Sihir dan Macam-Macamnya

Bismillah. Alhamdulillahi Rabbil 'aalamiin. Wa shallallahu 'ala Nabiyyina Muhammadin shallallahu 'alaihi wa sallam. Wa ba'du.

Fenomena sihir memang sangat menarik untuk dibahas, karena ilmu ini telah menyebar di tengah-tengah masyarakat kita sejak dahulu dan dianggap sebagai hal yang biasa. 

Sebagian orang beranggapan bahwa ilmu sihir merupakan ilmu yang memiliki manfaat. Orang yang mempelajarinya dianggap memiliki kelebihan. Belum lagi para tukang sihir sangat ditakuti banyak orang. Ada masalah dengan tetangga sedikit, santet! Ada hal-hal yang mengecewakan dengan sikap orang lain seperti permintaan mereka di tolak, sihir! Melihat ada kelebihan pada orang lain muncul sifat hasad, ujung-ujungnya, santet! Seolah segala sesuatu harus diselesaikan dengan cara santet. 

Ada yang ceramah mengupas tentang tema sihir dan hukum-hukumnya, kirim santet bola api terbang  untuk menakut-nakuti. Seperti ini kondisi perkampungan jika masyarakat hampir semuanya adalah tukang sihir, padahal mempelajari ilmu sihir, mengajarkannya serta melakukan praktek sihir merupakan dosa besar yang paling besar diantara dosa-dosa besar, bahkan para ulama memasukkan permasalahan ini dalam pembatal-pembatal keislaman.
 
Berkata Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah :

السابع : السحر، ومنه الصرف والعطف، فمن فعله أو رضي به كفر. والدليل: قوله تعالى: وما يعلمان من أحد حتى يقولا إنما نحن فتنة فلا تكفر

Ketujuh : Sihir. Termasuk di dalamnya adalah ṣarf (sihir pemisah) dan ‘aṭf (sihir pelet). Maka siapa yang melakukannya atau meridhainya, ia telah kafir. Dalilnya adalah firman Allah Ta‘ala “Dan keduanya (dua malaikat itu) tidak mengajarkan sesuatu kepada seorang pun sebelum keduanya mengatakan: ‘Sesungguhnya kami hanyalah fitnah (cobaan), maka janganlah kamu kafir.’” (QS. Al-Baqarah: 102).

Dalam penjelasan di atas, sihir ada yang jenisnya sarf (sihir pemisah) dan ada yang jenisnya 'atf (sihir pelet), disebutkan keduanya karena sihir inilah yang paling banyak dilakukan pada zaman dulu, dan keduanya sama-sama merupakan dosa besar dan pembatal keislaman. 

Definisi Sihir

Para ulama menyebutkan definisi sihir dalam dua sisi, pertama secara bahasa, kedua secara syar'i.

1. Definisi secara bahasa

.السحر في اللغة : عبارة عن الشيء الخفي, ولهذا يقول العلماء : السحر ما خفي ولطف سببه

,ومنه السحر وهو آخر الليل; لأن النهار يظهر خفيا في أوله مغمورا بظلام الليل ثم يظهر شيئا فشيئا حتى يسفر وسمي سحرا لخفائه

السحر في الشرع : ينقسم إلى قسمين حقيقي وتخيلي

"Sihir secara bahasa adalah ungkapan untuk sesuatu yang tersembunyi. Karena itu para ulama mengatakan : “Sihir adalah sesuatu yang samar dan halus sebabnya.”

Termasuk dalam makna tersebut adalah as-sahar, yaitu akhir malam; karena siang pada permulaannya tampak samar dan tertutup oleh gelapnya malam, kemudian muncul sedikit demi sedikit hingga menjadi terang. Ia dinamakan sahar karena sifatnya yang tersembunyi." (Duruus fii Syarh Nawaaqid al-Islaam, hal 142) 

Berkata Syaikh Hasan Alu Syaikh :

السحر في اللغة: عبارة عما خفي ولطف سببه، ولهذا جاء الحديث: ((إن من البيان لسحرا)). وسمي السحر سحرا لأنه يقع خفيا آخر الليل

"Sihir secara bahasa adalah sesuatu yang tersembunyi dan halus sebabnya. Oleh karena itu telah datang sebuah hadits : ((Sesungguhnya sebagian dari kefasihan itu benar-benar seperti sihir)).

Dan sihir dinamakan sihir karena ia terjadi secara tersembunyi pada akhir malam." (Fathul Majiid Syarh Kitaab at-Tauhiid, hal.237).

Diriwayatkan dari Syamir dari Ibnu Aisyah, ia mengatakan :

العرب إنما سمت السحر سحرا لأنه يزيل الصحة إلي المرض

"Orang Arab menyebut sihir dengan kata as-sihr karena ia menghilangkan kesehatan untuk menjadi sakit."

Dalam Mu'jam Al-Washith definisi sihir secara bahasa yaitu :

ما لطف مأخذه ودق 

"Sihir adalah sesuatu yang dilakukan secara lembut dan sangat terselubung." (Ash-Shaarimul Battaar fit Tashaddi Lis Saharatil Asyraar, hal.15).

2. Definisi secara syar'i

Ibnu Qudamah al-Maqdisi dalam Al-Kafi mengatakan :

السحر عزائم، ورقى، وعقد يؤثر في القلوب والأبدان، فيمرض، ويقتل، ويفرق بين المرء وزوجه، قال الله تعالى: «َيَتَعَلَّمُونَ مِنْهُمَا مَا يُفَرِّقُونَ بِهِۦ بَيْنَ ٱلْمَرْءِ وَزَوْجِهِ» [البقرة: 102]. وقال سبحانه: «وَمِن شَرِّ ٱلنَّفَّـٰثَـٰتِ فِى ٱلْعُقَدِد» [الفلق: 4]. يعني السواحر اللاتي يعقدن في سحرهن وينفثن في عقدهن، ولولا أن السحر حقيقة لم يأمر الله بالاستعاذة منه

"Sihir itu adalah jampi-jampi, mantra, dan ikatan-ikatan yang berpengaruh pada hati dan badan; dapat menyebabkan sakit, membunuh, serta memisahkan antara seorang suami dan istrinya. Allah Ta‘ala berfirman (yang artinya) : “Maka mereka mempelajari dari keduanya sesuatu yang dapat memisahkan antara seorang dengan istrinya.” (QS. Al-Baqarah: 102).

Dan Allah berfirman (yang artinya) : “Dan dari kejahatan wanita-wanita yang meniup pada buhul-buhul.” (QS. Al-Falaq: 4).

Yang dimaksud adalah para tukang sihir wanita yang mengikat buhul dalam sihir mereka dan meniup pada ikatan-ikatan tersebut. Seandainya sihir itu bukan sesuatu yang nyata, niscaya Allah tidak akan memerintahkan untuk berlindung darinya." (Fathul Majiid Syarh Kitaab at-Tauhiid, hal.237).

Ibnu Qudamah juga mengatakan : 

هو عقد ورقى وكلام يتكلم به أو يكتبه، أو يعمل شيئا يؤثر في بدن المسحور أو قلبه أو عقله من غير مباشرة له، وله حقيقة فمنه ما يقتل، وما يمرض، وما يأخذ الرجل عن امرأته فيمنعه وطأها، ومنه ما يفرق بين المرء وزوجه، وما يبغض أحدهما إلى الى الآخر أو يحبب بين اثنين

"Sihir adalah ikatan-ikatan, jampi-jampi, perkataan yang dilontarkan secara lisan maupun tulisan, atau melakukan sesuatu yang mempengaruhi badan, hati atau akal orang yang terkena sihir tanpa berinteraksi langsung dengannya. Sihir ini mempunyai hakikat, di antaranya ada yang bisa mematikan, membuat sakit, membuat seorang suami tidak dapat mencampuri istrinya, atau memisahkan pasangan suami istri, atau membuat salah satu pihak membenci yang lainnya atau membuat kedua belah pihak saslsing mencintai.

Ibnul Qoyyim mengatakan :

هو مركب من تأثيرات الأرواح الخبيثة، وانفعال القوى الطبعية عنها

"Sihir adalah gabungan dari berbnagai pengaruh roh-roh jahat, serta interaksi berbagai kekuatan alam dengannya." (Ash-Shaarimul Battaar fit Tashaddi Lis Saharatil Asyraar, hal.16-17)

Pembagian Sihir 

Sihir dalam syariat terbagi menjadi dua bagian. Syaikh Sholih Fauzan mengatakan :

السحر في الشرع : ينقسم إلى قسمين حقيقي وتخيلي

"Sihir secara syar'i terbagi menjadi dua jenis : hakiki dan takhyili (bersifat khayalan)." (Duruus fii Syarh Nawaaqid al-Islaam, hal 142-146).

1. Sihir Hakiki

فالحقيقي منه : عبارة عن عمل يؤثر في الأبدان أو في القلوب، يؤثر في الأبدان بالمرض أو بالموت، أو يؤثر في الفكر بأن يخيّل إلى إنسان أنه فعل شيئا وهو لم يفعله

أو يؤثر في القلب فيورث به كراهة, أو محبة غير طبيعيين. فهذا هو الصرف والعطف، بأن يعطف الإنسان ويحدث فيه محبة غير عادية لبعض الأشياء أو بعض الأشخاص، أو يكره هذا الشيء أو يبغضه إليه، كان يفرق بين المرء وزوجه أو يحبب أحدهما للآخر، ويسمى بالتولة

"Sihir hakiki adalah suatu perbuatan yang memberi pengaruh pada tubuh atau hati. Ia dapat berpengaruh pada tubuh dengan menyebabkan penyakit atau kematian, atau berpengaruh pada pikiran sehingga seseorang dibayangkan melakukan sesuatu padahal ia tidak melakukannya, atau memberikan pengaruh pada hati sehingga menimbulkan kebencian atau kecintaan yang tidak normal. Inilah yang disebut ṣarf (sihir pemisah) dan ‘aṭf (sihir pelet), yaitu membuat seseorang condong dan menumbuhkan kecintaan yang tidak wajar terhadap sesuatu atau seseorang, atau menimbulkan kebencian terhadap sesuatu itu. 

Misalnya memisahkan seseorang dari pasangannya atau membuat salah satu dari keduanya mencintai yang lain. Bentuk sihir ini disebut at-tiwalah (jampi-jampi)." (Duruus fii Syarh Nawaaqid al-Islaam, hal 142-143)

1.a. Sihir Jenis sarf (sihir pemisah)

Apa itu sihir pemisah? Sihir pemisah merupakan bagian dari sihir hakiki, yaitu sihir yang memisahkan antara suami dan istri. 

Syaikh Wahid bin Abdis Salam mengatakan : 

هو عمل السحرللتفريق بين الزوجين أو لبث البغض والكراهية بين الصديقين أو شريكين

"(Sihir pemisah) yaitu sihir yang dilakukan untuk memisahkan antara suami dan istri, atau untuk menanamkan kebencian dan permusuhan antara dua sahabat atau dua orang yang berserikat (bermitra)." (Ash-Shaarimul Battaar fit Tashaddi Lis Saharatil Asyraar, hal.105)

Dalil sihir pemisah ini adalah firman Allah Ta'ala : 

وَٱتَّبَعُوا۟ مَا تَتْلُوا۟ ٱلشَّيَـٰطِينُ عَلَىٰ مُلْكِ سُلَيْمَـٰنَ ۖ وَمَا كَفَرَ سُلَيْمَـٰنُ وَلَـٰكِنَّ ٱلشَّيَـٰطِينَ كَفَرُوا۟ يُعَلِّمُونَ ٱلنَّاسَ ٱلسِّحْرَ وَمَآ أُنزِلَ عَلَى ٱلْمَلَكَيْنِ بِبَابِلَ هَـٰرُوتَ وَمَـٰرُوتَ ۚ وَمَا يُعَلِّمَانِ مِنْ أَحَدٍ حَتَّىٰ يَقُولَآ إِنَّمَا نَحْنُ فِتْنَةٌۭ فَلَا تَكْفُرْ ۖ فَيَتَعَلَّمُونَ مِنْهُمَا مَا يُفَرِّقُونَ بِهِۦ بَيْنَ ٱلْمَرْءِ وَزَوْجِهِۦ ۚ وَمَا هُم بِضَآرِّينَ بِهِۦ مِنْ أَحَدٍ إِلَّا بِإِذْنِ ٱللَّهِ ۚ وَيَتَعَلَّمُونَ مَا يَضُرُّهُمْ وَلَا يَنفَعُهُمْ ۚ وَلَقَدْ عَلِمُوا۟ لَمَنِ ٱشْتَرَىٰهُ مَا لَهُۥ فِى ٱلْـَٔاخِرَةِ مِنْ خَلَـٰقٍۢ ۚ وَلَبِئْسَ مَا شَرَوْا۟ بِهِۦٓ أَنفُسَهُمْ ۚ لَوْ كَانُوا۟ يَعْلَمُونَ

Artinya : "Dan mereka mengikuti apa yang dibaca oleh syaitan-syaitan pada masa kerajaan Sulaiman (dan mereka mengatakan bahwa Sulaiman itu mengerjakan sihir), padahal Sulaiman tidak kafir (tidak mengerjakan sihir), hanya syaitan-syaitan lah yang kafir (mengerjakan sihir). Mereka mengajarkan sihir kepada manusia dan apa yang diturunkan kepada dua orang malaikat di negeri Babil yaitu Harut dan Marut, sedang keduanya tidak mengajarkan (sesuatu) kepada seorangpun sebelum mengatakan: "Sesungguhnya kami hanya ujian (bagimu), sebab itu janganlah kamu kafir". Maka mereka mempelajari dari kedua malaikat itu apa yang dengan sihir itu, mereka dapat menceraikan antara seorang (suami) dengan isterinya. Dan mereka itu (ahli sihir) tidak memberi mudharat dengan sihirnya kepada seorangpun, kecuali dengan izin Allah. Dan mereka mempelajari sesuatu yang tidak memberi mudharat kepadanya dan tidak memberi manfaat. Demi, sesungguhnya mereka telah meyakini bahwa barangsiapa yang menukarnya (kitab Allah) dengan sihir itu, tiadalah baginya keuntungan di akhirat, dan amat jahatlah perbuatan mereka menjual dirinya dengan sihir, kalau mereka mengetahui." (QS. Al-Baqaroh : 102)

Dalam sebuah hadits, Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda :

إن إبليس يضع عرشه على الماء، ثم يبعث سراياه، فأدناهم منه منزلة أعظمهم فتنة، يجيء أحدهم فيقول : فعلت كذا وكذا، فيقول : ما صنعت شيئا، قال ثم يجيء أحدهم فيقول : ما تركته حتى فرقت بينه وبين امرأته، قال فيدنيه منه ويقول : نعم أنت. قال الأعمش : أراه قال : فلينتزمه

“Sesungguhnya Iblis meletakkan singgasananya di atas air, lalu ia mengirim bala tentaranya. Yang paling dekat kedudukannya dengan Iblis adalah yang paling besar fitnahnya. Salah seorang dari mereka datang lalu berkata, ‘Aku telah melakukan ini dan itu.’ Iblis berkata, ‘Engkau belum melakukan apa-apa.’ Kemudian datang yang lain dan berkata, ‘Aku tidak meninggalkannya hingga aku berhasil memisahkan antara dia dan istrinya.’ Maka Iblis pun mendekatkannya kepadanya dan berkata, ‘Ya, engkaulah (yang terbaik).’Al-A‘masy mengatakan : aku melihat beliau bersabda : ‘lalu ia terus mendampingi iblis tersebut.’” (HR. Muslim, no.2813 dalam Ash-Shaarimul Battaar fit Tashaddi Lis Saharatil Asyraar, hal.104-105)

Untuk sihir sarf (sihir pemisah), ia tidak terbatas pada memisahkan antara suami dan istri saja, tapi juga memisahkan antara anak dan ibunya, anak dan bapaknya, seseorang dengan saudaranya, seseorang dengan temannya, seseorang dengan mitra bisnisnya dalam perdagangan, memisahkan antara seorang seseorang dengan istrinya; dan jenis ini adalah yang paling berbahaya serta paling banyak tersebar. 

1.b. Sihir 'atf (sihir pelet)

Adapun sihir 'atf (sihir pelet), sering digunakan untuk memikat lawan jenisnya agar tertarik kepadanya. Kita sering mendengar istilah, 'cinta ditolak dukun bertindak', ini menunjukkan mental masyarakat kita yang menggembalikan segala urusan mereka kepada para dukun dan tukang sihir. Gagal cinta, ujung-ujungnya dukun, pelet! Wajah kurang tampan, ujung-ujungnya pelet! Sakit hati karena cemburu, ujung-ujungnya, pelet! Dan seperti itulah tradisi di tengah masyarakat.

Adapun contoh sihir hakiki pada masa kenabian, yaitu sihir yang menimpa Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam. Para ulama menyebutkan sihir itu sebagai sihir sarf (sihir pemisah). 

Syaikh Sholih Fauzan mengatakan :

فمن النوع الأول ما جاء في سورة الفلق قال تعالى : قل أعوذ برب الفلق من شر ما خلق ومن شر غاسق إذا وقب ومن شر النفاثات في العقد ومن شر حاسد إذا حسد
والنفاثات جمع نفاثة وهي التي تعقد العقد وتنفت فيها، وتُقصد بذلك الإضرار بالسحور

ومنه ما حصل للنبي صلى الله عليه وسلم لما سحره لبيد بن الأعصم اليهودي، صار يُخيّل إليه صلى الله عليه وسلم أنه فعل الشيء وهو لم يفعله. فهذا هو السحر الحقيقي، لأن الأنبياء بشر يُعرض لهم ما يُعرض للبشر، وهذا نوع من الأمراض فيمرضون ويصيبهم ما يصيب البشر

ومن ذلك السحر لأنه مرض، فأرسل الله عز وجل ملكين ببرءانه بهذه السورة، فوقفا عنده، فقال أحدهما: ما شأن الرجل؟ قال الآخر: مطبوب، يعني مسحور. قال: ومن طبّه؟ أي من سحره. قال: لبيد بن الأعصم في مشط ومشاطة في جف طلعة في بئر ذروان

فقرأ جبريل عليه السلام بهذه السورة: قل أعوذ برب الفلق
فقام صلى الله عليه وسلم كأنما نشط من عقال، فذهب عنه السحر

ثم أمر رجالًا أن يذهبوا إلى هذه البئر فاستخرجوا منها السحر وأتلفوه

وقالوا للنبي صلى الله عليه وسلم: ألا تقتله؟
فقال صلى الله عليه وسلم: أما الله فقد شفاني، ولا أحب أن أفتح على الناس شرًا

فتركه صلى الله عليه وسلم درءًا للفتنة

دل على انه مستحق للقتل، لأن الرسول لم يقل لا يجوز قتله، أو لا يستحق القتل، وإنما قال: لا أحب أن أفتح على الناس شرا، يعني فتنة؛ لأن اليهود عندهم عهد مع النبي، ولو أنه قتله لحصل منهم فتنة وشر، ولا شك أن درء المفاسد مقدم على جلب المصالح فتركه لأن الغرض حصل وهو شفاؤه، فهذا من النوع الحقيقي الذي يؤثر

"Adapun jenis pertama (sihir hakiki) adalah sebagaimana yang disebutkan dalam Surah Al-Falaq. Allah Ta‘ala berfirman (yang artinya) : "Katakanlah: Aku berlindung kepada Tuhan yang menguasai subuh, dari kejahatan apa yang Dia ciptakan, dan dari kejahatan malam apabila telah gelap, dan dari kejahatan para perempuan penyihir yang meniup pada buhul-buhul, dan dari kejahatan orang yang dengki ketika ia dengki."

“An-naffaasaat” adalah bentuk jamak dari naffaasah, yaitu wanita-wanita yang mengikat buhul lalu meniupkan padanya dengan maksud membahayakan melalui sihir.

Termasuk pula adalah apa yang menimpa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam ketika beliau disihir oleh Labid bin Al-A‘sham, seorang Yahudi. Maka terbayanglah kepada Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam seolah-olah beliau melakukan sesuatu padahal beliau tidak melakukannya. Inilah sihir hakiki, karena para nabi adalah manusia yang mengalami apa yang dialami manusia lainnya. Ini adalah salah satu dari jenis penyakit; mereka bisa sakit dan mengalami apa yang dialami manusia.

Termasuk di dalamnya adalah sihir, karena ia merupakan penyakit. Maka Allah ‘Azza wa Jalla mengutus dua malaikat untuk memberi kesembuhan melalui surah ini. Keduanya berdiri di sisi beliau. Salah satunya berkata, “Apa yang menimpa orang ini?” Maka yang lain menjawab, "Matbub," maksudnya tersihir. Ia berkata: “Siapa yang menyihirnya?” Mereka menjawab: “Labid bin Al-A‘sham, melalui sisir dan rambut yang rontok, yang diletakkan dalam pelepah kurma kering dan disembunyikan di sumur Dzarwaan.”

Maka Jibril ‘alaihis salam membacakan kepada Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam surat ini: “Katakanlah: Aku berlindung kepada Tuhan yang menguasai subuh.

Kemudian Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bangkit seakan-akan beliau terlepas dari ikatan, dan hilanglah pengaruh sihir itu dari beliau.

Setelah itu beliau memerintahkan beberapa orang untuk pergi ke sumur tersebut, lalu mereka mengeluarkan sihir itu dan membinasakannya.

Para sahabat berkata kepada Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, “Tidakkah engkau membunuhnya?” Beliau shallallahu 'alaihi wa sallam menjawab: “Allah telah menyembuhkanku, dan aku tidak suka membuka pintu keburukan bagi manusia.”

Maka Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam pun membiarkannya, untuk mencegah timbulnya fitnah.

Hal ini menunjukkan bahwa ia sebenarnya berhak untuk dibunuh, karena Rasulullah tidak mengatakan bahwa membunuhnya tidak boleh atau bahwa ia tidak layak dibunuh. Akan tetapi beliau bersabda: “Aku tidak suka membuka pintu keburukan bagi manusia,” maksudnya adalah fitnah.

Hal itu karena orang-orang Yahudi memiliki perjanjian dengan Nabi. Seandainya beliau membunuhnya, niscaya akan timbul fitnah dan kejahatan dari mereka. Tidak diragukan lagi bahwa menolak kerusakan lebih didahulukan daripada mengambil kemaslahatan. Maka beliau meninggalkannya, karena tujuan telah tercapai, yaitu kesembuhannya. Ini termasuk jenis (pendekatan) yang benar-benar nyata pengaruhnya." (Duruus fi Syarh Nawaaqid al-Islaam, hal.143-144) 

2. Sihir khayalan

والتخيلي : ما يؤثر في الأبصار والأنظار فترى الشيء على خلاف ما هو عليه

Sihir takhyili (bersifat khayalan) adalah sihir yang memengaruhi penglihatan, sehingga seseorang melihat sesuatu tidak sesuai dengan kenyataannya." (Duruus fi Syarh Nawaaqid al-Islaam, hal.143) 

Syaikh Sholih Fauzan mengatakan :

وأما السحر التخييلي: وهو سحر الأعين فهو من جنس ما فعله فرعون مع موسى عليه السلام لما جمع السحرة ليقابلوا موسى والمعجزات التي معه فعملوا سحرا تخييلا، ولهذا قال جل وعلا: فلما سحروا أعين الناس، الأعراف: 116، ما قال سحروا الناس بل قال: سحروا أعين الناس، وقال تعالى: واسترهبوهم وجاءوا بسحر عظيم، الأعراف: 116، وقال سبحانه وتعالى في سورة طه: فإذا حبالهم وعصيهم يخيل إليه من سحرهم أنها تسعى، طه: 66، أي يخيل إلى موسى من سحرهم أن العصى والحبال تسعى وتتحرك وتمشي وهي في الحقيقة لا تتحرك ولا تمشي من ذاتها بل يحركها ما وضع فيها من الزئبق كما في الآية الأخرى: سحروا أعين الناس، هذا سحر تخييلي ليس له حقيقة بمجرد أن يذهب تعود الأشياء إلى حقيقتها، ولهذا يأتي الساحر إلى بعض الناس فيأتي بحشرات أو جعلان أو خنافس فيلقي عليها السحر فتصبح كأنها غنم ثم بعد قليل تعود إلى طبيعتها.

Adapun sihir khayalan (takhyīlī), yaitu sihir yang mempengaruhi penglihatan mata, maka ia termasuk jenis perbuatan yang dilakukan Fir‘aun bersama Musa 'alaihissalam, ketika Fir‘aun mengumpulkan para penyihir untuk menghadapi Musa dan mukjizat-mukjizat yang dibawanya. Lalu mereka melakukan sihir berupa tipuan penglihatan.

Oleh karena itu Allah Ta‘ala berfirman (yang artinya) : “Maka ketika mereka menyihir mata manusia” (QS. Al-A‘raf : 116). Allah tidak berfirman “menyihir manusia”, tetapi berfirman “menyihir mata manusia”. Dan Allah Ta‘ala juga berfirman (yang artinya) : “Mereka menakut-nakuti mereka dan datang dengan sihir yang besar.” (QS. Al-A‘raf : 116).

Dan Allah Subhaanahu wa Ta'ala berfirman dalam surat Thaha (yang artinya) : “Maka tiba-tiba tali-tali dan tongkat-tongkat mereka terbayang kepada Musa, karena sihir mereka, seakan-akan ia bergerak” (QS. Thaha : 66). Artinya, terbayang kepada Musa akibat sihir mereka bahwa tongkat-tongkat dan tali-tali itu berlari, bergerak, dan berjalan, padahal pada hakikatnya ia tidak bergerak dan tidak berjalan dengan sendirinya, melainkan digerakkan oleh sesuatu yang mereka masukkan ke dalamnya berupa air raksa, sebagaimana disebutkan dalam ayat lain: “mereka menyihir mata manusia.”

Sihir ini adalah sihir khayalan yang tidak memiliki hakikat nyata. Ketika pengaruhnya hilang, benda-benda itu kembali kepada keadaan aslinya. Oleh sebab itu, seorang penyihir dapat mendatangi sebagian orang dengan membawa serangga, kumbang, atau kecoak, lalu ia melemparkan sihir kepada hewan-hewan tersebut sehingga tampak seperti kambing, kemudian setelah beberapa saat ia kembali kepada bentuk aslinya.

ومنه ما يعمله الشالون والمخايلون فيأتون إلى بعض الناس بأوراق عادية يضعون عليها القمرة فيظنونها نقودا ويأخذون في مقابلها أموالا. أو صرفه نقودا بنقود، ثم إذا ذهب الساحر عادت هذه الأشياء إلى حقيقتها، أوراقا لا قيمة لها، هذا شيء معروف، ويقع كثيرا على أيدي الشالين والمخايلين الذين يأخذون أموال الناس بالباطل

Di antaranya adalah perbuatan yang dilakukan oleh para penipu dan tukang sulap, mereka mendatangi sebagian orang dengan membawa kertas biasa, lalu meletakkan qamrah di atasnya sehingga orang-orang mengira itu sebagai uang, lalu mereka mengambil harta sebagai imbalannya. Atau menukarnya dengan uang tunai. Kemudian ketika penyihir itu pergi, benda-benda tersebut kembali kepada hakikatnya, berupa kertas-kertas yang tidak memiliki nilai. Hal ini sudah dikenal dan sering terjadi melalui tangan para penipu dan tukang sulap yang mengambil harta manusia dengan cara yang batil.

فالسحر بنوعيه قديم في البشرية ذكره الله تعالى في قوم فرعون، وإن السحرة كانوا عند فرعون، وفي رعيته، ويخترفون السحر

Sihir dengan kedua jenisnya (diatas) telah ada sejak dahulu dalam sejarah manusia. Allah Ta‘ala telah menyebutkannya pada kaum Fir‘aun. Para penyihir berada di sisi Fir‘aun dan di tengah rakyatnya, dan mereka mempraktikkan sihir." (Duruus fi Syarh Nawaaqid al-Islaam, hal.144-145) 

Perbedaan Mu'jizat dengan Sihir

Perbedaan mendasar antara mu'jizat dengan sihir sangat jelas. Mu'jizat adalah dari Allah sedangkan sihir dari perbuatan manusia itu sendiri yang dibantu oleh jin. Karena itu Allah berfirman tentang kisah terbelahnya bulan :

ٱقْتَرَبَتِ ٱلسَّاعَةُ وَٱنشَقَّ ٱلْقَمَرُ

Artinya : "Telah dekat datangnya saat itu dan telah terbelah bulan." (QS. Al-Qamar : 1)

Terbelahnya bulan adalah mu'jizat Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bukan sihir, namun orang-orang Quraisy mengatakan itu adalah sihir, karena mereka berusaha untuk membantah kebenaran risalah Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam.

Demikian juga dengan kisah Nabi Musa 'alaihissalam dengan tukang sihir Fir'aun. Disini nampak jelas antara mu'jizat Nabi Musa dengan tipuan para tukang sihir yang mencoba menipu mata manusia dengan sihir mereka.

Syaikh Sholih Fauzan mengatakan :

 فلما جاء موسى عليه السلام برسالة ربه ومعه المعجزات التي تدل على صدقه، وهي العصا التي تنقلب إلى حية، ويده يدخلها في جيبه عليه السلام فتخرج بيضاء من غير آية أو برص، هذه معجزات من عند الله لا صنع للبشر فيها، لأن المعجزات التي من عند الله لا دخل للبشر فيها، ولا يستطيع بنو الإنسان أن يأتوا بمثلها لأنها من عند الله جل وعلا، والذي لا يقدر أن يعمل المعجزة، وإنما هي من عند الله عز وجل هو الذي يجعلها على يد نبيه ورسوله تصديقا له قال تعالى: وقالوا لولا أنزل عليه آيات من ربه قل إنما الآيات عند الله، العنكبوت: 50، فالرسول لا يستطيع أن يأتي بآية إلا أن يأتي بما يعطيه الله من معجزات.

"Ketika Musa 'alaihissalam datang membawa risalah dari Rabb-nya beserta mukjizat-mukjizat yang menunjukkan kebenaran beliau -yaitu tongkat yang berubah menjadi ular, dan tangan beliau yang dimasukkan ke dalam bajunya lalu keluar dalam keadaan putih bercahaya tanpa penyakit atau belang-semua itu adalah mukjizat dari sisi Allah, tidak ada campur tangan manusia di dalamnya.

Sesungguhnya mukjizat yang datang dari Allah tidak dapat dibuat oleh manusia, dan manusia tidak mampu mendatangkan yang semisal dengannya, karena ia berasal dari Allah Yang Mahamulia. Yang tidak mampu menciptakan mukjizat itu adalah manusia; mukjizat tersebut semata-mata berasal dari Allah 'Azza wa Jalla. Dialah yang menampakkannya melalui tangan nabi dan rasul-Nya sebagai pembenaran atas kerasulan mereka.

Allah Ta‘ala berfirman (yang artinya) : “Mereka berkata: ‘Mengapa tidak diturunkan kepadanya tanda-tanda (mukjizat) dari Rabb-nya?’ Katakanlah: ‘Sesungguhnya tanda-tanda itu hanya di sisi Allah.’” (QS. Al-‘Ankabut : 50).

Maka seorang rasul tidak mampu mendatangkan suatu mukjizat kecuali apa yang Allah berikan kepadanya dari mukjizat-mukjizat tersebut.

السحر عمل بشري وصناعة يتعلمها الناس ويمارسونها، وهو من عمل شياطين الإنس والجن، وليس من المعجزات، وإن كان فيه خوارق للعادة، إلا أن الإنسان يمكن أن يصنعه أو يتعلمه، بخلاف المعجزة التي لا يقدر عليها إلا الله، ويجريها على يد نبي من أنبيائه.

قال تعالى: ﴿وَقَالُوا لَوْلَا أُنزِلَ عَلَيْهِ آيَاتٌ مِّن رَّبِّهِ قُلْ إِنَّمَا الْآيَاتُ عِندَ اللَّهِ وَإِنَّمَا أَنَا نَذِيرٌ مُّبِينٌ﴾ [سورة العنكبوت: 50]

Sihir adalah perbuatan manusia dan keterampilan buatan yang dipelajari dan dipraktikkan oleh manusia. Ia berasal dari perbuatan para setan dari kalangan manusia dan jin, dan bukan termasuk mukjizat. Meskipun mengandung hal-hal luar biasa, sihir tetap bisa dibuat atau dipelajari oleh manusia. Berbeda dengan mukjizat yang tidak dapat dilakukan kecuali oleh Allah, dan hanya terjadi melalui tangan seorang nabi dari nabi-nabi-Nya.

Allah Ta'ala berfirman (yang artinya) : "Dan mereka berkata, 'Mengapa tidak diturunkan kepadanya tanda-tanda dari Tuhannya?' Katakanlah, 'Sesungguhnya tanda-tanda itu hanya ada pada Allah, dan sesungguhnya aku hanyalah seorang pemberi peringatan yang jelas.'"  (QS. Al-Ankabut: 50). (Duruus fi Syarh Nawaaqid al-Islaam, hal.145-146) 

Wallahu a'lam.

***
 
Grand Sahara - Sidayu - Gresik, 11 Rojab 1447 H / 31 Desember 2025
 
Penulis : Abu Dawud ad-Dombuwiyy
 
Artikel : Meciangi-d.blogspot.com

Related Posts: