EMPAT KARAKTER DA'I SEJATI (SERI 2)

Bismillah. Alhamdulillah. Wa shallallahu 'ala Nabiyyina MUhammadin wa 'ala aalihi wa shahbihi ajma'iin. Wa ba'du.

Empat sifat yang harus dimiliki oleh seorang da'i sebagaimana pembahasan sebelumnya adalah :

(1) al-Mahaarah al-Ilmiyyah (keterampilan ilmu)

(2) al-Mahaarah at-Tadriis (keterampilan mengajar) 

(3) al-Mahaarah al-Nafsiyyah (keterampilan psikologis) 

(4) al-Mahaarah al-Ijtimaa'iyyah (kemampuan sosial). 

 2. Al-Mahaarah at-Tadriis (keterampilan mengajar)

Seorang da'i sejati hendaknya memiliki al-Mahaarah at-Tadriis atau kafa-ah tadris yakni kemampuan dalam mengajar.

Orang yang tidak memiliki kapasitas ilmu maka ia tidak boleh mengajarkan ilmu dan tidak boleh terburu-buru menampilkan diri ke publik, sebab ia akan terhina di dalam pandangan manusia dalam hitungan waktu.

Al-'Allaamah Badruddin Ibnul Jama'ah al-Kinaaniy mengatakan :

لا ينتصب للتدريس إذا لم يكن اهلا له ولا يذكر الدرس من علم لا يعرفه سواء اشترطه الواقف، أو لم يشترطه فإن ذلك لعب في الدين وازدراء بين الناس

 قال النبي صلى الله عليه وسلم المتشبع بما لم يعط كلابس ثوبي زور وعن الشعبي من تصدر قبل اوانه فقد تصدى لهوانه وعن ابي حنيفة من طلب الرياسة في غير حينه لم يزل في ذل

“Tidak boleh seseorang menampilkan diri untuk mengajar apabila ia bukan orang yang layak untuk itu, dan tidak boleh menyampaikan pelajaran tentang suatu ilmu yang tidak ia ketahui, baik hal itu disyaratkan oleh pewakaf ataupun tidak; karena hal itu merupakan mempermainkan agama dan merendahkan martabatnya di hadapan manusia.

Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda : "Barangsiapa yang berpura-pura kenyang (merasa memiliki) sesuatu yang tidak diberikan kepadanya, seperti orang yang memakai dua pakaian kedustaan."

Dan dari Asy-Sya‘bi ia berkata : 'Barangsiapa yang tampil sebelum waktunya, maka sungguh ia telah menjerumuskan dirinya kepada kehinaan.'

Dan dari Abu Hanifah (berkata) : 'Barangsiapa yang mencari kepemimpinan bukan pada waktunya, niscaya ia akan senantiasa berada dalam kehinaan selama sisa (hidupnya)." (Al-Mu'lim bi Adaabil 'Aalim wal Muta'allim, hal.117-118)

Terburu-buru tampil untuk mengajarkan ilmu, mengustadzkan diri sebelum waktunya, atau mentokohkan diri dalam dunia ilmiyah padahal belum layak, orang yang seperti ini akan terhina dalam pandangan manusia, sebab kebodohannya akan terungkap di hadapan umat. Yang harus ia lakukan adalah belajar sebelum tampil ke publik dan mengajarkan ilmu.

2.1. Mengajarkan Ilmu sesuai dengan Daya Tangkap Mad'u dan Mulai dari yang Terpenting

Seorang da'i yang cerdas, ia harus memiliki kafa-ah tadris. Kemampuan ini akan membuat seorang da'i mampu membaca objek yang sedang ia dakwahi.

Tipe-tipe mad'u beragam tergantung lokasi. Jika kita mengajar di pesantren, yang akan kita hadapi adalah santri-santri yang punya semangat belajar, yang siap belajar kitab sampai selesai sesuai kurikulum. Jika kita mengajar penuntut ilmu di kota kita masing-masing, yang akan kita hadapi adalah orang-orang yang mau belajar tapi juga mudah futur. Jika kita mengajar para mahasiswa di lingkungan sekitar kampus, kita akan berhadapan dengan penuntut ilmu yang siap belajar dan punya semangat tinggi. Namun jika kita mengajar orang-orang awam, orang-orang kampung, masyarakat umum, kita akan berhadapan dengan orang-orang yang harus diperlakukan khusus.

Jadi kafa-ah tadris seorang da'i sangat menentukan keberhasilan keberlangsungan pembelajaran. Jika ia mengajarkan ilmu, ia akan mulai dari yang terpenting, lalu setelahnya. Dan yang paling penting adalah mengajarkan akidah dan tauhid, disampaikan dengan penuh hikmah, tidak membabi buta, tidak frontal. Jika mad'unya masyarakat yang sangat anti dengan istilah syirik dan bid'ah, maka kalimatnya akan ia poles dengan istilah-istilah lain yang inti maknanya adalah tauhid dan syirik atau bid'ah itu sendiri. Seperti contoh, "menyembah selain Allah itu termasuk dosa besar yang paling besar njih Pak, maka mari kita jauhi dosa besar ini". Demikian juga ketika ingin menyebutkan bid'ah, ia akan menyebutkan yang semakna dengan bid'ah, misalnya, 'ini tidak sunnah Pak, tidak ada contohnya dari kanjeng Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam", demikian seterusnya.

Beberapa kali dikisahkan kepada kita oleh guru-guru kita tentang seorang da'i yang mengisi kajian di sebuah markas kepolisisan, kitab yang dipakai adalah kitab aqidah diatas level Thohawiyyah berjudul at-Tadmuriyyah. Semua yang hadir tidak memahami apa yang sang da'i sampaikan, hingga mereka berkesimpulan bahwa ilmu sang da'i berada pada level yang sangat tinggi sehingga apa yang ia sampaikan begitu sulit untuk difahami.

Dalam agama kita, ada syariat mempermudah urusan kaum muslimin, termasuk dalam belajar. Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda : 

((يسروا ولا تعسروا وسكنوا ولا تنفروا))

"Permudahlah dan jangan kalian mempersulit, tenangkanlah dan jangan kalian membuat orang lari." (HR. Al-Bukhari, no.6125)

Termasuk dalam kategori mempersulit adalah mengajarkan ilmu-ilmu yang levelnya tinggi. Tidak semua pelajaran di pesantren bisa diajarkan kepada masyarakat umum dan penuntut ilmu pemula, karena efeknya, orang yang didakwahitidak akan faham tentang apa yang disampaikan.

Sebuah ucapan mengatakan :

طعام الكبار سم الصغار

"Makanan untuk orang dewasa adalah racun bagi anak kecil."

Pentol mercon jika diberikan kepada bayi, balita, anak kecil usia 5 tahun, efeknya bisa mencret bahkan muntah berak, namun bagi orang dewasa itu tidak menjadi masalah. Artinya, ilmu itu diajarkan sesuai kebutuhan, tingkatan dan daya tangkap mad'u, baik mad'u kita penuntut ilmu pemula, lebih-lebih masyarakat umum di tempat kita mengajarkan ilmu syar'i.

Karena itu, seorang da'i yang memiliki kafa-ah tadris, ia akan mengajarkan suatu cabang ilmu di kalangan penuntut ilmu pemula atau masyarakat umum  dari kitab-kitab dasar. Jika mad'unya penuntut ilmu pemula, maka ia akan memulai dari kitab-kitab yang penting seperti matan-matan kitab. Jika itu kitab aqidah, sebaiknya dimulai dari al-qowaid al-arba', lalu al-ushuul ats-tsalaatsah, an-nawaaqid al-islaamkitaab at-tauhiidkasyfus syubhaat, lalu naik pelan-pelan ke kitab-kitab asmaa' was shifat yang dasar seperti lum'atul i'tiqodal-aqidah al-washithiyyah, dll, bukan langsung ke kitab kitab-kitab besar, karena ilmu memiliki jenjang dan tingkatan seperti anak tangga, mulai dari yang mudah, lalu naik pelan-pelan sesuai dengan urutan kesulitannya.

Syaikh al-Albaniy pernah mengatakan rahimahullah :

العلم إن طلبته كثير والعمر عن تحصيله قصير فقدم الأهم منه فالمهم 

"Ilmu itu sangat banyak untuk dipelajari sedangkan umur sangat singkat untuk meraihnya; maka pelajarilah yang paling penting, lalu yang penting."

Syaikh Ali Hasan rahimahullah mengomentari ucapan Syaikh Al-ALbaniy :

قلت : ولا شك أن أهم ذلك، علم العقيدة والتوحيد

"Saya katakan : Tidak diragukan lagi bahwa yang paling penting dari semua itu adalah ilmu akidah dan tauhid." (Al-Mu'lim bi Adaabil 'Aalim wal Muta'allim, hal.103)

2.2. Mengajarkan Matan-matan Kitab sebagai Gambaran Umum

Jika ada dua pilihan, mengajarkan matan kitab dan syarah kitab, maka da'i yang memiliki kafa-ah tadris akan akan melihat mana yang paling baik  yang harus diajarkan kepada penuntut ilmu. Jika mengajarkan syarah kitab, membacakan kata perkata dari penjelasan para ulama dengan metode yang mudah, itu juga baik, namun lama waktunya, sedangkan penuntut ilmu di luar pesantren tidak ada jaminan mereka akan bertahan belajar sampai selesai kitab. Namun jika mengajarkan matan-matan kitab, waktunya singkat, dan gambaran umum tentang ilmu yang sedang diharapkan untuk difahami oleh mad'u dapat tercapai dan dipelajari secara urut bab per bab.

Syaikh al-Utsaimin mengatakan :

من القواعد المعروفة المقررة عند أهل العلم : الحكم على الشيء فرع عن تصوره؛ فلا تحكم على شيء إلا بعد أن تتصوره تصورا تاما؛ حتى تكون الحكم مطابقا للواقع، وإلا حصل خلل كبير جدا

“Di antara kaidah yang telah dikenal dan ditetapkan di kalangan para ulama adalah : hukum dari sesuatu merupakan cabang dari gambaran umumnya. Maka jangan menetapkan sebuah hukum terhadap sesuatu kecuali setelah anda memberikan gambarannya dengan gambaran yang sempurna; agar hukum tersebut sesuai dengan kenyataan, jika tidak, akan terjadi kesalahan yang sangat besar.” (Zagalud Da’wah, hal.23).

Dan gambaran umum tentang apa itu syirik, hukum bagi orang-orang yang berbuat syirik, keadaan orang-orang jahiliyah yang berbuat syirik, semua itu dapat dijelaskan secara umum pada kitab-kitab dasar, khususnya pada matan-matan kitab, karena pembahasan pada matan kitab langsung masuk pada inti pembahasan, berbeda dengan kitab-kitab syarah yang membutuhkan waktu yang lama untuk menjabarkan bab per bab.

Contoh lain dalam pelajaran bahasa arab di kalangan penuntut ilmu pemula di luar pesantren. Jika kitab yang digunakan untuk mengajar sangat tebal dan butuh waktu bertahun-tahun untuk tamat, sedangkan mad'u tidak punya mental untuk belajar sampai tuntas, maka da'i yang memiliki kafa-ah tadris akan memilihkan kitab-kitab yang ringkas dan kira-kira bisa cepat tamat. Kitab apa saja bisa digunakan sebagai gambaran umum, karena memberikan gambaran umum pada suatu cabang ilmu akan membantu dalam memberikan pemahaman secara umum tentang cabang ilmu tersebut.

Masalah dikalangan penuntut ilmu itu sangat banyak dan beragam, ada yang berumur, ada yang sudah menikah, ada yang sudah bekerja, ada yang sibuk namun berusaha meluangkan waktu untuk belajar, maka yang seperti ini dibutuhkan kecerdasan sang da'i dalam mengkondisikan keadaan. Kurang tepat jika mengajarkan Alfiyah Ibnu Malik kepada mereka yang seperti itu. Yang paling baik adalah mengajarkan kitab-kitab percakapan ringan, atau kitab-kitab nahwu yang ringkas, tentunya dengan penjelasan yang juga harus dipermudah, pelan-pelan dan tidak bertele-tele.

Artinya, hendaknya kita menjauhi mengajarkan kitab-kitab yang tebal, mental penuntut ilmu pemula sangat rentan dengan rasa malas. Baru melihat ukuran kitab yang cukup tebal, mentalnya langsung ciut. Bukan berarti kita terbawa dengan pola santai mereka para penuntut ilmu, kita hanya menyesuaikan kebutuhan dan daya tangkap penuntut ilmu sesuai dengan jenjang usia mereka dan latar belakang mereka masing-masing. Bila perlu dalam setiap pelajaran cukupkan dengan satu sampai dua halaman saja dengan melihat pada kondisi, tidak perlu memberi tugas hafalan yang begitu banyak di luar kelas apalagi jika ada yang sudah tertinggal satu dua kali pelajaran, karena akan memberatkan mereka dan cukup memberikan tugas di kelas saja.

Pengalaman dilapangan membuktikan ketika penuntut ilmu yang seperti ini diberi tugas menghafal mufrodat tujuh halaman setiap pertemuan, suasana belajar menggunakan bahasa arab full dari awal sampai akhir, tugas mendengarkan ceramah masyaikh dan menterjemahkan dalam bahasa Indonesia, menghafal umdatul ahkam, dll, maka dipastikan penuntut ilmu seperti ini tidak akan mampu bertahan lebih lama.

Dimasa awal-awal belajar mungkin mereka sangat semangat, namun karena pola pembelajaran yang ketat, sedangkan mereka belum pernah belajar sama sekali, bahkan istilah dommah, fathah, kasroh saja masih bingung, lalu diberikan pelajaran dengan porsi diatas maka dihari kedua kemungkinan besar semangatnya akan menurun; 'izin Ustadz ana tidak bisa hadir hari ini', hari ketiga sudah tidak ada kabar, hari ke empat hilang kontak, hari ke lima menghilang dari majelis ilmu selamanya.

Karena itu da'i sejati, da'i yang memiliki kafa-ah tadris, ia akan menurunkan sedikit level dan standarnya dalam mengajar. Jika cara ia belajar di pesantren seperti itu, lalu dengan niat baik ingin menerapkan cara itu pada penuntut ilmu yang bukan dari pesantren, maka hasilnya besar kemungkinan akan menuai kegagalan. Mereka bukan penuntut ilmu di pesantren, mereka hanya penuntut ilmu di majelis mulazamah di masjid-masjid sekitar yang memiliki semangat ingin menjadi baik, sekedar mau belajar saja sudah merupakan sebuah kesyukuran.

Berbeda, dan sangat jelas perbedaan antara penuntut ilmu di pesantren dan yang diluar pesantren. Penuntut ilmu di pesantren, mereka belajar ilmu sesuai dengan kurikulum, diberi kitab setebal apapun mereka siap. Belajar sehari dua puluh halaman juga siap. Diwajibkan menghafal matan-matan kitab juga sudah terbiasa, sehingga metode pembelajaran sekeras apapun, penuntut ilmu di pesantren akan siap tempur. Namun penuntut ilmu di luar pesantren, di kampung, mereka belum siap dengan metode pembelajaran seperti itu. Maka yang terbaik adalah mempermudah, menyederhanakan metode mengajar, menurunkan level kitab, karena dengan cara seperti itu pembelajaran akan berjalan sesuai harapan.

2.3. Penuntut ilmu dikalangan Mahasiswa

Yang serupa dengan penuntut ilmu di pesantren adalah penuntut ilmu dikalangan mahasiswa. Mereka membagi waktu untuk kuliah dan belajar agama disela-sela waktu luang mereka dan itu merupakan hal yang biasa dikalangan mereka. Masalah mental, mereka tidak kalah dengan teman-teman di pesantren, sehingga para da'i yang memiliki kafa-ah tadris akan mendidik mereka setingkat lebih tinggi dari penuntut ilmu pemula lainnya.

Dalam pembelajaran bahasa arab, mereka langsung diberikan pelajaran nahwu, menghafal hadits arba'in, menghafal Al-Qur'an, belajar baca kitab, mengurus kegiatan dakwah, dilatih untuk meringkas kajian lalu ditempel di papan masjid, dll, dan hal itu mudah bagi mereka, selain karena mereka bersungguh-sungguh dalam belajar, daya tangkap mereka juga cukup bagus untuk mencerna pelajaran, bahkan mereka memiliki kelas khusus baca kitab.

Ada juga majelis mulazamah bagi para mahasiswa yang sudah bebas teori. Belajar lima kitab dari subuh sampai jam sembilan pagi, dan itu mudah saja bagi para mahasiswa walaupun harus melawan rasa ngantuk dan godaan syaithon untuk tidur di waktu subuh.

Contoh lain, pelajaran tauhid di kalangan mahasiswa, para da'i memberikan porsi yang lebih dalam memaparkan satu materi secara mendalam berjam-jam, sehingga sifat militansi penuntut ilmu dari kalangan mahasiswa lebih besar pada satu sisi daripada santri yang belajar di pondok pesantren. Lingkungan kampus mirip seperti miniatur dunia, semua aliran dan pemikiran ada, berbeda dengan lingkungan pondok pesantren. Dari pemahaman syi'ah, khowarij, ikhwani, liberal, hingga pemahaman ateis, semua ada dan disajikan secara lengkap kepada para mahasiswa di kampus mereka melalui UKM (unit kegiatan mahasiswa).

Mahasiswa yang condong ke pemikiran ikhwani akan masuk ke organisasi kampus yang mengarah ke sana. Mahasiswa yang condong ke syi'ah akan masuk ke organisasi kampus seperti Iranian Corner dan yang semisalnya, mahasiswa yang condong ke pemikiran kiri, akan ikut ke organisasi kampus yang sesuai dengan pemikiran kirinya. Dengan kondisi yang seperti di atas, menjadikan para asatidzah yang memiliki kafa-ah tadris yang mumpuni mendidik para penuntut ilmu dari kalangan mahasiswa ini secara spesial dengan pembelajaran diniyyah yang khusus, tajam, penuh dengan doktrin yang mendalam tentang akidah dan manhaj salaf, sehingga sifat militan penuntut ilmu dari kalangan mahasiswa pada satu sisi lebih kuat, karena secara praktek mereka setiap hari bertemu dengan berbagai macam aliran pemikiran di kampus, bahkan tidak jarang akan berbenturan dengan mereka jika anak didik mereka yang mengikuti kegiatan pembelajaran dan kajian Islam di masjid atau kos-kosan mahasiswa salaf.

Kuatnya tensi persaingan dakwah di kampus tidak lepas dari pesatnya perkembangan dakwah salaf, bahkan sebagian aktivis dakwah kampus, para harokiyyun mengirim intelijen-intelijen mereka untuk memata-matai mahasiswa baru yang mengikuti kajian salaf. Saya pernah dibujuk untuk mengikuti kajian mereka di warung makan ketika itu. Seorang yang ditokohkan dari mereka tiba-tiba mendekati saya dan mengatakan, 'kamu ikut kajian salaf ya?', saya mengatakan, ya, betul'. 'Kamu dari jurusan Teknik Elektro kan?, ucapnya lagi. Saya terkejut dan mengatakan, 'ya.' Ia kembali mengatakan, 'kamu tinggal di kos-kosan pak fulan kan? Disana ada dua kos-kosan salafi, dan kamu yang sebelah kanannya. Kamu sering sholat di masjid ini kan', sembari menyebutkan nama masjidnya. Saya lumayan takjub juga dengan detailnya data dan informasi yang disebutkannya. Saya bertanya dengan penuh keheranan, 'dari mana antum tahu semua itu?' Dia mengatakan dengan santainya, 'antum tidak perlu tahu, saya memiliki banyak intelijen yang bertebaran dimana-mana akhi.' Subhaanallah, intelijen. Setelah saya cari tahu informasinya, ternnyata satu bulan pindah di kos baru itu saya belum sadar jika kos-kosan yang di samping saya yang diapit oleh dua kos-kosan salafi itu adalah kos-kosan mereka, markas dakwah mereka, pusat pemantauan pergerakan mahasiswa-mahasiswa salafi di sekitar kampus. Artinya kita hidup bertetangga dengan mereka, bersebelahan, bahkan sholat di satu masjid. Jika da'i yang mendidik para mahasiswa di sekitar kampus tidak memiliki kafa-ah tadris yang mumpuni, bagaimana bisa penuntut ilmu dikalangan mahasiswa memiliki wala' dan baro' yang kuat dan tepat.

Maka, inilah yang menunjukkan kemampuan mengajar para da'i di lingkungan kampus yang sudah teeruji, sangat cocok dengan kondisi lingkungan kampus yang terkesan bebas.

2.4. Satu tapi Singa

Diantara bentuk kafa-ah tadris juga adalah seorang da'i bisa melihat peluang emas mendidik generasi penerus meskipun hanya satu orang. Pepatah kita mengatakan, 'satu orang tapi singa, lebih baik dari dua puluh orang tapi domba'. Artinya, satu orang penuntut ilmu yang serius, memiliki tekad, bersungguh-sungguh dalam belajar, terkadang lebih baik dari dua puluh penuntut ilmu yang mudah menyerah dan bermental lemah.

Namun realitanya, seorang da'i juga manusia, ketika ia melihat para penuntut ilmu semakin berkurang dan berkurang setiap hari, melemah juga semangat mereka dalam mengajar. Kami pernah menyaksikan hal-hal seperti ini ketika masa-masa mulazamah disela-sela kekosongan waktu semasa kuliah, jumlah penuntut ilmu saat itu semakin berkurang setiap hari, sedangkan ustadz datang dari tempat yang jauh, maka beliau mengatakan kurang lebih, 'ana tidak bisa mengajar antum dengan jumlah yang semakin hari semakin berkurang, antum tidak bisa memuliakan majelis ilmu.'

Ketika beliau tidak ingin mengajar lagi, sebenarnya itu hal yang normal saja, bukan suatu kesalahan, bukan aib, karena yang meminta waktu ustadz untuk mengajar adalah para penuntut ilmu. Ketika sebagian penuntut ilmu banyak yang mundur teratur karena sibuk skripsi dll, seolah tindakan itu seperti meremehkan majelis ilmu yang mereka bentuk sendiri dengan ustadz yang mereka undang sendiri, sehingga konsekuensinya mereka dianggap tidak punya semangat. Sebenarnya beliau telah berkorban meninggalkan kesibukan mengajar di tempat lain demi majelis ilmu yang kami bentuk ketika itu, tapi pembelajaran harus terhenti karena beliau juga sibuk mengajar, bercengkerama dengan keluarganya, dll walaupun masih ada dua tiga orang penuntut ilmu yang seiap tempur sampai selesai.

Memang berat menghadapi mad'u yang seperti itu, dibutuhkan da'i-da'i yang memiliki banyak waktu luang, da'i spesial, bukan da'i-da'i yang memiliki banyak kesibukan, jadwal mengajar padat, rapat setiap hari, jadwal mengisi kajian di mana-mana. Tapi ada da'i yang memang mau meluangkan waktu untuk itu, walaupun satu kali dalam satu pekan atau satu bulan.

Di Yogyakarta, kami menjumpai seorang guru yang spesial, beliau punya banyak kesibukan, menjabat ketua ini dan itu, mengurus kajian lintas kampus, mengajar para mahasiswa di wisma-wisma tempat mereka tinggal, pionir dalam banyak kegiatan dakwah seperti, seorang da'i ilallah yang berbaur dengan masyarakat, menjadi salah satu diantara tokoh-tokoh dibalik layar dalam suksesnya dakwah di kota Yogyakarta, namun beliau tetap menjaga keikhlasannya dan lebih memilih tidak tampil di depan publik padahal murid-muridnya sangat banyak. Beliau diantara yang memiliki prinsip satu tapi singa.

Pernah suatu hari kami mengadakan kegiatan pembelajaran untuk para mahasiswa di sekitar kampus. Ada beberapa peserta yang belajar, namun yang hadir cuma satu orang. Kami menghubungi guru kami, kami mengatakan kepada beliau melalui telepon, 'Ustadz, ada yang mau belajar hari ini.' Beliau bertanya, 'Berapa orang?' Saya menjawab, 'Satu orang Ustadz.' Beliau mengatakan, 'Naam, suruh tunggu, ana sebentar lagi ke situ.' Qaddarullah ban motor beliau pecah, dan penuntut ilmu itu harus menunggu beliau beliau menambal ban motornya terlebih dahulu, hingga akhirnya hampir dua jam kemudian beliau tiba di lokasi pembelajaran di sekitar kampus.

Kami memperhatikan beliau dari pelataran masjid ketika mengajar, seolah beliau mengajar sepuluh atau dua puluh orang. Intonasi, semangat, cara mengajar, tidak melemah apalagi mengendor, karna beliau diantara da'i-da'i yang memiliki prinsip satu tapi singa. Karena itu kami sering mendapatkan majelis mulazamah beliau ada satu, dua, tiga orang penuntut ilmu yang duduk belajar, tapi mereka ibarat singa di tengah gurun siap belajar sampai selesai. Tidak jarang juga beliau membukan kelas bahasa arab maksimal sepuluh orang, atau kelas baca kitab maksimal empat orang, dll, dan beliau menyukai majelis mulazamah seperti ini.

Saya teringat dengan dakwah para nabi 'alaihimussalam. Diantara mereka 'alaihimussalam ada yang memiliki satu orang pengikut, dua orang dua pengikut, bahkan ada yang tidak memiliki pengikut sama sekali, namun mereka tidak pernah berhenti dalam mendidik dan mentarbiyah umat walaupun hanya sedikit jumlahnya. Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda :

عرضت علي الأمم، فرأيت النبي ومعه الرهط، والنبي ومعه الرجل والرجلان، والنبي وليس معه احد. إذ رفع لي سواد عظيم، فظننت أنهم أمتي، فقيل لي: هذا موسى وقومه، فنظرت فإذا سواد عظيم، فقيل لي: هذه أمتك ومعهم سبعون ألفا يدخلون الجنة بغير حساب ولا عذاب

“Diperlihatkan kepadaku umat-umat. Maka aku melihat seorang nabi bersama beberapa orang (pengikutnya), dan seorang nabi bersama satu atau dua orang saja, serta ada nabi yang tidak memiliki seorang pun pengikut. Kemudian diperlihatkan kepadaku suatu kumpulan besar, maka aku mengira bahwa mereka adalah umatku. Lalu dikatakan kepadaku, ‘Ini adalah Musa dan kaumnya.’ Kemudian aku melihat lagi, ternyata ada kumpulan besar lainnya. Lalu dikatakan kepadaku, ‘Inilah umatmu, dan bersama mereka ada tujuh puluh ribu orang yang akan masuk surga tanpa hisab dan tanpa azab.’” (Fathul Majiid Syarh KItaab at-Tauhiid, hal. 58-59).

Jumlah bukan ukuran sukses dan tidaknya sebuah dakwah, tapi siapa yang istiqomah menempuh jalan itu walaupun satu. bisa jadi yang satu itu akan memberikan hidayah irsyad wal bayan kepada seribu orang diatas sunnah, itu prinsip yang beliau gunakan.

Kita banyak menyaksikan penuntut ilmu seperti diatas, bahkan ada yang umurnya sudah tidak lagi muda, terhalang banyak kesibukan, tapi memiliki semangat belajar tingkat tinggi dan siap "bertempur" disegala medan. Jika yang belajar berjumlah dua puluh orang, tersisa satu atau dua yang bertahan, dipastikan satu atau dua itu adalah mereka. Penuntut ilmu seperti ini banyak kita jumpai dimana-mana, salah satunya di Ma'had Al-Furqon al-Islami Sidayu Gresik. Ada yang belajar di marhalah Takhossus 'Ilmi dua tahun, lalu melanjutkan ke Ma'had Aly empat tahun. Saya mendapati jumlah mereka sangat banyak setiap tahun, jika ditotal untuk seluruh marhalah sampai 30 orang lebih. Mungkin mereka satu tapi singa di tempat mereka masing-masing, dan akhirnya dipertemukan di tempat yang penuh berkah.

Di tempat seperti inilah kita bisa melihat betapa banyak penuntut ilmu yang tidak pernah mengenal kata mundur, tidak pernah mengenal kata menyerah. Ada yang belajar di usia dua puluh tahun, tiga puluh tahun, empat puluh tahun, lima puluh tahun, bahkan ada yang hampir enam puluh tahun, Belajar di usia yang tidak lagi muda dengan jumlah anak yang berbeda-beda; ada yang satu, dua, tiga, empat, lima, enam, dll, tapi itu bukan halangan bagi mereka untuk terus belajar tanpa mengenal kata menyerah.

Antara kesibukan yang menggunung, kerja mencari nafkah, mengurus anak dan belajar, semua berjalan beriringan. Betapa banyak saya saksikan mereka diterpa ujian silih berganti seperti gelombang tsunami yang sulit untuk dilewati oleh orang-orang biasa, tapi mereka masih kokoh berdiri menuntut ilmu dan bisa melewatinya.

Awalnya satu tapi singa, tapi Allah mempertemukan mereka dengan singa-singa lain di setiap kota di satu pesantren-pesantren yang penuh berkah dimanapun dengan tujuan yang sama yaitu menuntut ilmu. Mereka di negeri mereka masing-masing selalu bertahan dalam sulitnya masa-masa belajar. Karena tidak ada akses belajar yang memadai; dari keterbatasan jumlah da'i, belajar di majelis mulazamah di negeri masing-masing yang selalu putus sambung, sehingga meninggalkan kehampaan dalam belajar bagi mereka yang semangat, lalu membuat mereka mengambil keputusan harus safar mencari majelis ilmu yang benar-benar bisa menghadirkan pembelajaran yang konsisten dan istiqomah sampai tamat satu, dua, tiga, empat kitab dst, dan itu hanya ada di majelis-majelis ilmu di pesantren dan majelis-majelis ilmu di sekitar kampus.

Bersambung....

***

Grand Sahara - Purwodadi - Sidayu - Gresik,  17Syawal 1446 H / 7 April 2026

Penulis : Abu Dawud ad-Dombuwiyy

Artikel : Meciangi-d.blogspot.com

Related Posts:

EMPAT KARAKTER DA'I SEJATI (SERI 1)


Bismillah. Alhamdulillah. wa shallallahu 'ala Nabiyyina Muhammadin wa 'ala aalihi wa shahbihi ajma'iin. Wa ba'du.

Seorang da'i adalah panutan, ia adalah qudwah, karena ia mengambil posisi penting tugas kenabian dan kerasulan yaitu mengajak manusia kepada jalan Allah Ta'ala. Dan para nabi 'alaihimussalam berdakwah dengan ilmu, kemampuan mendidik dan mengajarkan umat dengan penuh hikmah, diiringi dengan adab dan akhlak yang mulia, dan mereka bergaul dengan manusia dengan penuh kesabaran.

Karena itu ada 4 karakter seorang da'i sejati dalam dunia dakwah, ke empat hal ini akan membentuk sang da'i menjadi teladan, panutan, rujukan dalam kebaikan sebagai penerus perjuangan para nabi dan rasul, simbol kertakwaaan yang memunculkan kewibawaan dihadapan umat. Ke empat hal tersebut antara lain :

1. al-Mahaarah al-Ilmiyyah (keterampilan ilmu)

2. al-Mahaarah at-Tadriis (keterampilan mengajar)

3. al-Mahaarah al-Nafsiyyah (keterampilan psikologis)

4. al-Mahaarah al-Ijtimaa'iyyah (kemampuan sosial)

1. Al-Mahaarah al-Ilmiyyah (keterampilan ilmu) 

Al-Mahaarah al-Ilmiyyah adalah kemampuan seorang da'i dalam penguasaan ilmu syar'i yang kuat dan benar. Sehingga dengan keterampilan ini, dakwahnya tidak sekadar opini, tetapi berdasarkan ilmu yang shahih dan dapat dipertanggungjawabkan.

Al-Mahaarah al-Ilmiyyah dinamakan juga dengan kafa-ah ilmiyyah, yakni kemapanan seorang da'i dalam menguasai ilmu dan cabang-cabangnya pada bidang yang ia tekuni. Jika ia mendalami ilmu fiqih, maka ia menguasai segala hal yang berkaitan dengan ilmu fiqih dan turunannya tanpa terkecuali, seperti ilmu tentang ushul fiqih, qowaid fiqhiyyah, maqoshid syar'iyyah, tafsir ayat-ayat ahkam, hadits-hadits ahkam, taarikh fiqh, faroid, dll.

Ketika ia menyampaikan ilmu, yang keluar bukan fatwa-fatwa aneh, tapi ilmu yang bersumber dari al-Qur'an dan sunnah. Ia memahami dalil secara mendalam bukan sekedar ucapan tanpa dasar. Allah Ta'ala berfirman :

«قُلْ هَلْ يَسْتَوِى ٱلَّذِينَ يَعْلَمُونَ وَٱلَّذِينَ لَا يَعْلَمُونَ»

Artinya : "Katakanlah: "Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?" (QS. Az-Zumar : 9)

Tentu tidak sama orang yang berilmu dengan orang yang mengaku punya ilmu, karena orang-orang yang berilmu, ia adalah da'i sejati, yang Allah angkat derajatnya sebagaimana firman Allah Ta'ala :

«يَرْفَعِ ٱللَّهُ ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ مِنكُمْ وَٱلَّذِينَ أُوتُوا۟ ٱلْعِلْمَ دَرَجَـٰتٍۢ ۚ وَٱللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌۭ»

Artinya : "Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan." (QS. Al-Mujadilah : 11)

Dalam ayat yang lain Allah Ta'ala juga berfirman :

«شَهِدَ ٱللَّهُ أَنَّهُۥ لَآ إِلَـٰهَ إِلَّا هُوَ وَٱلْمَلَـٰٓئِكَةُ وَأُو۟لُوا۟ ٱلْعِلْمِ قَآئِمًۢا بِٱلْقِسْطِ ۚ لَآ إِلَـٰهَ إِلَّا هُوَ ٱلْعَزِيزُ ٱلْحَكِيمُ»

Artinya : "Allah bersaksi bahwasanya tidak ada Tuhan melainkan Dia (yang berhak disembah), Yang menegakkan keadilan. Para Malaikat dan orang-orang yang berilmu (juga menyatakan yang demikian itu). Tak ada Tuhan melainkan Dia (yang berhak disembah), Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana." (QS. Ali Imran : 18)

Ibnu Katsir rahimahullah mengatakan dalam tafsirnya :

ثم قرن شهادة ملائكته وأولي العلم بشهادته، فقال «شَهِدَ ٱللَّهُ أَنَّهُۥ لَآ إِلَـٰهَ إِلَّا هُوَ وَٱلْمَلَـٰٓئِكَةُ وَأُو۟لُوا۟ ٱلْعِلْمِ» وهذه خصوصية عظيمة للعلماء في هذا المقام

"Kemudian Allah menggandeng persaksian para malaikat-Nya dan persaksian orang-orang yang berilmu dengan persaksian-Nya sendiri, Dia berfirman : «Allah bersaksi bahwasanya tidak ada Tuhan melainkan Dia (yang berhak disembah), dan para Malaikat dan orang-orang yang berilmu (juga menyatakan yang demikian itu)», dan ini adalah kekhususan yang agung (besar) untuk para ulama pada martabat ini." (Tafsir Ibnu Katsir, 1/321)

Ini menunjukkan keutamaan orang-orang yang berilmu, khususnya para ulama yang tentunya telah memiliki kapasitas yang sangat mendalam dalam masalah ilmu, dan itulah yang disebut sebagai kafa-ah ilmiyyah.

1.1. Menimbang Mashlahat dan Mudhorot

Diantara bentuk kafa-ah ilmiyyah ini adalah, seorang da'i ia memiliki pengetahuan kapan ia harus berbicara dan kapan harus diam, kapan harus mentahdzir dan kapan harus berhenti, kapan harus amar ma'ruf nahi mungkar dengan tangan, lisan dan kapan dengan hati, dan semua itu butuh kematangan ilmu dan kejelian dalam menimbang mashlahat dan mudhorot, sebab nasihat selain tersampaikan, juga harus baik caranya agar diterima.

Imam Asy-Syafi'i mengatakan :

تعمدني بنصحك في انفرادي       وجنبني النصيحة في الجماعه

فإن النصح بين الناس نوع         من التوبيخ لا أرضى استماعه

وإن خالفتني وعصيت قولي        فلا تجزع إذا لم تعط طاعه

"Nasihatilah aku saat sendirian, dan jangan menasihati di tengah keramaian. 

Karena nasihat di hadapan orang banyak terasa seperti celaan yang tidak ingin kudengar. 

Jika engkau menyelisihiku dan tidak mengikuti perkataanku, 

maka jangan engkau kecewa jika nasihatmu tidak ditaati." (Diwan Asy-Syafi'i, hal.90)

Kita sering merasa kecewa kenapa amar ma'ruf nahi mungkar kita tidak diterima, nasihat-nasihat kita tidak didengar, barangkali ada yang salah dalam penyampaiannya. Da'i yang memiliki kafa-ah ilmiyyah ia akan cerdas melihat hal itu.

Diantara bentuk nasihat atau amar ma'ruf nahi mungkar yang sulit diterima oleh pihak yang ingin dinasihati adalah menyampaikan secara terang-terangan di sosial media. Tujuannya mungkin mengingingkan kebaikan bagi yang dinasihati, tapi yang ada hanyalah hiruk-pikuk saling sindir dan saling membantah yang tidak akan ada ujungnya.

Jika permasalahan seperti ini terjadi di tengah umat, apalagai sesama ahlus sunnah, sedangkan orang-orang awam yang tidak tahu menahu permasalahan justru tahu ada masalah dalam tubuh salafiyyun, dalam lembaga dakwah salafiyyun, mereka akan lari menjauh dari dakwah yang haq ini karena akhlak da'i-da'nya, atau ahlul bid'ah yang mengetahui permasalahan seperti itu, membaca "nasihat-nasihat" keumatan yang terkesan fulgar di sosial media dengan dalil agar umat tahu, akan menjadikan mereka menemukan celah untuk merusak kemuliaan dakwah salaf yang mulia ini.

Umat mana yang harus tahu permasalahan seperti ini, apakah semua umat? Apakah para salafiyyun, para muhsinin, orang-orang awam, para ahlul bid'ah, atau umatan qoonitan seperti Nabi Ibrahim 'alaihis salam? Karena itu, da'i yang memiliki kafa-ah ilmiyyah, ia akan melihat mashlahat dan mudhorot dalam setiap tindakannya. Sebuah kaidah mengatakan :

درء المفاسد أولى من جلب المصالح

"Menghilangkan kemudhorotan lebih didahulukan daripada mengambil sebuah kemashlahatan."

Contoh nyata permasalahan ini di zaman kenabian adalah mencela sesembahan orang-orang kafir, dan mencela sesembahan orang-orang kafir mashlahatnya banyak, diantaranya akan menurunkan derajat sesembahan mereka, namun pada sisi lain mudhorotnya juga lebih besar, mereka akan mencaci maki Allah 'Azza wa jalla dengan melampaui batas, maka Allah larang hal tersebut.

Berkata Syaikh Abdullah bin Shalih Al-Fauzan mengenai kaidah diatas :
 
.إذا تقابلت مصلحة ومفسدة، فيقدم دفع المفسدة ولو فاتت المصلحة، لأن درء المفاسد أولى من جلب المصالح، والدرء : هو الدفع
 
ومن أدلة ذلك : قوله تعالى : «وَلَا تَسُبُّوا۟ ٱلَّذِينَ يَدْعُونَ مِن دُونِ ٱللَّهِ فَيَسُبُّوا۟ ٱللَّهَ عَدْوًۢا بِغَيْرِ عِلْمٍۢ» [الأنعام : 180

ففي سب آلهة المشركين مصلحة وهي تحقير دينهم وإهانتهم، ولكن سيترتب على ذلك مفسدة، وهي سي الله تعالى عدوا وكفرا على وجه المقابلة، فنهى الله تعالى المسلمين عن ذلك

"Apabila bertemu antara maslahat dan mafsadat, lebih diutamakan menghilangkan mafsadat walapun akan hilang maslahat, karena menghilangkan mafsadat lebih diutamakan daripada mengambil maslahat. Ad-dar-u berarti menolak (atau mencegah).

Diantara dalilnya firman Allah Ta'ala (yang artinya) : «Dan janganlah kamu memaki sembahan-sembahan yang mereka sembah selain Allah, karena mereka nanti akan memaki Allah dengan melampaui batas tanpa pengetahuan». [QS. Al-An'am : 108].

Dalam mencaci-maki sesembahan-sesembahan orang-orang musyrik ada maslahatnya, yaitu akan menurunkan derajat agama mereka dan menghinakan mereka, akan tetapi hal tersebut akan mengakibatkan adanya mafsadat, yaitu mereka akan mencaci-maki Allah Ta'ala dengan melampaui batas dan penuh penolakan sebagai bentuk balasan, karena itu Allah Ta'ala telah melarang kaum muslimin dari berbuat demikian." (Jam'ul Mahshul fii Risaalah Ibni Sa'diy fil Ushuul, hal.91)

Berkata Syaikh Doktor Muhammad Shidqi mengomentari kaidah di atas :

معنى القاعدة : المراد بدرء المفاسد دفعها ورفعها وإزالتها
 
إذا تعارضت مفسدة ومصلحة، فدفع المفسدة مقدم في الغالب، إلا أن تكون المفسدة مغلوبة ؛ وذلك لأن اعتناء الشرع بترك المنهيات أشد من اعتنائه بفعل المأمورات، لما يترتب على المناهي من الضرر المنافي لحكم الشارع في النهي
 
: أدلة ڠذه القاعدة
«١. قوله تعالى : «وَلَا تَسُبُّوا۟ ٱلَّذِينَ يَدْعُونَ مِن دُونِ ٱللَّهِ فَيَسُبُّوا۟ ٱللَّهَ عَدْوًۢا بِغَيْرِ عِلْمٍۢ
 
في سب آلهة الكفار مصلحة وهي تحقير دينهم واهانتهم لشركهم بالله سبحانه، ولكن لما تضمن ذلك مفسدة وهي مقابلتهم السب بسب الله عز وجل نهى الله سبحانه وتعالى عن سبهم درءا لهذه المفسدة

وقول صلى الله عليه وسلم : ((إذا أمرتكم بالشيء فخذوا به ما استطعتم، وإذا نهيتكم عن شيء فاجتنبوه))

"Makna kaidah : Yang dimaksud dengan menolak kerusakan (dar’u al-mafasid) ialah mencegahnyamenghilangkannya, dan membersihkannya.

Apabila terjadi pertentangan antara suatu mafsadat dan maslahat, maka menghilangkan mafsadat pada umumnya lebih didahulukan, kecuali jika mafsadat tersebut dapat dikalahkan (lebih ringan). Hal ini karena perhatian syariat terhadap meninggalkan perkara-perkara yang dilarang lebih besar daripada perhatiannya terhadap melaksanakan perkara-perkara yang diperintahkan, disebabkan dampak bahaya yang ditimbulkan oleh larangan-larangan tersebut bertentangan dengan tujuan hukum syariat dalam menetapkan larangan.

Dalil-dalil kaidah :

1. Firman Allah Ta'ala (yang artinya) : «Dan janganlah kamu memaki sembahan-sembahan yang mereka sembah selain Allah, karena mereka nanti akan memaki Allah dengan melampaui batas tanpa pengetahuan».

Dalam mencaci sesembahan orang-orang kafir terdapat suatu kemaslahatan, yaitu merendahkan agama mereka dan menghina kesyirikan mereka kepada Allah Subhaanahu. Akan tetapi ketika perbuatan itu mengandung mafsadat, yaitu mereka membalas cacian tersebut dengan mencaci Allah ‘Azza wa Jalla, maka Allah Subhaanahu wa Ta‘ala melarang mencaci mereka demi menolak mafsadat tersebut.

Dan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda : 

“Apabila aku memerintahkan kalian untuk melakukan sesuatu, maka lakukanlah semampu kalian. Dan apabila aku melarang kalian dari sesuatu, maka jauhilah hal tersebut.” (Al-Wajiiz fii Iidhaah Qowaaid Fiqhiyyah, hal.265)

Meninggalkan perkara-perkara yang dilarang, lebih besar daripada perhatiannya terhadap melaksanakan perkara-perkara yang diperintahkan, karena melaksanakan perintah itu semampu kita, bukan memberat-beratkan diri padahal tidak mampu.

Namun demikian, kaidah ini juga tidak berlaku secara mutlak, namun harus diperinci dengan melihat besar kecilnya mashlahat dan mafsadat. (1) Jika mafsadatnya lebih besar dibanding maslahatnya, menghilangkan mafsadat lebih dikedepankan daripada mengambil mashlahat. (2) Jika mashlahatnya lebih besar dibanding dengan mafsadatnya, maka mengambil mashlahat lebih diutamakan daripada menghilangkan mafsadat. (3) Jika mashlahat dan mafsadat sama-sama kuat dan seimbang, maka menghilangkan mafsadat lebih didahulukan daripada mengambil mashlahat.

1.2. Amar Ma'ruf Nahi Mungkar tidak Boleh Serampangan

Terkadang, kita terlalu semangat ingin amar ma'ruf nahi mungkar apalagi di sosial media, tapi yang muncul malah kekacauan, keributan, kegaduhan, dan tidak jarang ucapan-ucapan "nasihat" yang terlihat seperti mengejek dan mengolok-olok, merendahkan wibawa saudaranya dan ini sangat banyak terjadi sebagaimana realita yang ada.

Beramar ma'ruf nahi mungkar apalagi di depan publik, di media sosial, butuh ilmu, karena yang akan membaca pertikaian dan perselisihan kita adalah umat yang awam, yang tidak tahu menahu permasalahan yang sedang dibahas atau dibicarakan, sehingga para ahlul bid'ah pun membaca dan menyimak, menjadi bahan ejekan dan senjata untuk menjatuhkan dakwah dan manhaj salaf yang mulia ini, sehingga wibawa dakwah yang haq menjadi tercoreng di mata orang-orang awam dan musuh-musuh Islam akibat kejahilan sebagian orang atas nama amar ma'ruf nahi mungkar.

Karena itu, sangat dibutuhkan da'i-da'i yang memiliki kafa-ah ilmiyyah apalagi jika berbicara masalah keumatan, lebih-lebih di sosial media, da'i-da'i senior, da'i-da'i yang luas keilmuannya, ditokohkan, tempat rujukan, tempat kembalinya umat dalam setiap permasalahan, yang bisa menimbang mashlahat dan mudhorot dari setiap ucapan dan perbuatan dan langkah-langkah ilmiyah yang ia tempuh, yang mengamalkan ilmunya, bukan da'i-da'i yang tidak memiliki kafa-ah ilmiyyah.

Penjelasan diatas menunjukkan bagaimana kematangan ilmu itu sangat penting untuk masuk pada ranah yang besar, kafa-ah ilmiyyah harus ada, kemampuan menimbang antara mashlahat dan mudhorot dari setiap fatwa harus mapan, nasihat serta amar ma'ruf nahi mungkar harus tepat sasaran dan sesuai dengan kaidah amar ma'ruf nahi mungkar. Betapa banyak nasihat dan amar ma'ruf nahi mungkar yang mengatas namakan dakwah, justru disana terselip juga hawa nafsu dan urusan pribadi yang merusak amar ma'ruf nahi mungkar tersebut.

 

1.3. Amar Ma'ruf nahi Mungkar itu Ibadah maka Harus Ikhlas karena Allah

 

Seorang da'i yang memiliki kafa-ah ilmiyyah, ia mengetahui amar ma'ruf nahi mungkar merupakan amal sholih dan ibadah yang diperintahkan oleh Allah 'Azza wa Jalla, karena itu maka wajib harus dibangun diatas niat yang ikhlas sesuai dengan tuntunan Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bukan dengan hawa nafsu.

 
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah dalam al-Amru bil Ma'ruf wa an-Nahyu 'Anil Mungkar mengatakan :
 
والعمل الصالح الذي أمر الله به ورسوله هو الطاعة. فكل طاعة عمل صالح، وهو العمل المشروع المسنون، لأنه هو المأمور به أمر ايجاب أو استحباب. فهو العمل الصالح، وهو الحسن، وهو البر، وهو الخير. وضده  المعصية، والعمل الفاسد، والسيئة، والفجور والظلم والبغي
 
ولما كان العمل لا بد فيه من شيئين : النية والحركة، كما قال النبي صلى الله عليه وسلم : ((واصدق الأسماء حارث وهمام))، فكل أحد حارث همام، له عمل ونية. لكن النية المحمودة التي يقبلها الله ويثيب عليها هي أن يراد الله وحده بذلك العمل
 
والعمل المحمود هو الصالح ، وهو المأمور به . ولهذا كان عمر بن الخطاب رضي الله عنه يقول في دعائه : اللهم اجعل عملي كله صالحا ، واجعله لوجهك خالصا ، ولا تجعل لأحد فيه شيئا
 

وإذا كان هذا حد كل عمل صالح ، فالأمر بالمعروف والنهي عن المنكر يجب أن يكون كذلك . هذا في حق الأمر الناهي بنفسه

 

"Amal shalih yang diperintahkan oleh Allah dan Rasul-Nya adalah ketaatan. Maka setiap ketaatan adalah amal shalih; ia merupakan amal yang disyariatkan lagi disunnahkan, karena  ia diperintahkan, baik sebagai kewajiban maupun anjuran. Itulah amal shalih, kebaikan, kebajikan, dan kebaikan. Dan lawannya adalah maksiat, perbuatan yang rusak, dosa, kefajiran, kezaliman, dan perbuatan melampaui batas.

 

Ketika amal tidak terlepas dari dua perkara yaitu niat dan suatu amalan sebagaimana sabda Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam : ((Nama yang paling benar adalah Harits dan Hammam)), maka setiap orang adalah harits (orang yang berusaha) dan hammam (orang yang berkehendak); ia memiliki amal dan niat. Akan tetapi niat yang terpuji, yang diterima Allah dan diberi pahala adalah amal yang dikehendaki hanya Allah semata.

 

Amal yang terpuji dialah amal shalih, yaitu yang diperintahkan untuk dilakukan. Karena itu Umar bin Khattab radhiyallahu 'anhu dahulu berdoa : "Ya Allah, jadikan seluruh amalku shalih, jadikanlah ia ikhlas karena wajah-Mu, dan jangan Engkau jadikan sedikit pun darinya untuk siapa pun."

 
Jika demikian batasan setiap amal shalih, maka amar ma’ruf dan nahi munkar harus demikian pula. Ini berlaku pada diri orang yang memerintah dan melarang itu sendiri."(Al-Amru bil Ma'ruf wa an-Nahyu 'anil Mungkar, hal. 27-28)
 
Karena amar ma'ruf nahi mungkar adalah ibadah, maka amalan ibadah harus dibangun di atas dua pilar utama, keikhlasan karena Allah Ta'ala dan sesuai dengan contoh teladan Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam.
 
Berkata Ibnu Ajlaan rahimahullah :
 

لا يصلح العمل إلا بثلاث : التقوى لله، والنية الحسنة، والأصابة

 

"Tidak akan baik suatu amalan kecuali dengan tiga hal : Takwa kepada Allah, niat yang baik, dan tepat (sesuai dengan tuntunan)."

 
Berkata Mutharrif bin Abdillah rahimahullah :

صلاح القلب بصلاح العمل، وصلاح العمل بصلاح النية

"Baiknya hati tergantung baiknya amalan, dan baiknya amalan tergantung baiknya niat."

Imam Sufyan ats-Tsauriy rahimahullah mengatakan :

ما عالجت شيئا أشد علي من نيتي لأنها تتقلب علي

"Tidak ada sesuatu yang paling berat untuk aku obati melainkan niatku, karena ia selalu berbolak-balik."  (Ad-Durar as-Saniyyah bi Fawaaid al-Arbaiin an-Nawawiyyah, hal. 14-15)

Karena itu mari kita senantiasa memperbaharui niat, karena sekelas Imam Sufyan ats-Tsauriy saja masih berbolak-balik niatnya apalagi kita yang sudah dari awal terkadang memang sudah punya masalah pribadi dengan orang yang kita nasihati, sehingga ibadah amar ma'ruf nahi mungkar yang kita harapkan berpahala justru menjadi rusak karena bercampur dengan hafa nafsu.

1.4. Amar Ma'ruf Nahi Mungkar Tanpa Ilmu Lebih Banyak Merusaknya daripada Memperbaiki

 

Da'i yang memiliki kafa-ah ilmiyyah ia tahu bagaimana cara amar ma'ruf nahi mungkar yang benar, bukan semau gue, sesuka saya, apalagi serampangan seperti banyak yang kita saksikan di sosial media pada zaman ini, padahal amar ma'ruf nahi mungkar yang benar harus dibangun di atas pondasi ilmu yang kokoh, jika tidak, maka amar ma'ruf itu tidak menjadi amal shalih, bahkan ia lebih banyak merusaknya daripada memperbaiki.

 
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah mengatakan :
 
ولا يكون عمل صالحا إن لم يكن بعلم وفقه، كما قال عمر بن عبد العزيز رضي الله عنه: من عبد الله بغير علم كان يفسد أكثر مما يصلح، وكما في حديث معاذ بن جبل رضي الله عنه: العلم امام العمل، والعمل تابعه، وهذا ظاهر. فإن القصد والعمل إن لم يكن بعلم كان جهلا وضلالا واتباعا للهوى كما تقدم، وهذا هو الفرق بين أهل الجاهلية وأهل الاسلام. فلا بد من العلم بالمعروف والمنكر، والتمييز بينهما، ولا بد من العلم بحال المأمور وحال المنهي
 

ومن الصلاح أن يأتي بالأمر والنهي على الصراط المستقيم، والصراط المستقيم أقرب الطرق، وهو الموصل إلى حصول القصد

 

"Dan suatu amal tidak akan menjadi amal yang shalih apabila tidak didasarkan pada ilmu dan pemahaman. Sebagaimana Umar bin Abdul Aziz radhiyallahu ‘anhu berkata : 'Barang siapa yang beribadah kepada Allah tanpa ilmu, maka ia akan lebih banyak merusak daripada memperbaiki.'

 

Dan sebagaimana dalam hadis Mu‘adz bin Jabal radhiyallahu ‘anhu : 'Ilmu adalah pemimpin bagi amal, dan amal adalah pengikutnya.' Dan hal ini jelas. Karena sesungguhnya tujuan dan perbuatan, jika tidak disertai ilmu, maka ia menjadi kebodohan, kesesatan, dan mengikuti hawa nafsu, sebagaimana telah disebutkan sebelumnya. Dan inilah perbedaan antara orang-orang jahiliah dan kaum muslimin.

 
Maka harus ada ilmu tentang yang ma‘ruf dan yang munkar serta kemampuan membedakan keduanya; dan harus pula mengetahui keadaan orang yang diperintah dan keadaan orang yang dilarang." (Al-Amru bil Ma'ruuf wa an-Nahyu 'anil Mungkar, hal. 28)
 

1.5. Amar Ma'ruf Nahi Mungkar Memiliki Kaidah Pokok

 

Untuk menghindari kerusakan dan mafsadat yang timbul, ada tiga kaidah pokok dalam amar ma'ruf nahi mungkar yang benar, (1) sang da'i harus memiliki ilmu, (2) sang da'i harus melakukannya dengan penuh kelembutan, (3) sang da'i harus sabar jika amar ma'ruf nahi mungkarnya tidak diterima, jika terus ngotot, ngeyel-ngeyelan, yang muncul bukan mashlahat tapi mudhorot karena akan terus terjadi bantah-bantahan dan itu akan disaksikan oleh umat. Yang jahil akan mencibir, dan yang berilmu akan menggeleng-gelengkan kepala.

Syaikhul Islam mengatakan :
 
ولا بد في ذلك من الرفق، كما قال النبي صلى الله عليه وسلم : ((ما كان الرفق في شيء إلا زانه، ولا كان العنف في شيء إلا شانه)). وقال صلى الله عليه وسلم : ((إن الله رفيق يحب الرفق في الأمر كله، ويعطي عليه ما لا يعطي على العنف))
 
ولا بد أيضا أن يكون حليما، صبورا على الأذى، فإنه لا بد أن يحصل أذى، فإن لم يحلم ويصبر يفسد أكثر مما يصلح. كما قال لقمان لابنه: (وَأْمُرْ بِٱلْمَعْرُوفِ وَٱنْهَ عَنِ ٱلْمُنكَرِ وَٱصْبِرْ عَلَىٰ مَآ أَصَابَكَ ۖ إِنَّ ذَٰلِكَ مِنْ عَزْمِ ٱلْأُمُورِ)
 
وهذا أمر الله الرسل، وهم أئمة الأمر بالمعروف والنهي عن المنكر، بالصبر، كقوله لخاتم الرسل صلى الله عليه وسلم، بل ذلك مقرون بتبليغ الرسالة. فإنه أول ما أرسل أنزل عليه سورة (يَـٰٓأَيُّهَا ٱلْمُدَّثِّرُ) بعد أن أنزلت سورة (ٱقْرَأ) التي بها نبئ. فقال الله تعالى: (َـٰٓأَيُّهَا ٱلْمُدَّثِّرُ. قُمْ فَأَنذِرْ. وَرَبَّكَ فَكَبِّرْ. وَثِيَابَكَ فَطَهِّرْ. وَٱلرُّجْزَ فَٱهْجُرْ. وَلَا تَمْنُن تَسْتَكْثِرُ. وَلِرَبِّكَ فَٱصْبِرَْ)
 
فافتتح آيات الإرسال إلى الخلق بالأمر بالإنذار، وختمها بالصبر. ونفس الإنذار أمر بالمعروف ونهي عن المنكر. فعلم أنه يجب بعده الصبر. وقال تعالى : (وَٱصْبِرْ لِحُكْمِ رَبِّكَ فَإِنَّكَ بِأَعْيُنِنَا). وقال تعالى : (وَٱصْبِرْ عَلَىٰ مَا يَقُولُونَ وَٱهْجُرْهُمْ هَجْرًۭا جَمِيلًۭا)، وقال : (فَٱصْبِرْ كَمَا صَبَرَ أُو۟لُوا۟ ٱلْعَزْمِ مِنَ ٱلرُّسُلِ)، وقال : (فَٱصْبِرْ لِحُكْمِ رَبِّكَ وَلَا تَكُن كَصَاحِبِ ٱلْحُوتِ)، وقال : (وَٱصْبِرْ وَمَا صَبْرُكَ إِلَّا بِٱللَّه)، وقال : (وَٱصْبِرْ فَإِنَّ ٱللَّهَ لَا يُضِيعُ أَجْرَ ٱلْمُحْسِنِينَ)
 
فلا بد من هذه الثلاثة: العلم، والرفق، والصبر. العلم قبل الأمر والنهي، والرفق معه، والصبر بعده. وإن كان كل من الثلاثة لا بد أن يكون مستصحبا في هذه الأحوال
 
وهذا كله جاء في الأثر عن بعض السلف، ويروى مرفوعا، ذكره القاضي أبو يعلى في ((المعتمد)): لا يأمر بالمعروف وينهى عن المنكر إلا من كان فقيها فيما يأمر به، فقيها فيما ينهى عنه، ورفيقا فيما يأمر به، ورفيقا فيما ينهى عنهحليما فيما يأمر به، وحليما فيما ينهى عنه

"Maka wajib dalam amar ma'ruf nahi mungkar harus ada sikap lemah lembut, sebagaimana Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda : ((Tidaklah kelembutan ada pada sesuatu kecuali ia menghiasinya, dan tidaklah kekerasan ada pada sesuatu kecuali ia merusaknya)). Dan beliau shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda : ((Sesungguhnya Allah Maha Lembut, mencintai kelembutan dalam segala urusan, dan Dia memberikan (pahala) atasnya apa yang tidak Dia berikan atas kekerasan)).

Dan juga harus bersifat santun lagi sabar atas gangguan. Karena pasti akan terjadi gangguan. Jika ia tidak bersikap santun dan tidak bersabar, maka ia akan lebih banyak merusak daripada memperbaiki. Sebagaimana Luqman berkata kepada anaknya (artinya) : «Perintahkanlah kepada yang ma’ruf, cegahlah dari yang mungkar, dan bersabarlah atas apa yang menimpamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk perkara-perkara yang memerlukan keteguhan».

Dan inilah perintah Allah kepada para rasul, dan mereka adalah para pemimpin dalam amar ma’ruf dan nahi mungkar, yaitu dengan kesabaran. Sebagaimana firman-Nya kepada penutup para rasul shallallahu 'alaihi wa sallam. Bahkan hal itu digandengkan dengan penyampaian risalah. Karena ketika pertama kali beliau diutus, diturunkan kepadanya Surah "Ya Ayyuhal Muddatsir" setelah sebelumnya diturunkan Surah "Iqra'" yang dengannya beliau diangkat menjadi nabi. Maka Allah Ta‘ala berfirman (yang artinya) : «Wahai orang yang berselimut. Bangkitlah lalu berilah peringatan. Dan Tuhanmu maka agungkanlah. Dan pakaianmu maka bersihkanlah. Dan perbuatan dosa maka tinggalkanlah. Dan janganlah engkau memberi dengan maksud memperoleh balasan yang lebih banyak. Dan karena Tuhanmu maka bersabarlah».

Maka Allah membuka ayat-ayat pengutusan kepada manusia dengan perintah memberi peringatan dan menutupnya dengan perintah bersabar. Dan hakikat peringatan itu sendiri adalah perintah kepada yang ma’ruf dan larangan dari yang mungkar. Maka diketahui bahwa setelah itu wajib adanya kesabaran.

Dan Allah Ta‘ala berfirman (yang artinya) : «Dan bersabarlah terhadap ketetapan Tuhanmu, maka sesungguhnya engkau berada dalam pengawasan Kami». Dan Dia berfirman (yang artinya) : «Dan bersabarlah atas apa yang mereka katakan dan jauhilah mereka dengan cara yang baik». Dan Dia berfirman (yang artinya) : «Maka bersabarlah sebagaimana para rasul yang memiliki keteguhan hati telah bersabar». Dan Dia berfirman (yang artinya) : «Maka bersabarlah kamu (hai Muhammad) terhadap ketetapan Tuhanmu, dan janganlah kamu seperti orang yang berada dalam (perut) ikan». Dan Dia berfirman  (yang artinya) : «Dan bersabarlah, dan tidaklah kesabaranmu itu kecuali dengan pertolongan Allah». Dan Dia berfirman (yang artinya) : «Dan bersabarlah, karena sesungguhnya Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat baik».

"Maka (dalam amar ma'ruf nahi mungkar) tidak boleh tidak, harus ada tiga perkara ini : ilmukelembutan, dan kesabaran. Ilmu sebelum melakukan perintah dan larangan, kelembutan ketika melaksanakannya, dan kesabaran setelahnya. Meskipun ketiga hal tersebut sejatinya harus selalu menyertai dalam seluruh keadaan ini.

Semua hal ini telah disebutkan dalam atsar dari sebagian salaf, dan diriwayatkan pula secara marfu‘. Disebutkan oleh al-Qadhi Abu Ya‘la dalam kitab Al-Mu‘tamad : 'Tidaklah seseorang memerintahkan kepada yang ma‘ruf dan melarang dari yang mungkar kecuali ia adalah orang yang memahami dengan baik apa yang ia perintahkan, dan memahami dengan baik pula apa yang ia larang, bersikap lemah lembut dalam apa yang ia perintahkan, dan bersikap lemah lembut pula dalam apa yang ia larang, bersikap santun dalam apa yang ia perintahkan, dan bersikap santun pula dalam apa yang ia larang."' (Al-Amru bil Ma'ruuf wa An-Nahyu 'anil Mungkar, hal. 29-31) 

Karena itu seorang da'i sejati, harus memiliki kafa-ah ilmiyyah dalam amar ma'ruf nahi mungkar, harus memiliki tiga hal yang menyertainya, (1) ilmu, (2) kelembutan, (3) kesabaran. Apabila tiga hal ini tidak ada, maka amar ma'ruf nahi mungkar itu lebih banyak merusaknya daripada memperbaiki. Serahkan urusan umat kepada yang memiliki kafa-ah ilmiyyah, da'i-da'i senior, da'i-da'i yang luas keilmuannya, ditokohkan, tempat rujukan, tempat kembalinya umat dalam setiap permasalahan, yang bisa menimbang mashlahat dan mudhorot, yang mengamalkan ilmunya, bukan da'i-da'i yang tidak memiliki kafa-ah ilmiyyah apalagi yang tidak bisa mengamalkan ilmunya.

Bersambung...

***

Grand Sahara - Purwodadi - Sidayu - Gresik, 17 Syawal 1446 H / 7 April 2026

Penulis : Abu Dawud ad-Dombuwiyy

Artikel : Meciangi.or.id

Related Posts: