HIKMAH DALAM BERDAKWAH (SERI 3)

8. Cara Khusus Nabi dalam Menarik Hati dan Mendakwahi Pembesar Quraisy

8.1. Dengan Berbicara Secara Khusus

Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam orang yang paling bijak dalam berdakwah, bahkan Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam pernah mendakwahi para pembesar dan tokoh-tokoh Quraisy secara khusus karena ketokohannya, ada yang didoakan agar masuk Islam, dan ada yang dilembutkan hatinya dengan harta dan kedudukan.

Diantara yang didakwahi secara khusus adalah para pembesar Quraisy, yang dengan sebab itu Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam sampai di tegur oleh Allah Ta'ala karena mengabaikan Ibnu Ummi Maktum. 

Dalam sebuah riwayat, Ibnu Ummi Maktum mendatangi Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam untuk sebuah urusan, namun saat itu Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam sedang berbicara dengan salah seorang tokoh Quraisy. Karena besarnya harapan beliau pada ke Islamannya, sampai-sampai beliau bermuka masam kepada Ibnu Ummi Maktum. Allah Ta'ala berfirman :

«عَبَسَ وَتَوَلَّىٰٓ. أَن جَآءَهُ ٱلْأَعْمَىٰ. وَمَا يُدْرِيكَ لَعَلَّهُۥ يَزَّكَّىٰٓ. أَوْ يَذَّكَّرُ فَتَنفَعَهُ ٱلذِّكْرَىٰٓ»

Artinya : "Dia (Muhammad) bermuka masam dan berpaling, karena telah datang seorang buta kepadanya. Tahukah kamu barangkali ia ingin membersihkan dirinya (dari dosa), atau dia (ingin) mendapatkan pengajaran, lalu pengajaran itu memberi manfaat kepadanya?" (QS. Abasa 1-4)

Berkata Ibnu Kastsir rahimahullah dalam tafsirnya 

ذكر غير واحد من المفسرين أن رسول الله صلى الله عليه وسلم كان يوما يخاطب بعض عظماء قريش وقد طمع في إسلامه، فبينما هو يخاطبه ويناجيه إذ أقبل ابن أم مكتوم وكان ممن أسلم قديما فجعل يسأل رسول الله صلى الله عليه وسلم عن شيء ويلح عليه وود النبي صلى الله عليه وسلم أن لو كف ساعته تلك ليتمكن من مخاطبة ذلك الرجل طمعا ورغبة في هدايته وعبس في وجه ابن أم مكتوم وأعرض عنه وأقبل على الآخر فأنزل الله تعالى «عَبَسَ وَتَوَلَّىٰٓ. أَن جَآءَهُ ٱلْأَعْمَىٰ. وَمَا يُدْرِيكَ لَعَلَّهُۥ يَزَّكَّىٰٓٓ»

"Banyak dari kalangan ahli tafsir telah menyebutkan bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam pada suatu hari sedang berbicara dengan sebagian pembesar Quraisy, dan beliau sangat berharap pada keislamannya. Maka ketika beliau sedang berbicara dengan tokoh Quraisy itu dan membisikkan (pembicaraan) kepadanya, tiba-tiba datang Ibnu Ummi Maktum, dan ia termasuk orang yang telah masuk Islam sejak dahulu lalu ia mulai bertanya kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam tentang sesuatu dan terus mendesak beliau.

Dan Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam menginginkan bahwa seandainya ia (Ibnu Ummi Maktum) menahan dirinya pada saat itu, agar beliau dapat memantapkan diri untuk berbicara dengan laki-laki tersebut karena adanya harapan dan keinginan dalam memberi hidayah kepadanya. Lalu Nabi bermuka masam dihadapan Ibnu Ummi Maktum, dan berpaling darinya serta menghadap kepada yang lain, maka Allah Ta‘ala menurunkan : «Dia (muhammad) bermuka masam dan berpaling, karena telah datang kepadanya seorang buta. Dan apakah yang membuatmu mengetahui, boleh jadi ia akan menyucikan diri»" (Tafsir Ibni Katsir, 4/106-107).

Jelas terlihat kesungguhan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dalam mendakwahi tokoh-tokoh Quraisy secara khusus, maka kitapun harus memiliki semangat dalam mendakwahkan tokoh-tokoh masyarakat di kampung, terutama para sesepuh yang menjadi tokoh kunci di masjid.

8.2. Dengan Mendo'akan Secara Khusus

Adapun pembesar-pembesar Quraisy yang didoakan oleh Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam secara khusus adalah Umar bin Khaththab dan Abu Jahal bin Hisyam. Disebutkan:

كان النبي صلى الله عليه وسلم  يتشوق لإسلام عمر بن الخطاب لما يرجوه بإسلامه من خير للإسلام والمسلمين، فكان يدعو: ((اللهم أعز الإسلام بأحب الرجلين إليك : بعمر بن الخطاب أو بأبي جهل بن هشام)). وكان أحبهما إليه عمر بن الخطاب، قال ابن إسحاق: (وكان إسلام عمر بعد خروج من خرج من أصحاب رسول الله صلى الله عليه وسلم  إلى الحبشة)

"Adalah Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam sangat mengharapkan keislaman Umar bin Al-Khaththab karena beliau mengharapkan dengan keislamannya akan menjadi kebaikan bagi Islam dan kaum muslimin. Maka beliau berdoa : ((Ya Allah, muliakanlah Islam dengan salah satu dari dua orang yang paling Engkau cintai yaitu Umar bin Khaththab atau Abu Jahal bin Hisyam)). Dan yang paling dicintai oleh Allah di antara keduanya adalah Umar bin Khaththab. 

Ibnu Ishaq berkata : 'Masuk Islamnya Umar terjadi setelah sebagian sahabat Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam hijrah ke Habasyah.'" (Shahiihul Atsar wa Jamiilul 'Ibar, hal. 108).

Dan masuk Islamnya Umar radhiyallahu 'anhu menjadi babak baru dalam perkembangan Islam di fase sebelum hijrah, dan itu sesuai dengan harapan Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam. Dan kita dalam berdakwah juga harus mendoakan agar para penentang dakwah itu mendapatkan hidayah, sehingga menjadi pembela sunnah dan penolong agama di tempat kita berdakwah.

8.3. Dengan Memberinya Kedudukan secara Khusus

Dan diantara yang diberikan kedudukan, kehormatan dan kemuliaan secara khusus oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam diantaranya adalah Abu Sufyan bin Harb. Di malam Fathu Makkah, Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

من دخل دار أبي سفيان فهو آمن، ومن دخل داره وأغلق عليه بابه فهو آمن، ومن دخل المسجد الحرام فهو آمن

"Barangsiapa yang memasuki rumah Abu Sufyan, maka ia aman. Dan barangsiapa yang memasuki rumahnya sendiri lalu menutup pintunya, maka ia aman. Serta barangsiapa yang memasuki Masjidil Haram, maka ia aman." (Shahiihul Atsar wa Jamiilul 'Ibar, hal. 219)

Abu Sufyan radhiyallahu 'anhu sangat menyukai kedudukan, dan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam sangat tahu akan hal itu. Tokoh-tokoh agama di kampung kita juga demikian, mereka memiliki pengaruh dau aura ketokohan, maka kita beri mereka jabatan dan kemuliaan dengan sesuatu yang layak untuknya seperti ketika kita sedang mengisi kultum, kita mengucapkan satu kalimat, "yang kami hormati orang tua kami pak haji fulan, beliau adalah orang yang selalu membimbing kita dengan nasihat-nasihatnya." Maksudnya, nasihat-nasihatnya ketika khutbah jum'at, kultum ramadhan, dll.

Hal nyata yang bisa kita terapkan juga pada poin ini ketika pembentukan panitia idul Qurban, kita bisa undang pak RT, pak RW, kepala lingkungan dalam rapat kita, kita minta pendapatnya terkait hal-hal teknis cara merubuhkan sapi misalnya, atau kita tanyakan wilayah RT beliau ada berapa kepala keluarga, lalu menyerahkan perwakilan seluruh warga RT nya dalam tanggungan beliau. Kita ucapkan satu kalimat misalnya, "Tanpa persetujuan beliau, daging qurban di wilayah RT ini belum boleh dibagikan." Secara tidak langsung, kita telah memberinya kedudukan yang terlihat sepele tapi tidak bagi Pak RT setempat. Ini di antara trik dakwah yang bisa diterapkan ketik Idul Qurban. Dengan melibatkan mereka, secara tidak langsung kita telah melakukan pendekatan kepada pembesar-pembesar di lingkungan kita berdakwah, sehingga dengan adanya hal-hal tersebut dada mereka menjadi lapang menerima dakwah, dan dakwah juga bisa tersebar secara luas dengan penuh hikmah.
 
8.4. Dengan Memberi Mereka Ghanimah secara Khusus

Diantara yang diberikan ghonimah atau harta untuk melembutkan hati mereka adalah Abu Sufyan, Yazid dan Muawiyah putranya, Sofwan bin Umayyah dan lainnya.

Dalam sebuah riwayat disebutkan: 

عاد صلى الله عليه وسلم من الطائف إلى الجعرانة ثم بدأ في توزيع الغنائم وكان يعطي زعماء مكة، وزعماء القبائل ويجزل لهم في ذلك، يتألفهم على الإسلام، فأعطى أبو سفيان بن حرب أربعين أوقية من الفضة، ومائة من الإبل، وأعطى ابنيه يزيد، ومعاوية، فقال أبو سفيان: بأبي أنت وأمي يا رسول الله، لقد حاربتك فنعم المحارب كنت، وسالمتك فنعم المسالم أنت، هذا غاية الكرم جزاك الله خيرا. (3)

وأعطى حكيم بن حزام مائة، ثم سأله فأعطاه مائة أخرى، ثم سأله فأعطاه مائة، وقال له: يا حكيم، إن هذا المال خضرة حلوة من أخذه بسخاوة نفس بورك له فيه، ومن أخذه بإشراف نفس لم يبارك له فيه، وكان كالذي يأكل ولا يشبع، واليد العليا خير من اليد السفلى، فيقال: فأخذ حكيم المائة الأولى وترك ما عداها، وقال حكيم: والله يا رسول الله، والذي بعثك بالحق نبيا لا أرزأ أحدا بعدك شيئا حتى أفارق الدنيا، فكان أبو بكر رضي الله عنه يدعو حكيما ليعطيه العطاء فيأبى أن يقبل منه شيئا، وكذلك رفض العطاء من عمر (4).

وأعطى رسول الله ﷺ الأقرع بن حابس مائة من الإبل، وأعطى عيينة بن حصن بن بدر مثله، وأعطى العباس بن مرداس السلمي أربعين، فقال شعرا يعاتب الرسول في نقص عطائه عمن سبقه:

أتجعل نهبي ونهب العبيـ                ـد بين عيينة والأقرع؟
فما كان بدر ولا حابس                  يفوقان مرداس في المجمع
وما كنت دون امرئ منهما             وهن تخفض اليوم لا يرفع

.فأكمل له المائة

"Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam kembali dari Thaif menuju Ji'ranah, kemudian beliau mulai membagikan harta rampasan perang (ghanimah). Beliau memberi para pemuka Makkah dan para pemimpin kabilah, serta memperbanyak pemberian untuk mereka dalam hal itu, dengan tujuan melunakkan hati mereka agar masuk Islam.

Maka Beliau memberi Abu Sufyan bin Harb empat puluh uqiyah perak dan seratus ekor unta. Beliau juga memberi kedua anaknya, yaitu Yazid dan Muawiyah. Maka Abu Sufyan berkata: 'Demi ayah dan ibuku sebagai tebusanmu, wahai Rasulullah! Sungguh aku telah memerangimu, dan engkau adalah sebaik-baik musuh dalam perang. Aku pun telah berdamai denganmu, dan engkau adalah sebaik-baik orang yang berdamai. Ini adalah puncak kedermawanan, semoga Allah membalasmu dengan kebaikan.'

Dan Beliau memberi Hakim bin Hizam seratus (ekor unta), kemudian ia meminta lagi, lalu Beliau memberinya seratus lagi. Kemudian ia meminta lagi, lalu Beliau memberinya seratus lagi, dan Beliau bersabda kepadanya: ((Wahai Hakim, sesungguhnya harta ini seperti buah yang hijau lagi manis. Barangsiapa yang mengambilnya dengan kelapangan hati (tanpa ketamakan), niscaya ia akan diberkahi di dalamnya. Dan barangsiapa yang mengambilnya dengan kepuasan nafsu (tamak/ambisius), niscaya ia tidak akan diberkahi di dalamnya, dan ia seperti orang yang makan namun tidak pernah kenyang. Tangan di atas itu lebih baik daripada tangan di bawah)).

Maka dikisahkan: Hakim hanya mengambil seratus ekor unta yang pertama dan meninggalkan sisanya. Hakim berkata: 'Demi Allah, wahai Rasulullah, demi Dzat yang mengutusmu dengan kebenaran sebagai nabi, aku tidak akan mengurangi (meminta) hak seorang pun setelahmu sedikitpun hingga aku meninggalkan dunia.' Maka Abu Bakar radhiyallahu 'anhu pernah memanggil Hakim untuk memberinya tunjangan, namun ia menolak untuk menerima apa pun darinya. Begitu pula ia menolak pemberian tunjangan dari Umar.

Dan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam memberi Al-Aqra' bin Habis seratus ekor unta, dan memberi Uyainah bin Hishn bin Badr dalam jumlah yang sama (seratus ekor unta). Beliau juga memberi Al-Abbas bin Mirdas As-Sulami empat puluh ekor unta. Maka Al-Abbas menggubah syair yang isinya mencela Nabi karena kurangnya pemberian untuk dirinya dibandingkan orang-orang yang mendahuluinya (Al-Aqra' dan Uyainah):

Apakah engkau jadikan rampasan perangku dan rampasan perang kudaku,
dibagi-bagikan di antara Uyainah dan Al-Aqra'?

Padahal tidaklah Badr (ayah Uyainah) maupun Habis (ayah Al-Aqra'),
lebih unggul daripada Mirdas (ayahku) di dalam majelis pertemuan.

Dan tidaklah kedudukanku berada di bawah salah satu dari keduanya,
namun siapa saja yang direndahkan hari ini, maka ia tidak akan diangkat.

Maka Beliau menyempurnakan pemberian untuknya menjadi seratus ekor unta."

Dalam riwayat yang lain:

وكان صفوان بن أمية ينظر إلى شعب مملوء فيه غنم وإبل ورعاؤها، فأعجب صفوان، وجعل ينظر إليه، فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم: أعجبك هذا الشعب يا أبا وهب؟ قال: نعم. قال: هو لك بما فيه. فقال صفوان: أشهد أن رسول الله ما طابت بهذا نفس أحد قط إلا النبي

ووقع في نفوس الأنصار أن رسول الله صلى الله عليه وسلم يعطي الناس ويوزع الغنائم ويدعهم، خاصة أنه يعطي من أسلم حديثا أو من لم يسلم بعد، أما هم فلم يعط أحد منهم بعيرا ولا شاة، حتى كثر فيهم الحديث، وقال قائلهم: يغفر الله لرسول الله، إن هذا لهو العجب، يعطي قريشا ويتركنا وسيوفنا تقطر من دمائهم، إذا كانت شديدة فنحن ندعى ويعطى الغنيمة غيرنا؟، وددنا أن نعلم من كان هذا، فإن كان من أمر الله تعالى صبرنا، وإن كان من رأي رسول الله صلى الله عليه وسلم استعتبناه

وجاءه سعد بن عبادة فأخبره الخبر، وأن الأنصار قد وجدوا في أنفسهم من توزيع الغنائم، حيث يعطي زعماء بعضهم لم يسلم بعد. وبعضهم أسلم قريبا، ويترك الأنصار، فأمر بجمعهم في مكان وخطب فيهم قائلا: أما ترضون أن يرجع الناس بالشاء والبعير وترجعون برسول الله؟ فقالوا: رضينا يا ورسول الله.  قسما. فقال: أوجدتم يا معشر الأنصار في أنفسكم في لعاعة من الدنيا تألفت بها قوما أسلموا، ووكلتكم إلى ما قسم الله لكم من الإسلام، فولله ما تنقلبون به خير مما ينقلبون به، فوالذي نفسي بيده لو أن الناس سلكوا شعبا وسلكت الأنصار شعبا لسلكت شعب الأنصار، اللهم ارحم الأنصار وأبناء الأنصار وأبناء ابناء الأنصار. إنكم ستلقون بعدي أثرة، فاصبروا حتى تلقوني على الحوض

وفي لفظ لابن إسحاق قال: فبكى القوم حتى اخضلوا لحاهم وقالوا: رضينا بالله ربا ورسوله قسما

"Safwan bin Umayyah pernah memandangi sebuah lembah yang penuh dengan kambing, unta, dan para penggembalanya. Safwan merasa kagum dan terus memandanginya. Maka Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bertanya, ((Apakah lembah ini membuatmu kagum, wahai Abu Wahab?)) Ia menjawab, 'Ya.' Beliau bersabda, ((Itu menjadi milikmu beserta seluruh isinya)). Maka Safwan berkata, 'Aku bersaksi bahwa tidak ada seorangpun yang dengan jiwa yang lapang memberikan pemberian seperti ini selain seorang nabi.'

Lalu timbul dalam hati kaum Anshar suatu perasaan bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam memberikan harta kepada orang-orang serta membagikan harta rampasan perang, sedangkan mereka sendiri ditinggalkan. Terlebih lagi, beliau memberikan bagian kepada orang-orang yang baru masuk Islam ataupun kepada orang-orang yang saat itu belum masuk Islam. Adapun mereka sendiri, tidak seorang pun di antara mereka diberi seekor unta maupun seekor kambing. Hingga pembicaraan mengenai hal itu semakin meluas di kalangan mereka. Salah seorang dari mereka berkata, 'Semoga Allah mengampuni Rasulullah. Sungguh, hal ini benar-benar mengherankan. Beliau memberikan kepada kaum Quraisy, sedangkan kami ditinggalkan, padahal pedang-pedang kami masih meneteskan darah mereka. Ketika keadaan genting, kamilah yang dipanggil, tetapi ketika pembagian harta rampasan perang, justru orang lain yang diberi. Kami berharap mengetahui apakah tindakan ini berasal dari Allah. Jika memang berasal dari ketetapan Allah Ta'ala, niscaya kami akan bersabar. Namun apabila hal itu merupakan pertimbangan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, maka kami akan meminta keridaan beliau.'

Kemudian Sa'ad bin Ubadah datang menemui Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam lalu menyampaikan berita tersebut, yaitu bahwa kaum Anshar merasa kecewa terhadap pembagian harta rampasan perang, karena beliau memberikan bagian kepada para pemimpin yang sebagian masih belum masuk Islam, sedangkan sebagian lainnya baru saja masuk Islam, sementara kaum Anshar tidak diberi seperti mereka. Maka Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam memerintahkan agar mereka dikumpulkan di suatu tempat. Setelah mereka berkumpul, beliau berkhutbah kepada mereka seraya bersabda, ((Apakah kalian tidak rela apabila orang-orang pulang membawa kambing dan unta, sedangkan kalian pulang membawa Rasulullah bersama kalian?)) Mereka menjawab, 'Kami ridha, wahai Rasulullah, itulah bagian yang kami terima.' Beliau bersabda, ((Apakah kalian merasa keberatan, wahai kaum Anshar, hanya karena sedikit kesenangan dunia yang dengannya aku hendak melunakkan hati suatu kaum yang baru masuk Islam, sedangkan aku mempercayakan kalian kepada bagian yang telah Allah tetapkan untuk kalian, yaitu nikmat Islam? Demi Allah, sungguh apa yang kalian bawa pulang jauh lebih baik daripada apa yang mereka bawa pulang. Demi Zat yang jiwaku berada di tangan-Nya, seandainya seluruh manusia menempuh suatu jalan, sedangkan kaum Anshar menempuh jalan yang lain, niscaya aku akan memilih jalan kaum Anshar. Ya Allah, limpahkanlah rahmat kepada kaum Anshar, kepada anak-anak kaum Anshar, dan kepada cucu-cucu kaum Anshar. Sesungguhnya sepeninggalku nanti kalian akan menjumpai adanya sikap yang lebih mengutamakan orang lain daripada kalian. Maka bersabarlah hingga kalian menemuiku di telaga)).

Dalam riwayat Ibnu Ishaq disebutkan: 

"Maka kaum Anshar menangis hingga janggut-janggut mereka basah oleh air mata. Mereka berkata, 'Kami ridha kepada Allah sebagai Tuhan kami, dan kepada Rasul-Nya sebagai bagian yang telah ditetapkan untuk kami.'"  (Shahiihul Atsar wa Jamiilul 'Ibar, hal. 227-228).

Jika Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam membagi-bagikan ghonimah yang sangat banyak untuk melembutkan hati tokoh-tokoh Quraisy, maka kita cukup memberi tokoh-tokoh di kampung hadiah semoga bisa melembutkan hati mereka.

Bersambung...

***

Grand Sahara - Purwodadi - Sidayu - Gresik, 8 Rabiul Akhir 1448 H / 20 September 2026 M 

Penulis : Abu Dawud ad-Dumbuwiyy

Artikel : Meciangi-d.blogspot.com

Related Posts:

0 Response to "HIKMAH DALAM BERDAKWAH (SERI 3)"

Post a Comment