
Bismillah. Alhamdulillah. wa shallallahu 'ala Nabiyyina Muhammadin wa 'ala aalihi wa shahbihi ajma'iin. Wa ba'du.
Seorang da'i adalah panutan, ia adalah qudwah, karena ia mengambil posisi penting tugas kenabian dan kerasulan yaitu mengajak manusia kepada jalan Allah Ta'ala. Dan para nabi 'alaihimussalam berdakwah dengan ilmu, kemampuan mendidik dan mengajarkan umat dengan penuh hikmah, diiringi dengan adab dan akhlak yang mulia, dan mereka bergaul dengan manusia dengan penuh kesabaran.
Karena itu ada 4 karakter seorang da'i sejati dalam dunia dakwah, ke empat hal ini akan membentuk sang da'i menjadi teladan, panutan, rujukan dalam kebaikan sebagai penerus perjuangan para nabi dan rasul, simbol kertakwaaan yang memunculkan kewibawaan dihadapan umat. Ke empat hal tersebut antara lain :
1. al-Mahaarah al-Ilmiyyah (keterampilan ilmu)
2. al-Mahaarah at-Tadriis (keterampilan mengajar)
3. al-Mahaarah al-Nafsiyyah (keterampilan psikologis)
4. al-Mahaarah al-Ijtimaa'iyyah (kemampuan sosial)
1. Al-Mahaarah al-Ilmiyyah (keterampilan ilmu)
Al-Mahaarah al-Ilmiyyah adalah kemampuan seorang da'i dalam penguasaan ilmu syar'i yang kuat dan benar. Sehingga dengan keterampilan ini, dakwahnya tidak sekadar opini, tetapi berdasarkan ilmu yang shahih dan dapat dipertanggungjawabkan.
Al-Mahaarah al-Ilmiyyah dinamakan juga dengan kafa-ah ilmiyyah, yakni kemapanan seorang da'i dalam menguasai ilmu dan cabang-cabangnya pada bidang yang ia tekuni. Jika ia mendalami ilmu fiqih, maka ia menguasai segala hal yang berkaitan dengan ilmu fiqih dan turunannya tanpa terkecuali, seperti ilmu tentang ushul fiqih, qowaid fiqhiyyah, maqoshid syar'iyyah, tafsir ayat-ayat ahkam, hadits-hadits ahkam, taarikh fiqh, faroid, dll.
Ketika ia menyampaikan ilmu, yang keluar bukan fatwa-fatwa aneh, tapi ilmu yang bersumber dari al-Qur'an dan sunnah. Ia memahami dalil secara mendalam bukan sekedar ucapan tanpa dasar. Allah Ta'ala berfirman :
«قُلْ هَلْ يَسْتَوِى ٱلَّذِينَ يَعْلَمُونَ وَٱلَّذِينَ لَا يَعْلَمُونَ»
Artinya : "Katakanlah: "Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?" (QS. Az-Zumar : 9)
Tentu tidak sama orang yang berilmu dengan orang yang mengaku punya ilmu, karena orang-orang yang berilmu, ia adalah da'i sejati, yang Allah angkat derajatnya sebagaimana firman Allah Ta'ala :
«يَرْفَعِ ٱللَّهُ ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ مِنكُمْ وَٱلَّذِينَ أُوتُوا۟ ٱلْعِلْمَ دَرَجَـٰتٍۢ ۚ وَٱللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌۭ»
Artinya : "Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan." (QS. Al-Mujadilah : 11)
Dalam ayat yang lain Allah Ta'ala juga berfirman :
«شَهِدَ ٱللَّهُ أَنَّهُۥ لَآ إِلَـٰهَ إِلَّا هُوَ وَٱلْمَلَـٰٓئِكَةُ وَأُو۟لُوا۟ ٱلْعِلْمِ قَآئِمًۢا بِٱلْقِسْطِ ۚ لَآ إِلَـٰهَ إِلَّا هُوَ ٱلْعَزِيزُ ٱلْحَكِيمُ»
Artinya : "Allah bersaksi bahwasanya tidak ada Tuhan melainkan Dia (yang berhak disembah), Yang menegakkan keadilan. Para Malaikat dan orang-orang yang berilmu (juga menyatakan yang demikian itu). Tak ada Tuhan melainkan Dia (yang berhak disembah), Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana." (QS. Ali Imran : 18)
Ibnu Katsir rahimahullah mengatakan dalam tafsirnya :
ثم قرن شهادة ملائكته وأولي العلم بشهادته، فقال «شَهِدَ ٱللَّهُ أَنَّهُۥ لَآ إِلَـٰهَ إِلَّا هُوَ وَٱلْمَلَـٰٓئِكَةُ وَأُو۟لُوا۟ ٱلْعِلْمِ» وهذه خصوصية عظيمة للعلماء في هذا المقام
"Kemudian Allah menggandeng persaksian para malaikat-Nya dan persaksian orang-orang yang berilmu dengan persaksian-Nya sendiri, Dia berfirman : «Allah bersaksi bahwasanya tidak ada Tuhan melainkan Dia (yang berhak disembah), dan para Malaikat dan orang-orang yang berilmu (juga menyatakan yang demikian itu)», dan ini adalah kekhususan yang agung (besar) untuk para ulama pada martabat ini." (Tafsir Ibnu Katsir, 1/321)
Ini menunjukkan keutamaan orang-orang yang berilmu, khususnya para ulama yang tentunya telah memiliki kapasitas yang sangat mendalam dalam masalah ilmu, dan itulah yang disebut sebagai kafa-ah ilmiyyah.
1.1. Menimbang Mashlahat dan Mudhorot
Diantara bentuk kafa-ah ilmiyyah ini adalah, seorang da'i ia memiliki pengetahuan kapan ia harus berbicara dan kapan harus diam, kapan harus mentahdzir dan kapan harus berhenti, kapan harus amar ma'ruf nahi mungkar dengan tangan, lisan dan kapan dengan hati, dan semua itu butuh kematangan ilmu dan kejelian dalam menimbang mashlahat dan mudhorot, sebab nasihat selain tersampaikan, juga harus baik caranya agar diterima.
Imam Asy-Syafi'i mengatakan :
تعمدني بنصحك في انفرادي وجنبني النصيحة في الجماعه
فإن النصح بين الناس نوع من التوبيخ لا أرضى استماعه
وإن خالفتني وعصيت قولي فلا تجزع إذا لم تعط طاعه
"Nasihatilah aku saat sendirian, dan jangan menasihati di tengah keramaian.
Karena nasihat di hadapan orang banyak terasa seperti celaan yang tidak ingin kudengar.
Jika engkau menyelisihiku dan tidak mengikuti perkataanku,
maka jangan engkau kecewa jika nasihatmu tidak ditaati." (Diwan Asy-Syafi'i, hal.90)
Kita sering merasa kecewa kenapa amar ma'ruf nahi mungkar kita tidak diterima, nasihat-nasihat kita tidak didengar, barangkali ada yang salah dalam penyampaiannya. Da'i yang memiliki kafa-ah ilmiyyah ia akan cerdas melihat hal itu.
Diantara bentuk nasihat atau amar ma'ruf nahi mungkar yang sulit diterima oleh pihak yang ingin dinasihati adalah menyampaikan secara terang-terangan di sosial media. Tujuannya mungkin mengingingkan kebaikan bagi yang dinasihati, tapi yang ada hanyalah hiruk-pikuk saling sindir dan saling membantah yang tidak akan ada ujungnya.
Jika permasalahan seperti ini terjadi di tengah umat, apalagai sesama ahlus sunnah, sedangkan orang-orang awam yang tidak tahu menahu permasalahan justru tahu ada masalah dalam tubuh salafiyyun, dalam lembaga dakwah salafiyyun, mereka akan lari menjauh dari dakwah yang haq ini karena akhlak da'i-da'nya, atau ahlul bid'ah yang mengetahui permasalahan seperti itu, membaca "nasihat-nasihat" keumatan yang terkesan fulgar di sosial media dengan dalil agar umat tahu, akan menjadikan mereka menemukan celah untuk merusak kemuliaan dakwah salaf yang mulia ini.
Umat mana yang harus tahu permasalahan seperti ini, apakah semua umat? Apakah para salafiyyun, para muhsinin, orang-orang awam, para ahlul bid'ah, atau umatan qoonitan seperti Nabi Ibrahim 'alaihis salam? Karena itu, da'i yang memiliki kafa-ah ilmiyyah, ia akan melihat mashlahat dan mudhorot dalam setiap tindakannya. Sebuah kaidah mengatakan :
درء المفاسد أولى من جلب المصالح
"Menghilangkan kemudhorotan lebih didahulukan daripada mengambil sebuah kemashlahatan."
Contoh nyata permasalahan ini di zaman kenabian adalah mencela sesembahan orang-orang kafir, dan mencela sesembahan orang-orang kafir mashlahatnya banyak, diantaranya akan menurunkan derajat sesembahan mereka, namun pada sisi lain mudhorotnya juga lebih besar, mereka akan mencaci maki Allah 'Azza wa jalla dengan melampaui batas, maka Allah larang hal tersebut.
ففي سب آلهة المشركين مصلحة وهي تحقير دينهم وإهانتهم، ولكن سيترتب على ذلك مفسدة، وهي سي الله تعالى عدوا وكفرا على وجه المقابلة، فنهى الله تعالى المسلمين عن ذلك
"Apabila bertemu antara maslahat dan mafsadat, lebih diutamakan menghilangkan mafsadat walapun akan hilang maslahat, karena menghilangkan mafsadat lebih diutamakan daripada mengambil maslahat. Ad-dar-u berarti menolak (atau mencegah).
Diantara dalilnya firman Allah Ta'ala (yang artinya) : «Dan janganlah kamu memaki sembahan-sembahan yang mereka sembah selain Allah, karena mereka nanti akan memaki Allah dengan melampaui batas tanpa pengetahuan». [QS. Al-An'am : 108].
Berkata Syaikh Doktor Muhammad Shidqi mengomentari kaidah di atas :
وقول صلى الله عليه وسلم : ((إذا أمرتكم بالشيء فخذوا به ما استطعتم، وإذا نهيتكم عن شيء فاجتنبوه))
"Makna kaidah : Yang dimaksud dengan menolak kerusakan (dar’u al-mafasid) ialah mencegahnya, menghilangkannya, dan membersihkannya.
Apabila terjadi pertentangan antara suatu mafsadat dan maslahat, maka menghilangkan mafsadat pada umumnya lebih didahulukan, kecuali jika mafsadat tersebut dapat dikalahkan (lebih ringan). Hal ini karena perhatian syariat terhadap meninggalkan perkara-perkara yang dilarang lebih besar daripada perhatiannya terhadap melaksanakan perkara-perkara yang diperintahkan, disebabkan dampak bahaya yang ditimbulkan oleh larangan-larangan tersebut bertentangan dengan tujuan hukum syariat dalam menetapkan larangan.
Dalil-dalil kaidah :
1. Firman Allah Ta'ala (yang artinya) : «Dan janganlah kamu memaki sembahan-sembahan yang mereka sembah selain Allah, karena mereka nanti akan memaki Allah dengan melampaui batas tanpa pengetahuan».
Dalam mencaci sesembahan orang-orang kafir terdapat suatu kemaslahatan, yaitu merendahkan agama mereka dan menghina kesyirikan mereka kepada Allah Subhaanahu. Akan tetapi ketika perbuatan itu mengandung mafsadat, yaitu mereka membalas cacian tersebut dengan mencaci Allah ‘Azza wa Jalla, maka Allah Subhaanahu wa Ta‘ala melarang mencaci mereka demi menolak mafsadat tersebut.
Dan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda :
“Apabila aku memerintahkan kalian untuk melakukan sesuatu, maka lakukanlah semampu kalian. Dan apabila aku melarang kalian dari sesuatu, maka jauhilah hal tersebut.” (Al-Wajiiz fii Iidhaah Qowaaid Fiqhiyyah, hal.265)
Meninggalkan perkara-perkara yang dilarang, lebih besar daripada perhatiannya terhadap melaksanakan perkara-perkara yang diperintahkan, karena melaksanakan perintah itu semampu kita, bukan memberat-beratkan diri padahal tidak mampu.
Namun demikian, kaidah ini juga tidak berlaku secara mutlak, namun harus diperinci dengan melihat besar kecilnya mashlahat dan mafsadat. (1) Jika mafsadatnya lebih besar dibanding maslahatnya, menghilangkan mafsadat lebih dikedepankan daripada mengambil mashlahat. (2) Jika mashlahatnya lebih besar dibanding dengan mafsadatnya, maka mengambil mashlahat lebih diutamakan daripada menghilangkan mafsadat. (3) Jika mashlahat dan mafsadat sama-sama kuat dan seimbang, maka menghilangkan mafsadat lebih didahulukan daripada mengambil mashlahat.
1.2. Amar Ma'ruf Nahi Mungkar tidak Boleh Serampangan
Terkadang, kita terlalu semangat ingin amar ma'ruf nahi mungkar apalagi di sosial media, tapi yang muncul malah kekacauan, keributan, kegaduhan, dan tidak jarang ucapan-ucapan "nasihat" yang terlihat seperti mengejek dan mengolok-olok, merendahkan wibawa saudaranya dan ini sangat banyak terjadi sebagaimana realita yang ada.
Beramar ma'ruf nahi mungkar apalagi di depan publik, di media sosial, butuh ilmu, karena yang akan membaca pertikaian dan perselisihan kita adalah umat yang awam, yang tidak tahu menahu permasalahan yang sedang dibahas atau dibicarakan, sehingga para ahlul bid'ah pun membaca dan menyimak, menjadi bahan ejekan dan senjata untuk menjatuhkan dakwah dan manhaj salaf yang mulia ini, sehingga wibawa dakwah yang haq menjadi tercoreng di mata orang-orang awam dan musuh-musuh Islam akibat kejahilan sebagian orang atas nama amar ma'ruf nahi mungkar.
Karena itu, sangat dibutuhkan da'i-da'i yang memiliki kafa-ah ilmiyyah apalagi jika berbicara masalah keumatan, lebih-lebih di sosial media, da'i-da'i senior, da'i-da'i yang luas keilmuannya, ditokohkan, tempat rujukan, tempat kembalinya umat dalam setiap permasalahan, yang bisa menimbang mashlahat dan mudhorot dari setiap ucapan dan perbuatan dan langkah-langkah ilmiyah yang ia tempuh, yang mengamalkan ilmunya, bukan da'i-da'i yang tidak memiliki kafa-ah ilmiyyah.
Penjelasan diatas menunjukkan bagaimana kematangan ilmu itu sangat penting untuk masuk pada ranah yang besar, kafa-ah ilmiyyah harus ada, kemampuan menimbang antara mashlahat dan mudhorot dari setiap fatwa harus mapan, nasihat serta amar ma'ruf nahi mungkar harus tepat sasaran dan sesuai dengan kaidah amar ma'ruf nahi mungkar. Betapa banyak nasihat dan amar ma'ruf nahi mungkar yang mengatas namakan dakwah, justru disana terselip juga hawa nafsu dan urusan pribadi yang merusak amar ma'ruf nahi mungkar tersebut.
1.3. Amar Ma'ruf nahi Mungkar itu Ibadah maka Harus Ikhlas karena Allah
Seorang da'i yang memiliki kafa-ah ilmiyyah, ia mengetahui amar ma'ruf nahi mungkar merupakan amal sholih dan ibadah yang diperintahkan oleh Allah 'Azza wa Jalla, karena itu maka wajib harus dibangun diatas niat yang ikhlas sesuai dengan tuntunan Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bukan dengan hawa nafsu.
وإذا كان هذا حد كل عمل صالح ، فالأمر بالمعروف والنهي عن المنكر يجب أن يكون كذلك . هذا في حق الأمر الناهي بنفسه
"Amal shalih yang diperintahkan oleh Allah dan Rasul-Nya adalah ketaatan. Maka setiap ketaatan adalah amal shalih; ia merupakan amal yang disyariatkan lagi disunnahkan, karena ia diperintahkan, baik sebagai kewajiban maupun anjuran. Itulah amal shalih, kebaikan, kebajikan, dan kebaikan. Dan lawannya adalah maksiat, perbuatan yang rusak, dosa, kefajiran, kezaliman, dan perbuatan melampaui batas.
Ketika amal tidak terlepas dari dua perkara yaitu niat dan suatu amalan sebagaimana sabda Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam : ((Nama yang paling benar adalah Harits dan Hammam)), maka setiap orang adalah harits (orang yang berusaha) dan hammam (orang yang berkehendak); ia memiliki amal dan niat. Akan tetapi niat yang terpuji, yang diterima Allah dan diberi pahala adalah amal yang dikehendaki hanya Allah semata.
Amal yang terpuji dialah amal shalih, yaitu yang diperintahkan untuk dilakukan. Karena itu Umar bin Khattab radhiyallahu 'anhu dahulu berdoa : "Ya Allah, jadikan seluruh amalku shalih, jadikanlah ia ikhlas karena wajah-Mu, dan jangan Engkau jadikan sedikit pun darinya untuk siapa pun."
لا يصلح العمل إلا بثلاث : التقوى لله، والنية الحسنة، والأصابة
"Tidak akan baik suatu amalan kecuali dengan tiga hal : Takwa kepada Allah, niat yang baik, dan tepat (sesuai dengan tuntunan)."
صلاح القلب بصلاح العمل، وصلاح العمل بصلاح النية
"Baiknya hati tergantung baiknya amalan, dan baiknya amalan tergantung baiknya niat."
Imam Sufyan ats-Tsauriy rahimahullah mengatakan :
ما عالجت شيئا أشد علي من نيتي لأنها تتقلب علي
"Tidak ada sesuatu yang paling berat untuk aku obati melainkan niatku, karena ia selalu berbolak-balik." (Ad-Durar as-Saniyyah bi Fawaaid al-Arbaiin an-Nawawiyyah, hal. 14-15)
Karena itu mari kita senantiasa memperbaharui niat, karena sekelas Imam Sufyan ats-Tsauriy saja masih berbolak-balik niatnya apalagi kita yang sudah dari awal terkadang memang sudah punya masalah pribadi dengan orang yang kita nasihati, sehingga ibadah amar ma'ruf nahi mungkar yang kita harapkan berpahala justru menjadi rusak karena bercampur dengan hafa nafsu.
1.4. Amar Ma'ruf Nahi Mungkar Tanpa Ilmu Lebih Banyak Merusaknya daripada Memperbaiki
Da'i yang memiliki kafa-ah ilmiyyah ia tahu bagaimana cara amar ma'ruf nahi mungkar yang benar, bukan semau gue, sesuka saya, apalagi serampangan seperti banyak yang kita saksikan di sosial media pada zaman ini, padahal amar ma'ruf nahi mungkar yang benar harus dibangun di atas pondasi ilmu yang kokoh, jika tidak, maka amar ma'ruf itu tidak menjadi amal shalih, bahkan ia lebih banyak merusaknya daripada memperbaiki.
ومن الصلاح أن يأتي بالأمر والنهي على الصراط المستقيم، والصراط المستقيم أقرب الطرق، وهو الموصل إلى حصول القصد
"Dan suatu amal tidak akan menjadi amal yang shalih apabila tidak didasarkan pada ilmu dan pemahaman. Sebagaimana Umar bin Abdul Aziz radhiyallahu ‘anhu berkata : 'Barang siapa yang beribadah kepada Allah tanpa ilmu, maka ia akan lebih banyak merusak daripada memperbaiki.'
Dan sebagaimana dalam hadis Mu‘adz bin Jabal radhiyallahu ‘anhu : 'Ilmu adalah pemimpin bagi amal, dan amal adalah pengikutnya.' Dan hal ini jelas. Karena sesungguhnya tujuan dan perbuatan, jika tidak disertai ilmu, maka ia menjadi kebodohan, kesesatan, dan mengikuti hawa nafsu, sebagaimana telah disebutkan sebelumnya. Dan inilah perbedaan antara orang-orang jahiliah dan kaum muslimin.
1.5. Amar Ma'ruf Nahi Mungkar Memiliki Kaidah Pokok
Untuk menghindari kerusakan dan mafsadat yang timbul, ada tiga kaidah pokok dalam amar ma'ruf nahi mungkar yang benar, (1) sang da'i harus memiliki ilmu, (2) sang da'i harus melakukannya dengan penuh kelembutan, (3) sang da'i harus sabar jika amar ma'ruf nahi mungkarnya tidak diterima, jika terus ngotot, ngeyel-ngeyelan, yang muncul bukan mashlahat tapi mudhorot karena akan terus terjadi bantah-bantahan dan itu akan disaksikan oleh umat. Yang jahil akan mencibir, dan yang berilmu akan menggeleng-gelengkan kepala.
"Maka wajib dalam amar ma'ruf nahi mungkar harus ada sikap lemah lembut, sebagaimana Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda : ((Tidaklah kelembutan ada pada sesuatu kecuali ia menghiasinya, dan tidaklah kekerasan ada pada sesuatu kecuali ia merusaknya)). Dan beliau shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda : ((Sesungguhnya Allah Maha Lembut, mencintai kelembutan dalam segala urusan, dan Dia memberikan (pahala) atasnya apa yang tidak Dia berikan atas kekerasan)).
Dan juga harus bersifat santun lagi sabar atas gangguan. Karena pasti akan terjadi gangguan. Jika ia tidak bersikap santun dan tidak bersabar, maka ia akan lebih banyak merusak daripada memperbaiki. Sebagaimana Luqman berkata kepada anaknya (artinya) : «Perintahkanlah kepada yang ma’ruf, cegahlah dari yang mungkar, dan bersabarlah atas apa yang menimpamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk perkara-perkara yang memerlukan keteguhan».
Dan inilah perintah Allah kepada para rasul, dan mereka adalah para pemimpin dalam amar ma’ruf dan nahi mungkar, yaitu dengan kesabaran. Sebagaimana firman-Nya kepada penutup para rasul shallallahu 'alaihi wa sallam. Bahkan hal itu digandengkan dengan penyampaian risalah. Karena ketika pertama kali beliau diutus, diturunkan kepadanya Surah "Ya Ayyuhal Muddatsir" setelah sebelumnya diturunkan Surah "Iqra'" yang dengannya beliau diangkat menjadi nabi. Maka Allah Ta‘ala berfirman (yang artinya) : «Wahai orang yang berselimut. Bangkitlah lalu berilah peringatan. Dan Tuhanmu maka agungkanlah. Dan pakaianmu maka bersihkanlah. Dan perbuatan dosa maka tinggalkanlah. Dan janganlah engkau memberi dengan maksud memperoleh balasan yang lebih banyak. Dan karena Tuhanmu maka bersabarlah».
Maka Allah membuka ayat-ayat pengutusan kepada manusia dengan perintah memberi peringatan dan menutupnya dengan perintah bersabar. Dan hakikat peringatan itu sendiri adalah perintah kepada yang ma’ruf dan larangan dari yang mungkar. Maka diketahui bahwa setelah itu wajib adanya kesabaran.
Dan Allah Ta‘ala berfirman (yang artinya) : «Dan bersabarlah terhadap ketetapan Tuhanmu, maka sesungguhnya engkau berada dalam pengawasan Kami». Dan Dia berfirman (yang artinya) : «Dan bersabarlah atas apa yang mereka katakan dan jauhilah mereka dengan cara yang baik». Dan Dia berfirman (yang artinya) : «Maka bersabarlah sebagaimana para rasul yang memiliki keteguhan hati telah bersabar». Dan Dia berfirman (yang artinya) : «Maka bersabarlah kamu (hai Muhammad) terhadap ketetapan Tuhanmu, dan janganlah kamu seperti orang yang berada dalam (perut) ikan». Dan Dia berfirman (yang artinya) : «Dan bersabarlah, dan tidaklah kesabaranmu itu kecuali dengan pertolongan Allah». Dan Dia berfirman (yang artinya) : «Dan bersabarlah, karena sesungguhnya Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat baik».
"Maka (dalam amar ma'ruf nahi mungkar) tidak boleh tidak, harus ada tiga perkara ini : ilmu, kelembutan, dan kesabaran. Ilmu sebelum melakukan perintah dan larangan, kelembutan ketika melaksanakannya, dan kesabaran setelahnya. Meskipun ketiga hal tersebut sejatinya harus selalu menyertai dalam seluruh keadaan ini.
Semua hal ini telah disebutkan dalam atsar dari sebagian salaf, dan diriwayatkan pula secara marfu‘. Disebutkan oleh al-Qadhi Abu Ya‘la dalam kitab Al-Mu‘tamad : 'Tidaklah seseorang memerintahkan kepada yang ma‘ruf dan melarang dari yang mungkar kecuali ia adalah orang yang memahami dengan baik apa yang ia perintahkan, dan memahami dengan baik pula apa yang ia larang, bersikap lemah lembut dalam apa yang ia perintahkan, dan bersikap lemah lembut pula dalam apa yang ia larang, bersikap santun dalam apa yang ia perintahkan, dan bersikap santun pula dalam apa yang ia larang."' (Al-Amru bil Ma'ruuf wa An-Nahyu 'anil Mungkar, hal. 29-31)
Karena itu seorang da'i sejati, harus memiliki kafa-ah ilmiyyah dalam amar ma'ruf nahi mungkar, harus memiliki tiga hal yang menyertainya, (1) ilmu, (2) kelembutan, (3) kesabaran. Apabila tiga hal ini tidak ada, maka amar ma'ruf nahi mungkar itu lebih banyak merusaknya daripada memperbaiki. Serahkan urusan umat kepada yang memiliki kafa-ah ilmiyyah, da'i-da'i senior, da'i-da'i yang luas keilmuannya, ditokohkan, tempat rujukan, tempat kembalinya umat dalam setiap permasalahan, yang bisa menimbang mashlahat dan mudhorot, yang mengamalkan ilmunya, bukan da'i-da'i yang tidak memiliki kafa-ah ilmiyyah apalagi yang tidak bisa mengamalkan ilmunya.
Bersambung...
***
Grand Sahara - Purwodadi - Sidayu - Gresik, 17 Syawal 1446 H / 7 April 2026
Penulis : Abu Dawud ad-Dombuwiyy
Artikel : Meciangi.or.id
0 Response to "EMPAT KARAKTER DA'I SEJATI (SERI 1)"
Post a Comment