PEMIMPIN DZOLIM KARENA RAKYATNYA DZOLIM

Bismillah. Alhamdulillahi Rabbil 'aalamiin. Wa shallallahu 'ala Nabiyyina Muhammadin wa 'ala aalihi wa shahbihi ajma'iin. Wa ba'du.

Allah memilihkan kepada suatu negeri pemimpin yang dzolim karena sebab rakyatnya yang dzolim. Tidak mungkin Allah memilihkan pemimpin seperti Abu Bakar jika rakyatnya adalah kita. Tugas kita adalah introspeksi diri dan banyak bertaubat, karena balasan setiap amalqn itu sesuai dengan perbuatannya.

Allah Ta'ala berfirman :

هَلْ جَزَاءُ الْإِحْسَانِ إِلَّا الْإِحْسَانُ 

Artinya : "Tidak ada balasan kebaikan kecuali kebaikan (pula)." (QS. Ar-Rahman : 60)

Dan balasan keburukan adalah keburukan yang serupa. Allah Ta'ala berfirman :

 وَمَنْ أَعْرَضَ عَنْ ذِكْرِي فَإِنَّ لَهُ مَعِيشَةً ضَنْكًا وَنَحْشُرُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَعْمَى. قَالَ رَبِّ لِمَ حَشَرْتَنِي أَعْمَى وَقَدْ كُنْتُ بَصِيرًا. قَالَ كَذَلِكَ أَتَتْكَ آيَاتُنَا فَنَسِيتَهَا وَكَذَلِكَ الْيَوْمَ تُنْسَى

Artinya : "Dan barang siapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sungguh, dia akan menjalani kehidupan yang sempit, dan Kami akan mengumpulkannya pada hari Kiamat dalam keadaan buta. Dia berkata, 'Ya Tuhanku, mengapa Engkau mengumpulkan aku dalam keadaan buta, padahal dahulu aku dapat melihat?. (Allah) berfirman, 'Demikianlah, telah datang kepadamu ayat-ayat Kami, tetapi engkau mengabaikannya; maka demikian pula pada hari ini engkau diabaikan.'" (QS. Ṭaha: 124-126).

Karena itu pemimpin yang dzolim buah dari rakyatnya yang dzolim. Perhatikan ucapan Ibnu Abil Izz al-Hanafi rahimahullah :

 وعن عوف بن مالك، عن رسول الله صلى الله عليه وسلم، قال: خيار ائمتكم الذين تحبونهم ويحبونكم، وتصلون عليهم، ويصلون عليكم، وشرار ائمتكم الذين تبغضونهم ويبغضونكم، وتلعنونهم ويلعنونكم، فقلنا: يا رسول الله، أفلا ننابذهم بالسيف عند ذلك؟ قال: لا، ما أقاموا فيكم الصلاة، ألا من ولي عليه وال، فرآه يأتي شيئا من معصية الله، فليكره ما يأتي من معصية الله، ولا ينزعن يدا من طاعة

فقد دل الكتاب والسنة على وجوب طاعة أولي الأمر، ما لم يأمروا بمعصية، فتأمل قوله تعالى: أطيعوا الله وأطيعوا الرسول وأولي الأمر منكم [النساء: ٥٩] كيف قال: وأطيعوا الرسول، ولم يقل: وأطيعوا أولي الأمر منكم؟ لأن أولي الأمر لا يفردون بالطاعة، بل يطاعون فيما هو طاعة لله ورسوله، وأعاد الفعل مع الرسول لأنه من يطع الرسول، فقد أطاع الله، فإن الرسول لا يأمر بغير طاعة الله، بل هو معصوم في ذلك، وأما ولي الأمر، فقد يأمر بغير طاعة الله، فلا يطاع إلا فيما هو طاعة لله ورسوله

وأما لزوم طاعتهم وإن جاروا، فلأنه يترتب على الخروج عن طاعتهم من المفاسد أضعاف ما يحصل من جورهم، بل في الصبر على جورهم تكفيرالسيئات، ومضاعفة الأجور، فإن الله تعالى ما سلطهم علينا إلا لفساد أعمالنا، والجزاء من جنس العمل، فعلينا الاجتهاد في الاستغفار والتوبة وإصلاح العمل، قال تعالى: ﴿وما أصابكم من مصيبة فبما كسبت أيديكم ويعفوا عن كثير﴾ [الشورى: ٣٠]، وقال تعالى: ﴿أو لما أصابتكم مصيبة قد أصبتم مثليها قلتم أنى هذا قل هو من عند أنفسكم﴾ [آل عمران: ١٦٥]، وقال تعالى: ﴿ما أصابك من حسنة فمن الله وما أصابك من سيئة فمن نفسك﴾ [النساء: ٧٩]، وقال تعالى: ﴿وكذلك نولي بعض الظالمين بعضا بما كانوا يكسبون﴾ [الأنعام: ١٢٩]. فإذا أراد الرعية أن يتخلصوا من ظلم الأمير الظالم، فليتركوا الظلم

وعن مالك بن دينار: أنه جاء في بعض كتب الله: أنا الله مالك الملوك، قلوب الملوك بيدي، فمن أطاعني، جعلتهم عليه رحمة، ومن عصاني، جعلتهم عليه نقمة، فلا تشغلوا أنفسكم بسب الملوك، لكن توبوا أعطفهم عليكم

Dan dari Auf bin Malik, dari Rasulullah semoga Allah menyanjungnya dan memberi keselamatan kepadanya, beliau bersabda: ((Sebaik-baik pemimpin kalian adalah orang-orang yang kalian mencintai mereka dan mereka pun mencintai kalian, serta kalian mendoakan (kebaikan) untuk mereka dan mereka pun mendoakan kalian. Dan seburuk-buruk pemimpin kalian adalah orang-orang yang kalian membenci mereka dan mereka pun membenci kalian, serta kalian melaknat mereka dan mereka pun melaknat kalian)).

Maka kami bertanya: "Wahai Rasulullah, bolehkah kami memerangi mereka dengan pedang ketika itu terjadi?"

Beliau menjawab: ((Jangan, selama mereka masih mendirikan shalat di tengah-tengah kalian. Ketahuilah, barangsiapa yang dipimpin oleh seorang pemimpin, lalu dia melihat pemimpinnya itu melakukan sesuatu dari tindakan maksiat kepada Allah, maka hendaklah dia membenci apa yang dilakukannya dari maksiat kepada Allah tersebut, dan janganlah sekali-kali dia melepas ketaatan kepada pemimpin itu)).

Maka sungguh al-kitab dan sunnah telah menunjukkan atas wajibnya menaati ulil amri, selama mereka tidak memerintahkan kepada maksiat. Maka renungkanlah firman Allah Ta'ala (yang artinya): "Taatilah Allah dan taatilah Rasul, serta ulil amri di antara kamu" [An-Nisa: 59].

Bagaimana Dia berfirman: وأطيعوا الرسول ((Dan taatilah rasul)), namun tidak berfirman: وأطيعوا أولي الأمر منكم؟ (Dan taatilah ulil amri di antara kamu"?).

Karena sesungguhnya ulil amri tidak ditaati secara mutlak, melainkan mereka ditaati dalam hal yang merupakan ketaatan kepada Allah dan rasul-Nya saja. Dan Allah mengulang kata kerja وأطيعوا (taatilah) pada kalimat rasul karena barangsiapa yang menaati rasul, maka sungguh dia telah menaati Allah. Sebab sesungguhnya rasul tidak akan memerintahkan selain ketaatan kepada Allah, bahkan beliau terjaga dalam hal itu. Adapun pemimpin, maka terkadang ia memerintahkan kepada selain ketaatan kepada Allah, sehingga ia tidak boleh ditaati kecuali semata-mata dalam hal yang merupakan ketaatan kepada Allah dan rasul-Nya.

Adapun keharusan menaati mereka walaupun mereka berbuat dzalim, hal itu karena dampak yang timbul akibat keluar dari ketaatan kepada mereka berupa kerusakan, itu berlipat ganda daripada kerusakan yang timbul akibat kedzaliman mereka. Bahkan, di dalam bersabar atas kedzaliman mereka terdapat penghapusan dosa dan pelipatgandaan pahala, karena sesungguhnya Allah Ta'ala tidaklah memberikan kekuasaan kepada mereka atas kita (memimpin kita) melainkan disebabkan oleh rusaknya amal perbuatan kita sendiri, dan balasan itu sesuai dengan jenis perbuatan. Maka wajib atas kita untuk bersungguh-sungguh dalam beristighfar, bertaubat, dan memperbaiki amal perbuatan.

Allah Ta'ala berfirman (yang artinya): "Dan musibah apa pun yang menimpa kamu adalah karena perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan banyak (dari kesalahan-kesalahanmu)." [Asy-Syura: 30].

Dan Allah Ta'ala berfirman (yang artinya): "Dan mengapa ketika kamu ditimpa musibah (pada peperangan Uhud), padahal kamu telah menimpakan kekalahan dua kali lipat kepada musuh-musuhmu (pada peperangan Badar), kamu berkata: 'Dari mana datangnya (kekalahan) ini?' Katakanlah: 'Itu dari (kesalahan) dirimu sendiri'" [Ali 'Imran: 165].  

Dan Allah Ta'ala berfirman (yang artinya): "Kebajikan apa pun yang kamu peroleh adalah dari Allah, dan keburukan apa pun yang menimpamu, itu dari (kesalahan) dirimu sendiri" [An-Nisa: 79].

Dan Allah Ta'ala berfirman (yang artinya): "Dan demikianlah Kami jadikan sebagian orang-orang yang dzalim itu menguasai sebagian yang lain disebabkan apa yang telah mereka kerjakan" [Al-An'am: 129].

Maka apabila rakyat ingin selamat dari kedzaliman pemimpin yang dzalim, hendaklah mereka meninggalkan kedzaliman.

Dan dari Malik bin Dinar: Bahwasanya telah termaktub dalam sebagian kitab-Kitab Allah: "Aku adalah Allah, Penguasa para raja. Hati para raja berada di tangan-Ku. Barangsiapa yang menaati-Ku, niscaya Aku jadikan mereka (para raja) sebagai rahmat baginya. Dan barangsiapa yang mendurhakai-Ku, niscaya Aku jadikan mereka sebagai siksaan/petaka baginya. Maka janganlah kalian menyibukkan diri kalian dengan mencerca para raja, akan tetapi bertaubatlah kalian, niscaya Aku akan lembutkan hati mereka kepada kalian." (Syarh al-Aqidah ath-Thohawiyyah, 2/181-182)

***

Rumah Sakit Mabarot, Bungah - Gresik, 26 Muharrom 1448 H / 11 Juli 2026 M

Penulis : Abu Dawud ad-Dumbuwiyy

Artikel : Meciangi-d.blogspot.com 

Related Posts:

0 Response to "PEMIMPIN DZOLIM KARENA RAKYATNYA DZOLIM"

Post a Comment