10. Diantara Bentuk Hikmah dalam Berdakwah
10.1. Berakhlak Mulia
Dalam interaksi sosial dengan masyarakat, akhlak mulia sering menjadi tolak ukur pertama masyarakat dalam mengikuti dakwahnya seorang da'i. Bayangkan jika seorang da'i memiliki akhlak yang buruk di tengah masyarakat, merokok, musik-musikan, suka berjudi, meminum khomr, berzina, maka pasti kebenaran yang ia bawa akan menjadi bahan olok-olokan di tengah masyarakat dan dakwahnya tidak akan diterima.
Di antara hikmah Allah menjadikan Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam memiliki akhlak yang mulia, agar manusia tidak lari dari dakwahnya. Allah Ta'ala berfirman:
«فَبِمَا رَحْمَةٍ مِنَ اللَّهِ لِنْتَ لَهُمْ ۖ وَلَوْ كُنْتَ فَظًّا غَلِيظَ الْقَلْبِ لَانْفَضُّوا مِنْ حَوْلِكَ»
Artinya: "Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu." (QS. Ali Imran : 159).
Jika seorang da'i memiliki akhlak yang keras lagi kasar saja sudah menjadi hal yang membuat orang lari dari dakwahnya, lalu bagaimana jika lebih dari itu; merokok, musik-musik-musikan, menghibah, meminum khomr, berzina, tentu manusia akan semakin lari darinya.
Saya pernah menyaksikan sebuah realita di masyarakat kampung yang mendapati seorang guru ngaji kampung yang menjadi panutan dalam ilmu Al-Qur'an selama puluhan tahun terlibat dalam sabung ayam jago. Satu kampung tidak lagi mempercayakan anaknya untuk belajar Al-Qur'an di tempatnya, walaupun saya tidak yakin dengan hal tersebut. Tapi realitanya, sampai beliau wafat, tidak ada satu masyarakatpun yang mau menitipkan anaknya untuk di ajarkan Al-Qur'an, padahal bisa jadi isu itu tidak benar. Tapi karena ia seorang yang di tokohkan dalam satu cabang ilmu di masyarakat kampung, satu "kekeliruannya" menjadi alasan selamanya bagi masyarakat untuk mencemoohnya merendahkan ilmunya.
Betapa pentingnya akhlak yang baik di tengah masyarakat bagi seorang da'i. Dan mungkin itu sebabnya Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam selalu berdo'a:
((اللهم إني أعوذ بك من منكرات الأخلاق، والأعمال والأهواء))
"Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari akhlak-akhlak yang buruk, amal-amal yang mungkar, dan hawa nafsu yang menyimpang." (HR. At-Tirmidzi, no. 3591; dishahihkan Al-Albani. Lihat Aḥaadiitsul Akhlaaq, hal.9)
Beliau juga berdo'a:
((اللهم أحسنت خلقي، فأحسن خلقي))
"Ya Allah, sebagaimana Engkau telah membaguskan penciptaanku, maka baguskanlah akhlakku." (HR. Ahmad, no.3823 ; dishahihkan oleh Al-Albani. Lihat Ahaadiitsul Akhlaaq, hal.9).
Dalam hadits Abu Hurairoh, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
((إنكم لن تسعوا الناس بأموالكم، ولكن يسعهم منكم بسط الوجه وحسن الخلق))
"Sesungguhnya kalian tidak akan mampu mencukupi kebutuhan semua orang dengan harta kalian. Akan tetapi, kalian dapat membuat mereka merasa lapang dengan wajah yang ramah dan akhlak yang baik." (HR. Al-Bazzar, no.8544 ; dishohihkan oleh Al-Albani. Lihat Ahaadiitsul Akhlaaq, hal.8).
10.2. Menyebarkan Salam
Menyebarkan salam termasuk diantara metode dalam berdakwah di tengah masyarakat. Tokoh-tokoh masyarakat dan pemuka agama di masjid-masjid kampung, sangat suka dengan keramahan dari para ikhwah. Sebenarnya yang mereka inginkan dari kita adalah rasa hormat bukan menggurui. Sikap keras dan kaku dalam berdakwah sering menimbulkan polemik di masyarakat, dikalangan para tokoh-tokoh di kampung, karena kesannya kita seperti menggurui mereka yang sudah lama makan asam garam dalam kehidupan sebagaimana ucapan mereka.
Diantara salah satu cara yang harus kita lakukan dalam melakukan pendekatan sosial masyarakat adalah menyebarkan salam. Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
((لا تدخلوا الجنة حتى تؤمنوا ولا تؤمنوا حتى تحابوا ألا أدلكم على ما تحابون به قالوا بلى يا رسول الله قال أفشوا السلام بينكم))
"Kalian tidak akan masuk surga sampai kalian beriman, dan kalian tidak beriman sampai kalian saling mencintai. Maukah aku tunjukkan kepada kalian sesuatu yang dengannya kalian bisa saling mencintai?" Mereka menjawab: 'Ya, wahai Rasulullah.' Beliau bersabda: "Sebarkanlah salam di antara kalian." (HR. Muslim, no.54)
Menyebarkan salam termasuk remeh dalam pandangan orang-orang, tapi Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam memberikan penjelasan bahwa rasa saling mencintai antar sesama kaum muslimin itu bisa tercapai salah satunya dengan menyebarkan salam. Ini di antara senjata yang sangat ampuh dalam membangun komunikasi dengan masyarakat dan para tokoh agama di kampung, sehingga dakwah akan mudah diterima karena akhlak orang-orang yang membawa dakwah ini ramah, lemah lembut dan bijaksana dalam berinteraksi dengan masyarakat dan ini yang disebut dengan mudaarah bukan mudaahanah (bermuka dua).
Ada seorang ikhwah yang rajin menyebarkan salam di tengah masyarakat dan jama'ah masjid kampungnya dengan tujuan hikmah dalam berdawkah, sehingga ia pun sangat dihormati dan dicintai oleh orang-orang padahal ia seorang ikhwah salafi yang telah masyhur tidak pernah mengikuti semua kegiatan-kegiatan bid'ah di kampungnya, dan orang-orang tidak mempermasalahkan itu. Dari sikap ramah tersebut ia diterima di tengah masyarakat dan diberi jadwal imam tetap di masjid, diberi kesempatan untuk mengisi kultum di bulan ramadhon, dipilih menjadi imam sholat tarawih, diberikan izin menggunakan masjid untuk kajian rutin setiap pekan membahas kitab tazkiyatun nufus dan kitab aqidah.
Ketika ia sesekali membaca sirr basmalah setelah ia sekian lama membacanya jahr, maka salah seorang jama'ah masjid mengingkari itu, maka mayoritas tokoh-tokoh lain, ketua BKM masjid, dan para jama'ah lainnya membela ikhwah kita tersebut. Bahkan sebagian tokoh-tokoh senior mengatakan kepada orang yang membantah itu dengan kalimat, 'saya sudah pernah sholat di Masjidil Harom selama saya berjhaji, tapi saya tidak pernah mendengar imam sholat di sana membaca keras basmalahnya. Sudah kamu diam saja, kamu tidak tahu apa-apa.' Ini diantara sebagian atsar hikmah dalam berdawkah.
10.3. Saling Memberi Hadiah
Selain menyebarkan salam kita bisa juga bisa memberikan hadiah kepada para tokoh-tokoh di kampung di momen-momen yang tepat, agar mereka melihat kebaikan akhlak para ikhwah sebagai cerminan dakwah yang mereka bawae. Dengan demikian kebencian mereka kepada dakwah ini perlahan akan memudar dan berbalik menjadi membela dakwah yang haq ini. Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda :
((تهادوا تحابوا))
"Saling memberi hadiahlah, niscaya kalian akan saling mencintai." (HR. Al-Bukhari dalam Adabul Mufrod, no. 594)
Diantara yang bisa kita lakukan di tengah masyarakat dan tokoh-tokoh agama di masjid adalah bagi-bagi sarung ketika sepuluh hari terakhir bulan ramadhon, bagi-bagi iftor buat buka puasa, bagi-bagi kurma, parfum, baju koko, bagi-bagi sembako murah, dll yang sekiranya bisa melunakkan hati mereka. Bagi kita itu mungkin hal yang biasa, tapi bagi mereka, bisa jadi itu akan menjadi langkah awal mereka menerima dakwah yang haq ini dengan hati yang tulus. Jika mereka belum bisa menerimanya, minimal mereka tidak membenci dan memusuhi dakwah ini bahkan menjadi pembelanya.
Diantara bentuk lain jika itu para mahasiswa, kita bisa membagikan buku-buku gratis, rekaman kajian, dan yang semisal dengan itu. Semua ini tujuannya agar dakwah ini bisa diterima di tengah masyarakat dengan cara yang paling hikmah, bukan di baro' secara total padahal mereka adalah orang-orang awam yang jahil.
Bersambung...
***
Grand Sahara - Purwodadi - Sidayu - Gresik, 11 Rabiul Akhir 1448 H / 23 September 2026 M
Penulis : Abu Dawud ad-Dumbuwiyy
Artikel : Meciangi-d.blogspot.com
.png)
0 Response to "HIKMAH DALAM BERDAKWAH (SERI 5)"
Post a Comment