HIKMAH DALAM BERDAKWAH (SERI 6)



11. Cara Berpakaian

Style seorang ikhwan salafi sangat mudah untuk dikenali, (1) berbaju koko, (2) memakai gamis, (3) memakai jubah, (4) berjenggot, (5) bercelana cingkrang, (6) berpenampilan rapi, (7) semangat menghidupkan sunnah, (8) tidak ikut dzikir berjamaah, (9) tidak ikut do'a berjama'ah, (10) tidak ikut salaman berjama'ah setelah sholat, (11) jarang bersosialisasi dengan masyarakat, (12) menggunakan cadar bagi wanita.

Masyarakat awam memang sangat anti dengan segala sikap yang menyelisihi kebiasaan mereka, terutama dalam hal ibadah mereka, sehingga muncullah banyak polemik-polemik dikalangan para ikhwah seperti pengusiran oleh jama'ah masjid, pemboikotan, pelarangan sholat di masjid, dan lain sebagainya.  

Polemik para ikhwah di setiap kampung berbeda-beda. Yang jelas, dimanapun mereka berada, mereka selalu menjadi sorotan masyarakat. Karena itu dalam rangka hikmah dalam berdakwah, kita boleh-boleh saja mencocoki masyarakat dalam hal yang tidak menyelisihi syariat Islam seperti dalam masalah pakaian. 

Pakaian masyarakat kita pada umumnya menggunakan sarung, baju koko, songkok nasional warna hitam, dll, dan itu bisa dilihat ketika mereka menghadiri sholat jum'at atau sholat berjama'ah di masjid setiap hari. Dan termasuk hikmah dalam berdawkah adalah beradaptasi dengan pakaian mereka selama tidak menyelisihi syariat. 

Sebuah qaidah mengatakan : 

العادة محكمة

"Adat kebiasaan itu bisa dijadikan sebagai sandaran hukum."

Penerapan qaidah ini cukup luas, bisa dalam menentukan jarak safar, batasan mahar, batasan haid, nifas,  termasuk juga dalam masalah pakaian di tengah masyarakat. 

Qaidah lain juga mengatakan :

الأصل في العادات الإباحة إلا ما ورد عن الشارع تحريمه

"Hukum asal adat istiadat itu boleh, kecuali apa yang ada pengharamannya oleh pembuat syariat (Allah dan Rasul-Nya)."

Karena itu, cara berpakaian selama tidak menyelisihi syariat boleh digunakan sebagai bentuk hikmah dalam berdakwah. Hal itu justru sangat besar peranannya dalam menentukan keberlangsungan sebuah dakwah. Akan tetapi jika masyarakat kita memang sudah terbiasa melihat orang-orang yang berpenampilan menggunakan jubahan, imamahan, gamisan, maka menggunakannya di tengah masyarakat tidak mengapa.  

Cara pandang masyarakat khususnya dalam berpakaian itu memang sangat jeli, apalagi masyarakat yang hidup di kampung dan jarang mengunjungi kota-kota besar. Seandainya kita ingin menerapkan pendekatan ke masyarakat khususnya jama'ah masjid di kampung dengan hikmah dalam berdakwah, kita bisa mencocoki pakaian masyarakat selama tidak melanggar syariat. Sarungan misalnya, baju kokoan, songkokkan, baju batikan, sehingga dakwah tetap berjalan dengan baik dan hubungan dengan masyarakat dan jamaah masjid pun tetap terjaga tanpa mengorbankan aqidah dan prinsip dasar agama kita. 

Tapi sunnatullah yang selalu berjalan, ada saja titik dan celah yang dijadikan senjata oleh masyarakat atau jama'ah masjid untuk memusuhi atau mencari kesalahan kita. Terkadang dengan beberapa tindakan sebagian ikhwan yang mungkin baru belajar dan mengaji salaf. Seperti contoh,  di kampung tetangga ada kegiatan pengajian yang baru dirintis oleh ikhwah lain. Dengan niat meramaikan majelis ta'lim, kita pun datang berduyun-duyun ke masjid tersebut. 

Terkadang sebagian ikhwan yang datang ke majelis pengajian sudah mendekati waktu iqomat. Masuk melalui pintu belakang lalu maju ke shof paling depan melewati banyak orang, menyalakan kipas, lalu takbir. Semua mata memandangnya, semua jamaah melihatnya. Jubah panjang warna putihnya menjadi terasa mencolok di antara para jama'ah, sedangkan imamah yang dikenakannya di atas kepala menjuntai dan melambai tertiup angin. Para sesepuh memandangnya dengan sinis, sebagian saling berbisik-bisik, Sebagian ikhwan lain maju juga ke shof depan pojok dan berdiri mantap di samping orang-orang tua yang mungkin sesepuh dan tokoh-tokoh agama di kampung tersebut. Ia berdiri memeluk dadanya. La salaam wa la kalaam, atau mungkin ia sedang khusuknya menanti iqomat.

Mungkin dalam pandangan kita, sikap di atas bukan sikap yang salah. Namun dalam tatakrama daerah tertentu, bisa jadi hal itu adalah sikap tidak sopan di wilayah orang lain. Mungkin itu adalah sesuatu yang remeh dalam pandangan kita, tapi bisa jadi itulah sebab utama kenapa sebagian pengajian kita di usir secara halus dari masjid-masjid tertentu, terutama di wilayah yang masih sangat asing dengan pakaian-apakain seperti di atas. 

Dari permaslahan-permasalahan yang seperti ini, dapat kita mengambil faedah bahwa; (1) Terkadang pakaian yang sudah biasa kita gunakan di kalangan sesama kita, pada satu keadaan bisa jadi hal itu sangat asing dalam pandangan masyarakat kampung yang masih awam di tempat kita, khususnya di tempat saya di awal-awal saya hijrah dahulu. Maka mencocoki pakaian masyarakat setempat selama tidak melanggar syariat, itu lebih hikmah dalam berdakwah. (2) Menghormati yang lebih tua sangat dianjurkan dalam agama kita. Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

((ليس منا من لم يرحم صغيرنا ، ويوقر كبيرنا))

"Bukan termasuk golongan kami, orang yang tidak menyayangi yang kecil di antara kami dan tidak menghormati yang tua di antara kami." (HR. Al-Bukhari dalam Adabul Mufrod, no.363)

Dan bentuk menghormati yang lebih tua adalah menyapanya. Jika dalam kondisi sedang menunggu iqomat seperti di atas dengan menjabat tangannya sembari tersenyum. Jika sedang berpapasan di jalan, ucapkan salam lebih dahulu dan semisal itu, karena hati manusia sangat mudah luluh dengan kebaikan dan pemuliaan walaupun terlihat sepele. Dan orang-orang yang usianya sudah tua, mereka lebih membutuhkan rasa hormat dari kita yang lebih muda daripada selainnya.

12. Kaku dan Keras bukan Ciri Dakwah Salaf

Sikap kaku adalah lawan dari sikap luwes, sedangkan sikap keras lawan dari sikap lemah lembut. Sikap kaku dan keras banyak memberikan efek yang buruk dalam sebuah dakwah.   

Kita tidak sedang berbicara tentang mudaarah sebagaimana yang telah berlalu pembahasannya, karena mudaarah lebih luas cakupannya. Ia bukan sekedar berbicara lembut, tetapi juga bersikap luwes kepada seseorang demi maslahat yang dibenarkan oleh syariat, sambil tetap mempertahankan kebenaran. tidak kasar, tidak mencaci, tidak mengejek, mengolok-olok, membentak, dan memilih kata-kata yang baik dan bijak. Dan inilah keadaan Nabi Musa dan Harun 'alaihimassalam ketika berdakwah kepada raja Fir'aun yang dzolim bahkan mengaku tuhan. Allah Ta'ala firman:

 «فَقُولَا لَهُۥ قَوْلًۭا لَّيِّنًۭا لَّعَلَّهُۥ يَتَذَكَّرُ أَوْ يَخْشَىٰ»

Artinya : "Maka berbicaralah kamu berdua kepadanya dengan kata-kata yang lemah lembut, mudah-mudahan ia ingat atau takut." (QS. Taha : 44)

Dalam mendakwahi manusia sekelas Fir'aun, Allah memerintahkan Nabi Musa dan Harun 'alaihimassalam untuk tetap berbicara lembut. Allah tahu Fir'aun tidak akan beriman, tapi Allah tetap memerintahkan kedua Nabinya yang mulia 'alaihimas salam untuk tetap berkata lembut, tidak mencela, mencaci, membentak, dll. 

Ibnu Katsir mengatakan:

«فَقُولَا لَهُۥ قَوْلًۭا لَّيِّنًۭا لَّعَلَّهُۥ يَتَذَكَّرُ أَوْ يَخْشَىٰ» هذه الآية فيها عبرة عظيمة، وهو أن فرعون في غاية العتو والاستكبار، وموسى صفوة الله من خلقه إذ ذاك، ومع هذا أمر أن لا يخاطب فرعون إلا بالملاطفة واللين

وعن الحسن البصري «فَقُولَا لَهُۥ قَوْلًۭا لَّيِّنًۭا» أعذرا إليه، قولا له: إن لك ربا ولك معادا، وإن بين يديك جنة ونارا

والحاصل من أقوالهم أن دعوتهما له تكون بكلام رقيق لين سهل رفيق، ليكون أوقع في النفوس وأبلغ وأنجع، كما قال تعالى:«ٱدْعُ إِلَىٰ سَبِيلِ رَبِّكَ بِٱلْحِكْمَةِ وَٱلْمَوْعِظَةِ ٱلْحَسَنَةِ ۖ وَجَـٰدِلْهُم بِٱلَّتِى هِىَ أَحْسَنُ»، وقوله «لَّعَلَّهُۥ يَتَذَكَّرُ أَوْ يَخْشَىٰ» أي لعله يرجع عما هو فيه من الضلال والهلكة، أو يخشى - أي يوجد طاعة من خشية ربه كما قال تعالى: لمن أراد أن يذكر أو يخشى فالتذكر الرجوع عن المحذور، والخشية تحصيل الطاعة

 وقال الحسن البصري: لعله يتذكر أو يخشى يقول: لا تقل أنت يا موسى وأخوك هارون أهلكه قبل أن أعذر إليه

«Maka berbicaralah kamu berdua kepadanya dengan kata-kata yang lemah lembut, mudah-mudahan dia sadar atau takut». Di dalam ayat ini terdapat pelajaran yang amat besar, yaitu: bahwasanya Fir'aun berada di puncak kesombongan dan keangkuhan yang luar biasa, sedangkan Musa adalah hamba pilihan Allah dari antara makhluk-Nya pada masa itu. Meskipun demikian, Musa tetap diperintahkan agar tidak berbicara kepada Fir'aun melainkan dengan cara yang lemah-lembut dan penuh kelembutan.

Diriwayatkan dari Al-Hasan Al-Bashri mengenai ayat (yang artinya): «Maka berbicaralah kamu berdua kepadanya dengan kata-kata yang lemah lembut», beliau berkata: "Berikanlah udzur kepadanya. Katakanlah kepadanya: 'Sesungguhnya engkau memiliki Tuhan, engkau memiliki tempat kembali, dan sesungguhnya di hadapanmu ada surga dan neraka.'" 

Kesimpulan dari pendapat para ulama tafsir adalah bahwa dakwah mereka berdua (Musa dan Harun) kepada Fir'aun haruslah menggunakan ucapan yang halus, lembut, mudah, dan santun; agar ucapan tersebut lebih berkesan di dalam jiwa, lebih mendalam, dan lebih berhasil. Hal ini sebagaimana firman Allah Ta'ala (yang artinya): «Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pengajaran yang baik, dan berdebatlah dengan mereka dengan cara yang baik». 

Dan firman-Nya (yang artinya): «Mudah-mudahan dia sadar atau takut», maknanya: mudah-mudahan dia kembali dari kesesatan dan kebinasaan yang sedang ia jalani, atau dia menjadi takut. Artinya: memunculkan ketaatan karena rasa takutnya kepada Tuhannya, sebagaimana firman Allah Ta'ala (yang artinya): «Bagi orang yang ingin sadar atau ingin takut» Maka, At-Tadzakkur adalah kembali dari hal yang membahayakan, sedangkan al-Khasyah (rasa takut) adalah mewujudkan ketaatan.

Al-Hasan Al-Bashri berkata tentang makna «Mudah-mudahan dia sadar atau takut»: "Allah berfirman (yang artinya): Janganlah engkau mengatakan wahai Musa dan saudaramu Harun, 'Binasakanlah dia (Fir'aun)' sebelum Aku memberikan uzur kepadanya." (Mukhtashor Tafsiir Ibni Katsiir, 2/482)

Pada hari ini, yang kita dakwahi di kampung bukan Fir'aun, tapi orang-orang awam, tetangga kita, guru-guru kita, bahkan orang tua kita. Tapi realitanya, sebagian kita sangat keras dan kasar ketika mendapati hal-hal yang tidak sejalan dengan mereka. Bahkan dengan santainya mengatakan dengan nada keras ini bid'ah, ini syirik, itu mungkar, ini haram. Sikap keras seperti ini justru akan menimbulkan polemik dalam dakwah. Semoga Allah membukan hati mereka untuk menerima kebenaran dakwah salaf ini dengan ucapan kita yang lembut dan santun.

Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

((ما كان الرفق في شيء الا زانه ولا كان الفحش في شيء قط الا شانه))

"Tidaklah kelembutan berada pada sesuatu kecuali ia akan menghiasinya, dan tidaklah kekasaran berada pada sesuatu kecuali ia akan merusaknya." (HR. Ibnu Hibban, no.551).

Kita melihat dakwah Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, asasnya adalah ucapan lemah lembut. Seandainya Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersikap keras, manusia akan lari darinya. Allah Ta'ala juga berfirman : 

«فَبِمَا رَحْمَةٍۢ مِّنَ ٱللَّهِ لِنتَ لَهُمْ ۖ وَلَوْ كُنتَ فَظًّا غَلِيظَ ٱلْقَلْبِ لَٱنفَضُّوا۟ مِنْ حَوْلِكَ ۖ فَٱعْفُ عَنْهُمْ وَٱسْتَغْفِرْ لَهُمْ وَشَاوِرْهُمْ فِى ٱلْأَمْرِ ۖ فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى ٱللَّهِ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ يُحِبُّ ٱلْمُتَوَكِّلِينَ»

Artinya : "Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu maafkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawaratlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya." (QS. Ali Imran 158).

Jika dakwah kita sulit diterima masyarakat, bukan semata-mata karena mereka membenci dakwah ini, tapi bisa jadi cara kita dalam berdakwah terlalu kaku dan keras, ceroboh mungkin atau terlalu tergesa-gesa dalam menyampaikan kebenaran. 

13. Apa Itu Hikmah dalam Berdakwah

Teringat sebuah kisah di awal-awal saya mendapatkan hidayah. Ikhwan yang mendakwahi saya rahimahullah adalah teman kos saya. Ia tidak pernah mendakwahi saya ketika baru pulang kuliah. Rasa letih, keringat, dan kepanasan membuat dakwah model apapun akan sulit di terima, dan sepertinya ia sangat mengerti akan hal itu. Yang ia lakukan hanya satu, membelikan saya es teh, lalu melanjutkan membaca majalah Al-Furqon yang ia tumpuk di kamar kos saya. 

Begitu yang ia lakukan selama 3 bulan, jika bukan es teh, ia akan membelikan saya es jeruk. Jika ia sempat, ia akan memasakkan nasi dan membelikan lauknya di warung. Namun ketika kondisi saya sedang fresh, setelah mandi, sedang ceria atau ketika hendak makan bareng di warung Padang Jawa di depan kos, baru ia membahas masalah-masalah agama dengan gaya santai dan tidak terkesan menggurui. 

Saya sempat berpikir, kenapa ia bisa membaca psikologi lawan bicaranya, seolah ia tahu kapan harus berbicara dan kapan harus diam. Puncaknya ia menjelaskan kepada saya tentang hukum musik, dan itupun setelah pendekatan berbulan-bulan. Caranya pun penuh hikmah, memberikan saya sebuah majalah dan membiarkan saya membacanya sendiri, setelah itu baru terjadi dialog. 

Setelah saya mendapatkan hidayah, baru saya mengerti bahwa ikhwan tersebut memang sering diandalkan jika ada dialog atau debat dengan teman-teman aktivis kampus baik yang berhaluan kiri atau kanan. Ia dikenal cerdas, luas wawasannya, banyak literasinya, dan sangat dalam argumennya jika membantah. Ia pernah belajar di pondok pesantren Al-Irsyad Surabaya beberapa tahun. Setelah kembali ke kampung halamannya, ia menjadi Ustadz di wilayah Sumatera kepulauan dan berdakwah di sana. Namun 3 tahun yang lalu, takdir Allah mendahuluinya. Ia telah kembali kepada Rabb-nya Ta'ala di usia yang tergolong masih muda;  mendekati 40 tahun rahimahullah karena sebuah penyakit.

Pelajaran dari kisah sederhana di atas bahwa hikmah dalam berdakwah itu tidak hanya sebatas ucapan yang santun sebagaimana kisah Fir'aun, tapi juga pengetahuan tentang kapan waktu yang tepat untuk menyampaikan ilmu dan kapan tidak, pandai membaca situasi atau keadaan, tidak terburu-buru, tidak gegabah apalagi ceroboh, dan inilah yang disebut oleh para ulama dengan hikmah dalam berdakwah.

Allah Ta'ala berfirman:

«ادْعُ إِلَىٰ سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُم بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ»

Artinya : "Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik, dan bantahlah mereka dengan cara yang baik." (QS. An-Nahl: 125).

Syaikh Abu Ammar Muhammad bin Abdillah mengatakan:

قال ابن القيم رحمه الله : الحكمة: فعل ما ينبغي، على الوجه الذي ينبغي، في الوقت الذي ينبغي

زاد ابن عثيمين رحمه الله : «والمكان الذي ينبغي

ثم قال ابن القيّم رحمه الله أيضًا: والله تعالى أورث الحكمة آدم وبنيه، فالرجل الكامل من له إرث كامل من أبيه، ونصف الرجل -كالمرأة- له نصف ميراث، والتفاوت في ذلك لا يحصيه إلا الله تعالى، فكل نظام الوجود مرتبط بهذه الصفة، أي: صفة الحكمة، وكل خلل في الوجود وفي العبد فسببه الإخلال بها، فأكمل الناس أوفرهم نصيبًا، وأنقصهم وأبعدهم عن الكمال أقلهم منها ميراثًا، ولها ثلاثة أركان: العلم، والحلم، والأناة، وآفاتها وأضدادها: الجهل، والطيش، والعجلة، فلا حكمة لجاهل، ولا طائش، ولا عجول، والله أعلم. اهـ

Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan: "Hikmah adalah: melakukan apa yang sepatutnya, dengan cara yang sepatutnya, pada waktu yang sepatutnya."

Ibnu 'Utsaimin rahimahullah menambahkan: "Dan di tempat yang sepatutnya."

Kemudian Ibnul Qayyim rahimahullah juga berkata: "Dan Allah Ta'ala mewariskan hikmah kepada Adam dan keturunannya. Maka laki-laki yang sempurna adalah yang memiliki warisan sempurna dari ayahnya, sedangkan setengah laki-laki -seperti wanita- memiliki setengah warisan. Perbedaan dalam hal tersebut tidak ada yang dapat menghitungnya melainkan Allah Ta'ala. Sebab, seluruh tatanan alam semesta terikat dengan sifat ini, yaitu sifat hikmah. Setiap kerusakan di alam semesta maupun pada diri seorang hamba disebabkan oleh terabaikannya sifat tersebut. Manusia yang paling sempurna adalah yang paling beruntung mendapat bagiannya, sedangkan manusia yang paling kurang dan paling jauh dari kesempurnaan adalah yang paling sedikit warisan hikmahnya. Hikmah memiliki tiga rukun: ilmu, sifat tenang, dan kehati-hatian. Adapun perusak dan kebalikannya adalah: kebodohan, kecerobohan, dan tergesa-gesa. Maka tidak ada hikmah bagi orang yang bodoh, tidak pula bagi orang yang ceroboh, dan tidak pula bagi orang yang tergesa-gesa. Wallahu a'lam." Selesai.

وقال الشيخ عبد الرحمن السعدي رحمه الله : «ادْعُ إِلَىٰ سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ» [النحل: ١٢٥]؛ أي: كل أحد على حسب حاله وفهمه وقوله وقبوله

ومن الحكمة: الدعوة بالعلم لا بالجهل، والبداءة بالأهم فالأهم، وبالأقرب إلى الأذهان والفهم، وبما يكون قبوله أتم، وبالرفق واللين؛ فإن انقاد بالحكمة، وإلا فينتقل معه بالدعوة بالموعظة الحسنة، وهو الأمر والنهي المقرون بالترغيب والترهيب» اهـ

فالداعي إلى الله كقائد السفينة الحكيم، قال تعالى: «وَلَٰكِن كُونُوا رَبَّانِيِّينَ بِمَا كُنتُمْ تُعَلِّمُونَ الْكِتَابَ وَبِمَا كُنتُمْ تَدْرُسُونَ» [آل عمران: ٧٩]، والرباني: مأخوذ من ربان السفينة، وهو القائد الحكيم الخبير الذي يقود السفينة في خضم الأمواج المتلاطمة والرياح العاصفة والأخطار المتلاحقة والمحدقة بالسفينة فيخرج بها بإذن الله إلى بر الأمان؛ فينجو هو والسفينة والركاب والبضائع المحملة وأموال الناس، والفضل في هذا لله ثم بحكمته وخبرته، والله عزوجل يريد من الداعية أن يكون هكذا

Syaikh Abdurrahman As-Sa'di rahimahullah mengatakan: «Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik». [QS. An-Nahl: 125]; maknanya: Masing-masing orang diseru sesuai dengan keadaan, pemahaman, perkataan, dan penerimaannya."

Dan di antara bentuk hikmah adalah: berdakwah dengan ilmu bukan dengan kebodohan, memulai dari hal yang paling penting kemudian yang penting berikutnya, dengan hal yang paling dekat (mudah) dicerna oleh akal dan pemahaman, dan dengan hal yang penerimaannya paling sempurna, serta dengan kelembutan dan kesantunan. Jika ia patuh dengan hikmah, (maka itu yang diharapkan), namun jika tidak, maka ia berpindah dengannya ke metode dakwah berupa nasihat yang baik, yaitu perintah dan larangan yang diiringi dengan kabar gembira dan peringatan." Selesai.

Maka penyeru ke jalan Allah itu bagaikan nakhoda kapal yang bijaksana. Allah Ta'ala berfirman (yang artinya): «Akan tetapi (dia berkata), 'Jadilah kamu orang-orang Rabbani, karena kamu mengajarkan Kitab dan karena kamu mempelajarinya».'" [QS. Ali 'Imran: 79]. Dan kata Rabbani diambil dari kata rubban as-safinah (nakhoda kapal), yaitu pemimpin yang bijaksana dan berpengalaman yang mengemudikan kapal di tengah gelombang yang menghempas, angin kencang, serta bahaya bertubi-tubi yang mengepung kapal, lalu ia membawanya keluar dengan izin Allah menuju pantai keselamatan; sehingga selamatlah dirinya, kapalnya, para penumpang, muatan barang, dan harta benda manusia. Keutamaan dalam hal ini adalah milik Allah, kemudian berkat hikmah dan pengalamannya. Dan Allah 'Azza wa Jalla menghendaki dari seorang da'i untuk menjadi seperti ini." (Zagholud Da'wah, hal.125-126).

Bersambung...

***

Grand Sahara - Purwodadi - Sidayu - Gresik, 18 Rabiul Akhir 1448 H / 30 September 2026 M

Penulis : Abu Dawud ad-Dumbuwiyy

Artikel : Meciangi-d.blogspot.com

Related Posts:

HIKMAH DALAM BERDAKWAH (SERI 5)


10. Diantara Bentuk Hikmah dalam Berdakwah

10.1. Berakhlak Mulia

Dalam interaksi sosial dengan masyarakat, akhlak mulia sering menjadi tolak ukur pertama masyarakat dalam mengikuti dakwahnya seorang da'i. Bayangkan jika seorang da'i memiliki akhlak yang buruk di tengah masyarakat, merokok, musik-musikan, suka berjudi, meminum khomr, berzina, maka pasti kebenaran yang ia bawa akan menjadi bahan olok-olokan di tengah masyarakat dan dakwahnya tidak akan diterima. 

Di antara hikmah Allah menjadikan Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam memiliki akhlak yang mulia, agar manusia tidak lari dari dakwahnya. Allah Ta'ala berfirman: 

«فَبِمَا رَحْمَةٍ مِنَ اللَّهِ لِنْتَ لَهُمْ ۖ وَلَوْ كُنْتَ فَظًّا غَلِيظَ الْقَلْبِ لَانْفَضُّوا مِنْ حَوْلِكَ»

Artinya: "Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu." (QS. Ali Imran : 159).

Jika seorang da'i memiliki akhlak yang keras lagi kasar saja sudah menjadi hal yang membuat orang lari dari dakwahnya, lalu bagaimana jika lebih dari itu; merokok, musik-musik-musikan, menghibah, meminum khomr, berzina, tentu manusia akan semakin lari darinya.

Saya pernah menyaksikan sebuah realita di masyarakat kampung yang mendapati seorang guru ngaji kampung yang menjadi panutan dalam ilmu Al-Qur'an selama puluhan tahun terlibat dalam sabung ayam jago. Satu kampung tidak lagi mempercayakan anaknya untuk belajar Al-Qur'an di tempatnya, walaupun saya tidak yakin dengan hal tersebut. Tapi realitanya, sampai beliau wafat, tidak ada satu masyarakatpun yang mau menitipkan anaknya untuk di ajarkan Al-Qur'an, padahal bisa jadi isu itu tidak benar. Tapi karena ia seorang yang di tokohkan dalam satu cabang ilmu di masyarakat kampung, satu "kekeliruannya" menjadi alasan selamanya bagi masyarakat untuk mencemoohnya merendahkan ilmunya.

Betapa pentingnya akhlak yang baik di tengah masyarakat bagi seorang da'i. Dan mungkin itu sebabnya Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam selalu berdo'a:

((اللهم إني أعوذ بك من منكرات الأخلاق، والأعمال والأهواء))

"Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari akhlak-akhlak yang buruk, amal-amal yang mungkar, dan hawa nafsu yang menyimpang." (HR. At-Tirmidzi, no. 3591; dishahihkan Al-Albani. Lihat Aḥaadiitsul Akhlaaq, hal.9)

Beliau juga berdo'a:

((اللهم أحسنت خلقي، فأحسن خلقي))

"Ya Allah, sebagaimana Engkau telah membaguskan penciptaanku, maka baguskanlah akhlakku." (HR. Ahmad, no.3823 ; dishahihkan oleh Al-Albani. Lihat Ahaadiitsul Akhlaaq, hal.9).

Dalam hadits Abu Hurairoh, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

((إنكم لن تسعوا الناس بأموالكم، ولكن يسعهم منكم بسط الوجه وحسن الخلق))

"Sesungguhnya kalian tidak akan mampu mencukupi kebutuhan semua orang dengan harta kalian. Akan tetapi, kalian dapat membuat mereka merasa lapang dengan wajah yang ramah dan akhlak yang baik." (HR. Al-Bazzar, no.8544 ; dishohihkan oleh Al-Albani. Lihat Ahaadiitsul Akhlaaq, hal.8).

10.2. Menyebarkan Salam

Menyebarkan salam termasuk diantara metode dalam berdakwah di tengah masyarakat. Tokoh-tokoh masyarakat dan pemuka agama di masjid-masjid kampung, sangat suka dengan keramahan dari para ikhwah. Sebenarnya yang mereka inginkan dari kita adalah rasa hormat bukan menggurui. Sikap keras dan kaku dalam berdakwah sering menimbulkan polemik di masyarakat, dikalangan para tokoh-tokoh di kampung, karena kesannya kita seperti menggurui mereka yang sudah lama makan asam garam dalam kehidupan sebagaimana ucapan mereka.

Diantara salah satu cara yang harus kita lakukan dalam melakukan pendekatan sosial masyarakat adalah menyebarkan salam. Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

((لا تدخلوا الجنة حتى تؤمنوا ولا تؤمنوا حتى تحابوا ألا أدلكم على ما تحابون به قالوا بلى يا رسول الله قال أفشوا السلام بينكم))

"Kalian tidak akan masuk surga sampai kalian beriman, dan kalian tidak beriman sampai kalian saling mencintai. Maukah aku tunjukkan kepada kalian sesuatu yang dengannya kalian bisa saling mencintai?" Mereka menjawab: 'Ya, wahai Rasulullah.' Beliau bersabda: "Sebarkanlah salam di antara kalian." (HR. Muslim, no.54)

Menyebarkan salam termasuk remeh dalam pandangan orang-orang, tapi Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam memberikan penjelasan bahwa rasa saling mencintai antar sesama kaum muslimin itu bisa tercapai salah satunya dengan menyebarkan salam. Ini di antara senjata yang sangat ampuh dalam membangun komunikasi dengan masyarakat dan para tokoh agama di kampung, sehingga dakwah akan mudah diterima karena akhlak orang-orang yang membawa dakwah ini ramah, lemah lembut dan bijaksana dalam berinteraksi dengan masyarakat dan ini yang disebut dengan mudaarah bukan mudaahanah (bermuka dua). 

Ada seorang ikhwah yang rajin menyebarkan salam di tengah masyarakat dan jama'ah masjid kampungnya dengan tujuan hikmah dalam berdawkah, sehingga ia pun sangat dihormati dan dicintai oleh orang-orang padahal ia seorang ikhwah salafi yang telah masyhur tidak pernah mengikuti semua kegiatan-kegiatan bid'ah di kampungnya, dan orang-orang tidak mempermasalahkan itu. Dari sikap ramah tersebut ia diterima di tengah masyarakat dan diberi jadwal imam tetap di masjid, diberi kesempatan untuk mengisi kultum di bulan ramadhon, dipilih menjadi imam sholat tarawih, diberikan izin menggunakan masjid untuk kajian rutin setiap pekan membahas kitab tazkiyatun nufus dan kitab aqidah.

Ketika ia sesekali membaca sirr basmalah setelah ia sekian lama membacanya jahr, maka salah seorang jama'ah masjid mengingkari itu, maka mayoritas tokoh-tokoh lain, ketua BKM masjid, dan para jama'ah lainnya membela ikhwah kita tersebut. Bahkan sebagian tokoh-tokoh senior mengatakan kepada orang yang membantah itu dengan kalimat, 'saya sudah pernah sholat di Masjidil Harom selama saya berjhaji, tapi saya tidak pernah mendengar imam sholat di sana membaca keras basmalahnya. Sudah kamu diam saja, kamu tidak tahu apa-apa.'  Ini diantara sebagian atsar hikmah dalam berdawkah.

10.3. Saling Memberi Hadiah

Selain menyebarkan salam kita bisa juga bisa memberikan hadiah kepada para tokoh-tokoh di kampung di momen-momen yang tepat, agar mereka melihat kebaikan akhlak para ikhwah sebagai cerminan dakwah yang mereka bawae. Dengan demikian kebencian mereka kepada dakwah ini perlahan akan memudar dan berbalik menjadi membela dakwah yang haq ini. Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda :  

((تهادوا تحابوا))

"Saling memberi hadiahlah, niscaya kalian akan saling mencintai." (HR. Al-Bukhari dalam Adabul Mufrod, no. 594)

Diantara yang bisa kita lakukan di tengah masyarakat dan tokoh-tokoh agama di masjid adalah bagi-bagi sarung ketika sepuluh hari terakhir bulan ramadhon, bagi-bagi iftor buat buka puasa, bagi-bagi kurma, parfum, baju koko, bagi-bagi sembako murah, dll yang sekiranya bisa melunakkan hati mereka. Bagi kita itu mungkin hal yang biasa, tapi bagi mereka, bisa jadi itu akan menjadi langkah awal mereka menerima dakwah yang haq ini dengan hati yang tulus. Jika mereka belum bisa menerimanya, minimal mereka tidak membenci dan memusuhi dakwah ini bahkan menjadi pembelanya.

Diantara bentuk lain jika itu para mahasiswa, kita bisa membagikan buku-buku gratis, rekaman kajian, dan yang semisal dengan itu. Semua ini tujuannya agar dakwah ini bisa diterima di tengah masyarakat dengan cara yang paling hikmah, bukan di baro' secara total padahal mereka adalah orang-orang awam yang jahil.

Bersambung...

***

Grand Sahara - Purwodadi - Sidayu - Gresik, 11 Rabiul Akhir 1448 H / 23 September 2026 M

Penulis : Abu Dawud ad-Dumbuwiyy

Artikel : Meciangi-d.blogspot.com

Related Posts:

HIKMAH DALAM BERDAKWAH (SERI 4)


9. Perbedaan antara Mudaarah  dan Mudaahanah

Sikap Mudaarah adalah sikap ramah, bijaksana dan sikap lemah lembut dalam berinteraksi dengan orang lain. Sedangkan sikap Mudaahanah adalah sikap mengorbankan prinsip agama demi menyenangkan orang lain atau dengan istilah lain yaitu sikap bermuka dua. 

Mencampur adukkan dua istilah ini akan menimbulkan kerancuan dalam memahami sikap hikmah dalam berdakwah. Akibatnya, sikap hikmah dalam berdakwah justru dianggap sebagai sikap bermudah-mudahan terhadap musuh-musuh dakwah.

Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam menggunakan metode mudaarah dalam berdakwah, maka kita sebagai umatnya justru harus menggunakan cara ini juga untuk memuluskan dakwah kita di manapun, termasuk di kampung kita masing-masing, karena sikap mudaarah bukan sikap mudaahanah.

Berkata Abu Ammar Muhammad bin Abdillah hafidzahullah  dalam Zagholud Da'wah:

قال ابن بطال رحمه الله: المداراة: من أخلاق المؤمنين، وهي خفض الجناح للناس ولين الكلمة وترك الإغلاظ في القول، وذلك من أقوى أسباب الألفة، وظن بعضهم أن المداراة هي المداهنة؛ فغلط؛ لأن المداراة مندوب إليها، والمداهنة محرمة، والفرق: أن المداهنة من الدهان، وهو الذي يظهر على الشيء ويستر باطنه، وفسرها العلماء بأنها معاشرة الفاسق وإظهار الرضا بما هو فيه من غير إنكار عليه، والمداراة هي الرفق بالجاهل في التعليم وبالفاسق في النهي عن فعله وترك الإغلاظ عليه، حيث لا يظهر ما هو فيه، والإنكار عليه بلطف القول والفعل، لا سيما إذا احتيج إلى تألفه، ونحو ذلك. اهـ

وقال ابن القيم رحمه الله في كتابه ((الروح)) (ص:٣١٩): المداراة: صفة مدح، والمداهنة: صفة ذم، والفرق بينهما: أن المداري يتلطف بصاحبه حتى يستخرج منه الحق أو يرده عن الباطل، والمداهن يتلطف به ليقره على باطله ويتركه على هواه، فالمداراة لأهل الإيمان، والمداهنة لأهل النفاق. اهـ

"Ibnu Batthol rahimahullah mengatakan: 'Mudaarah adalah bagian dari akhlak orang-orang beriman, yaitu merendahkan hati kepada sesama manusia, berbicara dengan kata-kata yang lembut, serta meninggalkan sikap kasar dalam bertutur kata. Hal tersebut merupakan salah satu sebab terkuat timbulnya keharmonisan. Sebagian orang menyangka bahwa mudaarah itu sama dengan mudaahanah, maka ia telah keliru; karena mudaarah itu dianjurkan, sedangkan mudaahanah itu diharamkan. Perbedaannya adalah: mudaahanah berasal dari kata ad-dihaan, yaitu sesuatu yang menutupi bagian luar dan menyembunyikan bagian dalamnya. Para ulama menafsirkannya sebagai tindakan bergaul dengan orang fasik serta menampakkan keridhoan terhadap kemaksiatan yang dilakukannya tanpa memberikan pengingkaran kepadanya. Sedangkan mudaarah adalah sikap lembut kepada orang jahil sebagai bentuk pengajaran, sedangkam kepada orang fasik sebagai bentuk melarang perbuatan fasik tanpa bersikap kasar kepadanya, selama ia tidak terang-terangan menampakkan yang ada di dalam hatinya, dan mengingkarinya dengan kelembutan kata maupun perbuatan, terlebih lagi jika dibutuhkan upaya untuk melunakkan hatinya, dan hal-hal yang serupa dengan itu.' Selesai. 

Ibnu al-Qayyim rahimahullah berkata dalam bukunya Ar-Ruh (hal. 319): 'Mudaarah adalah sifat terpuji, sedangkan mudaahanah adalah sifat tercela. Perbedaan antara keduanya yaitu: Orang yang melakukan mudaarah bersikap lembut kepada temannya agar dapat mengeluarkan kebenaran darinya atau memalingkannya dari kebatilan. Sementara orang yang melakukan mudaahanah bersikap lembut kepadanya demi menetapkannya dalam kebatilannya dan membiarkannya mengikuti hawa nafsunya. Maka, mudaarah itu milik ahli iman, sedangkan mudaahanah itu milik ahli nifak.' Selesai. (Zagholud Da'wah wad Du'aat, hal,227).

Abu Ammar Muhammad bin Abdillah hafidzahullah juga mengatakan:

حاجة الناس عامة وأتباع الرسل خاصة إلى المداراة لا تدانيها حاجة؛ فهي من أخلاق المؤمنين الصالحين، ومن أقوى أسباب الألفة بين المسلمين، وأنجح وسيلة لدفع شر أعداء الدعوة عن الدعوة

فالدعوة إلى الله عزوجل وظيفة الأنبياء والمرسلين عليهم الصلاة والسلام، والدعاة إلى الله هم أتباع الأنبياء والرسل؛ لذا لا بد لأتباع الرسل من سلوك سبيلهم، واقتفاء نهجهم في الدعوة، فإذا احتاج الرسل والأنبياء إلى سلوك سبيل المداراة مع أعداء دعوتهم؛ فمن باب أولى أتباع الرسل في هذا الزمن، فهم بحاجة إلى مداراة خصوم الدعوة، بل وإلى مداراة إخوانهم الدعاة الذين معهم في الصف الواحد؛ ليستقيم الصف ويكون كالبنيان المرصوص

"Kebutuhan manusia secara umum, dan pengikut para rasul secara khusus, terhadap mudaarah (bersikap ramah) adalah kebutuhan yang tidak tertandingi oleh kebutuhan apa pun. Mudaarah (bermuka dua atau mengorbankan prinsip agama demi kesenangan orang lain) merupakan bagian dari akhlak orang-orang beriman yang sholih, dan menjadi salah satu sebab terkuat lahirnya keharmonisan di antara kaum muslimin, dan  paling berhasil untuk menolak kejahatan musuh-musuh dakwah dari jalan dakwah.

Dakwah di jalan Allah 'Azza wa Jalla adalah tugas para nabi dan rasul 'alaihimus shalaatu was salaam, dan para da'i yang menyeru ke jalan Allah adalah para pengikut nabi dan rasul tersebut. Oleh karena itu, para pengikut rasul wajib menempuh jalan mereka dan mengikuti metode dakwah mereka. Jika para nabi dan rasul saja membutuhkan sikap mudaarah dalam menghadapi musuh-musuh dakwah mereka, maka para pengikut rasul di zaman ini tentu jauh lebih membutuhkannya. Mereka perlu bersikap mudaarah terhadap penentang dakwah, bahkan terhadap sesama saudara sesama da'i yang berada dalam satu barisan, agar barisan tersebut tetap kokoh dan menjadi seperti bangunan yang tersusun rapi.

فإذا كان الداعية حريصًا على نجاح دعوته، دارى المدعوين وعاملهم بما يحبون، حتى لو كان مضطرًا إلى قسر نفسه على ذلك ما دام يظن أن عاقبة الأمر إلى خير، والداعية الذي لم يدار المدعوين سوف يملونه، وينفضون من حوله، ويخسر كثيرًا في حياته الدعوية

وقد خلط بعض الدعاة بين المداراة والمداهنة، فترك المداراة خوفًا من الوقوع في المداهنة، والفارق واضح بين المداهنة والمداراة، فليس في المداراة تنازل عن شيء من الدين، ولا غض الطرف عن محرم، بعكس المداهنة، قال تعالى: «وَدُّوا لَوْ تُدْهِنُ فَيُدْهِنُونَ» [القلم: ٩]

Jika seorang da'i bersungguh-sungguh menginginkan keberhasilan dakwahnya, ia akan bersikap mudaarah kepada orang-orang yang didakwahi dan memperlakukan mereka dengan apa yang mereka sukai, bahkan jika ia harus memaksa dirinya sendiri untuk melakukan hal itu selama ia menyakini bahwa akhir dari urusan tersebut akan membawa kebaikan. Sedangkan da'i yang tidak bersikap mudaarah kepada orang-orang yang didakwahi akan membuat mereka bosan, menjauh darinya, dan ia akan kehilangan banyak hal dalam perjalanan dakwahnya.

Dan sungguh beberapa da'i telah mencampuradukkan antara mudaarah dan mudaahanah, sehingga mereka meninggalkan mudaarah karena takut terperosok ke dalam mudaahanah. Padahal, perbedaan antara mudaahanah dan mudaarah sangatlah jelas, dan tidak ada dalam mudaarah meninggalkan sedikit pun ajaran agama, tidak pula menutup mata dari hal yang diharamkan. Berbeda halnya dengan mudaahanah. Allah Ta'ala berfirman (artinya): «Maka mereka menginginkan supaya kamu bersikap lembut lalu mereka bersikap lembut (pula) kepadamu»." [QS. Al-Qalam: 9].

فالحد الذي لا يتجاوزه الداعية في مراعاته للمدعوين هو معاصي الله، وما يكرهه تعالى، فيبذل للمدعو من الرفق والمعاملة الحسنة ما يجلبه إلى الهداية، ويميل قلبه إلى الحق دون الوقوع في مداهنته

إذا فالمداراة معناها: إظهار الحسن في مقابلة القبيح؛ لاستدعاء الحسن مع سلامة الدين

وقد ثبت في الصحيحين عن عائشة رضي الله عنها قالت: استأذن رجل على رسول الله صلى الله عليه وسلم فقال: ((ائذنوا له، بئس أخو العشيرة، أو ابن العشيرة)) فلما دخل ألان له الكلام، قلت: يا رسول الله، قلت الذي قلت، ثم ألنت له الكلام؟ قال: ((أي عائشة، إن شر الناس من تركه الناس))، أو ودعه الناس، اتقاء فحشه

Batas yang tidak boleh dilanggar oleh seorang da'i dalam menjaga perasaan orang yang didakwahi adalah kemaksiatan kepada Allah dan apa saja yang dibenci-Nya. Maka, seorang da'i mencurahkan kelembutan dan perlakuan yang baik kepada orang yang didakwahi untuk menariknya menuju hidayah serta menundukkan hatinya kepada kebenaran, tanpa terjerumus dalam sikap mudaahanah.

Dengan demikian, mudaarah maknanya adalah: Menampakkan kebaikan saat menghadapi keburukan; demi memancing timbulnya kebaikan dengan tetap menjaga keselamatan agama.

Sungguh telah diriwayatkan dalam shahihain dari 'Aisyah radhiyallahu 'anha, ia berkata: ((Seorang laki-laki meminta izin untuk menemui Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, maka beliau bersabda: "Izinkanlah dia masuk, dia adalah seburuk-buruk kerabat dalam suku ini." Namun ketika orang tersebut masuk, beliau justru berbicara kepadanya dengan kata-kata yang lembut. Aku bertanya: "Wahai Rasulullah, engkau telah mengatakan apa yang engkau katakan tadi, namun kemudian engkau berbicara dengannya secara lembut?" Beliau bersabda: "Wahai 'Aisyah, sesungguhnya seburuk-buruk manusia adalah orang yang ditinggalkan atau dijauhi oleh orang-orang karena takut akan kekejiannya."

:ومن أمثلة مداراة النبي صلى الله عليه وسلم كذلك: مداراته لأهل مكة، حين تلطف بهم في خطابه، وعفوه عنهم بلا منة، رغم ما لقيه منهم، وتلطفه بالمنافقين في المدينة، وغير ذلك كثير

وعلى منهاج الأنبياء سار الصحابة والسلف الصالح؛ فدفعوا بالمداراة كثيرا من الشرور، ونالوا مقصودهم بأقل مجهود، وكفوا مؤونة أعدائهم، واتقوا مكرهم، وتخلصوا من لجاجهم

فهذا أبو الدرداء رضي الله عنه، يقول: إنا لنكشر - أي: نبتسم - في وجوه أقوام، وإن قلوبنا لتلعنهم

قال ابن مفلح رحمه الله: ((وقول أبي الدرداء هذا ليس فيه موافقة على محرم ولا مداهنة في كلام، وإنما طلاقة وجه خاصة للمصلحة)) اهـ

وقال الحسن البصري رحمه الله: التودد إلى الناس نصف العقل

Di antara contoh mudaarah yang dilakukan oleh Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam lainnya adalah: Sikap mudaarah beliau terhadap penduduk Makkah, ketika beliau bertutur kata dengan lemah lembut kepada mereka dan memaafkan mereka tanpa mengungkit-ungkit jasa atau kesalahan mereka, meskipun beliau telah mengalami perlakuan buruk dari mereka. Beliau juga bersikap lembut kepada orang-orang munafik di Madinah, dan masih banyak lagi contoh lainnya.

Dengan mengikuti jalan para nabi itulah para sahabat dan generasi salafus sholih berjalan. Dengan sikap mudaarah, mereka berhasil menolak banyak keburukan, mencapai tujuan mereka dengan usaha yang minimal, dan menghindarkan diri dari beban gangguan musuh, menjaga diri dari makar mereka, serta terbebas dari penentangan mereka.

Sahabat Abu ad-Darda' radhiyallahu 'anhu pernah berkata: 'Sesungguhnya kami tersenyum di hadapan suatu kaum, padahal hati kami melaknat mereka.'

Ibnu Muflih rahimahullah mengomentari: 'Perkataan Abu ad-Darda' ini bukanlah bentuk persetujuan terhadap hal yang diharamkan dan bukan pula sikap mudaahanah dalam ucapan, melainkan sekadar wajah yang berseri-seri secara khusus demi menjaga maslahat.' Selesai.

Al-Hasan al-Bashri rahimahullah berkata: 'Sikap ramah dan menunjukkan rasa kasih sayang kepada sesama manusia adalah separuh dari akal.'

:ويروى عن الشافعي رحمه الله أنه قال

لما عفوت ولم أحقد على أحد                      أرحت نفسي من هم العداوات
إني أحيي عدوي عند رؤيته                       لأدفع الشر عني بالتحيات
وأظهر البشر للإنسان أبغضه                     كأنه قد حشى قلبي محبات
ولست أسلم ممن لست أعرفه                      فكيف أسلم من أهل المودات
الناس داء وداء الناس قربهم                       وفي اعتزالهم قطع المودات
فجامل الناس وأجمل ما استطعت وكن          أصم أبكم أعمى ذا تقيات

Diriwayatkan pula dari Imam ash-Syafi'i rahimahullah bahwa beliau bersyair:

'Ketika aku memaafkan dan tidak menyimpan dendam kepada siapa pun,
aku telah membebaskan diriku dari beban permusuhan.

Sesungguhnya aku memberi salam kepada musuhku ketika melihatnya,
demi menolak keburukan dari diriku melalui penghormatan tersebut.

Aku menampakkan wajah ceria kepada orang yang sebenarnya aku benci,
seolah-olah ia telah memenuhi hatiku dengan rasa cinta.

Bahkan aku tidak bisa selamat dari orang yang tidak aku kenal,
lalu bagaimana mungkin aku bisa selamat dari orang-orang yang aku cintai?

Manusia itu adalah penyakit, dan penyakit manusia terletak pada kedekatan dengan mereka,
namun menjauhi mereka berarti memutuskan tali kasih sayang.

Maka bersikap baiklah kepada manusia dan berbuat indah selagi engkau mampu,
serta jadilah orang yang tuli, bisu, dan buta yang penuh dengan ketakwaan.'

:وقال الخطابي رحمه الله

ما دمت حيا فدار الناس كلهمو                   فإنما أنت في دار المداراة
من يدر دارى ومن لم يدر سوف يرى         عما قليل نديما للندامات

Al-Khatthabi rahimahullah berkata:

'Selama engkau hidup, bersikap ramah dan bijaksanalah kepada seluruh manusia,
karena sesungguhnya engkau berada di dunia yang memerlukan sikap mudaarah.

Barangsiapa bersikap mudaarah, ia akan selamat; dan barangsiapa tidak bersikap mudaarah, ia akan segera melihat dirinya menjadi teman akrab bagi penyesalan.'

 :وقال زهير بن أبي سلمى

ومن لم يصانع في أمور كثيرة                  يضرس بأنياب ويوطأ بمنسم

Zuhair bin Abi Salma berkata:

'Barangsiapa yang tidak mau bersikap ramah dalam banyak urusan,
niscaya ia akan dikunyah dengan taring-taring dan diinjak-injak dengan kuku binatang." (Zagholud Da'wah wad Du'aat, hal,227-230).

Bersambung...

***

Grand Sahara - Purwodadi - Sidayu - Gresik, 10 Rabiul Akhir 1448 H / 22 September 2026 M

Penulis : Abu Dawud ad-Dumbuwiyy

Artikel : Meciangi-d.blogspot.com

Related Posts:

HIKMAH DALAM BERDAKWAH (SERI 3)

8. Cara Khusus Nabi dalam Menarik Hati dan Mendakwahi Pembesar Quraisy

8.1. Dengan Berbicara Secara Khusus

Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam orang yang paling bijak dalam berdakwah, bahkan Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam pernah mendakwahi para pembesar dan tokoh-tokoh Quraisy secara khusus karena ketokohannya, ada yang didoakan agar masuk Islam, dan ada yang dilembutkan hatinya dengan harta dan kedudukan.

Diantara yang didakwahi secara khusus adalah para pembesar Quraisy, yang dengan sebab itu Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam sampai di tegur oleh Allah Ta'ala karena mengabaikan Ibnu Ummi Maktum. 

Dalam sebuah riwayat, Ibnu Ummi Maktum mendatangi Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam untuk sebuah urusan, namun saat itu Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam sedang berbicara dengan salah seorang tokoh Quraisy. Karena besarnya harapan beliau pada ke Islamannya, sampai-sampai beliau bermuka masam kepada Ibnu Ummi Maktum. Allah Ta'ala berfirman :

«عَبَسَ وَتَوَلَّىٰٓ. أَن جَآءَهُ ٱلْأَعْمَىٰ. وَمَا يُدْرِيكَ لَعَلَّهُۥ يَزَّكَّىٰٓ. أَوْ يَذَّكَّرُ فَتَنفَعَهُ ٱلذِّكْرَىٰٓ»

Artinya : "Dia (Muhammad) bermuka masam dan berpaling, karena telah datang seorang buta kepadanya. Tahukah kamu barangkali ia ingin membersihkan dirinya (dari dosa), atau dia (ingin) mendapatkan pengajaran, lalu pengajaran itu memberi manfaat kepadanya?" (QS. Abasa 1-4)

Berkata Ibnu Kastsir rahimahullah dalam tafsirnya 

ذكر غير واحد من المفسرين أن رسول الله صلى الله عليه وسلم كان يوما يخاطب بعض عظماء قريش وقد طمع في إسلامه، فبينما هو يخاطبه ويناجيه إذ أقبل ابن أم مكتوم وكان ممن أسلم قديما فجعل يسأل رسول الله صلى الله عليه وسلم عن شيء ويلح عليه وود النبي صلى الله عليه وسلم أن لو كف ساعته تلك ليتمكن من مخاطبة ذلك الرجل طمعا ورغبة في هدايته وعبس في وجه ابن أم مكتوم وأعرض عنه وأقبل على الآخر فأنزل الله تعالى «عَبَسَ وَتَوَلَّىٰٓ. أَن جَآءَهُ ٱلْأَعْمَىٰ. وَمَا يُدْرِيكَ لَعَلَّهُۥ يَزَّكَّىٰٓٓ»

"Banyak dari kalangan ahli tafsir telah menyebutkan bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam pada suatu hari sedang berbicara dengan sebagian pembesar Quraisy, dan beliau sangat berharap pada keislamannya. Maka ketika beliau sedang berbicara dengan tokoh Quraisy itu dan membisikkan (pembicaraan) kepadanya, tiba-tiba datang Ibnu Ummi Maktum, dan ia termasuk orang yang telah masuk Islam sejak dahulu lalu ia mulai bertanya kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam tentang sesuatu dan terus mendesak beliau.

Dan Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam menginginkan bahwa seandainya ia (Ibnu Ummi Maktum) menahan dirinya pada saat itu, agar beliau dapat memantapkan diri untuk berbicara dengan laki-laki tersebut karena adanya harapan dan keinginan dalam memberi hidayah kepadanya. Lalu Nabi bermuka masam dihadapan Ibnu Ummi Maktum, dan berpaling darinya serta menghadap kepada yang lain, maka Allah Ta‘ala menurunkan : «Dia (muhammad) bermuka masam dan berpaling, karena telah datang kepadanya seorang buta. Dan apakah yang membuatmu mengetahui, boleh jadi ia akan menyucikan diri»" (Tafsir Ibni Katsir, 4/106-107).

Jelas terlihat kesungguhan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dalam mendakwahi tokoh-tokoh Quraisy secara khusus, maka kitapun harus memiliki semangat dalam mendakwahkan tokoh-tokoh masyarakat di kampung, terutama para sesepuh yang menjadi tokoh kunci di masjid.

8.2. Dengan Mendo'akan Secara Khusus

Adapun pembesar-pembesar Quraisy yang didoakan oleh Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam secara khusus adalah Umar bin Khaththab dan Abu Jahal bin Hisyam. Disebutkan:

كان النبي صلى الله عليه وسلم  يتشوق لإسلام عمر بن الخطاب لما يرجوه بإسلامه من خير للإسلام والمسلمين، فكان يدعو: ((اللهم أعز الإسلام بأحب الرجلين إليك : بعمر بن الخطاب أو بأبي جهل بن هشام)). وكان أحبهما إليه عمر بن الخطاب، قال ابن إسحاق: (وكان إسلام عمر بعد خروج من خرج من أصحاب رسول الله صلى الله عليه وسلم  إلى الحبشة)

"Adalah Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam sangat mengharapkan keislaman Umar bin Al-Khaththab karena beliau mengharapkan dengan keislamannya akan menjadi kebaikan bagi Islam dan kaum muslimin. Maka beliau berdoa : ((Ya Allah, muliakanlah Islam dengan salah satu dari dua orang yang paling Engkau cintai yaitu Umar bin Khaththab atau Abu Jahal bin Hisyam)). Dan yang paling dicintai oleh Allah di antara keduanya adalah Umar bin Khaththab. 

Ibnu Ishaq berkata : 'Masuk Islamnya Umar terjadi setelah sebagian sahabat Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam hijrah ke Habasyah.'" (Shahiihul Atsar wa Jamiilul 'Ibar, hal. 108).

Dan masuk Islamnya Umar radhiyallahu 'anhu menjadi babak baru dalam perkembangan Islam di fase sebelum hijrah, dan itu sesuai dengan harapan Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam. Dan kita dalam berdakwah juga harus mendoakan agar para penentang dakwah itu mendapatkan hidayah, sehingga menjadi pembela sunnah dan penolong agama di tempat kita berdakwah.

8.3. Dengan Memberinya Kedudukan secara Khusus

Dan diantara yang diberikan kedudukan, kehormatan dan kemuliaan secara khusus oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam diantaranya adalah Abu Sufyan bin Harb. Di malam Fathu Makkah, Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

من دخل دار أبي سفيان فهو آمن، ومن دخل داره وأغلق عليه بابه فهو آمن، ومن دخل المسجد الحرام فهو آمن

"Barangsiapa yang memasuki rumah Abu Sufyan, maka ia aman. Dan barangsiapa yang memasuki rumahnya sendiri lalu menutup pintunya, maka ia aman. Serta barangsiapa yang memasuki Masjidil Haram, maka ia aman." (Shahiihul Atsar wa Jamiilul 'Ibar, hal. 219)

Abu Sufyan radhiyallahu 'anhu sangat menyukai kedudukan, dan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam sangat tahu akan hal itu. Tokoh-tokoh agama di kampung kita juga demikian, mereka memiliki pengaruh dau aura ketokohan, maka kita beri mereka jabatan dan kemuliaan dengan sesuatu yang layak untuknya seperti ketika kita sedang mengisi kultum, kita mengucapkan satu kalimat, "yang kami hormati orang tua kami pak haji fulan, beliau adalah orang yang selalu membimbing kita dengan nasihat-nasihatnya." Maksudnya, nasihat-nasihatnya ketika khutbah jum'at, kultum ramadhan, dll.

Hal nyata yang bisa kita terapkan juga pada poin ini ketika pembentukan panitia idul Qurban, kita bisa undang pak RT, pak RW, kepala lingkungan dalam rapat kita, kita minta pendapatnya terkait hal-hal teknis cara merubuhkan sapi misalnya, atau kita tanyakan wilayah RT beliau ada berapa kepala keluarga, lalu menyerahkan perwakilan seluruh warga RT nya dalam tanggungan beliau. Kita ucapkan satu kalimat misalnya, "Tanpa persetujuan beliau, daging qurban di wilayah RT ini belum boleh dibagikan." Secara tidak langsung, kita telah memberinya kedudukan yang terlihat sepele tapi tidak bagi Pak RT setempat. Ini di antara trik dakwah yang bisa diterapkan ketik Idul Qurban. Dengan melibatkan mereka, secara tidak langsung kita telah melakukan pendekatan kepada pembesar-pembesar di lingkungan kita berdakwah, sehingga dengan adanya hal-hal tersebut dada mereka menjadi lapang menerima dakwah, dan dakwah juga bisa tersebar secara luas dengan penuh hikmah.
 
8.4. Dengan Memberi Mereka Ghanimah secara Khusus

Diantara yang diberikan ghonimah atau harta untuk melembutkan hati mereka adalah Abu Sufyan, Yazid dan Muawiyah putranya, Sofwan bin Umayyah dan lainnya.

Dalam sebuah riwayat disebutkan: 

عاد صلى الله عليه وسلم من الطائف إلى الجعرانة ثم بدأ في توزيع الغنائم وكان يعطي زعماء مكة، وزعماء القبائل ويجزل لهم في ذلك، يتألفهم على الإسلام، فأعطى أبو سفيان بن حرب أربعين أوقية من الفضة، ومائة من الإبل، وأعطى ابنيه يزيد، ومعاوية، فقال أبو سفيان: بأبي أنت وأمي يا رسول الله، لقد حاربتك فنعم المحارب كنت، وسالمتك فنعم المسالم أنت، هذا غاية الكرم جزاك الله خيرا

وأعطى حكيم بن حزام مائة، ثم سأله فأعطاه مائة أخرى، ثم سأله فأعطاه مائة، وقال له: يا حكيم، إن هذا المال خضرة حلوة من أخذه بسخاوة نفس بورك له فيه، ومن أخذه بإشراف نفس لم يبارك له فيه، وكان كالذي يأكل ولا يشبع، واليد العليا خير من اليد السفلى، فيقال: فأخذ حكيم المائة الأولى وترك ما عداها، وقال حكيم: والله يا رسول الله، والذي بعثك بالحق نبيا لا أرزأ أحدا بعدك شيئا حتى أفارق الدنيا، فكان أبو بكر رضي الله عنه يدعو حكيما ليعطيه العطاء فيأبى أن يقبل منه شيئا، وكذلك رفض العطاء من عمر

وأعطى رسول الله صلى الله عليه وسلم الأقرع بن حابس مائة من الإبل، وأعطى عيينة بن حصن بن بدر مثله، وأعطى العباس بن مرداس السلمي أربعين، فقال شعرا يعاتب الرسول في نقص عطائه عمن سبقه:

أتجعل نهبي ونهب العبيـ                ـد بين عيينة والأقرع؟
فما كان بدر ولا حابس                  يفوقان مرداس في المجمع
وما كنت دون امرئ منهما             وهن تخفض اليوم لا يرفع

.فأكمل له المائة

"Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam kembali dari Thaif menuju Ji'ranah, kemudian beliau mulai membagikan harta rampasan perang (ghanimah). Beliau memberi para pemuka Makkah dan para pemimpin kabilah, serta memperbanyak pemberian untuk mereka dalam hal itu, dengan tujuan melunakkan hati mereka agar masuk Islam.

Maka Beliau memberi Abu Sufyan bin Harb empat puluh uqiyah perak dan seratus ekor unta. Beliau juga memberi kedua anaknya, yaitu Yazid dan Muawiyah. Maka Abu Sufyan berkata: 'Demi ayah dan ibuku sebagai tebusanmu, wahai Rasulullah! Sungguh aku telah memerangimu, dan engkau adalah sebaik-baik musuh dalam perang. Aku pun telah berdamai denganmu, dan engkau adalah sebaik-baik orang yang berdamai. Ini adalah puncak kedermawanan, semoga Allah membalasmu dengan kebaikan.'

Dan Beliau memberi Hakim bin Hizam seratus (ekor unta), kemudian ia meminta lagi, lalu Beliau memberinya seratus lagi. Kemudian ia meminta lagi, lalu Beliau memberinya seratus lagi, dan Beliau bersabda kepadanya: ((Wahai Hakim, sesungguhnya harta ini seperti buah yang hijau lagi manis. Barangsiapa yang mengambilnya dengan kelapangan hati (tanpa ketamakan), niscaya ia akan diberkahi di dalamnya. Dan barangsiapa yang mengambilnya dengan kepuasan nafsu (tamak/ambisius), niscaya ia tidak akan diberkahi di dalamnya, dan ia seperti orang yang makan namun tidak pernah kenyang. Tangan di atas itu lebih baik daripada tangan di bawah)).

Maka dikisahkan: Hakim hanya mengambil seratus ekor unta yang pertama dan meninggalkan sisanya. Hakim berkata: 'Demi Allah, wahai Rasulullah, demi Dzat yang mengutusmu dengan kebenaran sebagai nabi, aku tidak akan mengurangi (meminta) hak seorang pun setelahmu sedikitpun hingga aku meninggalkan dunia.' Maka Abu Bakar radhiyallahu 'anhu pernah memanggil Hakim untuk memberinya tunjangan, namun ia menolak untuk menerima apa pun darinya. Begitu pula ia menolak pemberian tunjangan dari Umar.

Dan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam memberi Al-Aqra' bin Habis seratus ekor unta, dan memberi Uyainah bin Hishn bin Badr dalam jumlah yang sama (seratus ekor unta). Beliau juga memberi Al-Abbas bin Mirdas As-Sulami empat puluh ekor unta. Maka Al-Abbas menggubah syair yang isinya mencela Nabi karena kurangnya pemberian untuk dirinya dibandingkan orang-orang yang mendahuluinya (Al-Aqra' dan Uyainah):

Apakah engkau jadikan rampasan perangku dan rampasan perang kudaku,
dibagi-bagikan di antara Uyainah dan Al-Aqra'?

Padahal tidaklah Badr (ayah Uyainah) maupun Habis (ayah Al-Aqra'),
lebih unggul daripada Mirdas (ayahku) di dalam majelis pertemuan.

Dan tidaklah kedudukanku berada di bawah salah satu dari keduanya,
namun siapa saja yang direndahkan hari ini, maka ia tidak akan diangkat.

Maka Beliau menyempurnakan pemberian untuknya menjadi seratus ekor unta."

Dalam riwayat yang lain:

وكان صفوان بن أمية ينظر إلى شعب مملوء فيه غنم وإبل ورعاؤها، فأعجب صفوان، وجعل ينظر إليه، فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم: أعجبك هذا الشعب يا أبا وهب؟ قال: نعم. قال: هو لك بما فيه. فقال صفوان: أشهد أن رسول الله ما طابت بهذا نفس أحد قط إلا النبي

ووقع في نفوس الأنصار أن رسول الله صلى الله عليه وسلم يعطي الناس ويوزع الغنائم ويدعهم، خاصة أنه يعطي من أسلم حديثا أو من لم يسلم بعد، أما هم فلم يعط أحد منهم بعيرا ولا شاة، حتى كثر فيهم الحديث، وقال قائلهم: يغفر الله لرسول الله، إن هذا لهو العجب، يعطي قريشا ويتركنا وسيوفنا تقطر من دمائهم، إذا كانت شديدة فنحن ندعى ويعطى الغنيمة غيرنا؟، وددنا أن نعلم من كان هذا، فإن كان من أمر الله تعالى صبرنا، وإن كان من رأي رسول الله صلى الله عليه وسلم استعتبناه

وجاءه سعد بن عبادة فأخبره الخبر، وأن الأنصار قد وجدوا في أنفسهم من توزيع الغنائم، حيث يعطي زعماء بعضهم لم يسلم بعد. وبعضهم أسلم قريبا، ويترك الأنصار، فأمر بجمعهم في مكان وخطب فيهم قائلا: أما ترضون أن يرجع الناس بالشاء والبعير وترجعون برسول الله؟ فقالوا: رضينا يا ورسول الله.  قسما. فقال: أوجدتم يا معشر الأنصار في أنفسكم في لعاعة من الدنيا تألفت بها قوما أسلموا، ووكلتكم إلى ما قسم الله لكم من الإسلام، فولله ما تنقلبون به خير مما ينقلبون به، فوالذي نفسي بيده لو أن الناس سلكوا شعبا وسلكت الأنصار شعبا لسلكت شعب الأنصار، اللهم ارحم الأنصار وأبناء الأنصار وأبناء ابناء الأنصار. إنكم ستلقون بعدي أثرة، فاصبروا حتى تلقوني على الحوض

وفي لفظ لابن إسحاق قال: فبكى القوم حتى اخضلوا لحاهم وقالوا: رضينا بالله ربا ورسوله قسما

"Safwan bin Umayyah pernah memandangi sebuah lembah yang penuh dengan kambing, unta, dan para penggembalanya. Safwan merasa kagum dan terus memandanginya. Maka Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bertanya, ((Apakah lembah ini membuatmu kagum, wahai Abu Wahab?)) Ia menjawab, 'Ya.' Beliau bersabda, ((Itu menjadi milikmu beserta seluruh isinya)). Maka Safwan berkata, 'Aku bersaksi bahwa tidak ada seorangpun yang dengan jiwa yang lapang memberikan pemberian seperti ini selain seorang nabi.'

Lalu timbul dalam hati kaum Anshar suatu perasaan bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam memberikan harta kepada orang-orang serta membagikan harta rampasan perang, sedangkan mereka sendiri ditinggalkan. Terlebih lagi, beliau memberikan bagian kepada orang-orang yang baru masuk Islam ataupun kepada orang-orang yang saat itu belum masuk Islam. Adapun mereka sendiri, tidak seorang pun di antara mereka diberi seekor unta maupun seekor kambing. Hingga pembicaraan mengenai hal itu semakin meluas di kalangan mereka. Salah seorang dari mereka berkata, 'Semoga Allah mengampuni Rasulullah. Sungguh, hal ini benar-benar mengherankan. Beliau memberikan kepada kaum Quraisy, sedangkan kami ditinggalkan, padahal pedang-pedang kami masih meneteskan darah mereka. Ketika keadaan genting, kamilah yang dipanggil, tetapi ketika pembagian harta rampasan perang, justru orang lain yang diberi. Kami berharap mengetahui apakah tindakan ini berasal dari Allah. Jika memang berasal dari ketetapan Allah Ta'ala, niscaya kami akan bersabar. Namun apabila hal itu merupakan pertimbangan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, maka kami akan meminta keridaan beliau.'

Kemudian Sa'ad bin Ubadah datang menemui Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam lalu menyampaikan berita tersebut, yaitu bahwa kaum Anshar merasa kecewa terhadap pembagian harta rampasan perang, karena beliau memberikan bagian kepada para pemimpin yang sebagian masih belum masuk Islam, sedangkan sebagian lainnya baru saja masuk Islam, sementara kaum Anshar tidak diberi seperti mereka. Maka Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam memerintahkan agar mereka dikumpulkan di suatu tempat. Setelah mereka berkumpul, beliau berkhutbah kepada mereka seraya bersabda, ((Apakah kalian tidak rela apabila orang-orang pulang membawa kambing dan unta, sedangkan kalian pulang membawa Rasulullah bersama kalian?)) Mereka menjawab, 'Kami ridha, wahai Rasulullah, itulah bagian yang kami terima.' Beliau bersabda, ((Apakah kalian merasa keberatan, wahai kaum Anshar, hanya karena sedikit kesenangan dunia yang dengannya aku hendak melunakkan hati suatu kaum yang baru masuk Islam, sedangkan aku mempercayakan kalian kepada bagian yang telah Allah tetapkan untuk kalian, yaitu nikmat Islam? Demi Allah, sungguh apa yang kalian bawa pulang jauh lebih baik daripada apa yang mereka bawa pulang. Demi Zat yang jiwaku berada di tangan-Nya, seandainya seluruh manusia menempuh suatu jalan, sedangkan kaum Anshar menempuh jalan yang lain, niscaya aku akan memilih jalan kaum Anshar. Ya Allah, limpahkanlah rahmat kepada kaum Anshar, kepada anak-anak kaum Anshar, dan kepada cucu-cucu kaum Anshar. Sesungguhnya sepeninggalku nanti kalian akan menjumpai adanya sikap yang lebih mengutamakan orang lain daripada kalian. Maka bersabarlah hingga kalian menemuiku di telaga)).

Dalam riwayat Ibnu Ishaq disebutkan: 

"Maka kaum Anshar menangis hingga janggut-janggut mereka basah oleh air mata. Mereka berkata, 'Kami ridha kepada Allah sebagai Tuhan kami, dan kepada Rasul-Nya sebagai bagian yang telah ditetapkan untuk kami.'"  (Shahiihul Atsar wa Jamiilul 'Ibar, hal. 227-228).

Jika Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam membagi-bagikan ghonimah yang sangat banyak untuk melembutkan hati tokoh-tokoh Quraisy, maka kita cukup memberi tokoh-tokoh di kampung hadiah semoga bisa melembutkan hati mereka.

Bersambung...

***

Grand Sahara - Purwodadi - Sidayu - Gresik, 8 Rabiul Akhir 1448 H / 20 September 2026 M 

Penulis : Abu Dawud ad-Dumbuwiyy

Artikel : Meciangi-d.blogspot.com

Related Posts:

HIKMAH DALAM BERDAKWAH (SERI 2)

 

6. Dakwah Kita Belum Seberapa

Kondisi di medan dakwah kita belum ada apa-apanya, hanya riak air di dalam sebuah kolam. Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam telah ditimpa ujian dahsyat; di usir dari kampung halamannya, ancaman bunuh, dicaci-maki bahkan pernah dilempari kaumnya dengan batu hingga berdarah. Sambil mengusap darah di wajahnya beliau shallallahu 'alaihi wa sallam berdo'a:

((اللهم اغفر لقومي فإنهم لا يعلمون))

"Ya Allah, ampunilah kaumku, karena sesungguhnya mereka tidak mengetahui." (HR. Al-Bukhari dalam Syarh Tsalaasah al-Ushuul, hal.24).

Di Thoif, beliau mengalami penolakan oleh penduduknya. Padang pasir yang membawa hembusan angin panas di siang hari dan dingin di malam hari, menambah beratnya medan dakwah. Beliau shallallahu 'alaihi wa sallam bersedih sebagai manusia biasa. Tapi kesedihan tidak boleh larut, dakwah harus tetap berlanjut. Dalam kesedihannya, Allah mengutus Malaikat penjaga gunung untuk menghibur beliau dan menawarkan jika beliau ingin, kedua Malaikat itu akan menimpakan gunung kepada penduduk Thiof. 

Aisyah radhiyallahu 'anha menceritakan :

قالت للنبي عليه هل أتى عليك يوم كان أشد من يوم أحد؟ قال : ((لقد لقيت من قومك ما لقيت وكان أشد ما لقيت منهم يوم العقبة إذ عرضت نفسي على ابن عبد ياليل بن عبد كلال فلم يجبني إلى ما أردت فانطلقت وأنا مهموم على وجهي فلم أستفق إلا وأنا بقرن الثعالب فرفعت رأسي فإذا أنا بسحابة قد أظلتني فنظرت فاذا فيها جبريل فناداني فقال إن الله قد سمع قول قومك لك وما ردوا عليك وقد بعث إليك ملك الجبال لتامره بما شئت فيهم فناداني ملك الجبال فسلم علي ثم قال يا محمد ذلك فيما شئت إن شئت أن أطبق عليهم الاخشبين فقال النبي عليه بل أرجو أن يخرج الله من أصلابهم من يعبد الله وحده لا يشرك به شيئا))

"Aisyah berkata kepada Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam : "Apakah pernah datang kepadamu suatu hari yang lebih berat daripada hari Uhud?" Beliau bersabda : ((Sungguh aku telah mengalami dari kaummu apa yang telah aku alami, dan yang paling berat yang aku alami dari mereka adalah pada hari ‘Aqabah, ketika aku menawarkan diriku kepada Ibnu ‘Abdi Yalil bin ‘Abdi Kulal, namun ia tidak memenuhi ajakanku kepada apa yang aku inginkan. Maka aku pun pergi dalam keadaan bersedih, dan aku tidak sadar kecuali ketika aku berada di Qarn ats-Tsa‘alib. Lalu aku mengangkat kepalaku, ternyata ada awan yang telah menaungiku. Aku melihat, ternyata di dalamnya ada Jibril. Ia memanggilku dan berkata: ‘Sesungguhnya Allah telah mendengar perkataan kaummu kepadamu dan apa yang mereka tolak darimu. Dan Dia telah mengutus kepadamu malaikat penjaga gunung agar engkau memerintahkannya sesuai kehendakmu terhadap mereka.’ Maka malaikat gunung itu memanggilku, memberi salam kepadaku, kemudian berkata : ‘Wahai Muhammad, itu terserah apa yang engkau kehendaki. Jika engkau mau, aku akan menimpakan kepada mereka dua gunung.’ Maka Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda : ((Bahkan aku berharap agar Allah mengeluarkan dari keturunan mereka orang-orang yang menyembah Allah semata, tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun))." (Shahiihul Atsar wa Jamiilul 'Ibar, hal. 133)

Tokoh-tokoh penentang dakwah kita di kampung khususnya di sini, tidak melakukan intimidasi secara fisik seperti yang terjadi pada Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, hanya sikap penentangan karena merasa apa yang kita bawa adalah perkara baru yang menyelisihi adat kebiasaan mereka. Sehingga penentangan da'wahnya hanya berkutat pada permasalahn kenapa salafi tidak ikut dzikir berjama'ah, kenapa tidak ikut doa bersama setelah sholat, kenapa tidak ikut berjabat tangan setelah sholat, kenapa tidak melakukan qunut subuh, dll. Akibatnya mereka membalas dengan sikap seperti tidak mengizinkan masjid digunakan untuk kegiatan belajar mengajar, kegiatan kajian ilmiyyah, dll. Artinya, tidak ada intimidasi fisik, apalagi mengerahkan massa untuk membubarkan kajian, karena masyarakatnya masih bisa menahan diri. 

Berbeda kampung memang berbeda ritual keagamaannya meskipun satu daerah atau satu tanah kelahiran. Di Dompu, secara khusus di kampung tempat saya tinggal, ritual yang paling banyak dilakukan adalah perkara-perkara bid'ah dalam beragama, bukan perkara-perkara kesyirikan seperti menyembah kubur, tawaf di kubur, berdo'a kepada selain Allah, dll. Memang kesyirikan pasti ada, tapi yang tampak setiap hari adalah ritual-ritual bid'ah yang mereka lakukan seperti dzikir berjam'ah, dll. Adapun kesyirikan yang mereka lakukan, lebih banyak ketika mereka sedang menghadapi masalah yang pelik, seperti datang ke dukun, ke tempat-tempat keramat untuk penyembuhan yang mereka sebut sebagai prafu, atau menyembelih binatang untuk rumah baru dan menumpahkan darahnya ke dasar rumah, meletakkan sesajen di pojok-pojok lahan pertanian sebagai persembahan, dan itu terjadi secara pribadi, bukan perayaan tahunan, bukan kumpul-kumpul satu kampung melakukan acara-acara kesyirikan sebagaimana yang kita saksikan di kota-kota besar yang banyak kuburan keramatnya, namun kesyirikannya murni secara individu, tidak terekspose, dan seringnya terjadi ketika kondisi-kondisi sulit. Artinya, kesyirikan itu tetap ada tapi pada momen-momen tertentu, tidak dirayakan secara massal, apalagi dimeriahkan oleh semua elemen masyarakat dengan karnaval, kecuali festival Tari Ou Balumba yang baru beberapa bulan lalu terjadi di pantai Lakey untuk kalangan pegawai daerah. Namun acara ini sungguh sangat asing bagi masyarakat kami secara umum. Sehingga kondisi masyarakat yang seperti ini justru lebih mudah untuk di dakwahi ketimbang yang fanatik buta kepada kuburan-kuburan keramat. Dan tugas para da'i adalah untuk mendakwahkan dakwah tauhid dan membersihkan aqidah umat dari kesyirikan sekecil apapun. dengan hikmah.

Karena itu, kita harus membedakan cara menyikapi orang-orang awam dengan tokoh-tokoh penyebar kesyirikan dan kebid'ahan serta kesesatan yang memang sengaja menentang dan menyebarkan kesyirikannya dengan mengajak umat untuk menyembah kuburan, mengkultuskan tokoh-tokoh tertentu, atau menyikapi kelompok-kelompok menyimpang yang sengaja mengajak umat untuk melakukan kebid'ahan, menyebarkan fitnah dan provokasi, karena mereka ini memiliki syubhat dan kebencian, dan syubhat dan kebencian itu tidak akan hilang hanya dengan sekedar menziarahinya, membawakan hadiah untuknya, berdialog dengannya, tapi berdebat dengan mereka dengan cara yang baik.

Adapun dengan tokoh-tokoh penentang dakwah di kampung, ketika kita berbicara dengan mereka di serambi masjid, kita masih dipanggil dengan panggilan, nak, karena memang sejatinya mereka adalah tetangga kita, karib kerabat kita, paman-paman kita, bahkan bapak-bapak kita sendiri dan guru-guru ngaji kita waktu kita masih kanak-kanak. Maka menyikapinya harus bijaksana, melakukan langkah-langkah pendekatan, dan berdialog dengan mereka dengan cara yang baik. 

Lalu bagaimana jika seandainya para sesepuh penentang dakwah di kampung tidak bisa lunak dengan cara menziarahinya, berdialog dengannya, membawakan hadiah untuknya, bahkan justru semakin besar permusuhannya, penentangannta terhadap dakwah serta menyebarkan fitnah dan memprovokasi masyarakat? Maka dahulukan sikap tenang, mencari solusi dengan cara misalnya mendatangi tokoh-tokoh pemuda yang berpengaruh yang didengar ucapannya di tengah masyarakat sebagaimana yang pernah kami lakukan ketika para tokoh penentang dakwah terprovokasi, lalu mendatangi para sesepuh tersebut dengan tokoh pemuda dan berbicara dengan mereka dengan bijak dan bila perlu berdebat, kita berdebat dengannya dengan cara yang baik.

Allah Ta'ala berfirman:

ٱدْعُ إِلَىٰ سَبِيلِ رَبِّكَ بِٱلْحِكْمَةِ وَٱلْمَوْعِظَةِ ٱلْحَسَنَةِ ۖ وَجَـٰدِلْهُم بِٱلَّتِى هِىَ أَحْسَنُ ۚ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ بِمَن ضَلَّ عَن سَبِيلِهِۦ ۖ وَهُوَ أَعْلَمُ بِٱلْمُهْتَدِينَ

Artinya : "Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan debatlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk." (QS. An-Nahl : 125)

Ibnu Katsir mengatakan:

ٱدْعُ إِلَىٰ سَبِيلِ رَبِّكَ بِٱلْحِكْمَةِ وَٱلْمَوْعِظَةِ ٱلْحَسَنَةِ ۖ وَجَـٰدِلْهُم بِٱلَّتِى هِىَ أَحْسَنُ ۚ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ بِمَن ضَلَّ عَن سَبِيلِهِۦ ۖ وَهُوَ أَعْلَمُ بِٱلْمُهْتَدِينَ

يقول تعالى آمرا رسوله محمدا صلى الله عليه وسلم أن يدعو الخلق إلى الله بالحكمة. قال ابن جرير: وهو ما أنزله عليه من الكتاب والسنة والموعظة الحسنة، أي بما فيه من الزواجر والوقائع بالناس ذكرهم بها ليحذروا بأس الله تعالى، وقوله: «وَجَـٰدِلْهُم بِٱلَّتِى هِىَ أَحْسَنُ»، أي من احتاج منهم إلى مناظرة وجدال، فليكن بالوجه الحسن برفق ولين وحسن خطاب كقوله تعالى: «وَلَا تُجَـٰدِلُوٓا۟ أَهْلَ ٱلْكِتَـٰبِ إِلَّا بِٱلَّتِى هِىَ أَحْسَنُ إِلَّا ٱلَّذِينَ ظَلَمُوا۟ مِنْهُمْ» الآية، فأمره تعالى بلين الجانب، كما أمر به موسى وهارون عليهما السلام حين بعثهما إلى فرعون في قوله: «فَقُولَا لَهُۥ قَوْلًۭا لَّيِّنًۭا لَّعَلَّهُۥ يَتَذَكَّرُ أَوْ يَخْشَىٰ». وقوله: «إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ بِمَن ضَلَّ عَن سَبِيلِهِ» الآية، أي قد علم الشقي منهم والسعيد، وكتب ذلك عنده وفرغ منه فادعهم إلى الله، ولا تذهب نفسك على من ضل منهم حسرات، فإنه ليس عليك هداهم إنما أنت نذير، عليك البلاغ وعلينا الحساب، «إِنَّكَ لَا تَهْدِى مَنْ أَحْبَبْتَ»، «لَّيْسَ عَلَيْكَ هُدَىٰهُمْ وَلَـٰكِنَّ ٱللَّهَ يَهْدِى مَن يَشَآءُ

Artinya : "Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pengajaran yang baik, dan debatlah mereka dengan cara yang ia (cara itu) lebih baik. Sesungguhnya Tuhanmu, Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dia lebih mengetahui tentang orang-orang yang mendapat petunjuk." (QS. An-Nahl: 125)

Allah Ta'ala berfirman seraya memerintahkan rasul-Nya, Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam, agar menyeru makhluk kepada Allah dengan hikmah. Ibnu Jarir berkata: "Yaitu apa yang Allah turunkan kepadanya berupa al-kitab dan sunnah." «Dan pengajaran yang baik», yaitu dengan apa yang ada di dalamnya berupa larangan-larangan dan peristiwa-peristiwa (umat terdahulu) yang terjadi pada manusia, yang beliau mengingatkan mereka dengannya agar mereka berhati-hati terhadap adzab Allah Ta'ala.

Dan firman-Nya (yang artinya): «Dan debatlah mereka dengan cara yang ia lebih baik», maksudnya: siapa saja di antara mereka yang membutuhkan diskusi dan perdebatan, maka hendaklah hal itu terjadi dengan cara yang baik, lembut, keramahan, dan tutur kata yang baik, sebagaimana firman-Nya Ta'ala (yang artinya): «Dan janganlah kalian mendebat ahli kitab melainkan dengan cara yang ia lebih baik, kecuali orang-orang yang dzalim di antara mereka», hingga akhir ayat. Maka Allah Ta'ala memerintahkannya untuk bersikap lemah lembut, sebagaimana Dia telah memerintahkan hal itu kepada Musa dan Harun 'alaihimas salam ketika Dia mengutus keduanya kepada Firaun dalam firman-Nya (yang artinya): «Maka berkatalah kalian berdua kepadanya dengan perkataan yang lemah lembut, mudah-mudahan ia ingat atau takut».

Dan firman-Nya (yang artinya): «Sesungguhnya Tuhanmu, Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya», hingga akhir ayat, maksudnya: Allah benar-benar telah mengetahui siapa yang celaka dan siapa yang bahagia di antara mereka, dan Dia telah menetapkan hal tersebut di sisi-Nya serta telah menyelesaikannya. Maka serulah mereka kepada Allah, dan janganlah jiwamu terbawa karena mengasihaninya atas orang yang tersesat di antara mereka dalam keadaan penuh penyesalan, karena sesungguhnya bukanlah tugasmu memberikan hidayah (taufik) kepada mereka, hanya saja engkau hanyalah seorang pemberi peringatan. Atasmu kewajiban menyampaikan dan atas Kami kewajiban menghisab. «Sesungguhnya engkau tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang engkau cintai», «Bukanlah kewajibanmu menjadikan mereka mendapat petunjuk, akan tetapi Allah-lah yang memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki»." (Mukhtashor Tafsiir Ibni Katsiir, 2/352).

7. Kita Menghadapi Orang-Orang Jahil yang di Tokohkan

Menyebarnya buku-buku tarekat sufiyyah menimbulkan syubhat yang menyesatkan orang-orang tua kita di kampung. Mereka menganggap ilmu kita hanya kulitnya saja, sedangkan ilmu mereka adalah intinya. Sehingga ada di antara mereka yang tidak sholat, ada yang sholat tapi beramal bid'ah dengan dalil nenek moyang. Selain itu buku-buku sufi yang mereka baca terkadang memberikan warna yang berbeda dalam amal ibadah mereka. Mereka mengatakan, "Buku kami ini tidak seperti buku kalian yang kertasnya putih bersih, buku-buku kami warnanya kuning dan tidak dijumpai yang menjualnya di pasaran." 

Inti dari yang ingin mereka sampaikan adalah, buku kalian itu buku baru, berbicara tentang kulit-kulitnya Islam saja, sedangkan buku kami adalah buku klasik yang berbicara tentang intisari agama yaitu ma'rifatullah versi mereka.

Jika kita menjelaskan tentang makna syahadat Laa ilaaha illallah, mereka hanya tersenyum dan mengatakan, "Kalian levelnya masih syariat. Yang kalian bahas itu baru kulitnya." Bagaimana cara berdialog dengan mereka? Kuncinya ada pada pembahasan huruf-huruf yang selalu mereka bahas. Huruf Alif itu apa, huruf Ra itu apa, huruf Lam itu apa, huruf la nafiyatu liljinsi pada kalimat La ilaaha Illallah itu apa, semua ada filosofinya dalam pandangan mereka. Dan di sinilah ilmu nahwu itu bermanfaat dalam berdialog dengan mereka, karena akan membedah semua jenis huruf yang membuat mereka akan terpesona jika kita menjabarkan semua jenis huruf tersebut secara detail bahkan saya menjumpai banyak dari mereka yang mendapatkan hidayah salaf dengan dialog membedah jenis-jenis huruf ini.

Dari obrolan singkat seperti ini, mereka mulai mengerti ternyata kita punya level dalam pandangan mereka, karena hobi mereka adalah mengkaji huruf-huruf hijaiyah. Jadi tidak perlu bawakan dalil-dalil panjang, cukup jabarkan semua jenis-jenis huruf-huruf dalam pelajaran bahasa arab atau jelaskan makna Laa Ilaaha Ilallah secara kaidah nahwu, insya Allah mereka akan taubat dari keyakinan lamanya sebagaimana pengalaman pribadi saya ketika berdialog santai dengan mereka. Justru ketika saya membawakan dalil-dalil dari Al-Qur'an dan hadits, mereka menepuk lantai masjid sambil mengatakan, "Hei... kami dalam beragama ga make dalil, karena dalil itu adalah ucapan ulama! Kami hanya kami hanya menerima Al-Qur'an dan hadits saja bukan dalil." Kira-kira bagaimana sikap kita setelah mengetahui ini, apakah baro' total? 

Kembali pada pembahasan diatas. Karena itu menghadapi tokoh-tokoh penentang dakwah di kampung tidak hanya butuh ilmu, tapi juga butuh pendekatan, butuh dialog tanpa menggurui, butuh jadi pendengar sesaat, jangan langsung tancap gas, ini bid'ah, ini syirik, ini menyimpang, ini kufur, ini maksiat, karena kalimat-kalimat itu seakan serangan bertubi-tubi yang akan membuat mereka naik darah. Gunakan kalimat-kalimat yang lebih bijak seperti, "Ini tidak sunnah, Pak Aji", atau yang semisal dengan itu. Padahal arti ucapan di atas adalah bid'ah itu sendiri secara makna. 

Karena demikina, memilih kalimat yang bijak sangat mempengaruhi dakwah di tengah masyarakat, karena menghadapi tokoh-tokoh yang memiliki pengaruh di lingkaran masjid dan masyarakat, butuh trik mumpuni. Mereka ditokohkan bukan karena mereka ahli dalam agama, tapi salah satu dari beberapa hal (1) karena statusnya sebagai pak haji dan imam sholat, (2) karena sering memimpin acara-acara adat dan kematian serta acara-acara bid'ah di tengah masyarakat, (3) karena umurnya yang sudah tua, (4) karena menjadi pengurus badan kesejahteraan masjid (BKM), (5) karena pendidikan dan status sosial.

Dan yang paling ditokohkan adalah yang memiliki gelar haji, sebagai imam sholat, umur yang cukup tua, dan sebagai rujukan dan dalam acara-acara adat, kematian, dan kegiatan bid'ah di tengah masyarakat. Untuk beberapa tahun belakangan ini, pendidikan sudah mulai menjadi tolak ukur menjadi tokoh di lingkaran masjid.  

Hal-hal diatas bisa ditambahkan sesuai realita di kampung masing-masing. Inti pembahasan kita adalah bapak-bapak sesepuh kita di kampung, para tokoh-tokoh agama, para imam-imam di masjid kampung, mereka aslinya jahil, bukan Ustadz, bukan Kiyai, bukan Gus, tidak bisa baca kitab, tapi murni orang-orang awam yang ditokohkan karena sebab-sebab di atas. Maka sikapi tokoh-tokoh seperti ini dengan bijak, jangan samakan dengan menyikapi Khowarij, Jahmiyah, Mu'tazilah, kelompok-kelompok dakwah yang menyesilihi sunnah, firqoh-firqoh menyimpang di Indonesia, tapi sikapi dengan bijaksana, langkah pendekatan, sikap yang lembut, hikmah. Bahkan bila perlu, gunakan cara-cara khusus sebagaimana yang dilakukan oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam ketika di Makkah, bukan di baro' secara total!

Bersambung...

***

Grand Sahara - Purwodadi - Sidayu - Gresik, 8 Rabiul Akhir 1448 H / 20 September 2026 M 

Penulis : Abu Dawud ad-Dumbuwiyy

Artikel : Meciangi-d.blogspot.com

Related Posts:

HIKMAH DALAM BERDAKWAH (SERI 1)

Bismillah. Alhamdulillah. Wa shallallahu 'ala Nabiyyina Muhammadin wa 'ala aalihi wa shahbih ajma'iin.

Tidak dipungkiri dalam dakwah sangat dibutuhkan metode pendekatan yang bijak kepada masyarakat, karena dakwah itu tidak hanya membutuhkan kepintaran sang da'i dalam menguasai ilmu syar'i secara mendalam, tapi juga dibutuhkan kecerdasan dan kemampuan dalam berinteraksi sosial dengan masyarakat tanpa harus mengorbankan aqidah al-wala' wal bara'.

1. Konsep Al-Wala' wal Bara'

Sebagian orang khususnya yang katanya sudah mulai belajar sunnah, masih banyak yang salah dalam memahami konsep dasar al-wala' wal bara'. Bagi mereka semua yang menyelisihi manhaj salaf harus diberikan bara' total, meskipun itu adalah bapak-bapak penentang dakwah di kampung yang menjadi imam sholat dan melakukan kebid'ahan karena sebab kebodohan. 

Tidak boleh bergaul dengan mereka, duduk bersama mereka, padahal dalam interaksi sosial dengan masyarakat harus ada komunikasi. Selain itu mereka pada satu sisi adalah tetangga kita bahkan karib kerabat kita sendiri di kampung. Kita tidak sedang menghadapi Khowarij, Mu'tazilah, Jahmiyah,  dll, tapi kita sedang menghadapi orang-orang awam di kampung. Diantara bentuk komunikasi dengan mereka adalah menyapa mereka, mengucapkan salam, berjabat tangan dengan mereka di serambi masjid saat sedang duduk-duduk santai atau sengaja duduk-duduk sejenak menanyakan kabar mereka lalu pulang.

Terkadang ada banyak hal yang ingin mereka tanyakan kepada kita, namun karena sikap kita yang terlalu kaku dan cuek, membuat mereka menjaga jarak bahkan membenci dakwah salaf yang mulia ini.

Karena demikina, sikap kita dalam berinteraksi sangat memberikan efek yang besar dalam melembutkan hati kaum muslimin, khususnya para penentang dakwah di masjid kampung. Dari sikap kita yang mudah berinteraksi, menyapa, mengucapkan salam, dan masih banyak lagi hal-hal yang terlihat sepele, bisa jadi itu akan menjadi washilah tersebarnya dawkah. Betapa banyak dakwah itu menjadi mudah dan diterima masyarakat karena sikap kecil yang terlihat remeh dalam pandangan manusia. 

Sejatinya sebagian besar kita adalah penduduk asli di tanah kelahiran kita masing-masing, dan bapak-bapak "penentang dakwah" itu adalah guru-guru ngaji kita waktu kecil. tetangga kita, karib kerabat kita, bahkan paman dan orang tua kita sendiri. Mereka dahulu yang selalu memberikan nasihat-nasihatnya ketika khutbah jumat di masa-masa kita masih kanak-kanak. Apakah mereka harus kita bara' total sebagaimana kita baro' kepada orang-orang? atau kita posisikan diri kita sebagai seorang anak yang sedang mendakwahi orang tuanya dengan tegas tanpa perlu menggurui, tapi penuh hikmah dan dengan kelembutan. 

2. Definisi al-Wala' wal Bara'

2.1. Definisi al-Wala'

Para ulama menyebutkan makna al-wala sebagai berikut.

الولاء لغة من الولي، وهو أصل يدل على القرب، قال الراغب: ويستعار ذلك للقرب من حيث المكان، ومن حيث النسبة، ومن حيث الدين، ومن حيث الصداقة والنصرة والاعتقاد

"Al-Wala' secara bahasa berasal dari kata al-wali. Kata tersebut merupakan suatu akar kata yang menunjukkan makna kedekatan. Ar-Raaghib berkata: 'Makna kedekatan itu digunakan pula secara majazi untuk menunjukkan kedekatan dari segi tempat, dari segi hubungan nasab, dari segi agama, serta dari segi persahabatan, pertolongan, dan keyakinan.' (Al-Maushuu'ah al-Fiqhiyyah, 45/119)

Dan al-wala' yang kita maksud adalah al-wala' dari segi agama, pertolongan, keyakinan dan persaudaraan; yaitu mencintai dan menolong orang-orang yang beriman karena persaudaraan atas dasar iman. Allah Ta'ala berfirman:

«إِنَّمَا ٱلْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌۭ»

Artinya : "Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu bersaudara." (QS. Al-Hujurat : 10)

Syaikh Sholih Fauzan mengatakan:

فالمؤمنون إخوة في الدين والعقيدة وإن تباعدت أنسابهم وأوطانهم وأزمنتهم

"Maka orang-orang yang beriman adalah saudara dalam agama dan akidah, sekalipun nasab mereka berjauhan, negeri-negeri mereka saling berjauhan, dan zaman mereka berbeda-beda." (Al-Wala' wal Bara' fiil Islam, hal. 3)

2.2. Definisi al-Bara'

Para ulama menyebutkan makna al-bara' sebagai berikut.

  البراءة في اللغة : الخروج من الشيء والمفارقة له ، والأصل البرء بمعنى : القطع ، فالبراءة قطع العلاقة ، يقال : برئت من الشيء ، وأبرأ براءة : إذا أزلته عن نفسك وقطعت أسبابه ، وبرئت من الدين : انقطع عني ، ولم يبق بيننا علقة

"Al-Bara'ah (berlepas diri) secara bahasa adalah keluar dari sesuatu dan memisahkan diri darinya. Asal kata al-bar'u bermakna 'memutus'. Oleh karena itu, al-bara'ah berarti memutus hubungan. Dikatakan: 'Bari'tu minasy syai'i' (aku telah berlepas diri dari sesuatu) dan 'abra'u baraa'atan' (aku berlepas diri dengan sebenar-benarnya), yaitu apabila seseorang menghilangkan sesuatu itu dari dirinya dan memutus segala sebab yang menghubungkannya dengannya. Dan dikatakan pula: 'Bari'tu minad dain' (aku telah bebas dari utang), maksudnya utang itu telah terputus dariku dan tidak lagi tersisa hubungan atau keterikatan apapun antara kami." (Al-Maushuu'ah al-Fiqhiyyah, 8/51).

Dan al-bara' yang dimaksud adalah membenci dan memusuhi orang-orang kafir dan orang-orang yang memusuhi Allah dan rasul-Nya. Allah Ta'ala berfirman :

«بَرَآءَةٌۭ مِّنَ ٱللَّهِ وَرَسُولِهِۦٓ إِلَى ٱلَّذِينَ عَـٰهَدتُّم مِّنَ ٱلْمُشْرِكِينَ»

Artinya: "(Inilah pernyataan) pemutusan hubungan dari Allah dan Rasul-Nya (yang dihadapkan) kepada orang-orang musyrikin yang kamu (kaum muslimin) telah mengadakan perjanjian (dengan mereka)." (QS. At-Taubah : 1)

3. Pembagian Al-Wala' wal-Bara'

3.1. Orang yang Dicintai dengan Kecintaan yang Murni Tanpa disertai Permusuhan

Syaikh Sholih Fauzan menjelaskan siapa mereka ini, beliau mengatakan:

وهم المؤمنون الخلص من الأنبياء والصديقين والشهداء والصالحين. وفي مقدمتهم رسول اللهصلى الله عليه وسلم، فإنه تجب محبته أكثر من محبة النفس والوالد والولد والناس أجمعين

ثم زوجاته أمهات المؤمنين وأهل بيته الطيبون وصحابته الكرام خصوصا الخلفاء الراشدون وبقية العشرة والمهاجرون والأنصار وأهل بدر وأهل بيعة الرضوان ثم بقية الصحابة رضي الله عنهم أجمعين

ثم التابعون والقرون المفضلة وسلف هذه الأمة وأئمتها كالأئمة الأربعة. قال تعالى: «وَٱلَّذِينَ جَآءُو مِنۢ بَعْدِهِمْ يَقُولُونَ رَبَّنَا ٱغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَٰنِنَا ٱلَّذِينَ سَبَقُونَا بِٱلْإِيمَـٰنِ وَلَا تَجْعَلْ فِى قُلُوبِنَا غِلًّۭا لِّلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ رَبَّنَآ إِنَّكَ رَءُوفٌۭ رَّحِيمٌ» (الحشر: 10)

ولا يبغض الصحابة وسلف هذه الأمة من في قلبه إيمان. وإنما يبغضهم أهل الزيغ والنفاق وأعداء الإسلام كالرافضة والخوارج، نسأل الله العافية

"Mereka adalah orang-orang mukmin yang tulus, yaitu para nabi, ash-shiddiqin, para syuhada, dan orang-orang saleh. Yang paling utama di antara mereka adalah Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam. Sesungguhnya mencintai beliau wajib melebihi kecintaan kepada diri sendiri, kepada orang tua, kepada anak, dan kepada seluruh manusia.

Kemudian istri-istri beliau, yang merupakan ibu-ibu kaum mukminin; kemudian ahlul bait beliau yang suci, kemudian para sahabat beliau yang mulia, terutama khulafaur rasyidin, kemudian sisa dari sepuluh sahabat yang dijamin surga, kaum muhajirin, kaum anshar, para peserta perang badar, para peserta baiat ridwan, kemudian seluruh sahabat yang lainnya. Semoga Allah meridhai mereka semuanya.

Kemudian para tabi'in, generasi-generasi yang utama, para ulama salaf umat ini, serta para imamnya, seperti imam empat madzhab. Allah Ta'ala berfirman (yang artinya): «Dan orang-orang yang datang setelah mereka berkata: 'Ya Tuhan kami, ampunilah kami dan saudara-saudara kami yang telah lebih dahulu beriman daripada kami. Janganlah Engkau jadikan dalam hati kami rasa dengki terhadap orang-orang yang beriman. Ya Tuhan kami, sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang.'" (QS. Al-Hasyr: 10).

Tidaklah membenci para sahabat dan para ulama salaf umat ini kecuali orang yang di dalam hatinya tidak terdapat keimanan. Yang membenci mereka hanyalah orang-orang yang menyimpang, orang-orang munafik, dan musuh-musuh Islam, seperti kaum rafidhah dan khawarij. Kita memohon kepada Allah keselamatan." (Al-Wala' wal Bara' fiil Islam, hal. 15)

3.2. Orang yang Dibenci dan Dimusuhi dengan Kebencian dan Permusuhan yang Murni, tanpa Disertai Rasa Cinta Maupun Loyalitas

Syaikh Sholih Fauzan mengatakan:

وهم الكفار الخلص من الكفار والمشركين والمنافقين والمرتدين والملحدين على اختلاف أجناسهم

كما قال الله تعالى: «لَّا تَجِدُ قَوْمًۭا يُؤْمِنُونَ بِٱللَّهِ وَٱلْيَوْمِ ٱلْـَٔاخِرِ يُوَآدُّونَ مَنْ حَآدَّ ٱللَّهَ وَرَسُولَهُۥ وَلَوْ كَانُوٓا۟ ءَابَآءَهُمْ أَوْ أَبْنَآءَهُمْ أَوْ إِخْوَٰنَهُمْ أَوْ عَشِيرَتَهُمْ» (المجادلة: 22).

وقال تعالى عاتبا على بني إسرائيل: «ترى كثيرا منهم يتولون الذين كفروا لبئس ما قدمت لهم أنفسهم أن سخط الله عليهم وفي العذاب هم خالدون. ولو كانوا يؤمنون بالله والنبي وما أنزل إليه ما اتخذوهم أولياء ولكن كثيرا منهم فاسقون» (المائدة: 79-80)

"Mereka adalah orang-orang kafir yang murni, yaitu dari kalangan orang-orang kafir, kaum musyrik, orang-orang munafik, orang-orang murtad, dan kaum ateis, meskipun jenis dan golongan mereka berbeda-beda.

Sebagaimana Allah Ta'ala berfirman (yang artinya): "Engkau tidak akan mendapati suatu kaum yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir saling berkasih sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, sekalipun orang-orang itu adalah bapak-bapak mereka, anak-anak mereka, saudara-saudara mereka, ataupun keluarga besar mereka." (QS. Al-Mujādilah: 22).
 
Dan Allah Ta'ala berfirman sebagai teguran kepada Bani Israil (yang artinya): "Engkau melihat banyak di antara mereka menjadikan orang-orang kafir sebagai teman setia. Sungguh buruk apa yang telah mereka persiapkan untuk diri mereka sendiri, yaitu kemurkaan Allah menimpa mereka, dan mereka kekal di dalam azab. Seandainya mereka benar-benar beriman kepada Allah, kepada Nabi, dan kepada apa yang diturunkan kepadanya, niscaya mereka tidak akan menjadikan orang-orang kafir itu sebagai wali (pelindung atau sekutu). Akan tetapi, banyak di antara mereka adalah orang-orang fasik." (QS. Al-Mā'idah: 80–81). (Al-Wala' wal Bara' fiil Islam, hal. 15-16)

3.3. Orang yang Dicintai pada Satu Sisi dan Dibenci pada Sisi yang Lain

Syaikh Sholih Fauzan kembali mengatakan:

فتجتمع فيه المحبة والعداوة، وهم عصاة المؤمنين، يحبون لما فيهم من الإيمان، ويبغضون لما فيهم من المعصية التي هي دون الكفر والشرك

ومحبتهم تقتضي مناصحتهم والإنكار عليهم، فلا يجوز السكوت على معاصيهم بل ينكر عليهم، ويؤمرون بالمعروف وينهون عن المنكر، وتقام عليهم الحدود والتعزيرات حتى يكفوا عن معاصيهم ويتوبوا من سيئاتهم

ولكن لا يبغضون بغضا خالصا ويتبرأ منهم كما تقوله الخوارج في مرتكب الكبيرة التي هي دون الشرك

ولا يحبون ويوالون حبا وموالاة خالصين كما تقوله المرجئة، بل يعتدل في شأنهم على ما ذكرنا كما هو مذهب أهل السنة والجماعة

والحب في الله والبغض في الله أوثق عرى الإيمان، والمرء مع من أحب يوم القيامة كما في الحديث

"Pada diri mereka terkumpul rasa cinta dan rasa benci. Mereka adalah orang-orang mukmin yang berbuat maksiat. Mereka dicintai karena keimanan yang ada pada diri mereka, dan dibenci karena kemaksiatan yang ada pada diri mereka, yaitu kemaksiatan yang tidak sampai pada derajat kufur dan syirik.

Mencintai mereka mengharuskan untuk menasihati dan mengingkari kemungkaran mereka. Oleh karena itu, tidak boleh berdiam diri terhadap kemaksiatan mereka. Bahkan, mereka harus diingkari, diperintahkan kepada yang ma'ruf, dilarang dari yang mungkar, serta ditegakkan atas mereka hukuman-hukuman hudud dan ta'zir hingga mereka berhenti dari kemaksiatan mereka dan bertobat dari dosa-dosa mereka.

Akan tetapi, mereka tidak dibenci dengan kebencian yang murni dan tidak pula berlepas diri total dari mereka, sebagaimana yang dikatakan oleh kaum Khawarij mengenai pelaku dosa besar yang tidak sampai pada tingkat syirik.

Demikian pula, mereka tidak dicintai dan tidak diberi loyalitas dengan cinta dan loyalitas yang murni sebagaimana yang dikatakan oleh kaum Murji'ah. Akan tetapi, sikap terhadap mereka harus bersikap pertengahan sebagaimana yang telah kami jelaskan. Demikian itulah mazhab Ahlus Sunnah wal Jamaah.

Mencintai karena Allah dan membenci karena Allah merupakan ikatan-ikatan iman yang paling kuat. Seseorang akan bersama dengan orang yang dicintainya pada hari Kiamat, sebagaimana disebutkan dalam hadis." (Al-Wala' wal Bara' fiil Islam, hal. 16-17).

Dan tokoh-tokoh penentang dakwah di kampung masuk pada poin ketiga ini, mereka tidak dicintai dan diberikan loyalitas dengan cinta dan loyalitas yang murni, dan mereka juga tidak dibenci dan di bara' dengan kebencian dan bara' yang murni. Inilah qoidah ahlus sunnah wal jama'ah yang harus difahami dengan benar, agar tidak seperti Khowarij yang mengkafirkan pelaku dosa besar sehingga bara' kepada mereka secara total, dan tidak pula seperti Murji'ah yang menganggap pelaku maksiat imannya sempurna dan berhak mendapatkan cinta dan loyalitas yang murni. Namun sikap ahlus sunnah adalah pertengahan. 

4. Orang yang Dicintai pada Satu Sisi dan Dibenci pada Sisi yang Lain

4.1. Wala' wal Bara' Kepada Ahlul Kiblat

Setelah penjabaran yang panjang lebar di atas, kita akan fokus pada poin kedua dan ketiga yaitu wala' wal bara' kepada orang-orang mu'min dan orang-orang kafir. 

Dari penjabaran di atas dapat kita ketahui bahwa pelaku bid'ah, para penentang dakwah di kampung, mereka adalah kaum muslimin, ahlul kiblat, mereka melakukan melakukan kebid'ahan dan maksiat, selama bid'ah dan maksiatnya tidak sampai pada derajat kufur dan syirik, maka wala' dan bara' tidak boleh hilang total.

Kita tidak sedang berbicara tentang Jahmiyyah, Mu'tazilah, Qodariyyah, Khowarij, Jama'atut Tabligh, dan firqoh-firqoh menyimpang yang sengaja menyebarkan kebid'ahan dan manhaj dakwah mereka, atau Syi'ah, dll, tapi kita sedang berbicara tentang penentang dakwah di kampung, di desa tempat kita di lahirkan, yang level wala' dan bara' kepada mereka berbeda dengan kelompok-kelompok menyimpang.

Sejatinya orang-orang kampung itu adalah tetangga kita, karib kerabat kita, bahkan mereka adalah orang tua kita sendiri yang masih awam, jahil dengan hakikat perbuatannya, bahkan kebanyakan mereka menentang dakwah karena sebab kebodohan, Saya menyaksikan, masih banyak diantara mereka yang memiliki fitrah dan secercah cahaya ingin tahu tentang dakwah yang haq ini.

Dalam aqidah al-wala' wal baro', konsep yang diterapkan terhadap sesama muslim adalah wala' (loyalitas/cinta) tetap harus ada walaupun hanya satu persen sesuai dengan kadar dosa dan maksiat serta bid'ah yang ia lakukan, karena baro' secara total itu hanya terjadi pada orang-orang kafir. Jika ada seorang muslim yang bermaksiat kepada Allah, melakukan bid'ah, ia tetap seorang muslim yang memiliki hak-hak terhadap muslim lainnya.

Menurut manhaj ahlus sunnah, seorang muslim tidak keluar dari Islam hanya karena sebab dosa besar yang ia lakukan, atau bid'ah yang ia kerjakan, selama bid’ah tersebut tidak sampai pada derajat kekufuran sampaipun kelompok-kelompok menyimpang di atas. Maka konsekuensinya ia tetap memiliki hak wala’ sebagai sesama muslim, tetapi juga dibenci perbuatan bid’ahnya. Ini dikenal dengan prinsip dicintai karena imannya, dan dibenci karena maksiat atau bid’ahnya. Kita menjawab salamnya jika ia mengucapkan salam, menjaga hak-haknya sebagai seorang muslim, dan boleh bermakmum di belakangnya jika ia menjadi imam sholat, dll.  

Imam Ath-Thohawiy mengatakan:

ونرى الصلاة خلف كل بر وفاجر من أهل القبلة، وعلى من مات منهم

"Dan kami berpendapat bahwa sholat itu (tetap sah dilakukan) di belakang setiap orang yang baik maupun yang fajir dari kalangan ahli kiblat, dan kami berpendapat untuk tetap menyalati siapa saja yang mati di antara mereka."

Ibnu Abil Izz menjelaskan dalam syarahnya:

قال صلى الله عليه وسلم: ((صلوا خلف كل بر وفاجر)). رواه مكحول، عن أبي هريرة رضي الله عنه، أخرجه الدارقطني، وقال: مكحول لم يلق أبا هريرة، وفي إسناده معاوية بن صالح، متكلم فيه، وقد احتج به مسلم في صحيحه وخرج له الدارقطني أيضا، وأبو داود، عن مكحول، عن أبي هريرة رضي الله عنه، قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: ((الصلاة واجبة عليكم مع كل مسلم بر أو فاجر، وإن هو عمل بالكبائر، والجهاد واجب مع كل أمير بر أو فاجر، [وإن] عمل الكبائر)).

وفي صحيح البخاري: أن عبد الله بن عمر رضي الله عنهما كان يصلي خلف الحجاج بن يوسف الثقفي، وكذا أنس بن مالك، وكان الحجاج فاسقا ظالما.

Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: ((Sholatlah kalian di belakang setiap orang yang baik maupun yang fajir (durhaka)))." Hadis ini diriwayatkan oleh Makhul, dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu. Hadits ini dikeluarkan oleh Al-Daraquthni, dan beliau berkata: "Makhul belum pernah bertemu dengan Abu Hurairah. Dan di dalam sanadnya terdapat Mu'awiyah bin Sholih, seorang yang diperbincangkan (dikritik). Namun sungguh, Muslim telah berhujah dengannya di dalam kitab shahihnya.

Dan ad-Daraquthni serta Abu Dawud juga mengeluarkan riwayat dari Makhul, dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, ia berkata: Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: ((Shalat itu wajib atas kalian bersama setiap orang muslim, baik ia orang yang baik maupun yang durhaka, walaupun ia melakukan dosa-dosa besar. Dan jihad itu wajib bersama setiap pemimpin, baik ia orang yang baik maupun yang durhaka, walaupun ia melakukan dosa-dosa besar)).

Dan di dalam shohih al-Bukhari terdapat riwayat: "Bahwasanya Abdullah bin Umar radhiyallahu 'anhuma dahulu ia sholat di belakang Al-Hajjaj bin Yusuf ats-Thaqafi, dan demikian pula Anas bin Malik, padahal Al-Hajjaj adalah seorang yang fasik lagi dzalim." (Syarh al-Aqiidah ath-Thohawiyyah, 2/169-171).

Para sahabat radhiyallahu 'anhum bermakmum kepada orang sekelas Hajjab bin Yusuf ats-Thaqafi yang fasik dan dzolim, membunuh banyak dari para sahabat, menunjukkan wala' mereka kepada Hajjaj bin Yusuf masih ada. Sedangkan tokoh agama di kampung kita, bapak-bapak imam kita di musholla desa tidak seperti Hajjaj bin Yusuf ats-Thaqafi, tapi mereka adalah tetangga-tetangga kita yang jahil yang melakukan kebid'ahan atas dasar mengikuti tradisi nenek moyang. Mereka ini lebih berhak mendapatkan wala' kita daripada Hajjaj bin Yusuf ats-Thaqafi yang dianggap fasik oleh para ulama.

5. Orang yang Dibenci dan Dimusuhi dengan Kebencian dan Permusuhan yang Murni, tanpa Disertai Rasa Cinta Maupun Loyalitas

5.1. Wala' wal Bara' Kepada Orang-Orang Kafir

Adapun terhadap orang kafir, maka tidak boleh diberikan wala' sedikitpun kepada mereka sebagaimana banyak dalil yang menjelaskan hal ini. Allah Ta'ala berfirman:

«يَـٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ لَا تَتَّخِذُوا۟ ٱلْيَهُودَ وَٱلنَّصَـٰرَىٰٓ أَوْلِيَآءَ ۘ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَآءُ بَعْضٍۢ ۚ وَمَن يَتَوَلَّهُم مِّنكُمْ فَإِنَّهُۥ مِنْهُمْ ۗ إِنَّ ٱللَّهَ لَا يَهْدِى ٱلْقَوْمَ لظَّـٰلِمِينَ»

Artinya : "Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin(mu); sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagian yang lain. Barangsiapa diantara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim." (QS. Al-Maidah : 51) 

Ibnu Katsir rahimahullah mengatakan tentang tafsir ayat diatas:

ينهى تبارك وتعالى عباده المؤمنين عن موالاة اليهود والنصارى، الذين هم أعداء الإسلام وأهله - قاتلهم الله - ثم أخبر أن بعضهم أولياء بعض، ثم تهدد وتوعد من يتعاطى ذلك، فقال : «وَمَن يَتَوَلَّهُم مِّنكُمْ فَإِنَّهُۥ مِنْهُمْ ۗ »

"Allah Tabaaraka wa Ta'ala telah melarang hamba-hamba-Nya orang-orang yang beriman untuk mendukung/loyal/cinta kepada orang-orang Yahudi dan Nasrani yang mereka itu merupakan musuh Islam dan musuh umat Islam -semoga Allah membinasakan mereka-. Kemudian Allah mengabarkan bahwasanya sebagian mereka adalah penolong bagi sebagian lainnya, kemudian Allah mengancam dan memberikan peringatan kepada orang yang melakukan hal itu, Allah berfirman (yang artinya) : «Barangsiapa diantara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka»." (Tafsiir Ibni Karsiir, 2/63)

Allah 'Azza wa Jalla juga berfirman:

«لَّا تَجِدُ قَوْمًۭا يُؤْمِنُونَ بِٱللَّهِ وَٱلْيَوْمِ ٱلْـَٔاخِرِ يُوَآدُّونَ مَنْ حَآدَّ ٱللَّهَ وَرَسُولَهُۥ وَلَوْ كَانُوٓا۟ ءَابَآءَهُمْ أَوْ أَبْنَآءَهُمْ أَوْ إِخْوَٰنَهُمْ أَوْ عَشِيرَتَهُمْ ۚ أو۟لَـٰٓئِك كَتَبَ فِى قُلُوبِهِمُ ٱلْإِيمَـٰنَ وَأَيَّدَهُم بِرُوحٍۢ مِّنْهُ ۖ وَيُدْخِلُهُمْ جَنَّـٰتٍۢ تَجْرِى مِن تَحْتِهَا ٱلْأَنْهَـٰرُ خَـٰلِدِينَ فِيهَا ۚ رَضِىَ ٱللَّهُ عَنْهُمْ ضُوا۟ عَنْهُ ۚ أو۟لَـٰٓئِك حِزْبُ ٱللَّهِ ۚ أَلَآ إِنَّ حِزْبَ ٱللَّهِ هُمُ ٱلْمُفْلِحُون»

Artinya : "Kamu tak akan mendapati kaum yang beriman kepada Allah dan hari akhirat, saling berkasih-sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, sekalipun orang-orang itu bapak-bapak, atau anak-anak atau saudara-saudara ataupun keluarga mereka. Mereka itulah orang-orang yang telah menanamkan keimanan dalam hati mereka dan menguatkan mereka dengan pertolongan yang datang daripada-Nya. Dan dimasukan-Nya mereka ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya. Allah ridha terhadap mereka, dan merekapun merasa puas terhadap (limpahan rahmat)-Nya. Mereka itulah golongan Allah. Ketahuilah, bahwa sesungguhnya golongan Allah itu adalah golongan yang beruntung." (QS. Al-Mujadilah : 22)

Ibnu Katsir rahimahullah dalam menjelaskan dalam  tafsirnya:

أي لا يوادون المحادين ولو كانوا من الأقربين كما قال تعالى «لَّا يَتَّخِذِ ٱلْمُؤْمِنُونَ ٱلْكَـٰفِرِينَ أَوْلِيَآءَ مِن دُونِ ٱلْمُؤْمِنِينَ ۖ وَمَن يَفْعَلْ ذَٰلِكَ فَلَيْسَ مِنَ ٱللَّهِ فِى شَىْءٍ إِلَّآ أَن تَتَّقُوا۟ مِنْهُمْ تُقَىٰةًۭ ۗ وَيُحَذِّرُكُمُ ٱللَّهُ نَفْسَهُۥ ۗ » [آل عمران : ٢٨]

وقال تعالى : «قُلْ إِن كَانَ ءَابَآؤُكُمْ وَأَبْنَآؤُكُمْ وَإِخْوَٰنُكُمْ وَأَزْوَٰجُكُمْ وَعَشِيرَتُكُمْ وَأَمْوَٰلٌ ٱقْتَرَفْتُمُوهَا وَتِجَـٰرَةٌۭ تَخْشَوْنَ كَسَادَهَا وَمَسَـٰكِنُ تَرْضَوْنَهَآ أَحَبَّ إِلَيْكُم مِّنَ ٱللَّهِ وَرَسُولِهِۦ وَجِهَادٍۢ فِى سَبِيلِهِۦ فَتَرَبَّصُوا۟ حَتَّىٰ يَأْتِىَ ٱللَّهُ بِأَمْرِهِۦ ۗ وَٱللَّهُ لَا يَهْدِى ٱلْقَوْمَ ٱلْفَـٰسِقِينَ» [التوبة : ٢٤]. وقد قال سعيد بن عبد العزيز وغيره : أنزلت هذه الآية «لَّا تَجِدُ قَوْمًۭا يُؤْمِنُونَ بِٱللَّهِ وَٱلْيَوْمِ ٱلْـَٔاخِرِ» إلى آخرها في أبي عبيدة عامر بن عبد الله بن الجراح حين قتل أباه يوم بدر، ولهذا قال عمر بن الخطاب رضي الله عنه حين جعل الأمر سورة بعده في أولئك الستة رضي الله عنهم : ولو كان أبو عبيدة حيا لاستخلفته. وقيل في قوله تعالى : «وَلَوْ كَانُوٓا۟ ءَابَآءَهُمْ» نزلت في أبي عبيدة قتل أباه يوم بدر «أَوْ أَبْنَآءَهُمْ» في الصديق هم يومئذ بقتل ابنه عبد الرحمان «أَوْ إِخْوَٰنَهُمْ» في مصعب بن عمير، قتل أخاه عبيد بن عمير يومئذ «أَوْ عَشِيرَتَهُمْ ۚ » في عمر قتل قريبا له يومئذ أيضا، وفي حمزة وعلي وعبيدة بن الحارث قتلوا عتبة و شيبة والوليد بن عتبة يومئذ، فالله أعلم

"Maksudnya mereka tidak akan berkasih sayang dengan orang-orang yang membenci (Allah dan Rasul-Nya) walaupun mereka itu termasuk karib kerabatnya sebagaimana firman Allah Ta'ala (yang artinya) : «Janganlah orang-orang mukmin mengambil orang-orang kafir menjadi wali dengan meninggalkan orang-orang mukmin. Barang siapa berbuat demikian, niscaya lepaslah ia dari pertolongan Allah, kecuali karena (siasat) memelihara diri dari sesuatu yang ditakuti dari mereka. Dan Allah memperingatkan kamu terhadap diri (siksa)-Nya»." (QS. Ali Imron : 28)

Allah Ta'ala berfirman (yang artinya) : «Katakanlah: "jika bapa-bapa, anak-anak, saudara-saudara, isteri-isteri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai dari Allah dan Rasul-Nya dan dari berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik». (QS. At-Taubah : 24)

Dan sungguh telah berkata Sa’id bin ‘Abdil ‘Aziz dan selainnya : ‘Diturunkan ayat «لَّا تَجِدُ قَوْمًۭا يُؤْمِنُونَ بِٱللَّهِ وَٱلْيَوْمِ ٱلْـَٔاخِر» «Tidak akan kamu dapati suatu kaum yang beriman kepada Allah dan hari akhirat» sampai akhir ayat, yaitu diturunkan terkait Abu ‘Ubaidah Amir bin ‘Abdillah bin al-Jarrah ketika dia membunuh bapaknya pada perang badar, oleh karena itu, Umar bin al-Kaththab radhiyallahu ‘anhu ketika urusannya di musyawarahkan berkenaan dengan enam orang shahabat radhiyallahu ‘anhum berkata : "Dan seandainya Abu ‘Ubaidah masih hidup, niscaya aku akan mengangkat dia menjadi khalifah.”

Dan mengenai firman Allah : «وَلَوْ كَانُوٓا۟ ءَابَآءَهُم» «Sekalipun mereka itu bapaknya», ayat ini di turunkan kepada Abu 'Ubaidah ketika dia membunuh bapaknya pada perang badar. «أَوْ أَبْنَآءَهُمْ» «atau anak anak mereka sendiri», turun pada Abu Bakar as-Sbhiddiq pada perang badar yang hendak membunuh anaknya 'Abdurrahman. «أَوْ إِخْوَٰنَهُمْ» «atau saudara-saudaranya», turun pada Mus’ab bin ‘Umair yang membunuh saudaranya ‘Ubaid bin ‘Umair pada perang badar «أَوْ عَشِيرَتَهُم» «atau keluarga mereka», turun kepada Umar yang juga membunuh keluarganya pada perang badar, dan kepada Hamzah, ‘Ali, 'Ubaidah bin al-Harits yang membunuh ‘Utbah dan Syaibah dan al-Walid bin 'Utbah pada perang badar, wallahu a’lam." (Tafsir Ibni Katsir, 4/283-284)

Berkata Asy-Syaikh Muhammad at-Tamimi rahimahullah:

الثالثة : أن من أطاع الرسول ووجد الله لا يجوز له موالاة من حاد الله ورسوله ولو كان أقرب قريب، والدليل قوله تعالى : «لَّا تَجِدُ قَوْمًۭا يُؤْمِنُونَ بِٱللَّهِ وَٱلْيَوْمِ ٱلْـَٔاخِرِ يُوَآدُّونَ مَنْ حَآدَّ ٱللَّهَ وَرَسُولَهُۥ وَلَوْ كَانُوٓا۟ ءَابَآءَهُمْ أَوْ أَبْنَآءَهُمْ أَوْ إِخْوَٰنَهُمْ أَوْ عَشِيرَتَهُمْ ۚ أُو۟لَـٰٓئِكَ كَتَبَ فِى قُلُوبِهِمُ ٱلْإِيمَـٰنَ وَأَيَّدَهُم بِرُوحٍۢ مِّنْهُ ۖ وَيُدْخِلُهُمْ جَنَّـٰتٍۢ تَجْرِى مِن تَحْتِهَا ٱلْأَنْهَـٰرُ خَـٰلِدِينَ فِيهَا ۚ رَضِىَ ٱللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا۟ عَنْهُ ۚ أُو۟لَـٰٓئِكَ حِزْبُ ٱللَّهِ ۚ أَلَآ إِنَّ حِزْبَ ٱللَّهِ هُمُ ٱلْمُفْلِحُونَ». [المجادلة : ٢٢].

"Yang ketiga : Bahwasanya barangsiapa yang taat kepada Rasul dan mentauhidkan Allah tidak boleh bagi dia untuk loyal/cinta mencintai dengan orang-orang yang membenci Allah dan Rasul-Nya meskipun mereka adalah karib kerabatnya yang terdekat, dalilnya yaitu firman Allah Ta'ala (yang artinya) : "Kamu tak akan mendapati kaum yang beriman pada Allah dan hari akhirat, saling berkasih-sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, sekalipun orang-orang itu bapak-bapak, atau anak-anak atau saudara-saudara ataupun keluarga mereka. Mereka itulah orang-orang yang telah menanamkan keimanan dalam hati mereka dan menguatkan mereka dengan pertolongan yang datang daripada-Nya. Dan dimasukan-Nya mereka ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya. Allah ridha terhadap mereka, dan merekapun merasa puas terhadap (limpahan rahmat)-Nya. Mereka itulah golongan Allah. Ketahuilah, bahwa sesungguhnya hizbullah itu adalah golongan yang beruntung." [QS. Al-Mujaadilah : 22]. (Syarh Al-’Usuul ats-Tsalaatsah, hal. 21-22)

Berkata Asy-Syaikh Muhammad bin Sholih Al-Utsaimin dalam syarahnya :

أى : المسألة الثالثة مما يجب علينا علمه الولاء والبراء، والولاء والبراء أصل عظيم جاءت فيه النصوص الكثيرة قال الله عز وجل : «يَـٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ لَا تَتَّخِذُوا۟ بِطَانَةًۭ مِّن دُونِكُمْ لَا يَأْلُونَكُمْ خَبَالًۭا» [آل عمران : ١١٨]. وقال تعالى : «يَـٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ لَا تَتَّخِذُوا۟ ٱلْيَهُودَ وَٱلنَّصَـٰرَىٰٓ أَوْلِيَآءَ ۘ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَآءُ بَعْضٍۢ ۚ وَمَن يَتَوَلَّهُم مِّنكُمْ فَإِنَّهُۥ مِنْهُمْ ۗ إِنَّ ٱللَّهَ لَا يَهْدِى ٱلْقَوْمَ ٱلظَّـٰلِمِينَ» [المائدة : ٥١]المائدة. وقال سبحانه وتعالى : «يَـٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ لَا تَتَّخِذُوا۟ ٱلَّذِينَ ٱتَّخَذُوا۟ دِينَكُمْ هُزُوًۭا وَلَعِبًۭا مِّنَ ٱلَّذِينَ أُوتُوا۟ ٱلْكِتَـٰبَ مِن قَبْلِكُمْ وَٱلْكُفَّارَ أَوْلِيَآءَ ۚ وَٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ إِن كُنتُم مُّؤْمِنِينَ» [المائدة : ٥٧]. وقال تعالى : «يَـٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ لَا تَتَّخِذُوٓا۟ ءَابَآءَكُمْ وَإِخْوَٰنَكُمْ أَوْلِيَآءَ إِنِ ٱسْتَحَبُّوا۟ ٱلْكُفْرَ عَلَى ٱلْإِيمَـٰنِ ۚ وَمَن يَتَوَلَّهُم مِّنكُمْ فَأُو۟لَـٰٓئِكَ هُمُ ٱلظَّـٰلِمُونَ ¤ قُلْ إِن كَانَ ءَابَآؤُكُمْ وَأَبْنَآؤُكُمْ وَإِخْوَٰنُكُمْ وَأَزْوَٰجُكُمْ وَعَشِيرَتُكُمْ وَأَمْوَٰلٌ ٱقْتَرَفْتُمُوهَا وَتِجَـٰرَةٌۭ تَخْشَوْنَ كَسَادَهَا وَمَسَـٰكِنُ تَرْضَوْنَهَآ أَحَبَّ إِلَيْكُم مِّنَ ٱللَّهِ وَرَسُولِهِۦ وَجِهَادٍۢ فِى سَبِيلِهِۦ فَتَرَبَّصُوا۟ حَتَّىٰ يَأْتِىَ ٱللَّهُ بِأَمْرِهِۦ ۗ وَٱللَّهُ لَا يَهْدِى ٱلْقَوْمَ ٱلْفَـٰسِقِينَ» [التوبة : ٢٣-٣٤]. وقال عز وجل : «قَدْ كَانَتْ لَكُمْ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌۭ فِىٓ إِبْرَٰهِيمَ وَٱلَّذِينَ مَعَهُۥٓ إِذْ قَالُوا۟ لِقَوْمِهِمْ إِنَّا بُرَءَٰٓؤُا۟ مِنكُمْ وَمِمَّا تَعْبُدُونَ مِن دُونِ ٱللَّهِ كَفَرْنَا بِكُمْ وَبَدَا بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمُ ٱلْعَدَٰوَةُ وَٱلْبَغْضَآءُ أَبَدًا حَتَّىٰ تُؤْمِنُوا۟ بِٱللَّهِ وَحْدَهُۥٓ» [الممتحنة : ٤] الآية. ولأن موالاة كفار تكون بمناصرتهم ومعاونتهم على ما هم عليه من الكفر والضلال، وموادتهم تكون بفعل الأسباب التي تكون بها مودتهم فتجده يوادهم أى يطلب ودهم بكل طريق، وهذا لا شك ينافى الإيمان كله أو كماله، فالواجب على المؤمن معاداة من حاد الله ورسوله ولو كان أقرب قريب إليه، وبغضه والبعد عنه ولكن هذا لا يمنع نصيحته ودعوته للحق.

“Permasalahan yang ketiga yang wajib bagi kita agar mengilmuinya yaitu rasa cinta dan benci, dan rasa cinta dan benci merupakan pondasi yang agung yang telah datang dengannya nash-nash yang banyak. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman (yang artinya) : "Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil menjadi teman kepercayaanmu orang-orang yang di luar kalanganmu (karena) mereka tidak henti-hentinya (menimbulkan) kemudharatan bagimu." [QS. Ali Imron : 118]. Allah Ta'ala berfirman (yang artinya) : "Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin(mu); sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagian yang lain. Barangsiapa diantara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim." [QS. Al-Maidah : 51]. Allah Subhaanahu wa Ta'ala berfirman (yang artinya) : "Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil jadi pemimpinmu, orang-orang yang membuat agamamu jadi buah ejekan dan permainan, (yaitu) di antara orang-orang yang telah diberi kitab sebelummu, dan orang-orang yang kafir (orang-orang musyrik). Dan bertakwalah kepada Allah jika kamu betul-betul orang-orang yang beriman." [QS. Al-Maidah : 57]. Allah Ta'ala berfirman (yang artinya) : "Hai orang-orang beriman, janganlah kamu jadikan bapa-bapa dan saudara-saudaramu menjadi wali(mu), jika mereka lebih mengutamakan kekafiran atas keimanan dan siapa di antara kamu yang menjadikan mereka wali, maka mereka itulah orang-orang yang zalim. Katakanlah: "jika bapa-bapa, anak-anak, saudara-saudara, isteri-isteri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai dari Allah dan Rasul-Nya dan dari berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya". Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik." [QS. At-Taubah : 23-24]. Allah 'Azza wa Jalla berfirman (yang artinya) : "Sesungguhnya telah ada suri tauladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengan dia; ketika mereka berkata kepada kaum mereka: "Sesungguhnya kami berlepas diri daripada kamu dari daripada apa yang kamu sembah selain Allah, kami ingkari (kekafiran)mu dan telah nyata antara kami dan kamu permusuhan dan kebencian buat selama-lamanya sampai kamu beriman kepada Allah saja." [QS. Al-Mumtahanah : 4]

Untuk itu, loyal kepada orang-orang yang memusuhi Allah dan lembut/setia kepadanya menunjukkan apa yang ada di dalam hati manusia dari keimanan kepada Allah dan Rasul-Nya sangat lemah. Karena itu tidak masuk akal seseorang mencintai sesuatu padahal sesuatu itu adalah musuh bagi yang dicintainya. Loyal kepada orang-orang kafir bisa dengan menolong mereka, membantu mereka atas kekafiran dan kesesatannya. Dan cinta kepada mereka terjadi dengan menempuh sebab-sebab, yang sebab-sebab tersebut akan menjadikan cinta kepada mereka, dan (akhirnya) engkaupun-pun akan mempunyai bagian dalam mencintai mereka yaitu akan mencari kecintaan mereka dengan segala jalan, dan ini tidak ragu lagi akan menghilangkan seluruh keimanan atau menghilangkan kesempurnaan iman. Maka wajib bagi seorang mu’min memusuhi orang-orang yang membenci Allah dan Rasul-Nya walaupun itu karib kerabatnya, dan membencinya, dan menjauh darinya akan tetapi hal ini tidak mencegah dia untuk menasehati dan mendakwahinya dalam kebaikan. (Syarh Al-’Usuul ats-Tsalaatsah, hal. 21-22).

Bersambung...

***

Grand Sahara - Purwodadi - Sidayu - Gresik, 8 Rabiul Akhir 1448 H / 20 September 2026 M 

Penulis : Abu Dawud ad-Dumbuwiyy

Artikel : Meciangi-d.blogspot.com
 

Related Posts: