pengalaman dilapangan membuktikan ketika penuntut ilmu yang seperti ini diberi tugas menghafal mufrodat tujuh halaman setiap pertemuan, suasana belajar menggunakan bahasa arab full dari awal sampai akhir, tugas mendengarkan ceramah masyaikh dan menterjemahkan dalam bahasa Indonesia, menghafal umdatul ahkam, dll, maka dipastikan penuntut ilmu seperti ini tidak akan mampu bertahan lebih lama. 

Dimasa awal-awal belajar mungkin mereka sangat semangat, namun karena pola pembelajaran yang ketat, sedangkan mereka belum pernah belajar sama sekali, bahkan istilah dommah, fathah, kasroh saja masih bingung, lalu diberikan pelajaran dengan porsi diatas maka dihari kedua kemungkinan besar semangatnya akan menurun; 'izin Ustadz ana tidak bisa hadir hari ini', hari ketiga sudah tidak ada kabar, hari ke empat hilang kontak, hari ke lima menghilang dari majelis ilmu selamanya. 

Karena itu da'i sejati, da'i yang memiliki kafa-ah tadris, ia akan menurunkan sedikit level dan standarnya dalam mengajar. Jika cara ia belajar di pesantren seperti itu, lalu dengan niat baik ingin menerapkan cara itu pada penuntut ilmu yang bukan dari pesantren, maka hasilnya besar kemungkinan akan menuai kegagalan. Mereka bukan penuntut ilmu di pesantren, mereka hanya penuntut ilmu di majelis mulazamah di masjid-masjid sekitar yang memiliki semangat ingin menjadi baik, sekedar mau belajar saja sudah merupakan sebuah kesyukuran.

Berbeda, dan sangat jelas perbedaan antara penuntut ilmu di pesantren dan yang diluar pesantren. Penuntut ilmu di pesantren, mereka belajar ilmu sesuai dengan kurikulum, diberi kitab setebal apapun mereka siap. Belajar sehari dua puluh halaman juga siap. Diwajibkan menghafal matan-matan kitab juga sudah terbiasa, sehingga metode pembelajaran sekeras apapun, penuntut ilmu di pesantren akan siap tempur. Namun penuntut ilmu di luar pesantren, di kampung, mereka belum siap dengan metode pembelajaran seperti itu. Maka yang terbaik adalah mempermudah, menyederhanakan metode mengajar, menurunkan level kitab, karena dengan cara seperti itu pembelajaran akan berjalan sesuai harapan.

2.3. Penuntut ilmu dikalangan Mahasiswa

Yang serupa dengan penuntut ilmu di pesantren adalah penuntut ilmu dikalangan mahasiswa. Mereka membagi waktu untuk kuliah dan belajar agama disela-sela waktu luang mereka dan itu merupakan hal yang biasa dikalangan mereka. Masalah mental, mereka tidak kalah dengan teman-teman di pesantren, sehingga para da'i yang memiliki kafa-ah tadris akan mendidik mereka setingkat lebih tinggi dari penuntut ilmu pemula lainnya.

Dalam pembelajaran bahasa arab, mereka langsung diberikan pelajaran nahwu, menghafal hadits arba'in, menghafal Al-Qur'an, belajar baca kitab, mengurus kegiatan dakwah, dilatih untuk meringkas kajian lalu ditempel di papan masjid, dll, dan hal itu mudah bagi mereka, selain karena mereka bersungguh-sungguh dalam belajar, daya tangkap mereka juga cukup bagus untuk mencerna pelajaran, bahkan mereka memiliki kelas khusus baca kitab. 

Ada juga majelis mulazamah bagi para mahasiswa yang sudah bebas teori. Belajar lima kitab dari subuh sampai jam sembilan pagi, dan itu mudah saja bagi para mahasiswa walaupun harus melawan rasa ngantuk dan godaan syaithon untuk tidur di waktu subuh.

Contoh lain, pelajaran tauhid di kalangan mahasiswa, para da'i memberikan porsi yang lebih dalam memaparkan satu materi secara mendalam berjam-jam, sehingga sifat militansi penuntut ilmu dari kalangan mahasiswa lebih besar pada satu sisi daripada santri yang belajar di pondok pesantren. Lingkungan kampus mirip seperti miniatur dunia, semua aliran dan pemikiran ada, berbeda dengan lingkungan pondok pesantren. Dari pemahaman syi'ah, khowarij, ikhwani, liberal, hingga pemahaman ateis, semua ada dan disajikan secara lengkap kepada para mahasiswa di kampus mereka melalui UKM (unit kegiatan mahasiswa). 

Mahasiswa yang condong ke pemikiran ikhwani akan masuk ke organisasi kampus yang mengarah ke sana. Mahasiswa yang condong ke syi'ah akan masuk ke organisasi kampus seperti Iranian Corner dan yang semisalnya, mahasiswa yang condong ke pemikiran kiri, akan ikut ke organisasi kampus yang sesuai dengan pemikiran kirinya. Dengan kondisi yang seperti di atas, menjadikan para asatidzah yang memiliki kafa-ah tadris yang mumpuni mendidik para penuntut ilmu dari kalangan mahasiswa ini secara spesial dengan pembelajaran diniyyah yang khusus, tajam, penuh dengan doktrin yang mendalam tentang akidah dan manhaj salaf, sehingga sifat militan penuntut ilmu dari kalangan mahasiswa pada satu sisi lebih kuat, karena secara praktek mereka setiap hari bertemu dengan berbagai macam aliran pemikiran di kampus, bahkan tidak jarang akan berbenturan dengan mereka jika anak didik mereka yang mengikuti kegiatan pembelajaran dan kajian Islam di masjid atau kos-kosan mahasiswa salaf. 

Kuatnya tensi persaingan dakwah di kampus tidak lepas dari pesatnya perkembangan dakwah salaf, bahkan sebagian aktivis dakwah kampus, para harokiyyun mengirim intelijen-intelijen mereka untuk memata-matai mahasiswa baru yang mengikuti kajian salaf. Saya pernah dibujuk untuk mengikuti kajian mereka di warung makan ketika itu. Seorang yang ditokohkan dari mereka tiba-tiba mendekati saya dan mengatakan, 'kamu ikut kajian salaf ya?', saya mengatakan, ya, betul'. 'Kamu dari jurusan Teknik Elektro kan?, ucapnya lagi. Saya terkejut dan mengatakan, 'ya.' Ia kembali mengatakan, 'kamu tinggal di kos-kosan pak fulan kan? Disana ada dua kos-kosan salafi, dan kamu yang sebelah kanannya. Kamu sering sholat di masjid ini kan', sembari menyebutkan nama masjidnya. Saya lumayan takjub juga dengan detailnya data dan informasi yang disebutkannya. Saya bertanya dengan penuh keheranan, 'dari mana antum tahu semua itu?' Dia mengatakan dengan santainya, 'antum tidak perlu tahu, saya memiliki banyak intelijen yang bertebaran dimana-mana akhi.' Subhaanallah, intelijen. Setelah saya cari tahu informasinya, ternnyata satu bulan pindah di kos baru itu saya belum sadar jika kos-kosan yang di samping saya yang diapit oleh dua kos-kosan salafi itu adalah kos-kosan mereka, markas dakwah mereka, pusat pemantauan pergerakan mahasiswa-mahasiswa salafi disekitar kampus. Artinya kita hidup bertetangga dengan mereka, bersebelahan, bahkan sholat di satu masjid. Jika da'i yang mendidik para mahasiswa disekitar kampus tidak memiliki kafa-ah tadris yang mumpuni, bagaimana bisa penuntut ilmu dikalangan mahasiswa memiliki wala' dan baro' yang kuat dan tepat.

Maka, inilah yang menunjukkan kemampuan mengajar para da'i di lingkungan kampus yang sudah teeruji, sangat cocok dengan kondisi lingkungan kampus yang terkesan bebas. 

2.4. Satu tapi Singa

Diantara bentuk kafa-ah tadris juga adalah seorang da'i bisa melihat peluang emas mendidik generasi penerus meskipun hanya satu orang. Pepatah kita mengatakan, 'satu orang tapi singa, lebih baik dari dua puluh orang tapi domba'. Artinya, satu orang penuntut ilmu yang serius, memiliki tekad, bersungguh-sungguh dalam belajar, terkadang lebih baik dari dua puluh penuntut ilmu yang mudah menyerah dan bermental lemah.

Namun realitanya, seorang da'i juga manusia, ketika ia melihat para penuntut ilmu semakin berkurang dan berkurang setiap hari, melemah juga semangat mereka dalam mengajar. Kami pernah menyaksikan hal-hal seperti ini ketika masa-masa mulazamah disela-sela kekosongan waktu semasa kuliah, jumlah penuntut ilmu saat itu semakin berkurang setiap hari, sedangkan ustadz datang dari tempat yang jauh, maka beliau mengatakan kurang lebih, 'ana tidak bisa mengajar antum dengan jumlah yang semakin hari semakin berkurang, antum tidak bisa memuliakan majelis ilmu.'

Ketika beliau tidak ingin mengajar lagi, sebenarnya itu hal yang normal saja, bukan suatu kesalahan, bukan aib, karena yang meminta waktu ustadz untuk mengajar adalah para penuntut ilmu. Ketika sebagian penuntut ilmu banyak yang mundur teratur karena sibuk skripsi dll, seolah tindakan itu seperti meremehkan majelis ilmu yang mereka bentuk sendiri dengan ustadz yang mereka undang sendiri, sehingga konsekuensinya mereka dianggap tidak punya semangat. Sebenarnya beliau telah berkorban meninggalkan kesibukan mengajar di tempat lain demi majelis ilmu yang kami bentuk ketika itu, tapi pembelajaran harus terhenti karena beliau juga sibuk mengajar, bercengkerama dengan keluarganya, dll walaupun masih ada dua tiga orang penuntut ilmu yang seiap tempur sampai selesai.

Memang berat menghadapi mad'u yang seperti itu, dibutuhkan da'i-da'i yang memiliki banyak waktu luang, da'i spesial, bukan da'i-da'i yang memiliki banyak kesibukan, jadwal mengajar padat, rapat setiap hari, jadwal mengisi kajian di mana-mana. Tapi ada da'i yang memang mau meluangkan waktu untuk itu, walaupun satu kali dalam satu pekan atau satu bulan.

Di Yogyakarta, kami menjumpai seorang guru yang spesial, beliau punya banyak kesibukan, menjabat ketua ini dan itu, mengurus kajian lintas kampus, mengajar para mahasiswa di wisma-wisma tempat mereka tinggal, pionir dalam banyak kegiatan dakwah seperti, seorang da'i ilallah yang berbaur dengan masyarakat, menjadi salah satu diantara tokoh-tokoh dibalik layar dalam suksesnya dakwah di kota Yogyakarta, namun beliau tetap menjaga keikhlasannya dan lebih memilih tidak tampil di depan publik padahal murid-muridnya sangat banyak. Beliau diantara yang memiliki prinsip satu tapi singa.

Pernah suatu hari kami mengadakan kegiatan pembelajaran untuk para mahasiswa di sekitar kampus. Ada beberapa peserta yang belajar, namun yang hadir cuma satu orang. Kami menghubungi guru kami, kami mengatakan kepada beliau melalui telepon, 'Ustadz, ada yang mau belajar hari ini.' Beliau bertanya, 'Berapa orang?' Saya menjawab, 'Satu orang Ustadz.' Beliau mengatakan, 'Naam, suruh tunggu, ana sebentar lagi ke situ.' Qaddarullah ban motor beliau pecah, dan penuntut ilmu itu harus menunggu beliau beliau menambal ban motornya terlebih dahulu, hingga akhirnya hampir dua jam kemudian beliau tiba di lokasi pembelajaran di sekitar kampus.

Kami memperhatikan beliau dari pelataran masjid ketika mengajar, seolah beliau mengajar sepuluh atau dua puluh orang. Intonasi, semangat, cara mengajar, tidak melemah apalagi mengendor, karna beliau diantara da'i-da'i yang memiliki prinsip satu tapi singa. Karena itu kami sering mendapatkan majelis mulazamah beliau ada satu, dua, tiga orang penuntut ilmu yang duduk belajar, tapi mereka ibarat singa di tengah gurun siap belajar sampai selesai. Tidak jarang juga beliau membukan kelas bahasa arab maksimal sepuluh orang, atau kelas baca kitab maksimal empat orang, dll, dan beliau menyukai majelis mulazamah seperti ini.

Saya teringat dengan dakwah para nabi 'alaihimussalam. Diantara mereka 'alaihimussalam ada yang memiliki satu orang pengikut, dua orang dua pengikut, bahkan ada yang tidak memiliki pengikut sama sekali, namun mereka tidak pernah berhenti dalam mendidik dan mentarbiyah umat walaupun hanya sedikit jumlahnya. Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda :

عرضت علي الأمم، فرأيت النبي ومعه الرهط، والنبي ومعه الرجل والرجلان، والنبي وليس معه احد. إذ رفع لي سواد عظيم، فظننت أنهم أمتي، فقيل لي: هذا موسى وقومه، فنظرت فإذا سواد عظيم، فقيل لي: هذه أمتك ومعهم سبعون ألفا يدخلون الجنة بغير حساب ولا عذاب

“Diperlihatkan kepadaku umat-umat. Maka aku melihat seorang nabi bersama beberapa orang (pengikutnya), dan seorang nabi bersama satu atau dua orang saja, serta ada nabi yang tidak memiliki seorang pun pengikut. Kemudian diperlihatkan kepadaku suatu kumpulan besar, maka aku mengira bahwa mereka adalah umatku. Lalu dikatakan kepadaku, ‘Ini adalah Musa dan kaumnya.’ Kemudian aku melihat lagi, ternyata ada kumpulan besar lainnya. Lalu dikatakan kepadaku, ‘Inilah umatmu, dan bersama mereka ada tujuh puluh ribu orang yang akan masuk surga tanpa hisab dan tanpa azab.’” (Fathul Majiid Syarh Kitaab at-Tauhiid, hal. 58-59).

Jumlah bukan ukuran sukses dan tidaknya sebuah dakwah, tapi siapa yang istiqomah menempuh jalan itu walaupun satu. bisa jadi yang satu itu akan memberikan hidayah irsyad wal bayan kepada seribu orang diatas sunnah, itu prinsip yang beliau gunakan.

Kita banyak menyaksikan penuntut ilmu seperti diatas, bahkan ada yang umurnya sudah tidak lagi muda, terhalang banyak kesibukan, tapi memiliki semangat belajar tingkat tinggi dan siap "bertempur" disegala medan. Jika yang belajar berjumlah dua puluh orang, tersisa satu atau dua yang bertahan, dipastikan satu atau dua itu adalah mereka. Penuntut ilmu seperti ini banyak kita jumpai dimana-mana, salah satunya di Ma'had Al-Furqon al-Islami Sidayu Gresik. Ada yang belajar di marhalah Takhossus 'Ilmi dua tahun, lalu melanjutkan ke Ma'had Aly empat tahun. Saya mendapati jumlah mereka sangat banyak setiap tahun, jika ditotal untuk seluruh marhalah sampai 30 orang lebih. Mungkin mereka satu tapi singa di tempat mereka masing-masing, dan akhirnya dipertemukan di tempat yang penuh berkah.

Di tempat seperti inilah kita bisa melihat betapa banyak penuntut ilmu yang tidak pernah mengenal kata mundur, tidak pernah mengenal kata menyerah. Ada yang belajar di usia dua puluh tahun, tiga puluh tahun, empat puluh tahun, lima puluh tahun, bahkan ada yang hampir enam puluh tahun, Belajar di usia yang tidak lagi muda dengan jumlah anak yang berbeda-beda; ada yang satu, dua, tiga, empat, lima, enam, dll, tapi itu bukan halangan bagi mereka untuk terus belajar tanpa mengenal kata menyerah.

Antara kesibukan yang menggunung, kerja mencari nafkah, mengurus anak dan belajar, semua berjalan beriringan. Betapa banyak saya saksikan mereka diterpa ujian silih berganti seperti gelombang tsunami yang sulit untuk dilewati oleh orang-orang biasa, tapi mereka masih kokoh berdiri menuntut ilmu dan bisa melewatinya.

Awalnya satu tapi singa, tapi Allah mempertemukan mereka dengan singa-singa lain di setiap kota di satu pesantren-pesantren yang penuh berkah dimanapun dengan tujuan yang sama yaitu menuntut ilmu. Mereka di negeri mereka masing-masing selalu bertahan dalam sulitnya masa-masa belajar. Karena tidak ada akses belajar yang memadai; dari keterbatasan jumlah da'i, belajar di majelis mulazamah di negeri masing-masing yang selalu putus sambung, sehingga meninggalkan kehampaan dalam belajar bagi mereka yang semangat, lalu membuat mereka mengambil keputusan harus safar mencari majelis ilmu yang benar-benar bisa menghadirkan pembelajaran yang konsisten dan istiqomah sampai tamat satu, dua, tiga, empat kitab dst, dan itu hanya ada di majelis-majelis ilmu di pesantren dan majelis-majelis ilmu di sekitar kampus.

3. Al-Mahaarah al-Nafsiyyah (keterampilan psikologis)

Al-Mahaarah al-Nafsiyyah disebut juga dengan kafa-ah nafsiyyah yaitu kemampuan internal yang berkaitan dengan pengendalian diri, pengelolaan emosi, memuhasabah jiwa, ketahanan mental, cara berpikir positif, serta kesiapan mengahadapi tekanan dalam dunia dakwah, baik di dunia nyata atau di sosial media dan mempersiapkan solusinya.

3.1. Tenang dan tidak Berkata Kasar

Termasuk dalam kafa-ah nafsiyyah adalah tenang dan tidak berteriak-teriakberkoar-koar, berkata kasar, dan tidak membuat kegaduhan, yang menunjukkan kondisi emosi seorang da'i yang rentan, baik di dunia nyata maupun di sosial media. Allah Ta'ala berfirman :

«وَٱقْصِدْ فِى مَشْيِكَ وَٱغْضُضْ مِن صَوْتِكَ ۚ إِنَّ أَنكَرَ ٱلْأَصْوَٰتِ لَصَوْتُ ٱلْحَمِيرِ»

Artinya : "Dan sederhanalah kamu dalam berjalan dan lunakkanlah suaramu. Sesungguhnya seburuk-buruk suara ialah suara keledai." (QS. Luqman : 19)

Berteriak-teriak di jalanan, di sosial media, membuat kegaduhan, kericuhan, bukan akhlak yang baik, maka hendaknya seorang da'i menahan diri dari melakukan hal itu, apalagi dalam berdakwah dan menasihati manusia dalam kebaikan. Allah Ta'ala berfirman :

«فَقُولَا لَهُۥ قَوْلًۭا لَّيِّنًۭا لَّعَلَّهُۥ يَتَذَكَّرُ أَوْ يَخْشَىٰ»
Artinya : "Maka berbicaralah kamu berdua kepadanya dengan kata-kata yang lemah lembut, mudah-mudahan ia ingat atau takut." (QS. Thoha : 44)

Ketika Nabi Musa dan Harun 'alaihimas salam berdakwah kepada penjahat sekelas Fir'aun, Allah Ta'ala perintahkan kedua Nabinya untuk tetap berbicara lembut. Allah tahu bahwa Firaun tidak akan beriman, tapi Allah tetap perintahkan kedua nabi-Nya yang mulia untuk tetap bersikap lembut dan tidak berlaku kasar kepadanya, mudah-mudahan ia takut kepada Allah 'Azza wa Jalla.

Yang kita hadapi hari ini bukan Fir'aun, tapi kaum muslimin, bahkan seorang ahlus sunnah salafiyyun, maka mereka lebih berhak mendapatkan sikap lemah lembut ketika kita hendak menasihati mereka.

'Bukankah saya sudah menasihati mereka dengan sirr, hati-hati, penuh kelembutan, maka jika saya menasihatinya di khalayak ramai, itu bukan masalah karena semua cara telah di tempuh', ucap fulan.

Wahai saudaraku, lemah lembut dalam berdakwah termasuk jalan dakwah para Nabi 'alaihimussalam, dan itu merupakan hukum asal dakwah para anbiya'. Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam ketika berdakwah kepada pamannya, beliau memanggil pamannya dengan panggilan yang lembut, beliau shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda :

.((أي عم قل لا إله إلا الله كلمة أحاج لك بها عند الله عز وجل))

فقال أبو جهل وعبد الله بن أبي أمية: يا أبا طالب أترغب عن ملة عبد المطلب؟ فقال: أنا على ملة عبد المطلب. فقال النبي صلى الله عليه وسلم: ((لأستغفرن لك ما لم أنه عنك)). فنزلت: ما كان للنبي والذين آمنوا أن يستغفروا للمشركين ولو كانوا أولي قربى من بعد ما تبين لهم أنهم أصحاب الجحيم. قال: ونزلت فيه: إنك لا تهدي من أحببت ولكن الله يهدي من يشاء. [القصص: 56] أخرجاه

"((Wahai pamanku, katakanlah laa ilaaha illallah suatu kalimat yang aku akan membela engkau dengannya dihadapan Allah 'Azza wa Jalla)). 

Maka berkata Abu Jahal dan Abdullah bin Abi Umayyah : "Wahai Abu Tholib, apakah kamu benci dengan agama Abdul Muththolib? Maka Abu Tholib berkata : "Aku berada di atas agama Abdul Muththolib, maka Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam-pun bersabda : ((Sungguh benar-benar aku akan memintakan ampun untukmu selama aku tidak dilarang)) maka diturunkanlah kepada beliau firman Allah (yang artinya) : «Tiadalah sepatutnya bagi Nabi dan orang-orang yang beriman memintakan ampun (kepada Allah) bagi orang-orang musyrik, walaupun orang-orang musyrik itu adalah kaum kerabat(nya), sesudah jelas bagi mereka, bahwasanya orang-orang musyrik itu adalah penghuni neraka jahannam». Maka ia berkata diturunkanlah kepadanya firman Allah (yang artinya) : «Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya». [QS. Al-Qoshosh : 56]. Dikeluarkan oleh keduanya." (Tafsiir Ibni Katsiir, 4/221)

Dua faidah yang bisa diambil dari kisah diatas, (1) sikap lembut beliau shallallahu 'alaihi wa sallam kepada pamannya bahkan sampai ingin mendo'akan ampunan jika Allah tidak melarang, (2) beliau bersikap tenang di hadapan Abu Jahal dan Abdullah bin Abi Umayyah, tidak berdebat dengannya apalagi mengeraskan suara dan mengusirnya, karena apa hak mereka mendakwahi Abu Tholib padahal Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam lebih dekat kekerabatannya dengan Abu Tholib dari pada mereka. Bahkan karena sebab keberadaan dua tokoh Quraisy itu di sampingnya, membuat Abu Tholib malu mengucapkan syahadat yang ia yakini dengan hatinya akan kebenarannya.

3.2. Bersabar dalam Dakwah dan Menahan Amarah

Termasuk dalam kafa-ah nafsiyyah adalah menahan amarah. Da'i yang memiliki kafa-ah nafsiyyah tidak mudah marah, apalagi di depan umum, apalagi di sosial media. Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda : 

((لا تغضب))

"Jangan marah." (HR. Al-Bukhari, no.6116 dalam Al-Arba'iin an-Nawawiyyah, hal.89)

Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam mengulang kalimat diatas sebanyak tiga kali, menunjukkan buruknya marah sedangkan menahannya adalah kunci segala kebaikan.

Berkata Syaikh Bandar bin Nafi' :

: قوله ((لا تغضب)), يتضمن أمرين عظيمين

أحدهما اجتناب أسباب الغضب والتمرن على حسن الخلق والحلم والصبر وتوطين النفس على ما يصيب الإنسان من الخلق من الأذى القولي والفعلي فإذا وفق لها العبد ورد وورد عليه وارد الغضب احتمله بحسن خلقه وتلقاه بحلمه وصبره ومعرفته بحسن عواقبه

الثاني عدم العمل بمقتضى الغضب إذا وقع منه فإن الغضب غالبا لا يتمكن الإنسان من دفعه ورده ولكن يتمكن من عدم تنفيذه فعليه إذا غضب أن يمنع نفسه من الأقوال والأفعال المحرمة التي يقتضيها الغضب

Ucapan Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam ((Jangan marah)), mengandung dua perkara yang besar :

Yang pertama : menjauhi sebab-sebab kemarahan, melatih diri dengan akhlak yang baik, sifat santun, dan kesabaran, serta membiasakan diri terhadap apa yang menimpa seseorang dari manusia berupa gangguan, baik dengan ucapan maupun perbuatan. Maka apabila seorang hamba diberi taufik untuk itu, lalu datang kepadanya dorongan marah, ia menahannya dengan akhlaknya yang baik, menghadapinya dengan kelembutan dan kesabarannya, serta dengan pengetahuannya akan baiknya akibat.

Yang kedua : tidak mengamalkan tuntutan kemarahan ketika kemarahan itu muncul. Sesungguhnya marah itu biasanya tidak mampu ditolak dan dihindari oleh manusia, tetapi ia mampu untuk tidak melaksanakannya. Maka wajib baginya, ketika marah, menahan dirinya dari ucapan dan perbuatan yang haram yang dituntut oleh kemarahan tersebut." (Ad-Duraar as-Saniyyah bi Fawaa'id al-Arba'iin an-Nawawiyyah, hal.89)

Berkata Syaikh Utsaimin rahimahullah :

إن نظرنا إلى ظاهر اللفظ قلنا ((لا تغضب)) أي الغضب الطبيعي لكن هذا فيه صعوبة وله وجه يمكن أن يحمل عليه بأن يقال اضبط نفسك عند وجود السبب حتى لا تغضب

"Jika kita melihat kepada dzohir lafadz, maka kita katakan : ((jangan marah)), yaitu marah yang bersifat alami. Akan tetapi dalam hal ini terdapat kesulitan. Namun, ada sisi makna yang memungkinkan untuk dibawa kepadanya, yaitu dengan mengatakan : kendalikan dirimu ketika sebab-sebab (kemarahan) itu ada, agar engkau tidak marah." (Syarh al-Arba'iin an-Nawawiyyah, hal.218)

Jika orang-orang tidak mau mendengarkan ajakannya, mengabaikan nasihat-nasihatnya, atau meremehkan dakwahnya, padahal sudah dilakukan dengan lemah lembut, mendebatnya, ia tetap tidak akan mudah tersulut emosi, karena da'i yang memiliki kafa-ah nafsiyyah ia akan bersabar atas semua itu. Allah Ta'ala berfirman :  

 «فَٱصْبِرْ ۖ إِنَّ ٱلْعَـٰقِبَةَ لِلْمُتَّقِينَ»

Artinya : "Maka bersabarlah; sesungguhnya kesudahan yang baik adalah bagi orang-orang yang bertakwa." (QS. Hud : 49)

Kita bisa melihat bagaimana kesabaran nabi shallallahu 'alaihi wa sallam ketika beliau berdakwah di Thoif. Aisyah radhiyallahu 'anha menceritakan :

قالت للنبي عليه هل أتى عليك يوم كان أشد من يوم أحد؟ قال : ((لقد لقيت من قومك ما لقيت وكان أشد ما لقيت منهم يوم العقبة إذ عرضت نفسي على ابن عبد ياليل بن عبد كلال فلم يجبني إلى ما أردت فانطلقت وأنا مهموم على وجهي فلم أستفق إلا وأنا بقرن الثعالب فرفعت رأسي فإذا أنا بسحابة قد أظلتني فنظرت فاذا فيها جبريل فناداني فقال إن الله قد سمع قول قومك لك وما ردوا عليك وقد بعث إليك ملك الجبال لتامره بما شئت فيهم فناداني ملك الجبال فسلم علي ثم قال يا محمد ذلك فيما شئت إن شئت أن أطبق عليهم الاخشبين فقال النبي عليه بل أرجو أن يخرج الله من أصلابهم من يعبد الله وحده لا يشرك به شيئا))

"Aisyah berkata kepada Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam : "Apakah pernah datang kepadamu suatu hari yang lebih berat daripada hari Uhud?" Beliau bersabda : ((Sungguh aku telah mengalami dari kaummu apa yang telah aku alami, dan yang paling berat yang aku alami dari mereka adalah pada hari ‘Aqabah, ketika aku menawarkan diriku kepada Ibnu ‘Abdi Yalil bin ‘Abdi Kulal, namun ia tidak memenuhi ajakanku kepada apa yang aku inginkan. Maka aku pun pergi dalam keadaan bersedih pada wajahku, dan aku tidak sadar kecuali ketika aku berada di Qarn ats-Tsa‘alib. Lalu aku mengangkat kepalaku, ternyata ada awan yang telah menaungiku. Aku melihat, ternyata di dalamnya ada Jibril. Ia memanggilku dan berkata: ‘Sesungguhnya Allah telah mendengar perkataan kaummu kepadamu dan apa yang mereka tolak darimu. Dan Dia telah mengutus kepadamu malaikat penjaga gunung agar engkau memerintahkannya sesuai kehendakmu terhadap mereka.’ Maka malaikat gunung itu memanggilku, memberi salam kepadaku, kemudian berkata : ‘Wahai Muhammad, itu terserah apa yang engkau kehendaki. Jika engkau mau, aku akan menimpakan kepada mereka dua gunung.’ Maka Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda : ‘Bahkan aku berharap agar Allah mengeluarkan dari keturunan mereka orang-orang yang menyembah Allah semata, tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun))." (Shahiihul Atsar wa Jamiilul 'Ibar, hal. 133)

Ketika Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam mendapatkan perlakuan kaummnya dan penolakan mereka atas dakwahnya, beliau bersedih pada satu sisi, tapi beliau juga bersabar, tidak dendam, tidak marah meskipun beliau dilempari dengan batu hingga kakinya berdarah, bahkan diantara bentuk sabar dan kasih sayangnya Nabi shallalahu 'alaihi wa sallam, beliau menolak tawaran malaikat penjaga gunung yang ingin menimpakan gunung kepada penduduk Thoif. 

Memang berat, tapi kita bisa mengambil pelajaran bahwa sabar adalah prinsip dakwah yang utama. Mental yang kuat sekuat baja harus ada di dalam dakwah, tidak mudah larut dalam kesedihan, tidak gampang futur dalam kegalauan, kerapuhan jiwa, apalagi sampai putus asa, marah dan lari dari dakwah, karena berdakwah di tengah masyarakat pasti akan mendapatkan tantangan berat, pertentangan, penolakan, pro kontra, tapi hasil akhirnya adalah kemenangan, 

Allah Ta'ala berfirman mengisahkan tentang Nabi-Nya yang mulia 'alaihis salam :

«وَذَا ٱلنُّونِ إِذ ذَّهَبَ مُغَـٰضِبًۭا فَظَنَّ أَن لَّن نَّقْدِرَ عَلَيْهِ فَنَادَىٰ فِى ٱلظُّلُمَـٰتِ أَن لَّآ إِلَـٰهَ إِلَّآ أَنتَ سُبْحَـٰنَكَ إِنِّى كُنتُ مِنَ ٱلظَّـٰلِمِينَ»

Artinya : "Dan (ingatlah kisah) Dzun Nun (Yunus), ketika ia pergi dalam keadaan marah, lalu ia menyangka bahwa Kami tidak akan mempersempitnya (menyulitkannya), maka ia menyeru dalam keadaan yang sangat gelap: "Bahwa tidak ada Tuhan yang benar selain Engkau. Maha Suci Engkau, sesungguhnya aku adalah termasuk orang-orang yang zalim." (QS. Al-Anbiya : 87)

Nabi Yunus 'alaihis salam marah kepada kaumnya yang tidak beriman, lalu beliau "lari dari dawkah", dan Allah mengujinya dengan ujian yang tidak akan sanggup dipikul oleh satu manusia pun. 

Ibnu Katsir menjelaskan makna ayat di atas dalam tafsirnya :

هذه القصة مذكورة هنا وفي ((الصافات)) وفي سورة ((ن))، وذلك أن يونس بن متى عليه السلام بعثه الله إلى أهل نينوى، وهي قرية من أرض الموصل، فدعاهم إلى الله تعالى، فأبوا عليه، وعادوا على كفرهم، فخرج من بين أظهرهم مغاضبا لهم، ووعدهم بالعذاب بعد ثلاث، فلما تحققوا منه ذلك وعلموا أن النبي لا يكذب، خرجوا إلى الصحراء بأطفالهم وأنعامهم ومواشيهم، ثم تضرعوا إلى الله عز وجل، وجأروا إليه، فرفع الله عنهم العذاب، قال الله تعالى: ((فَلَوْلَا كَانَتْ قَرْيَةٌ ءَامَنَتْ فَنَفَعَهَآ إِيمَـٰنُهَآ إِلَّا قَوْمَ يُونُسَ لَمَّآ ءَامَنُوا۟ كَشَفْنَا عَنْهُمْ عَذَابَ ٱلْخِزْىِ فِى ٱلْحَيَوٰةِ ٱلدُّنْيَا وَمَتَّعْنَـٰهُمْ إِلَىٰ حِينٍۢ))

وأما يونس، عليه السلام، فإنه ذهب فركب مع قوم في سفينة فلجت بهم، وخافوا أن يغرقوا. فاقترعوا على رجل يلقونه من بينهم يتخففون منه، فوقعت القرعة على يونس، فأبوا أن يلقوه، ثم أعادوا القرعة فوقعت عليه أيضا، فأبوا، ثم أعادوها فوقعت عليه أيضا، قال الله تعالى: "فساهم فكان من المدحضين" [الصافات: ١٤١]، أي: وقعت عليه القرعة، فقام يونس، عليه السلام، وتجرد من ثيابه، ثم ألقى نفسه في البحر، وقد أرسل الله، سبحانه وتعالى، من البحر الأخضر - فيما قاله ابن مسعود - حوتا يشق البحار، حتى جاء فالتقم يونس حين ألقى نفسه من السفينة، وأوحى الله إلى ذلك الحوت ألا تأكل له لحما، ولا تهشم له عظما؛ فإن يونس ليس لك رزقا، وإنما بطنك له يكون سجنا

"Kisah ini disebutkan di sini, juga dalam surat ((Ash-Shaffat)) dan dalam Surah ((Nun). Yaitu bahwa Yunus bin Matta ‘alaihis salam diutus oleh Allah kepada penduduk Ninawa, yaitu sebuah negeri di wilayah Mosul. Maka ia menyeru mereka kepada Allah Ta‘ala, tetapi mereka menolaknya dan tetap dalam kekafiran mereka. 

Lalu ia keluar dari tengah-tengah mereka dalam keadaan marah terhadap mereka, dan menjanjikan mereka azab setelah tiga (hari). Maka ketika mereka memastikan hal itu dan mengetahui bahwa seorang nabi tidak berdusta, mereka keluar ke padang pasir bersama anak-anak mereka, ternak dan hewan-hewan mereka. Kemudian mereka merendahkan diri kepada Allah ‘Azza wa Jalla dan memohon dengan sungguh-sungguh kepada-Nya, maka Allah mengangkat azab dari mereka. 

Allah Ta‘ala berfirman : «Dan mengapa tidak ada (penduduk) suatu kota yang beriman, lalu imannya itu bermanfaat kepadanya selain kaum Yunus? Tatkala mereka (kaum Yunus itu), beriman, Kami hilangkan dari mereka azab yang menghinakan dalam kehidupan dunia, dan Kami beri kesenangan kepada mereka sampai kepada waktu yang tertentu». 

Adapun Yunus 'alaihis salam, maka ia pergi lalu naik bersama suatu kaum ke dalam sebuah kapal. Kemudian kapal itu membawa mereka ke tengah laut yang bergelombang besar, dan mereka pun takut akan tenggelam. 

Lalu mereka melakukan undian untuk menentukan seorang laki-laki yang akan mereka lemparkan dari antara mereka guna meringankan beban kapal. Maka jatuhlah undian itu kepada Yunus, namun mereka enggan untuk melemparkannya. Kemudian mereka mengulangi undian tersebut, dan jatuh lagi kepadanya (Yunus). Mereka tetap enggan. Lalu mereka mengulanginya lagi dan jatuh lagi kepadanya.

Allah Ta’ala berfirman (yang artinya) : «Maka ia ikut diundi dan ia termasuk orang-orang yang kalah (dalam undian)» [Ash-Shaffat: 141]. Maknanya: undian tersebut jatuh kepadanya

Maka Yunus 'alaihis salam berdiri dan menanggalkan pakaiannya, kemudian ia melemparkan dirinya ke dalam laut. Sementara itu, Allah Subhanahu wa Ta’ala telah mengirimkan dari Laut Hijau -sebagaimana yang dikatakan oleh Ibnu Mas'ud- seekor ikan besar yang membelah lautan, hingga ikan itu datang dan langsung menelan Yunus saat ia menjatuhkan dirinya dari kapal.

Dan Allah mewahyukan kepada ikan besar tersebut: 'Janganlah engkau memakan dagingnya, dan jangan pula mematahkan tulangnya; karena sesungguhnya Yunus bukanlah rezeki bagimu, melainkan perutmu baginya hanyalah menjadi penjara.'" (Tafsiir Ibni Katsiir, 5/366)

Ibnu Katsir juga mengatakan :

وقوله: «وَذَا ٱلنُّونِ» يعني الحوت صحت الإضافة إليه بهذه النسبة، وقوله «إِذ ذَّهَبَ مُغَـٰضِبًۭا» قال الضحاك: لقومه «فَظَنَّ أَن لَّن نَّقْدِرَ عَلَيْهِ» أي نضيق عليه في بطن الحوت، وقال عطية العوفي: أي نقضي عليه، فإن العرب تقول: قدروقدّر بمعنى واحد. ومنه قوله تعالى: «فَٱلْتَقَى ٱلْمَآءُ عَلَىٰٓ أَمْرٍۢ قَدْ قُدِرَ»: أي قدّر، وقوله: «فَنَادَىٰ فِى ٱلظُّلُمَـٰتِ أَن لَّآ إِلَـٰهَ إِلَّآ أَنتَ» قال ابن مسعود: ظلمة بطن الحوت، وظلمة البحر، وظلمة الليل، وذلك أنه ذهب به الحوت في البحر يشقها حتى انتهى به إلى قرار البحر، فسمع يونس تسبيح الحصى في قراره، فعند ذلك قال: «لآ إِلَـٰهَ إِلَّآ أَنتَ سُبْحَـٰنَكَ إِنِّى كُنتُ مِنَ ٱلظَّـٰلِمِينَ»، وقيل: مكث في بطن الحوت أربعين يوما

Dan firman-Nya (yang artinya) : «Dan (ingatlah kisah) Dzun Nun (Yunus pemilik ikan)», maknanya adalah ikan besar; shohih disandarkan penisbatan ini kepada Nabi Yunus. Dan firman-Nya (yang artinya) : «Ketika ia pergi dalam keadaan marah», Ad-Dhahhak berkata : '(Marah) kepada kaumnya'.

«Maka ia menyangka bahwa Kami tidak akan mempersempitnya (menyulitkannya)», maknanya adalah : Kami tidak akan menyempitkan urusannya di dalam perut ikan. Athiyah Al-Aufi berkata : 'Maknanya adalah Kami tidak akan memutuskan ketetapan atasnya'. Karena orang Arab mengatakan : Qadara dan Qaddara itu memiliki makna yang sama (memutuskan/menetapkan). Di antaranya adalah firman Allah: «Maka bertemulah air-air itu untuk suatu urusan yang sungguh telah ditetapkan», yakni quddira.

Dan firman-Nya (yang artinya) : «Maka ia menyeru dalam keadaan yang sangat gelap bahwa : Tidak ada Tuhan yang benar selain Engkau». Ibnu Mas'ud berkata : '(Kegelapan itu adalah) kegelapan perut ikan, kegelapan lautan, dan kegelapan malam'. Hal itu karena ikan tersebut membawa Yunus menyelami lautan hingga sampai ke dasar samudera.

Lalu Yunus mendengar tasbih bebatuan kerikil di dasar laut tersebut, maka pada saat itulah ia berucap: 'Tidak ada Tuhan selain Engkau, Maha Suci Engkau, sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang zhalim'. Dan dikatakan bahwa ia tinggal di dalam perut ikan selama empat puluh hari." (Mukhtashor Tafsir Ibni Katsir, 2/519)

Dalam riwayat yang lain, Ibnu Katsir mengatakan :

وقال عوف : لما صار يونس فى بطن الحوت، ظن أنه قد مات، ثم حرك رجليه فلما تحركت سجد مكانه، ثم نادى: يا رب، اتخذت لك مسجدا فى موضع ما اتخذه أحد.

وقال سعيد بن الحسن البصرى : مكث فى بطن الحوت أربعين يوما

"Berkata 'Auf : 'Tatkala Yunus berada di dalam perut ikan, ia menyangka bahwa dirinya telah mati. Kemudian ia menggerakkan kedua kakinya. Ketika kedua kakinya bergerak, ia pun bersujud di tempatnya itu, lalu berseru: 'Wahai Tuhanku, aku telah menjadikan bagi-Mu sebuah tempat sujud (masjid) di suatu tempat yang belum pernah dijadikan (tempat sujud) oleh seorang pun'."

Sa'id bin Al-Hasan Al-Bashri berkata : 'Beliau (Yunus) tinggal di dalam perut ikan selama empat puluh hari'." (Tafsir Ibni Katsir, 5/367)

Nabi Yunus 'alaihis salam awalnya menjanjikan kepada kaumnya bahwa adzab akan turun dalam tiga hari, namun adzab itu ternyata tidak jadi turun. Menurut hukum yang berlaku di zaman Nabi Yunus 'alaihis salam, barangsiapa yang berdusta dan tidak memiliki bukti, maka hukumannya adalah hukuman bunuh. Maka Nabi Yunus khawatir atas dirinya, lalu beliau 'alaihis salam pun pergi tanpa ada izin dari Allah Ta'ala dalam keadaan marah. 

Karena itu marahnya Nabi Yunus 'alaihis salam sebabnya jelas, tidak bisa disamakan dengan marahnya kita ketika dakwah dan nasihat kita tidak diterima oleh orang lain. Oleh karena itu Ibnu Katsir pernah membawakan hadits Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam ketika menafsirkan surat al-Anbiya dan surat Nun :

((لا ينبغي لأحد أن يقول : أنا خير من يونس بن متى))

"Tidak pantas bagi seseorang mengatakan : Aku lebih baik daripada Yunus bin Matta." (HR. Ahmad dalam Tafsir Ibni Katsir, 5/368 dan 8/201). 

Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam melarang kita merendahkan Nabi Yunus 'alaihis salam hanya karena sempat "meninggalkan kaumnya" dan ditelan ikan, bahkan beliau menganggap Nabi Yunus 'alaihi wa sallam sebagai Nabi yang sholih. Bahkan Allah menegaskan bahwa Nabi Yunus adalah Nabi yang sholih, Allah Ta'ala berfirman :

«ٱجْتَبَـٰهُ رَبُّهُۥ فَجَعَلَهُۥ مِنَ ٱلصَّـٰلِحِينَ»

Artinya : "Lalu Tuhannya memilihnya dan menjadikannya termasuk orang-orang yang saleh." (QS. Al-Qolam : 50)

Kisah Nabi Yunus 'alaihis salam diatas menunjukkan bahwa dalam dakwah dibutuhkan kesabaran. Dan tidak ada seorang manusia pun di muka bumi ini yang pernah mendapatkan ujian yang sangat berat seperti ujian yang menimpa Nabi Yunus 'alaihis salam dalam perut ikan, menunjukkan ketinggian iman beliau dan kesabarannya. Kegelapan total berlapis-lapis selama empat puluh hari, tanpa makan, tanpa minum, dan hidup di dasar lautan dalam tiga kegelapan.

Cukuplah kisah para Nabi 'alaihimus salam sebagai pengingat yang menjelaskan bahwa kesabaran adalah usul dakwah, bukan kemarahan dan ucapan yang mencerminkan hilangnya kafa-ah nafsiyyah.

Karena itu, jika dakwah kita tidak diterima, nasihat kita tidak di dengar, seruan kita tidak digubris, kita mudah kecewa, mudah rapuh, mudah galau, mudah putus asa, bahkan mencak-mencak, marah, ngambek, bahkan pelariannya adalah sindir di khalayak ramai, di sosial media, curhat sana -sini, padahal tugas utama seorang muballigh, seorang da'i bahkan para rasul adalah hanya menyampaikan risalah, karena urusan hidayah itu mutlak ada di tangan Allah 'Azza wa Jalla. Allah Ta'ala berfirman :

 «فَإِنْ أَعْرَضُوا۟ فَمَآ أَرْسَلْنَـٰكَ عَلَيْهِمْ حَفِيظًا ۖ إِنْ عَلَيْكَ إِلَّا ٱلْبَلَـٰغُ»

Artinya : "Jika mereka berpaling maka Kami tidak mengutus kamu sebagai pengawas bagi mereka. Kewajibanmu tidak lain hanyalah menyampaikan (risalah)." (QS. Asy-Syuro : 48)

Allah tidak mengutus seorang rasul, seorang da'i, seorang pemberi sebagai pengawas bagi mereka, kemana-mana menjadi spion bagi mereka, jika dakwah dan nasihat kita tidak diterima, maka bersabar. Bagi sang da'i, ia akan mendapatkan pahala dakwahnya jika ikhlas karena Allah. Namun jika ia melakukan semua itu karena hawa nafsu dunnia dan amarah, maka ia tidak akan mendapatkan apa-apa selain kekecewaan dan kesedihan.

Karena itu metode dakwah yang hilang sifat sabarnya, akan dihiasi dengan emosi dan kehebohan. Padahal berdakwah kepada sesama kaum muslimin, kepada pemegang lembaga dakwah, kepada sesama salafiyyun, adalah dengan sikap sabar bukan amarah. 

Jika harus menasihati di khalayak ramai, yang melakukannya adalah orang yang berilmu, yang dipandang keilmuannya, yang didengar fatwanya, yang disepakati kesholihannya, sebagaimana kasus Ka'ab bin Malik, Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam sendiri yang menghajrnya, maslahatnya jelas, Ka'ab bin Malik bertaubat kepada Allah.

3.3. Introspeksi Diri

Termasuk dalam kafa-ah nafsiyyah adalah kemampuan seorang da'i untuk mengintrospeksi diri dan memuhasabah dirinya. Seorang da'i sejati, yang memiliki kafa-ah nafsiyyah, ia akan selalu menyadari bahwa dirinya banyak kekurangan, banyak dosa, banyak aib, sehingga ia tidak sempat mencari-cari aib dan kekurangan orang lain namun sibuk dengan aib dirinya sendiri. 

Umar radhiyallahu 'anhu pernah mengatakan :

حاسبوا أنفسكم قبل أن تحاسبوا وزنوا أنفسكم قبل أن توزنوا، فإنه أهون عليكم في الحساب غدا أن تحاسبوا أنفسكم اليوم، وتزينوا للعرض الأكبر يومئذ تعرضون لا تخفي منكم خافية.

“Hisablah diri kalian sebelum kalian dihisab, dan timbanglah diri kalian sebelum kalian ditimbang, karena hal itu lebih memudahkan kalian di hari hisab besok agar kalian menghisab diri kalian hari ini, dan bersiap-siaplah untuk hari besar ditampakkannya amal pada hari itu kamu dihadapkan (kepada Tuhanmu), tiada sesuatupun dari keadaanmu yang tersembunyi (bagi Allah). (Muhaasabatun Nafsi, Ibnu Abid-Dunya, hal.22).

Menimbang dosa diri sendiri akan lebih bermanfaat bagi kita daripada sibuk mencari aib dan kekurangan orang lain. Maka seorang da'i yang memiliki kafa-ah nafsiyyah ia sibuk dengan aib dirinya sendiri dan tidak sibuk dengan aib orang lain, apalagi sampai sengaja mengorek-ngorek aib dan kekurangan orang lain. Waliyaadzubillah.

Berkata Fudhail bin 'Iyyaadh rahimahullah kepada seorang laki-laki :

كم أتى عليك؟  قال ستون سنة، قال : فأنت منذ ستين سنة تسير إلى ربك يوشك أن تبلغ، فقال الرجل : إنا لله وإنا إليه راجعون، قال له الفضيل : أتعرف تفسيره؟ قال الرجل : فسره لنا يا أبا علي، قال : فمن علم أنه عبد الله وأنه إليه راجع، فليعلم أنه موقوف، ومن علم أنه موقوف فليعلم أنه مسؤول، ومن علم أنه مسؤول فليعد للسؤال جوابا، فقال الرجل : فما الحيلة؟ قال : يسيرة، قال : ما هي؟ قال : تحسن فيما بقي يغفر لك ما مضى، فإنك إن أسأت فيما بقى أخذت بما مضى وما بقي

"Berapa tahun usiamu?" Laki-laki itu menjawab, "Enam puluh tahun." Beliau berkata, "Semenjak enam puluh tahun engkau berjalan menuju Rabb-mu, nyaris saja engkau sampai tujuan." Laki-laki itu berkata, "Inna lillahi wa inna ilaihi raaji'uun." Al-Fudhoil berkata kepadanya, "Apakah engkau mengetahui tafsir dari kalimat tersebut?" Laki-laki itu berkata, "Tolong tafsirkan kalimat itu untuk kami, Wahai Abu 'Ali!" Beliau berkata, "Siapa saja yang menyadari bahwa dirinya adalah hamba Allah dan menyadari bahwasanya dia akan kembali kepada Rabb-nya, maka hendaknya ia menyadari bahwa ia pasti akan berdiri di hadapan Allah. Barangsiapa yang menyadari bahwa ia akan berdiri di hadapan-Nya, hendaknya ia menyadari bahwa ia harus bertanggung jawab. Siapa saja yang mengetahui bahwa ia harus bertanggung jawab, maka hendaknya ia menyediakan jawaban untuk pertanyaan kelak." Laki-laki itu bertanya, "Lalu bagaimana jalan keluarnya?" Beliau menjawab, "Mudah saja." Laki-laki itu berkata lagi, Apa itu?" Beliau menjawab, "Berbuat baiklah pada sisa usiamu, niscaya Allah akan mengampuni dosa-dosamu yang telah lalu, karena jika engkau masih melakukan keburukan pada masa yang tersisa, maka segala perbuatanmu dimasa lampau dan yang akan datang akan diperhitungkan disisi-Nya." (Yaa Shoohibas Sittiin, hal.28)

Berkata Syaikh Ali bin Sa'id bin Da'jam : 

وهذا توبة بن الصمة وكان بالرقة، وكان محاسبا لنفسه فحسب يوما فإذا هو ابن ستين سنة فحسب أيامها فإذا هي أحد وعشرين ألف يوم وخمسمائة يوم فصرخ وقال : يا وليتي، ألقي المليك بواحد وعشرين ألف وخمسمائة ذنب، كيف وفي كل يوم ذنب؟! ثم خر مغشيا عليه فإذا هو ميت، فسمعوا قائلا يقول : يا لك ركضة إلى الفردوس الأعلى. 

فهكذا ينبغي للمرء أن يحاسب نفسه على الأنفاس وعلى معصية بالقلب والجوارح في كل ساعة، ولو رمى العبد لكل معصية حجرا في داره لامتلأت داره في مدة يسيرة قريبة من عمره، ولكنه يتساهل في حفظ المعاصي والملكان يحفظان عليه ذلك «أَحْصَىٰهُ ٱللَّهُ وَنَسُوهُ ۚ».

قال إسماعيل بن عبيد الله : قال لي عمر بن عبد العزيز : يا إسماعيل كم أتت عليك من سنة؟ قلت : ستون سنة وشهور، قال : يا إسماعيل إياك والمزاح

"Berikut ini adalah Taubah bin Summah yang tinggal di Riqqoh. Ia mengintrospeksi dirinya, ternyata ia sudah berusia 60 tahun. Ia menghitung hari-harinya, ternyata jumlahnya 21.500 hari. Ia berteriak dan berkata, "Celaka! Aku menjumpai Rabb-ku dengan 21.500 dosa?! Lalu bagaimana jika setiap harinya aku melakukan banyak dosa?" Beliau langsung jatuh tersungkur, pingsan, ternyata ia telah meninggal dunia. Lalu mereka-pun mendengar orang berkata, "Sungguh engkau melakukan lompatan menuju surga Firdaus yang tertinggi.

Demikian pula semestinya bagi setiap orang agar ia mengintrospeksi dirinya atas segala desah nafasnya dan atas maksiat baik dengan hatinya maupun anggota badannya setiap hari. Kalau seandainya untuk setiap maksiat seorang hamba melempar batu di rumahnya, pasti rumahnya dalam jangka pendek sudah penuh dengan batu. Akan tetapi dia justru mempermudah (terlalu santai) dalam menjaga diri dari maksiat, sementara dua malaikat selalu memantaunya, (artinya) "Allah tetap menghitung (mencatat) amal perbuatan itu, padahal mereka telah melupakannya.

Berkata Isma'il bin 'Ubaidillah : "'Umar bin 'Abdul 'Aziz pernah berkata kepadaku, 'Wahai Isma'il! Sudah berapa tahun yang engkau lewati dalam hidupmu? 'Aku menjawab, '60 tahun ditambah beberapa bulan.' Beliau berkata, 'Wahai Isma'il, waspadalah!, jangan banyak bercanda lagi.'" (Yaa Shoohibas Sittiin, hal.25)

Sedangkan kita hari ini, terlalu sibuk mengorek aib saudaranya, ia lupa bahwa aiab dirinya lebih dahsyat dari aib orang lain.

3.4. Bersikap Bijak

Tidak dipungkiri, masalah dalam dakwah sangat banyak. Dari perselisihan masalah lahan dakwah sampai perselisihan masalah siapa yang akan mengendalikan dakwah. Dari perselisihan masalah senioritas dalam dakwah hingga perselisihan masalah lembaga dakwah, yayasan, siapa yang akan meneruskan pesantren ini dan itu, dll. Sebenarnya masalah seperti ini tidak hanya terjadi di sini, tapi terjadi di mana-mana, khususnya di akhir zaman ini. Sikap kita adalah, jangan terlalu larut dalam buaian perselisihan antar sesama lembaga dakwah atau pesantren dan yang semisalnya, tapi carikan solusi yang paling bijak.

Karena itu, diantara solusi yang paling baik adalah sering-sering bertemu. Kumpul setiap bulan walau hanya untuk acara makan-makan dan seruput kopi.

Ustadzuna pernah bertanya kepada seorang da'i senior di kota Riau yang cukup dikenal luas karena keilmuannya, dan dituakan dalam umurnya. Beliau berkata : "Ustadz, ana melihat begitu banyak pondok-pondok baru dan yayasan baru tumbuh menjamur di kota Antum, tapi kenapa antara du'at tidak pernah ada perselisihan yang berarti."

Beliau menjawab, "Kami di sana ada pertemuan rutin setiap bulan. Semua mudir pesantren, ketua yayasan dan pengurus-pengurusnya wajib hadir. Jika ada jadwal kajian pada hari itu, wajib diliburkan." 

Ustadzuna berkata, "Apa yang Antum lakukan setelah mengumpulkan para du'at disetiap pertemuan itu?"

Beliau menjawab, "Kita hanya kumpul untuk ngobrol-ngobrol santai, makan-makan sambil seruput kopi atau teh, bertukar cerita tentang bisnis, berbicara tentang masalah duniawi yang sekirangnya bisa mencairkan suasana. Dengan sering bertemu, akan hilang iri dan dengki, akan sirna hasad dan su'udzon, akan padam api pertikaian antara sesama du'at, dan akan tercipta atmosfir yang sejuk dan bersahabat."

Lalu Ustadzuna mempraktekkan hal tersebut ketika antara lembaga dakwah di kota Gresik mulai ada tanda-tanda perpecahan, beliau mengumpulkan semua ikhwah, lembaga dakwah, pengelola yayasan, kegiatannya adalah makan-makan, seruput kopi dan teh, bercerita tentang hal-hal yang meningkatkan persaudaraan dan keimanan. Bukan kajian ilmiyyah, tapi majelis makan-makan yang penuh berkah. Pertemuan itu pun memecahkan keheningan, mengurai pertikaian, menyatukan hati yang telah dipenuhi oleh su'udzon dan kebencian. 

Pertemuan seperti ini terlihat sederhana tapi besar manfaatnya. Dibutuhkan da'i yang bisa didengar oleh semua pihak, da'i yang berwibawa, yang disepakati keilmuannya, yang memiliki kafa-ah ilmiyyahkafaa-ah nafsiyyah, kafa-ah ijtimaa'iyyah, yang di tuakan dalam masalah ilmu dan umur, yang bijak dalam menyikapi perselisihan, bukan yang sumbu pendek, mudah terprovokasi, bukan yang pro sana dan pro sini, tapi yang benar-benar bijaksana, kibar, didengarkan ucapannya, dengan ini niscaya permasalahan-permasalahan dalam dakwah akan terurai, biidznillah.

4. Al-Mahaarah al-Ijtimaa'iyyah (kemampuan sosial)

Al-Mahaarah al-Ijtimaa'iyyah disebut juga kafa-ah ijtimaa'iyyah yaitu kemampuan seseorang da'i untuk berinteraksi, berkomunikasi, dan menyesuaikan diri dengan orang lain dalam kehidupan bermasyarakat, baik dalam rangka ta'aawun 'alal birr wat taqwa atau dalam rangka berdakwah dan saling kenal mengenal antara sesama manusia sebagaimana firman Allah Ta'ala :

«يَـٰٓأَيُّهَا ٱلنَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَـٰكُم مِّن ذَكَرٍۢ وَأُنثَىٰ وَجَعَلْنَـٰكُمْ شُعُوبًۭا وَقَبَآئِلَ لِتَعَارَفُوٓا۟ ۚ إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِندَ ٱللَّهِ أَتْقَىٰكُمْ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌۭ»

Artinya : "Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling takwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal." (QS. Al-Hujurat " 13)

Ayat ini menunjukkan bahwa interaksi sosial itu adalah sunnatullah yang akan terus berjalan hingga kapanpun, dan itu butuh keterampilan.

Dalam urusan yang berkaitan dengan interaksi sosial masyarakat dan sesama manusia, maka kita bisa melihat bagaimana Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam berinteraksi dengan kaum Quraisy dengan akhlak yang mulia, baik dalam dakwah maupun dalam pergaulan sehari-hari. Allah Ta'ala berfirman :

«وَإِنَّكَ لَعَلَىٰ خُلُقٍ عَظِيمٍۢ»

Artinya : "Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung." (QS. Al-Qolam : 4)

Karena itu, da'i yang memiliki kafa-ah ijtimaa'iyyah, ia akan bergaul dengan manusia dengan akhlak yang mulia. Berdakwah di masyarakat dengan adab dan akhlak serta tatakrama dan sopan santun, karena masyarakat tidak melihat pada luasnya ilmu seorang da'i, tapi bagaimana dia bermuamalah dengan mereka sehari-hari dengan akhlak yang baik. 

4.1. Berinteraksi Sosial dengan Perbuatan 

4.1.1. Gotong-royong

Termasuk kafa-ah ijtimaa'iyyah adalah seorang da'i terlibat dalam kegiatan masyarakat yang sifatnya tidak bertentangan dengan syariat, seperti gotong royong bersama masyarakat, kerja bakti membangun masjid, dll. Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam pernah terlibat dalam pembangunan Ka'bah bersama kaum Quraisy ketika itu, dan beliau mengangkat batu-batu dan meletakkan hajar Aswad ke tempatnya. Dalam kitab-kitab siroh disebutkan :

أرادت قريش بناء الكعبة لما وقعت بعض جدرانها من أثر السيل، وأخذ بعض السراق كنزها ولم تكن مسقوفة، فأجمعوا على ذلك وأن لا يدخل في بنائها إلا الطيب من أموالهم، ولا يدخل فيها مال من ربا أو مهر بغي، وأول من بدأ نقض الجدران الوليد بن المغيرة المخزومي وتبعه الناس وكانوا يهابون ذلك، ثم أخذوا في بنائها ورفعوها ثمانية عشر ذراعا، ولكن قصرت بهم النفقة الحلال فاقتصروا من مساحتها التي على قواعد إبراهيم - عليه السلام - وأخرجوا من الجهة الشمالية ستة أذرع وشيئا، وحجروا عليه ووسعوا في الحجر فكان مقوسا، وجعلوا للكعبة بابا واحدا، ورفعوه حتى لا يدخلها إلا من أرادوا

وقد شارك معهم النبي صلى الله عليه وسلم وكان ينقل الحجارة، ولما اختلفوا في وضع الحجر الأسود وكاد يقع بينهم الشر احتكموا لأول داخل من باب الصفا، فكان رسول الله صلى الله عليه وسلم هو أول داخل، ولما رأوه قالوا: هذا الأمين، ووفق صلى الله عليه وسلم في حل الإشكال بحل أرضى الجميع، وحقق العدل وقطع الفتنة، فدعا بثوب ثم وضع الحجر الأسود فيه وقال: ليأخذ كل رجل بطرف الثوب، ثم رفعوه فأخذه بيده الكريمة ووضعه في مكانه

"Quraisy ingin membangun Ka‘bah ketika sebagian dindingnya runtuh akibat banjir, dan sebagian pencuri telah mengambil harta simpanannya, sedangkan saat itu Ka‘bah belum beratap. Maka mereka sepakat atas hal itu, dan (mereka bersepakat) bahwa tidak akan dimasukkan ke dalam pembangunannya kecuali harta yang baik dari harta mereka. Dan tidak boleh dimasukkan ke dalamnya harta hasil riba ataupun upah dari hasil pelacuran. Orang pertama yang mulai merobohkan dinding-dindingnya adalah al-Walid bin al-Mughirah al-Makhzumi. Lalu orang-orang pun mengikutinya, dan mereka sebelumnya merasa takut melakukannya. Kemudian mereka mulai membangunnya dan meninggikannya hingga delapan belas hasta. Akan tetapi biaya yang halal tidak mencukupi mereka, maka mereka mengurangi luas bangunan yang berada di atas fondasi Nabi Ibrahim ‘alaihis salam. Mereka mengeluarkan dari sisi utara sekitar enam hasta lebih sedikit. Mereka membuat pagar (pembatas) di atasnya dan memperluas bagian Hijr, sehingga bentuknya menjadi melengkung. Mereka juga menjadikan Ka‘bah memiliki satu pintu saja, dan mereka meninggikannya agar tidak ada yang bisa memasukinya kecuali orang yang mereka kehendaki.

Dan sungguh Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam turut serta bersama mereka, dan beliau memindahkan batu-batu. Ketika mereka berselisih tentang peletakan Hajar Aswad dan hampir saja terjadi pertikaian di antara mereka, mereka sepakat menjadikan orang yang pertama masuk dari pintu Shafa sebagai penengah. Maka Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam adalah orang pertama yang masuk. Ketika mereka melihatnya, mereka berkata, "Inilah al-Amin (orang yang terpercaya)."

Beliau diberi taufik dalam menyelesaikan permasalahan itu dengan suatu penyelesaian yang membuat semua pihak ridha. Beliau menegakkan keadilan dan menghentikan fitnah. Maka beliau meminta sehelai kain, lalu meletakkan Hajar Aswad di atasnya dan berkata, “Hendaklah setiap orang memegang ujung kain.” Kemudian mereka mengangkatnya bersama-sama. Lalu beliau mengambilnya dengan tangan beliau yang mulia dan meletakkannya di tempatnya." (Shahiihul Atsar wa Jamiilul 'Ibar, hal. 81-82)

4.2. Melarang Kedzoliman

Termasuk kafa-ah ijtimaa'iyyah seorang da'i adalah ikut serta dalam perjanjian yang melarang kedzoliman, atau aturan yang membahas tentang aturan-aturan desa, kampung, RT, RW yang tidak bertentangan dengan syariat, seperti melarang berbuat maksiat; narkoba, minum khomr, berjudi, atau bentuk kedzoliman lainnya seperti pemukulan, pemalakan, penjarahan, perang suku dll, karena aturan dan perjanjian-perjanjian yang dibuat untuk kemaslahatan bersama seperti ini pernah diikuti oleh Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam dalam Hilful Fudhul, yaitu perjanjian yang mengharamkan segala bentuk kedzoliman di kota Makkah. 

Sebab munculnya perjanjian ini karena seorang laki-laki dari Zubaid yang datang ke Makkah membawa barang dagangannya lalu dibeli oleh al-'Ash bin Wa'il as-Sahmi, namun ia tidak mau membayar dan menunda-nunda memberikan bayarannya. Ia sudah meminta pertolong kepada orang-orang Quraisy namun tidak ada yang menolongnya, karena itu ia naik keatas bukit dan bersyair :

يا آل فهر لمظلوم بضاعته             ببطن مكة نائي الدار والنفر

 ومحرم أشعث لم يقض عمرته        يا للرجال وبين الحجر والحجر

 إن الحرام لمن تمت كرامته           ولا حرام لثوب الفاجر الغدر

"Wahai keluarga Fihr, bagi seorang yang terzalimi barang dagangannya, di tengah kota Makkah, jauh dari keluarga dan kaumnya.

Seorang yang berihram, kusut rambutnya, belum menunaikan umrahnya. Wahai para lelaki, (kezaliman ini terjadi) antara al-Hijr dan al-Hajar.

Sesungguhnya kehormatan itu bagi orang yang sempurna kemuliaannya, dan tidak ada kehormatan bagi pakaian si durjana yang khianat." 

 فمشى في ذلك الزبير بن عبد المطلب وقال: ما لهذا مترك! حتى اجتمعت قبائل من قريش في دار عبد الله بن جدعان التيمي، وتعاقدوا على أن لا يجدوا بمكة مظلوما من أهلها أو غيرهم إلا نصروه وقاموا معه حتى ينال حقه، وقد شهد هذا الحلف رسول الله صلى الله عليه وسلم قبل أن يكرمه الله بالرسالة، وقال بعد أن أكرمه الله بالرسالة : لقد شهدت في دار عبد الله بن جدعان حلفا ما أحب أن لي به حمر النعم، ولو دعيت به في الإسلام لأجبت. وهذا الحلف بناء على الحمية الجاهلية وبعد مكارم الأخلاق، ومن مفاخر العرب، ومن القيام بحقوق الإنسان ونصرة المظلوم

"Maka az-Zubair bin ‘Abdul Muththalib bergerak dalam perkara itu dan berkata, "Tidak boleh orang ini dibiarkan!", hingga berkumpullah beberapa kabilah dari Quraisy di rumah Abdullah bin Jud‘an at-Taimi. Mereka bersepakat bahwa mereka tidak akan membiarkan seorang pun terzalimi di kota Makkah, baik dari penduduknya maupun selain mereka, melainkan mereka akan menolongnya dan berdiri bersamanya sampai ia mendapatkan haknya.

Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam telah menyaksikan perjanjian ini sebelum Allah memuliakan beliau dengan risalah. Dan setelah Allah memuliakan beliau dengan risalah, beliau bersabda : 'Sungguh aku telah menyaksikan di rumah Abdullah bin Jud‘an suatu perjanjian yang aku tidak suka jika aku memiliki unta-unta merah sebagai gantinya. Seandainya aku diajak kepadanya dalam Islam, niscaya aku akan memenuhinya.'

Perjanjian ini berdiri di atas semangat jahiliah dalam membela kebenaran, dan termasuk kemuliaan akhlak, serta menjadi salah satu kebanggaan bangsa Arab, dan merupakan bentuk penegakan hak-hak manusia serta pembelaan terhadap orang yang dizalimi."  (Shahiihul Atsar wa Jamiilul 'Ibar, hal. 81)

4.3. Melanggar Perjanjian Damai

Dalam sejarah Islam, Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam pernah terlibat dalam perang akibat pelanggaran perjanjian damai dan penodaan terhadap kehormatan bulan haram.

Dalam Harbul Fijaar, peperangan terjadi antara Quraisy dan Kinanah melawan Qois 'Ailan. Qais 'Ailan memulai peperangan dan melanggar kehormatan bulan haram. Rasulullah  shallallahu 'alaihi wa sallam ikut berperang, dan usia beliau masih lima belas tahun. Tugas Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam adalah menyediakan anak panah untuk paman-paman beliau. Dan akhirnya peperangan ini dimenangkan oleh Quraisy dan Kinanah. 

وسميت بهذا الاسم لانتهاكهم حرمة الأشهر الحرم بالقتال فيها، وفجارات العرب كثيرة لكن التي شارك فيها رسول الله صلى الله عليه وسلم - وله من العمر خمس عشرة سنة - هي التي كانت بين قريش وكنانة وبين قيس عيلان، وكانت قيس هي البادئة بالقتال في الشهر الحرام ومشاركة النبي صلى الله عليه وسلم هي أنه كان يجهز لأعمامه النبل للرمي به وكان الظفر فيها لقريش وكنانة على قيس

"Dan (perang ini) dinamakan dengan nama tersebut karena pelanggaran mereka terhadap kehormatan bulan-bulan haram dengan melakukan peperangan di dalamnya.

Harbul Fijaar bangsa Arab itu banyak, namun yang diikuti oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam -saat beliau berumur lima belas tahun- adalah yang terjadi antara kabilah Quraisy dan Kinanah melawan Qais 'Ailan.

Kabilah Qais lah yang memulai peperangan pada bulan haram tersebut. Adapun bentuk partisipasi Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam adalah beliau menyiapkan anak panah bagi paman-paman beliau untuk dilemparkan (ke arah musuh), dan kemenangan dalam perang itu berada di pihak Quraisy dan Kinanah atas Qais." (Shahiihul Atsar wa Jamiilul 'Ibar, hal. 87)

Maka termasuk kafa-ah ijtimaa'iyyah, seorang da'i ikut berpartisipasi  dalam membela kehormatan bulan haram jika ada yang melanggar kehormatan bulan haram degnan memulai berperang dan melanggar perjanjian damai, sebagaimana yang dilakukan oleh Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam dalam Harbul Fijaar, namun ini tidak berlaku dalam perang suku dan perang antar kampung yang terjadi di tempat kita. 

Perang suku di tempat kita terjadi karena fanatisme kesukuan dan kelompok semata, bukan karena membela kemuliaan bulan haram. Seandainya suku-suku ini seperti keadaan Quraisy dan Kinanah dan Qois 'Ailan melakukan perjanjian damai dan memuliakan bulan haram, lalu salah satunya melanggar perjanjian damai dan melanggar kehormatan bulan haram, maka melawan suku yang memulai perang dan melanggar perjanjian damai serta melanggar kehormatan bulan haram termasuk kafa-ah ijtima'iyyah, namun peperangan di tempat kita murni karena fanatisme kelompok dan kesukuan yang haram untuk diikuti. 

Kisah diatas menunjukkan interaksi sosial Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam di tengah-tengah masyarakat suku Quraisy sangat realistis. Dan seorang da'i yang memiliki kafa-ah ijtima'iyyah hendaknya tahu mana permasalahan-permasalahan sosial di tengah masyarakat dan kesukuan yang ia bisa terlibat di dalamnya dan mana yang tidak. 

4.4. Menghadiri Undangan

Diantara hadits-hadits yang berbicara tentang interaksi sosial adalah perintah untuk menghadiri undangan, diantaranya undangan walimah, selama tidak ada kemungkaran di dalamnya. Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda : 

((إذا دعي أحدكم إلى الوليمة فليأتها))

"Apabila salah seorang di antara kalian diundang ke walimah, maka hendaklah ia mendatanginya." (HR. Al-Bukhari dan Muslim dalam Ta'liiqul Muqni 'ala Zaadil Mustaqni', 3/132)

Beliau juga bersabda :

((إذا دعي أحدكم فليجب، فإن كان صائما فليصل، وإن كان مفطرا فليطعم))

"Apabila salah seorang di antara kalian diundang, maka hendaklah ia memenuhi (undangan itu). Jika ia berpuasa, maka hendaklah ia mendoakan. Jika tidak berpuasa, maka hendaklah ia makan." (HR. Muslim dalam Ta'liiqul Muqni 'ala Zaadil Mustaqni', 3/133)

4.5. Bergaul dengan Manusia dengan Akhlak yang Baik

Dan diantara bentuk interaksi kita di tengah masyarakat bertegur sapa dengan mereka, berbicara dengan mereka dengan adab dan tata krama, bermuamalah dengan mereka dengan cara yang paling baik. Allah Ta'ala berfirman :

    وَقُولُوا۟ لِلنَّاسِ حُسْنًۭا»

 Artinya : "Serta ucapkanlah kata-kata yang baik kepada manusia." (QS. Al-Baqaroh : 83)

Inti dari adab terhadap manusia ada pada empat hal, (1) ucapan yang baik, (2) perbuatan yang baik, (3) tidak mengganggu manusia dengan ucapan, (4) tidak mengganggu manusia dengan perbuatan. 

Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam dikenal di tengah kaumnya sebagai pribadi yang memiliki akhlak yang mulia. Bahkan orang-orang jahiliyyah sering menitipkan barang-barang mereka kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam karena keutamaan akhlaknya. Oleh sebab itu, diawal-awal perintah untuk berdakwah terang-terangan, beliau shallallahu 'alaihi wa sallam menyeru kaumnya di atas bukit Shafa dan mengingatkan mereka tentang ancaman dan adzab. Imam Bukhari dan Muslim meriwayatkan dari Ibnu Abbas, ia berkata : 

 لما نزلت «وَأَنْذِرْعَشِيرَتَكَ الْأَقْرَبِينَ» نادى رسول الله في قريش بطنا بطنا فقال ارأيتم لو قلت لكم ان خيلا بسفح هذا الجبل اكنتم مصدقي قالوا نعم ما جربنا عليك كذبا قط قال فاني نذير لكم بين يدي عذاب شديد فقال ابو لهب تبا لك الهذا جمعتنا فانزل الله «تَبَّتْ يَدَا أَبِي لَهَبٍ وَتَبَّ» الى اخر السورة

"Tatkala turun ayat «Dan berilah peringatan kepada kerabatmu yang terdekat», Rasulullah memanggil orang-orang Quraisy, kabilah demi kabilah. Lalu beliau berkata : 'Bagaimana pendapat kalian, jika aku katakan kepada kalian bahwa ada pasukan berkuda di kaki gunung ini, apakah kalian akan membenarkanku?' Mereka menjawab: 'Ya, kami tidak pernah mendapati engkau berdusta sama sekali.' Beliau bersabda : 'Maka sesungguhnya aku adalah pemberi peringatan bagi kalian akan azab yang keras yang ada di hadapan kalian.'

Maka Abu Lahab berkata: 'Celakalah engkau! Untuk inikah engkau mengumpulkan kami?' Maka Allah menurunkan (firman-Nya  yang artinya)  : «Binasalah kedua tangan Abu Lahab dan benar-benar dia akan binasa» hingga akhir surat."  (Shahiihul Atsar wa Jamiilul 'Ibar, hal.103-104)

Pengakuan Quraisy, 'Ya, kami tidak pernah mendapati engkau berdusta sama sekali merupakan kesepakatan dikalangan mereka bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam memiliki budi pekerti yang baik. Karena itu Allah Ta'ala menjelaskan sifat beliau dalam firman-Nya : 

«وَإِنَّكَ لَعَلَىٰ خُلُقٍ عَظِيمٍۢ»

Artinya : "Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung." (QS. Al-Qolam : 4)

Dan seorang da'i hendaknya memiliki akhlak yang terpuji di tengah masyarakat, memiliki kafa-ah ijtimaa'iyyah sebelum ia berdakwah dan mengajak manusia kepada jalan Allah dan kebenaran Islam yang mulia ini. Seandainya seorang da'i memiliki akhlak yang buruk di tengah masyarakat, niscaya dakwahnya tidak akan diterima.

4.6. Menjaga Lisan di tengah Masyarakat  

Sebagai seorang da'i yang hidup di tengah komunitas sosial, menjaga lisan dan tangan adalah dua hal yang sangat penting dan termasuk diantara kafa-ah ijtimaa'iyyah. Manusia tidak melihat pada banyaknya ilmu sang da'i, tapi yang mereka lihat adalah akhlak yang nampak dari ucapan dan perbuatannya.
 
Permasalahan yang paling banyak terjadi di tengah masyarakat adalah dosa lisan dan tangan. Dalam sebuah hadits disebutkan :

عن عبد الله بن مسعود رضي الله تعالى عنه أن النبي صلى الله عليه وسلم قال : ((سباب المسلم فسوق وقتاله كفر))

Dari Abdullah bin Mas'ud radhiyallahu Ta'ala 'anhu bahwasanya Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda : "Mencaci maki seorang muslim adalah kefasikan dan membunuhnya adalah kekafiran." (HR. Al-Bukhari, no.48. Muslim no.64)

Mencaci maki adalah perbuatan lisan, membunuh adalah perbuatan tangan, dan seorang da'i yang memiliki kafa-ah ijtimaa'iyyah ia akan menjauhi dua sifat di atas. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda :

 ((المسلم من سلم اكمسلمون من لسانه ويده))

"Orang muslim (yang paling baik akhlaknya), yang muslim lainnya selamat dari gangguan lisan dan tangannya." (HR. Al-Bukhari, no.10)

Dua jenis gangguan yang disebutkan berkaitan erat dengan akhlak, (1) ganggaun lisan, (2) gangguan tangan. Gangguan lisan dengan mencela, menggunjing, mencaci. Gangguan tangan dengan memukul, menampar, dll. Dua hal ini paling banyak terjadi di tengah masyarakat, dan poin pertama sering terjadi dalam kancah dakwah. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam juga bersabda :

((من كان يؤمن بالله واليوم الآخر، فليقل خيرًا أوليصمت))
 
"Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah dia berkata baik atau diam." (HR. Al-Bukhari, no.6475. Muslim, no.47)

Berbicara dengan dasar ilmu tidak tercela, namun ketika ikut berbicara padahal ia bukan ahlinya, maka yang selamat adalah banyak diam, dan yang akan binasa adalah banyak bicara. Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda :

((أكثر خطايا ابن آدم في لسانه))

"Kebanyakan kesalahan anak Adam itu berada pada lisannya." (Shahih Targhiib, no.2872)

Pada hari ini kita butuh da'i-da'i yang memiliki kafa-ah ijtimaa'iyyah disaat banyaknya da'i-da'i yang saling menggibah satu sama lain. Duduk minum di kafe, yang dibicarakan adalah aib kaum muslimin,  duduk melingkar sehabis kajian, yang diperbincangkan adalah aib manusia, padahal satu ucapan bisa menggelincirkan kedalam neraka sejauh barat dan timur. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda :

((إن العبد ليتكلم بالكلمة ما يتبين ما فيها، يهوي بها في النار أبعد ما بين المشرق والمغرب))

"Sesungguhnya seorang hamba benar-benar mengucapkan satu kata yang ia tidak memperhatikannya (tidak memikirkan kejelekan dan dampaknya), ternyata menggelincirkannya ke dalam neraka sejauh jarak antara timur dan barat." (HR. Al-Bukhari, no. 6477. Muslim, no.2988)

Ghibah itu termasuk dosa yang menjijikkan, tapi syaithon terus menghias-hiasi majelis mereka dengan kalimat-kalimat indah atas nama dakwah. Allah Ta'ala berfirman :

«يَـٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ ٱجْتَنِبُوا۟ كَثِيرًۭا مِّنَ ٱلظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ ٱلظَّنِّ إِثْمٌۭ ۖ وَلَا تَجَسَّسُوا۟ وَلَا يَغْتَب بَّعْضُكُم بَعْضًا ۚ أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَن يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتًۭا فَكَرِهْتُمُوهُ ۚ وَٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ تَوَّابٌۭ رَّحِيمٌۭ» فَكَرِهْتُمُوهُ ۚ وَٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ تَوَّابٌۭ رَّحِيمٌۭ

Artinya : "Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan purba-sangka (kecurigaan), karena sebagian dari purba-sangka itu dosa. Dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang." (QS. Al-Hujurat : 12)

Permasalahan di tengah masyarakat, bahkan di tengah komunitas pecinta dakwah yang paling banyak terjadi saat ini adalah saling menghibah satu sama lain. Jika orang-orang yang telah mengetahui hukum ghibah pun bisa terjatuh dalam ghibah, lalu bagaimana dengan masyarakat umum? Padahal ghibah itu dosa besar. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam pernah bersabda : 

((أتدرون ما الغيبة؟ قالوا : الله و رسوله أعلم، قال : ذكرك أخاك بما يكره، قيل : أفرأيت إن كان في أخي ما اقول؟ قال : إن كان فيه ما تقول فقد اغتنته، و إن لم يكن فيه فقد بهته))

"Apakah kalian tau apa itu ghibah? Para sahabat berkata : Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui, beliau bersabda : 'Engkau mengatakan tentang saudaramu apa-apa yang dia benci, dikatakan (kepada Rasulullah) : Bagaimana pendapatmu jika apa yang saya bicarakan itu memang ada pada saudaraku? Nabi bersabda : Jika benar yang kamu katakan maka sungguh engkau telah menghibahinya, jika tidak benar maka engkau telah berdusta." (Rifqon Ahlas Sunnah bi Ahlis Sunnah, hal. 2021)

Selain hal-hal diatas, orang yang senang ghibah termasuk orang yang bangkrut nanti pada hari kiamat. Nabi shallalahu 'alaihi wa sallam bersabda :

((أتدرون من المفلس؟ قالوا : المفلس فينا من لا درهم له ولا متاع، فقال : إن المفلس من أمتي يأتي يوم القيامة بصلاة وصيام وزكاة، ويأتي قد شتم هذا، وقذف هذا، وأكل مال هذا، وسفك دم هذا، وضرب هذا، فيعطى هذٰا من حسناته، وهذٰا من حسناته، فإن فنيت حسناته قبل أن يقضى ما ععليه أخذ من خطياهم فطرحت عليه، ثم طرح في النار)).

"Apakah kalian tahu orang yang bangkrut?" Para sahabat berkata : 'Orang yang bangkrut menurut kami adalah orang yang tidak memiliki dirham (uang) dan tidak pula memiliki harta benda.' Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda : 'Sesungguhnya orang yang bangkrut dari umatku pada hari kitamat yaitu orang yang datang dengan (amal) sholat, puasa, zakat, namun ia telah mencela ini (seseorang), memfitnah orang, memakan harta orang, menumpahkan darah orang dan memukul orang. Dan diberi orang ini dari kebaikannya, dan orang ini dari kebaikannya (pula), apabila amal kebaikannya habis sebelum terbayar tanggungannya, maka diambil dari dosa-dosa mereka (yang terdzolimi) lalu ditimpakan kepadanya, kemudian dia dilemparkan kedalam neraka." (Rifqan Ahlas Sunnah bi Ahlis Sunnah, hal. 22)

Jika bangkrut menimpa kita saat kita berada di dunia, mungkin kita masih bisa mencari modal baru. Namun tatkala bangkrut terjadi di akhirat, akibatnya akan sangat fatal. Seluruh pahala orang yang menggibahi akan diberikan kepada orang yang di ghibahi, jika pahalanya sudah habis, maka dosa orang yang dighibahi akan ditimpakan kepada orang yang mengghibahi. Inilah kerugian yang terbesar.  Waliyaadzubillah.

Kita sangat butuh kepada amal sholeh, jika kita terus sibuk menggibahi orang lain, maka sama saja kita telah memberikan pahala amalan kita kepada orang lain secara cuma-cuma. Jelas ini sangat merugi. 

4.7. Menjaga Tangan dan Jari Jemari

Menjaga tangan dan jari-jemari termasuk menjaga sikap, baik di tengah masyarakat atau di khalayak ramai atau di sosial media. Seorang da'i yang memiliki kafa-ah ijtimaa'iyyah tidak akan ceroboh dalam masalah ini.

Bala' dan kerusakan sering timbul karena perbuatan tangan dan jari-jemari. Menampar, memukul, menyakiti dengan tangan adalah perbuatan dzolim. Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda :

 ((الظلم ظلمات يوم القيامة))

"Kedzoliman adalah kegelapan pada hari kiyamat." (HR. Al-Bukhari, no. 2447 dan Muslim, no. 6579 dalam Bahjatu Quluubil Abraar, hal.58)

Adapun dengan jari-jemari berupa hujatan, cacian, makian, tulisan, maka hal itu juga termasuk kedzoliman yang kelak akan menjadi penyesalan bagi pelakunya pada kiyamat.

Penyair mengatakan :

كتبت وقد أيقنت يوم كتابتي           بأن يدي تنفى ويبقى كتابها

فإن عملت خيرا ستجزى بمثله       وإن عملت شرا علي حسابها

"Aku telah menulis dan aku sungguh yakin di hari aku menulisnya, bahwasannya tanganku akan binasa dan akan kekal tulisannya.
Apabila tangan-ku berbuat kebaikan maka dia akan dibalas dengan yang semisalnya, dan jika tanganku melakukan keburukan maka bagiku pertanggungjawabannya." (Rifqan Ahlas Sunnah bi Ahlis Sunnah, hal.16).

Sifat tulisan, akan kekal walaupun zaman berganti zaman. Adapaun tangan yang menggoreskan tulisan, akan binasa oleh waktu dan usia. 

Seorang penyair mengatakan :

"Tinggalkanlah kebaikan meskipun hanya sebuah tulisan atau sebauh sajak.
Karena jasad manusia akan mati dan akan kekal tulisannya."

Karena itu, keempat sifat diatas adalah kriteria da'i sejati, (1) al-Mahaarah al-Ilmiyyah (keterampilan ilmu), (2) al-Mahaarah at-Tadriis (keterampilan mengajar), (3) al-Mahaarah al-Nafsiyyah (keterampilan psikologis), (4). al-Mahaarah al-Ijtimaa'iyyah (kemampuan sosial).

Semoga Allah menjaga kita dari sifat-sifat yang tercela, membimbing kita agar memiliki sifat-sifat yang terpuji, terutama empat sifat di atas, agar dakwah semakin diterima di tengah masyarakat.

Semoga tulisan ini bermanfaat, dan menjadi pemberat timbangan amal bagi kami di hari yang tidak bermanfaat harta dan anak-anak.

Wallahu a'lam.

***

Dompu, 11 Syawal 1446 H / 31 Maret 2026

Penulis : Abu Dawud ad-Dombuwiyy

Artikel : Meciangi-d.blogspot.com 

Related Posts:

0 Response to "4 KARAKTER DA'I SEJATI"

Post a Comment